ALIN TRANSMIGRATION

ALIN TRANSMIGRATION
22



HALLO👋


ADA YANG NUNGGUIN CERITA ALIN GAK? GAK ADA YA? OKE MAKASIH BYE.


Tandai typo✔️


Happy reading~


_________________________


"Kamu tidak akan pernah pergi dari sini alin"ujar adam tegas.


"Kenapa? Apa kalian masih belum puas?"tanya alin tidak habis pikir.


"Kami minta maaf sayang, tapi kami tidak akan pernah membiarkan mu pergi dari sini"ujar aril.


Mereka tidak akan melepaskan alin begitu saja. Dengan susah payah mereka mencari keberadaan gadis itu dan kini mereka telah menemukannya.


Mereka memang salah dan telah menyesali perbuatan mereka pada gadis itu. Tapi sungguh, mereka tidak ingin kehilangan alin untuk kedua kalinya.


Mereka akan melakukan segala cara agar bisa mempertahankan gadis itu.


"Egois"ucap alin sinis


"Terserah kamu mau bilang apa, intinya kamu tidak boleh pergi dari sini"ujar rindi dengan tegas.


"Kenapa kalian melarangnya?"tanya leon tidak habis dengan mereka.


"Kamu akan pergi dari sini bersama dengan daddy sayang"ujar leon, menatap lembut alin.


Cya kecil memang terbiasa memanggil leon dengan sebutan daddy jadi jangan heran lagi ya.


"Aku akan pergi sendiri"ujar alin.


"Tidak! Kamu tidak boleh pergi sendiri"ujar leon tidak terima.


"Apa kamu juga marah pada daddy?"tanya leon heran


"Anda sama saja seperti mereka tuan"jawab alin menatap datar leon.


Leon memang tidak pernah bermain kasar pada cya, tapi pria ini hanya diam saja jika mereka semua sedang menyiksanya.


"Baby-


"Berhenti memanggilku seperti itu!"sentak alin menatap tajam leon yang kini sedang menatap sendu dirinya.


"Kau tidak lebih baik dari mereka semua tuan leon!"seru alin menatap tajam leon.


"Gak baby, daddy sayang sama kamu-


"Jika anda memang menyayangi saya, anda tidak akan diam saja saat mereka semua menyiksa saya!!"


"Oke! Daddy salah! Maaf, maafin daddy ya"ujar leon menatap alin dengan tatapan memohon.


Alin membuang wajahnya, enggan menatap leon.


"Alin, sebenarnya apa mau mu sayang"ujar leon frustasi.


Dia tidak ingin alin membencinya. Dia mengakui jika dia salah karna telah mengabaikan alin. Tapi saat itu dia masih belum tau kebenarannya dan sekarang dia telah mengetahui semuanya, karna itulah dia menyesal dan berusaha mendekat pada alin lagi.


Keluarga anderson memang telah mengetahui semua kebenarannya.


Flashback on.


Satu tahun yang lalu.


"Apa benar jika cya lah yang mendorong andin?"tanya aris pada abel yang kini telah menegang.


Mereka semua sedang berada di ruang keluarga karna aris lah yang menyuruhnya entah ada apa.


"Apa maksud mu mas? Kamu tidak percaya dengan abel?"tanya rindi menatap tidak percaya pada suaminya itu.


"Bukan masalah itu rindi"


"Lalu apa?"tanya rindi.


"Ada apa denganmu aris?"tanya aril menatap aneh pada adik kembarnya itu.


"Diamlah!"


"Abel jawab papa"ujar aris dengan penekanan.


Sedangkan adam hanya menyimak saja, dia juga cukup penasaran dengan sikap aris sekarang.


"I-iya pa cya lah yang dorong kak andin"jawab abel.


"JANGAN BOHONG ABEL!"abel tersentak kaget saat aris membentaknya. Bukan hanya abel saja namun semua keluarga anderson kini menatap tak percaya pada aris. Baru kali ini dia membentak abel, ada apa sebenarnya.


"ARIS!"bentak adam.


"Jangan membentak cucuku"desisnya menatap aris tajam.


"Cucu?"aris menatap datar adam.


"Lalu cya siapa?"tanya nya


"Dia adalah pembunuh!!"jawab adam


"DIA BUKAN PEMBUNUH AYAH!"teriak aris frustasi.


"Apa maksud papa?"tanya kenzi bingung


"Bukan cya yang mendorong andin tapi abel"jawab aris.


Deg


Mereka semua menegang dan menatap tak percaya pada aris.


Sedangkan abel telah bergetar ketakutan.


"Gak mungkin! Apa kau tidak waras aris? Abel tidak akan melakukan hal itu!"bantah aril


"Lalu ini apa?"aris menunjukan rekaman cctv saat kejadian andin yang mengalami kecelakaan.


Disana terlihat abel dan andin yang sedang memperebutkan bola dipinggir jalan. Sedangkan cya sedang berusaha memisahkan mereka berdua namun naas. Abel tidak sengaja mendorong andin ke jalan dan bertepatan dengan itu ada sebuah truk yang melintas dengan kencang.


Awalnya jalanan memang sepi tapi ntah kenapa, truk itu tiba tiba datang dan menabrak tubuh andin.


Deg


Sontak saja mereka membeku ditempat saat melihat rekaman itu.


Mereka semua langsung menatap tak percaya pada abel.


Dan abel langsung bersimpuh dilantai dan menangis.


"Maafin abel hiks"


"Kenapa?"tanya tanti


"Abel gak sengaja dorong kak andin mi hiks dan hiks dan karna panik, abel langsung nuduh cya hiks"


"Abel gak mau kalian benci abel hiks karna itulah abel bohong hiks maaf maafin abel"abel bersujud dengan kedua tangannya yang menyatu.


Rindi yang melihat itu menjadi tidak tega. Dia langsung membantu abel berdiri dan memeluknya.


"Maafin abel ma abel salah hiks"


"Mama maafin, lain kali abel gak boleh lakuin itu lagi"ujar rindi.


Sebenarnya rindi ingin marah pada abel namun ia tahan karna dia tidak tega melihat putrinya menangis seperti itu.


Untuk cya, dia akan mencari putrinya itu sampai dia menemukannya.


Leon yang melihat itu terkekeh sinis. Semua orang sontak menatap leon yang kini telah menatap dingin mereka.


"Begitu mudahnya kalian memaafkan gadis itu?"tanya leon tidak habis pikir.


"Abel bilang dia tidak sengaja leon, lagi pula kecelakaan tidak bisa diprediksi bukan"jawab tanti.


"Jika cya yang bilang seperti itu? Apakah kalian akan memaafkannya?"ucapan leon membuat mereka semua menjadi bungkam.


"Maaf uncle hiks" ujar abel


"BERHENTI MEMANGGIL KU SEPERTI ITU!! Leon membentak abel.


"LEON JAGA BICARAMU!"bentak adam.


"KENAPA?! DIA LAH YANG MEMBUNUH ANDIN!!"


"DAN DIA LAH YANG MENJADI ALASAN DARI SEMUA PENDERITAAN CYA! APA KALIAN TIDAK PERNAH BERPIKIR?!"


"CYA ADALAH PUTRI SAH DARI KELUARGA INI DAN DIA HANYALAH ANAK PUNGUT YANG BERMIMPI UNTUK MENGGANTIKAN SEORANG PRINCESS"


PLAK


Adam menampar leon.


"Hentikan ucapan mu itu"desis adam, menatap tajam leon.


Sedangkan justin langsung pergi dari sana karna dia tidak percaya dengan rekaman itu. Abel tidak akan melakukannya, mungkin cya lah yang mengancam abel agar gadis itu tidak disalahkan dan bisa kembali ke rumah ini.


Cih tidak akan dia biarkan.


"Hahaha" leon tertawa miris dan menatap iba mereka semua.


"Kalian membenci cya karna mengira gadis kecil itu sebagai pembunuh kakaknya bukan? Lalu kenapa kalian tidak bisa memperlakukan abel seperti kalian memperlakukan cya?"


Mereka semua hanya bisa bungkam saat mendengar ucapan itu terlontar dari leon.


"Sadarl!! Dia hanyalah seorang benalu yang berniat menghancurkan keluarga ini" ujar liam menunjuk abel yang sedang bergetar ketakutan dalam pelukan rindi.


"Kenapa kalian begitu bodoh?" Lanjutnya lalu pergi meninggalkan mereka yang terdiam dengan pikiran masing masing.


Flashback off.


"Apa mau ku?"alin mengulang pertanyaan leon


"Aku mau pergi dari sini"lanjutnya.


Mereka semua terdiam. Alin akan pergi meninggalkan mereka? Tidak! Tidak akan mereka biarkan. Sampai mati pun, alin akan tetap bersama mereka.


lalu gadis itu berlari masuk ke kamarnya dan membereskan semua barangnya. Yang alin bawa hanya tas ranselnya dan handphonenya saja, karna semua pakaian yang ada di lemari gadis itu milik keluarga anderson, jadi dia tidak membawanya.


Setelah itu alin keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan buru buru.


"ALIN!"teriak aris setelah sadar dari keterdiaman nya. Begitupun dengan yang lain.


Dengan cepat kenzi mengejar alin dan menahan tangannya.


"Mau kemana"ujar kenzi


"Aku mau pergi. Lepasin"alin berusaha melepaskan tangannya namun tidak bisa.


"Kamu gak boleh pergi"tekan reza


"Siniin tas nya"arthur mengambil paksa tas alin.


"Sekarang masuk ke kamar lo alin"ujar justin. Entah kenapa pemuda ini juga ikut marah saat melihat alin yang ingin pergi meninggalkan mereka.


"Gak mau"jawab alin yang masih berusaha melepaskan cekalan kenzi.


"Gue bilang masuk alin masuk!"tekan justin menatap tajam alin.


"GUE BILANG GAK MAU! YA GAK MAU!! LO BUDEK?!"teriak alin kesal.


"ALIN JAGA BICARAMU!"bentak steven tanpa sadar.


Alin beralih menatap steven tajam. Berani sekali pemuda ini membentaknya.


"Maaf sayang"ujar steven saat sadar dengan bentakannya.


"Sekarang kamu nurut ya"lanjutnya dengan lembut.


Dia tidak ingin membuat alin membencinya.


"Aku gak mau!"seru alin.


"Kalian gak bisa egois kayak gini!"lanjutnya seraya menatap tajam mereka semua.


"Kenzi lakukan sekarang"titah adam datar.


Setelah mendapatkan perintah, kenzi mengambil suntikan yang berada di sakunya.


Sedangkan alin langsung mundur saat melihat kenzi yang mulai berjalan menghampirinya.


"Ma-mau apa"ujar alin terbata bata sembari menatap was was pada pemuda itu.


"Ini gak akan sakit sweetie"ujar kenzi menatap lembut alin.


Adam memberikan kode pada steven dan reza. Lalu kedua pemuda itu langsung memegang kedua tangan alin agar dia tidak berontak.


"KALIAN MAU APA?! LEPASIN!"teriak alin sembari berontak namun tidak bisa karna tenaganya yang jauh berbeda dengan kedua abangnya itu.


"Ini hanya sebentar sayang"ujar reza.


"Cepat kenzi!"seru tanti.


"GAK! GAK!! APA YANG MAU KALIAN LAKUIN?! LEPAS!"teriak alin histeris saat melihat kenzi yang telah bersiap menyuntiknya.


"Maaf sayang"lirih kenzi lalu dengan cepat dia menyuntik alin.


Alin yang tadinya berontak, kini melemas dan akhirnya kesadaran gadis itu pun menghilang.


Sebelum alin terjatuh, kenzi langsung memeluknya.


"Maaf dek. Jangan benci abang"lirih kenzi lalu mencium kening alin.


"Bawa alin ke kamarnya"ujar aril dan langsung dituruti oleh kenzi.


Kini mereka semua terdiam dengan pikiran masing masing.


"Apakah ini akan berhasil mas hiks"ujar rindi menyadarkan mereka.


"Iya, karna cuma ini yang bisa kita lakuin sayang"jawab aris seraya membawa rindi dalam dekapannya.


...***...


Sudah 2 hari alin tidak sadarkan diri dan itulah yang membuat keluarganya khawatir, takut terjadi apa apa pada alin.


"Kenzi kenapa alin tidak bangun juga sampai sekarang?"tanya aril menatap sendu keponakannya sekaligus putrinya yang terbaring lemah dikasur.


"Apa kau salah memasukkan cairannya?"tanya leon menatap menyelidik kenzi.


Mereka yang mendengar itupun sontak menatap kenzo dengan pandangan berbeda beda.


"Gak, aku gak salah masukin cairannya"jawab kenzi dengan yakin.


"Terus kenapa alin masih belum sadar"ujar rindi sembari mengelus kepala alin dengan sayang.


"Tubuh sweetie terlalu lemah ma, karna itu efeknya akan sedikit besar untuk dia"jelas kenzi.


"Kapan kamu sadar sayang"aris mencium kening putrinya dengan lembut.


Sebenarnya dia tidak ingin melakukan ini, tapi keadaan lah yang memaksanya. Dia tidak ingin kehilangan putrinya untuk kedua kalinya, jadi dia terpaksa melakukan cara ini agar bisa mempertahankan alin disisi nya.


Jika saja putrinya ini tidak memaksa untuk pergi mungkin dia tidak akan melakukan hal ini.


"Engh"satu lenguhan dari gadis itu dapat menarik perhatian mereka semua.


"Sayang"panggil adam seraya memegang tangan cucunya.


Kelopak mata yang telah 2 hari tertutup itu akhirnya terbuka.


"Air"lirihnya lalu dengan cepat reza memberikannya dan membantunya minum dengan perlahan.


"Shh"alin memegang kepalanya yang berdenyut sakit.


"Kenapa?"tanya arthur sedikit panik.


"Kepala alin sakit bang"


Arthur membeku saat mendengar panggilan itu keluar dari mulut alin.


Begitupun dengan yang lain, mereka semua tersenyum senang dan menatap haru alin.


Sedangkan alin masih sibuk menormalkan rasa sakitnya.


"Mama kepala alin sakit hiks"rengek alin dengan air mata yang telah bercucuran.


"Yang mana sakit sayang? Sini mama pijitin ya"ujar rindi lalu memijit kepala putrinya dengan lembut.


"Apakah itu berhasil"gumam adam tanpa mengalihkan pandangannya dari alin. Gumaman adam hanya bisa didengar kenzi karna pemuda itu tepat disebelah adam.


"Tentu saja opa"jawabnya


"Apakah kau meragukan keahlian ku"kenzi melirik adam sinis.


"Jangan sombong anak muda"balas adam menatap kenzi tak kalah sinisnya.


Mau tau apa yang disuntikan kenzi pada alin? Itu adalah cairan penghilang ingatan. Tapi gadis itu masih ingat identitasnya. Alin hanya melupakan kejadian 2 hari yang lalu.


"Kepalanya masih sakit hiks"ujar alin


"Kenzi periksa alin"titah aris sedikit khawatir.


Kenzi langsung memeriksa keadaan alin.


"Sweetie udah gak papa"ujarnya


"Tapi kenapa kepalanya sakit bang?"tanya steven bingung


"Itu normal"ujarnya singkat.


"Nanti abang kasih obat pereda sakit biar kepala alin gak sakit lagi"ujar kenzi tersenyum lembut pada alin.


"Makasih bang ken"ujar alin tersenyum manis saat rasa sakitnya sedikit berkurang.


"Ken?"beo kenzi


"Iya, itu panggilan sayang dari alin"jawab alin dengan antusias.


Kenzi yang mendengar itupun langsung mencium pipi alin gemas. Sedangkan yang lain hanya bisa mendengus kesal.


"Menjauhl lah darinya"ujar leon sembari menarik kerah baju bagian belakang milik kenzi hingga pemuda itu mundur.


"Uncle!"seru kenzi tidak terima namun seruannya tidak di hiraukan oleh pria itu.


Leon malah memeluk alin erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk gadis itu.


Dia sangat takut alin membencinya seperti tadi, demi apapun dia tidak ingin melihat tatapan datar dari gadis ini.


"Uncle?"beo alin. Leon melepaskan pelukannya dan menatap lembut alin.


"Panggil daddy baby"ujarnya


"Daddy? Tapi kenapa bang ken manggil om uncle?"tanya alin bingung.


"Untuk kamu spesial sayang"leon mencubit gemas hidung mungil alin.


"Oke daddy"ujar alin girang.


"Kamu istirahat dulu ya sayang"ujar aris


"Alin gak papa kan ditinggal sendiri? Atau mau mami temenin?"tanya tanti menatap lembut alin.


"Gak usah mi, alin gak papa kok sendirian"jawab alin.


"Kita pergi ya princess"ujar aril dan langsung mendapatkan anggukan dari alin.


Kini semua orang telah keluar dari kamarnya. Oh kecuali satu, justin.


Pemuda itu masih senantiasa menatap alin lekat tanpa berniat memutuskan pandangannya.


"Bang justin"panggil alin dengan ragu.


Justin tidak menjawabnya.


"Bang-


Grep


Belum sempat alin menyelesaikan ucapannya, justin langsung berlari dan memeluknya erat. Sedangkan alin hanya terdiam, dia bingung dengan sikap justin yang sekarang. Bukannya pemuda ini begitu membencinya?


Hingga sebuah isakan terdengar di telinga gadis itu yang dapat menyadarkannya dari lamunannya.


Alin terdiam tidak percaya. Apakah justin menangis? Dia merasakan lehernya basah dan melihat tubuh pemuda ini sedikit bergetar.


Alin mengelus punggung justin guna menenangkannya.


"Abang kenapa?"tanya alin dengan lembut.


"Maaf"lirihnya. Sedangkan alin mengernyitkan dahinya bingung.


"Maafin abang lin hiks maaf"kini justin telah sadar dengan kesalahannya setelah mendengar semua ucapan alin saat itu.


Selama 2 hari ini dia selalu merasa menjadi orang paling bodoh dan abang yang jahat untuk alin. Jelas jelas semua kebenarannya telah terungkap didepan matanya sendiri tapi dengan bodohnya dia malah tidak mempercayainya.


Dia hanya belum bisa merelakan kepergian andin dan tidak ingin mempercayai jika abel, adik kesayangannya itulah yang mendorong andin.


"Alin maafin kok, abang jangan nangis lagi ya nanti alin jadi ikutan nangis"ujar alin lalu justin melepaskan pelukannya.


Kemudian pemuda itu terkekeh geli saat melihat mata alin yang telah berkaca kaca. Padahal seharusnya hanya dia lah yang menangis tapi gadis ini malah ikutan nangis. Kenapa alin sangat selucu ini? Dan kenapa dia baru menyadarinya.


"Jangan nangis"lirih alin menatap melas pada justin.


"Hey kenapa alin yang nangis?"tanya justin heran


"Karna abang nangis"jawabnya dengan lesu.


"Hahahaha"tawa justin pecah begitu saja.


"Abang kenapa ketawa?"tanya alin bingung.


"Kamu kok lucu banget sih"


Cup


Cup


Cup


Justin mencium gemas di kedua pipi alin dan hidung mungilnya.


"Tidur ya"ujar justin


"Sini abang temenin"lanjutnya sembari membawa alin kedalam pelukannya.


"Alin"panggil justin dengan tangannya yang senantiasa mengelus kepala alin.


"Hm"jawab alin dengan suara yang teredam di dada bidang justin.


"Alin mau gak janji sama abang"alin mendongak menatap penasaran pada justin yang juga sedang menatapnya.


"Janji apa?"tanya nya


"Jangan pernah tinggalin abang dan keluarga ini apapun yang terjadi"ujar justin menatap alin serius.


Tanpa pikir panjang, alin langsung mengangguk. Setelah itu dia mengeratkan pelukannya dan tertidur dalam pelukan justin.


"Semoga kamu bisa tepatin janji kamu dek"lirih justin lalu mencium kening alin dengan lembut. Setelah itu dia ikut memejamkan matanya.


"Mungkin ini yang terbaik untuk kebahagiaan anda tuan" batin sistem yang sedari tadi melihat semuanya.


Sistem benar, alin harus bahagia di dunia ini walaupun untuk sementara dan anggap saja gadis itu telah memberikan kesempatan kedua untuk keluarga anderson menebus semua kesalahan mereka.


_______________________________


Bersambung...