ALIN TRANSMIGRATION

ALIN TRANSMIGRATION
12



__________________________


"Syaratnya apa kak?"tanya alin


"Sebutin no wa alin"ujar liam semangat.


Alin melongo begitu juga dengan dita.


Sedangkan mereka yang mendengar ucapan liam pun sontak mendekat kearah nya, dan itu hampir semua siswa yang sudah menyiapkan handphone nya masing masing, menunggu alin menyebutkan no hp nya.


Dita dan abel yang melihat itupun ternganga tidak percaya. Sebesar ini pengaruh alin? Wow.


"Ayo lin sebutin, nanti gue kasih ttd gue juga"ujar kenan


"Gue juga"ujar rey dan dion bersamaan. Sedangkan steven dan aiden hanya diam, namun mereka telah menyiapkan otaknya agar bisa mengingat nomor alin.


"08skptsjsksh"ujar alin


"Hah"mereka semua melongo.


"Hehe bercanda"alin terkekeh lucu yang lagi lagi membuat mereka terpesona.


"O831xxxxxxxx"


"Yess gue dapet!!"


"Eh 08 berapa tadi?"


"Yah anji* gue ketinggalan"


"Nyontek dong woy"


"Ogahh!!"


"Minta elah pelit banget lo!"


"Bodo! Yang penting gue udah dapet wa alin hahaha"


"Najis pelit"


Dll


"Liat dong, abis 0831 tadi berapa?"tanya rey seraya melirik handphone liam.


"Enak aja lo"ujar liam sinis sembari menyembunyikan handphone nya.


"Ck pelit amat lo bab*"ujar rey sinis


"Biarin wlee"liam menjulurkan lidahnya dan menatap remeh rey yang kini telah menatapnya tajam.


Rey yang kesal pun langsung merampas handphone kenan yang membuat sang empu kaget seketika.


"Heh!! Hp gue!"ujar kenan mendelik tidak terima.


"Pinjem bentar"balas rey seraya memfoto layar hp kenan yang masih terdapat nomor alin.


"Lo nyontek ya?!"seru kenan


"Siniin hp gue"kenan mengejar rey yang kini telah berlari.


Sedangkan alin hanya menatap mereka polos.


Steven dan aiden, hanya menatap mereka dalam diam karena kedua pemuda itu sibuk menghafal nomor alin dalam hatinya agar tidak lupa nanti.


"Ck ambil nih"rey melemparkan hp kenan begitu saja.


Dengan cepat kenan menangkapnya dan menatap rey tajam.


"Siala*"ujarnya kesal.


...***...


Kini alin dan dita sedang berkeliling mencari aiden untuk dimintai tanda tangan karena hanya pemuda itu saja yang belum.


Kenapa tidak sekalian saat di labas saja? Karena belum sempat alin meminta tanda tangan pemuda itu, aiden memberi tau jika mereka dikasih waktu 5 menit untuk istirahat dan tidak ada yang boleh menjalankan misinya disaat jam istirahat.


"Kayaknya kak aiden di kantin deh dita"ujar alin.


"Yaudah kita kesana aja"ajak dita dan diangguki oleh alin.


Setelah sampai, mereka berdua mengedarkan pandangannya mencari aiden dan ketemu. Aiden sedang berada di meja kantin bersama teman-temannya.


Lalu kedua gadis cantik itu berjalan menghampiri mereka.


"Permisi kak"ucap dita sopan.


Mereka semua menoleh saat ada yang menyapa mereka.


"Eh degem"ujar liam semangat saat melihat alin yang sedang menatap mereka polos.


"Hai kak"sapa alin tersenyum manis.


"Hai juga alin"ujar liam membalas senyuman alis.


"Kami disini mau minta ttd kak aiden"ujar dita.


"Mana bukunya"ujar aiden menadah tangannya.


"Ini kak"dita menyerahkan bukunya dan langsung diambil oleh aiden. Setelah selesai, aiden mengembalikan bukunya kepada dita.


"Tolong panggilin lira, suruh dia keruangan gue"ujar aiden pada dita.


"Iya kak"


"Ini punya alin kak"alin menyerahkan bukunya pada aiden namun tidak diterima oleh pemuda itu.


"Kenapa masih disini?"tanya aiden saat melihat dita tidak beranjak pergi.


"Nungguin alin kak"jawab dita.


"Gak usah ditunggu"ujar aiden


"Tapi-


"Alin gak akan kami makan kok, tenang aja"ujar steven saat melihat dita yang sepertinya ragu.


Dita mengangguk, lalu gadis itu pergi meninggalkan alin yang hanya diam tidak tau ingin berbuat apa. Gadis itu juga sedikit gugup karna mereka semua memandangnya dengan pandangan berbeda beda.


"Mau ngapain disini?"tanya aiden seraya menaikkan kedua alisnya.


"Ngen" batin alin kesal.


"Tut" lanjutnya.


"Mau minta tanda tangan kakak"ujar alin polos.


Aiden berdiri dan menghampiri alin lalu pemuda itu menundukkan kepalanya agar bisa menatap alin yang lebih pendek dari nya.


"Ada syaratnya"ujar aiden seraya mendekatkan wajahnya.


Sontak saja alin menelan ludahnya saat dia menyadari posisi mereka yang terlalu dekat.


Sedangkan inti the blue yang lain biasa saja, karena yang mereka lihat, aiden hanya menunduk dan tidak sampai memotong jarak. Sebab posisi nya itu, aiden membelakangi mereka dan menutupi tubuh mungil alin. Jadi wajar saya mereka tidak bisa melihatnya.


"Apa?"tanya alin yang berusaha mempertahankan wajah polosnya.


Padahal gadis itu mati matian menahan dirinya agar tidak menendang masa depan pemuda itu.


Sontak saja alin melototkan matanya lucu.


"Gue bekep boleh gak sih? Supaya ni cowok mati kehabisan napas" batin alin menahan kesal.


"Kalo gak bisa yaudah"aiden menegakkan tubuhnya lalu berbalik, berniat untuk pergi.


"Terpaksa" batin alin


Namun belum sempat pemuda itu berjalan. Alin langsung menarik tangan aiden dan secepat kilat, alin mencium pipi aiden.


Cup


Pyar


Gedebuk


Klang


Uhuk uhuk


Tes tes tes


Mereka yang melihat adegan uwu tersebut pun langsung syok seketika.


Liam menjatuhkan mangkoknya yang akan ia kembalikan pada ibu kantin.


Kenan yang baru saja kembali dari toilet langsung terjengkang karena tersandung kaki meja lantaran terlalu syok saat melihat alin dan aiden.


Steven menjatuhkan sendok nya yang hampir saja masuk kedalam mulutnya.


Rey langsung saja tersedak minuman yang ia minum sendiri saat melihat adegan tidak senonoh di hadapannya.


Dan yang terakhir dion, pemuda itu meneteskan kuah bakso yang terdapat dalam mulutnya, karena tadi dion sedang menghirup kuah baksonya dengan nikmat namun alangkah syok nya dia saat melihat alin dengan polosnya mencium aiden.


Sedangkan aiden sontak membeku ditempat. Tidak! Tadi dia hanya bercanda! Dia tidak menyangka jika alin dengan mudahnya menurut. Aiden hanya ingin mengerjai alin saja, hanya itu dan tidak lebih.


Aiden memegang pipinya yang sempat dicium oleh alin tadi, lalu pemuda itu menatap syok alin yang hanya menatap dirinya dengan wajah polos.


"Udah kak"ujar alin polos. Berbeda dengan batinnya yang menjerit.


"GILAAAA PIPINYA LEMBUT BANGET ANJI*, GUE JADI PENGEN LAGI HUAAA" batin alin histeris.


"TERNYATA GINI RASANYA NYIUM COGAN?!! KALO GITU MAH GUE MAU!! TIAP HARI JUGA GAK MASALAH" lanjutnya


"Kenapa kamu cium aiden?"tanya abel yang ternyata melihat kejadian tadi seraya menatap alin tajam.


"Karna dia yang nyuruh"jawab alin polos


"Gak mungkin. Kamu pasti bohong kan? Kamu itu baru sehari disini dan udah buat orang lain gak nyaman"ujar abel


"Dih najong sok senioritas lo dasar ubi kayu" batin alin sinis


"Alin gak buat nyaman? Ke siapa kak?"tanya alin bingung


"Aiden. Kamu udah nyium dia, itu sama aja gak sopan sama kakak kelas apalagi dia ketua osis. Seharusnya kamu itu jaga attitude kamu di sekolah elit ini, kamu di ajarin attitude kan? Gak sembarangan orang yang bisa sekolah disini, seharusnya kamu bersyukur karena udah berhasil masuk AHS walaupun dengan jalur beasiswa."ujar abel


Alin memang mendaftar lewat jalur beasiswa. Bukanya dia tidak sanggup membayar, tapi karena kepintarannya. Kepintarannya harus berguna bukan? Jadi untuk apa membayar dengan uang kalo otak aja dia mampu. Itulah isi pikiran alin.


"Dia ngerendahin gue?" Batin alin tidak percaya.


"Maksud lo apa bel?"tanya rey sedikit tidak terima saat mendengar ucapan abel.


"Aku gak bermaksud apa apa kok, aku cuma mau jelasin aja kalo sikap dia tadi itu salah"jawab abel polos.


"Tapi dengan ucapan kakak kayak gitu, seolah olah kakak ngerendahin alin"ujar alin


Mereka semua mengalihkan perhatiannya kearah alin yang kini sedang menatap sayu abel.


"Alin emang anak beasiswa kak, tapi alin juga masih mampu buat bayar"lanjutnya.


"Walaupun alin bukan dari kalangan orang kaya seperti kakak, tapi setidaknya alin masih punya otak yang berguna. Buat apa ada kepintaran kalo ujung ujungnya masih pake uang?"


"Uang memang bisa beli segalanya bahkan bisa beli harga diri seseorang. Tapi bukan berarti semua orang itu sama"


"Mungkin menurut kakak, alin terlalu polos. Alin bisa terima itu, tapi polos bukan berarti bodoh. Dan gak semua anak beasiswa itu miskin kak"


"Mereka gak mau gunain uang mereka karena masih punya kepintaran yang jauh lebih bisa dibanggakan dari pada uang"


"Uang gak akan mampu menyaingi kepintaran"


Mereka semua terdiam saat mendengar ucapan alin.


"Dan untuk soal ciuman?"


"Alin gak bohong. Emang bener kok kak aiden yang nyuruh alin supaya alin bisa dapet ttd dari kak aiden"


"Terus salah alin dimana?"


"Soal attitude. Kak abel gak berhak mempertanyakan attitude alin. Karna kakak disini bukan siapa siapa!"


"Dan sebelum mempertanyakan attitude seseorang. Alangkah baiknya intropeksi diri sendiri terlebih dulu. Kakak kira sikap kakak yang sekarang ini udah bener? Gak kak"


"Kak abel tiba tiba dateng dan ngambil kesimpulan sendiri tanpa tau yang sebenarnya"


"Penjahat aja harus diselidiki dulu baru terbukti bersalah"


Alin menghela nafasnya berat.


"Ini kak, misi alin udah selesai. Tinggal ttd kak aiden aja yang belum, dan kalo kakak berbaik hati silahkan ttd disitu dan kalo kakak gak mau yaudah. Alin gak maksa dan gak peduli"ujar alin menyerahkan bukunya kepada aiden yang masih terdiam mencerna semua ucapan alin tadi.


"Alin permisi"lalu gadis itu pergi dari kantin yang hanya terisi oleh mereka saja. Sebab semua murid AHS telah dipulangkan, karena guru rapat.


Hancur sudah mood alin.


"Dasar boneka setan" batin alin kesal.


Setelah kepergian alin, inti the blue langsung menatap tajam abel.


"Maksud lo apa ngomong kayak gitu?"tanya rey tajam.


"Lo mau ngerendahin alin karna dia anak beasiswa?"timpal dion tidak habis pikir.


"Gak, ak-


"Lo kelewatan bel"sela aiden memotong ucapan abel.


"Yang dibilang oleh alin bener. Gue yang nyuruh dia nyium gue"semua orang langsung menatap tak percaya pada aiden.


"Dan untuk sopan santun yang lo bilang tadi. Alin sopan kok, gue akuin itu. Yang gak sopan itu lo! Kenapa? Lo udah ngerasa bangga jadi orang kaya? Karna itu dengan seenaknya lo ngerendahin orang yang gak mampu"ujar aiden sinis.


Sedangkan abel terdiam, karena baru kali ini dia mendapatkan tatapan sinis dari aiden dan itu karna alin.


"Yang alin omongin bener, uang gak akan mampu menyaingi kepintaran"ujar kenan sinis lalu pemuda itu pergi dari kantin dan diikuti oleh mereka semua kecuali steven yang masih menatap abel dengan tatapan rumit.


"Bang-


"Pulang"sela steven memotong ucapan abel dengan nada dingin dan juga tatapan dingin. Lalu pemuda itu pergi meninggalkan abel.


"Alin"desis abel seraya mengepalkan kedua tangannya.


________________________


Bersambung...


Maaf ya kalo kata² nya ada yg gak nyambung. Author juga sempat bingung mikirin kalimatnya wkwk.