
Intinya moga suka bye.
Happy reading~
_____________________
"Dari mana kamu"ujar dingin dari seorang pria paruh baya yang masih terlihat kekar kepada seorang gadis yang baru saja memasuki rumah, lebih tepatnya mansion.
Gadis itu menghentikan langkahnya lalu menatap pria paruh baya yang sedang duduk disofa dan menatap dirinya dingin.
"Dari rumah temen pah"jawab gadis itu kepada pria paruh baya tadi yang ternyata adalah papanya.
Pria tersebut berdiri dan menghampiri gadis yang berstatus sebagai putrinya itu dan jangan lupa tatapan dinginnya yang begitu menusuk.
"Saya tidak suka dengan kebohongan"ujarnya dingin. Sedangkan gadis itu tersentak kecil saat papanya mengetahui jika dia sedang berbohong.
"Maaf"ujarnya seraya menunduk
"Dari mana"tanya nya lagi
Gadis itu mengambil nafasnya dalam dalam lalu menghembuskan nya dengan perlahan.
"Balapan"cicitnya
"Anak tidak tau diri"desisnya menatap tajam pada gadis itu.
"Saya menyekolahkan kamu untuk belajar bukan balapan!"lanjutnya menaikkan nada bicaranya.
Gadis itu hanya bisa diam dan menerima kemarahan sang papa karna ini memang adalah kesalahannya.
"Seharusnya saya membunuhmu waktu itu"lanjutnya.
Deg
Gadis tersebut langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut orang yang paling ia cintai melebihkan dirinya sendiri.
"Pah"ujarnya menatap tak percaya.
"Jangan panggil saya dengan panggilan itu, menjijikkan"ujarnya tajam.
"Kenapa papa benci sama aku? Aku salah apa pah?"tanya nya
"Karena kamu istri saya meninggal sia*an"jawabnya dengan tajam sembari mencengkram bahu gadis itu.
"Sa-kit pah hiks"tangis gadis tersebut.
"Gara gara kamu istri saya meninggalkan saya! Jika saja dia tidak memilih melahirkan mu. Dia pasti masih berada disini"
"Saya menyesal mempunyai anak seperti mu!"lanjutnya menghempaskan tubuh gadis itu hingga dia terjatuh.
"Hiks ini juga bukan kemauan alin pah"ujar alin.
Lalu gadis itu berdiri seraya menatap papanya sendu.
"Kalo aja alin bisa milih, alin gak akan mau dilahirkan!"ujarnya
"Papa kira selama ini alin gak sedih?"
"Alin sedih pah! Hiks alin sedih karena sejak lahir alin gak pernah ngerasain kasih sayang mama hiks bahkan ngeliat mama aja alin gak pernah hiks"lanjutnya. Di mansion itu tidak ada satu pun foto mamanya karna disembunyikan oleh papanya, entah kenapa.
Pria tersebut hanya diam sembari menatap datar putrinya itu. Namun tidak bisa dipungkiri jika dihati kecilnya sedikit terenyuh saat mendengar ucapan gadis itu.
"Kalo tau kelahiran alin dengan ngorbanin nyawa mama hiks alin gak akan mau dilahirin pa!"
"Tapi alin bisa apa?hiks saat itu alin cuma seorang bayi yang bahkan belum bisa buka mata"lirihnya
"Alin gak minta untuk dilahirin hiks"
"Alin udah kehilangan mama pah, apa alin juga gak bisa ngerasain kasih sayang papa hiks?"
"Berhenti berdrama pembunuh!"desis pria tersebut menatap tajam alin.
Sebenernya dia merasa tidak nyaman saat mendengar ucapan gadis itu namun ego nya lebih tinggi, dan baru kali ini dia mendengar keluh kesah putrinya. Karena selama ini gadis itu hanya diam saja.
"Hehe pembunuh?"alin terkekeh miris. Hatinya sangat sakit saat pria yang paling ia cintai itu malah menganggapnya sebagai pembunuh.
"TERUS KENAPA PAPA GAK BUNUH ALIN AJA PA?! KENAPA?! KEN-
"ALINSYA CAITLIN!!"bentak pria paruh baya itu.
Plak
Alin terdiam saat merasakan tamparan di pipinya yang disebabkan oleh papa nya sendiri. Alin menatap papanya tidak percaya karena baru kali ini papanya menampar dirinya.
Sedangkan papa alin juga ikut terdiam saat menyadari perlakuannya tadi. Dia tidak sengaja, tadi dia hanya reflek saat mendengar ucapan alin. Entah kenapa dia tidak menyukai ucapan gadis itu.
"Sebenci itu papa sama alin?"tanya nya sendu
Pria itu hanya terdiam sembari menatap tangannya yang sempat digunakannya untuk menampar alin tadi.
Alin merogoh kantong jaketnya lalu mengeluarkan belati yang senantiasa ia bawa.
Gadis itu berjalan menghampiri papanya dan meletakkan belati tersebut di telapak tangan papa nya.
Sontak saja pria paruh baya tersebut langsung menatap alin yang sedang tersenyum sendu kepadanya.
"Bukannya papa mau bunuh alin?"tanya nya menatap sendu pria itu.
"Lakuin sekarang"lanjutnya
Deg
Pria itu menegang dan menatap tak percaya pada gadis itu, digenggamnya dengan kuat belati tersebut guna menyalurkan rasa sesak yang kini ia rasakan.
"Kalo dengan kematian alin, bisa buat papa bahagia. Alin rela"ujarnya sembari tersenyum simpul dengan air mata yang terus saja turun.
"Tapi alin gak bisa kembaliin mama"lanjutnya seraya menuntun tangan papa nya ke arah jantungnya tanpa disadari oleh pria itu.
"Alin sayang sama papa"lirihnya tersenyum lembut
Jleb
Deg
Bruk
Alin terjatuh dengan darah yang telah mengalir keluar dari dadanya. Sedangkan pria paruh baya itu membeku ditempat dengan tatapan kosong dan tangan yang bergetar.
Klang
Belati itu terjatuh dari tangannya. Lalu dia menatap putrinya yang telah bersimbah darah.
"Pa-pa"ujar alin dengan nafas tercekat.
Dengan perlahan pria itu berjongkok dan dengan tatapan kosong dia menyentuh dada alin yang terdapat banyak darah.
"Pa-
"Diam"ujarnya memotong ucapan gadis itu. Lalu dia mengangkat tubuh alin dan berlari keluar mansion.
"Max"panggilnya kepada sekretaris nya sembari berlari dengan alin yang berada dalam gendongannya.
"MAX"teriaknya. Lalu datanglah seorang pria tampan dengan langkah yang terburu buru menghampiri tuannya.
Sontak saja pria itu membelalakkan matanya saat melihat kondisi alin sekarang.
"Tu-tuan"ujarnya terbata bata
"Siapkan mobil!"titahnya
"Ja-jangan"ujar alin.
Sekarang max dilanda kebingungan. Dia harus menuruti tuannya atau nona nya.
"Kenapa masih disini sia*an"desisnya menatap tajam max. Lalu dengan cepat max menuruti perintah tuannya.
"Ke rumah sakit sekarang"ujar pria paruh baya itu kepada sekretarisnya saat telah masuk ke dalam mobilnya.
Papa nya alin yang bernama alex itupun tersentak saat melihat alin memuntahkan darah dalam pangkuannya.
"Cepat bawa mobilnya!"sentak alex menatap tajam max.
Dengan tangan gemetar dia menyeka darah yang berada di bibir gadis itu.
Alin menggenggam tangan alex, lalu tersenyum tipis kepada papa nya.
"Jangan pergi"ujar papa alex. Kini dia telah sadar dengan kebodohannya sendiri. Dia hanya belum bisa merelakan sang istri, maka dari itu dia melampiaskan kesedihannya dengan menyiksa batin anaknya sendiri.
"Ja-ngan na-ngis"alin menghapus air mata yang turun dari mata sang papa.
Alex menggenggam tangan mungil milik alin lalu menciumnya dengan lembut.
"Maaf"lirihnya. Sedangkan alin yang mendengar itupun lantas tersenyum.
"Pa, alin mau di-peluk pa-pa"dengan segera alex membawa tubuh putrinya kedalam dekapannya seraya mencium kepala alin.
Dia benar benar tidak ingin kehilangan putrinya. Sudah cukup dia kehilangan istrinya.
"Jangan bawa putri kita arin. Aku mohon" batin alex
Hangat, itulah yang dirasakan oleh alin sekarang. Baru kali ini dia merasakan pelukan sang papa, karena sedari dia kecil tidak pernah merasakan pelukan dari papanya.
"A-ku mau nyu-sul ma-ma pah"ujarnya dalam dekapan alex.
"Gak! Gak boleh"alex mengeratkan pelukannya seolah olah jika ia lepaskan alin akan pergi meninggalkannya.
"Maafin papa sayang hiks"pecah sudah tangisan alex yang sedari tadi ia tahan.
"Alin jangan tinggalin papa nak"lanjutnya
"Ma-af pa"ujar alin melemah
"Gak! Jangan pergi sayang hiks papa mohon"
"A-lin sa-yang pa-pa"bisik alin, lalu kesadaran gadis itupun menghilang.
"Alin"panggil alex kepada putrinya yang kini sudah tidak bergerak lagi.
Alex melepaskan pelukannya lalu menatap alin yang telah menutup matanya.
"Alin sayang"panggilnya panik sembari menepuk pelan pipi sang putri.
"Bangun nak"ujarnya bergetar.
"ALIIINN" teriak alex seraya mendekap tubuh alin.
___________________________
Bersambung...
Gimana prolog nya guys?
Next gak ngab?