
Tandai typo✔️
Happy reading~
________________________________
"Engap juga yak" batin alin dengan nafas ngos ngosan.
The blue menghampiri alin yang masih mengatur nafasnya.
Author mau kenalin the blue dulu ya:)
The blue. Seperti namanya, kumpulan para cogan yang pecinta warna biru. Warna aja dicinta apa lagi readers ya kan wkwk.
The blue adalah salah satu geng motor di jakarta yang termasuk geng motor terbesar di kota itu, sama seperti geng aodra dan geng alaska.
Inti the blue :
Ketua : Steven Elvio Anderson, putra ketiga keluarga anderson sekaligus kakak dari sang protagonis.
Wakil Ketua : Reynando Gionino Anggara, putra kedua keluarga anggara.
Bendahara (pertama) : William Leonard, putra tunggal dari keluarga leonard.
- Bendahara (kedua) Kenan Mario Milton, putra sulung dari keluarga milton, sekaligus wakil ketua osis AHS.
Hacker (pertama) : Dion Erlangga Bagaskara, putra ketiga dari keluarga bagaskara.
- Hacker (kedua) : Aiden Julian Abraham, putra tunggal kelurga abraham, sekaligus ketua osis AHS.
Untuk sifat, biar kalian aja yang nentuin sendiri:) intinya gak ada yang kutub ya guys.
Oke kembali ke topik.
"Capek?"tanya steven seraya menghapus bulir bulir keringat yang ada di dahi alin.
Alin hanya bisa terdiam saat diperlakukan seperti itu. Ingin rasanya dia menendang pemuda ini namun dia tidak sebodoh itu hingga membongkar topengnya sendiri.
"Gak kenal abang baby?"tanya nya lagi dengan deep voice yang sukses membuat alin merinding, karena posisi mereka berdua lumayan dekat.
Alin mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
"Yang semalam"seolah mengerti, steven melanjutkan ucapannya yang terdengar ambigu ditelinga para sahabatnya.
"Eh! Lo ngapain semalem sama alin?"tanya kenan mendelik tajam kearah steven yang hanya menatap santai dirinya.
Sedangkan alin hanya diam dan berusaha mengingat tentang kejadian semalam.
Tidak lama dari itu, gadis tersebut membelalakkan matanya terkejut dan itu tidak luput dari penglihatan mereka semua.
"Sudah ingat?"tanya steven sembari tersenyum tipis pada alin.
"An*ir dia kan cowok semalem yang gue pinjem rumahnya" batin alin
"Gue harus gimana ini, pengen nangis ajalah. Gue kira cuma untuk semalem aja gue malu, kenapa malah sekarang juga. Malu bekas semalem aja masih belum hilang" lanjutnya meringis malu.
Alin menghampiri steven dengan wajah yang memerah malu, lalu gadis itu menarik baju seragam steven. Sedangkan steven hanya menaikkan kedua alisnya heran.
"Kenapa?"tanya steven
"Nunduk dulu"ujar alin dan dituruti oleh pemuda itu.
"Jangan bilang siapa-siapa ya kak soal semalem, sebenernya alin terpaksa pinjem rumah kakak"bisik alin.
Steven menahan senyum saat mendengar ucapan alin yang terdengar imut di pendengarannya.
"Ada uang tutup mulutnya"ujar steven
"Dih perhitungan banget ni orang" batin alin kesal.
"Kakak mau uang berapa?"tanya alin
"Bukan uang"alin mengernyitkan dahinya bingung yang malah terlihat gemas dimata mereka.
"Terus?"tanya nya
"Panggil aku dengan sebutan abang"ujar steven menatap serius alin.
"Hah"alin tercengo.
Hanya itu? Apa pemuda ini terlalu kaya sehingga dia terlalu bosan untuk meminta uangnya?
"Ta-
"Gak ada penolakan"sela steven menatap dingin alin.
"Ni orang punya berapa muka dah" batin alin heran saat melihat steven dengan cepat mengubah raut wajahnya.
"Sadar diri tuan"
"Ck"
"Iya abang"ujar alin sedikit canggung.
"Anak pinter"ujar steven tersenyum manis.
"Eh kalian bisik-bisik apaan dah?"tanya dion penasaran.
"Gak"ujar steven santai, oh jangan lupakan senyuman manis yang terus saja terpancar di wajah tampannya.
"Kesurupan lo stev?"ujar liam menatap takut pada steven.
Plak
Dengan entengnya steven menggeplak kepala liam yang membuat sang empu mendelik sinis.
Bahkan pemuda itu tersenyum dengan sangat manis setelah berhasil memukul liam.
"Hai alin dita"sapa abel tersenyum manis.
"Hai kak"jawab mereka berdua.
"Selamat ya kalian berhasil"ujar abel.
"Ini kak"ujar dita girang seraya menyerahkan buku yang telah terisi banyak tanda tangan dari macam-macam kakak kelas.
Abel mengambil buku dita lalu menuliskan namanya disana dan tidak lupa juga tanda tangannya, setelah itu dia mengembalikan buku tersebut kepada yang punya.
"Bentar"ujar abel saat alin ingin menyerahkan bukunya.
Alin mengernyitkan dahinya bingung begitu juga dengan yang lain.
"Kenapa kak?"tanya alin bingung.
"Tantangan buat kamu belum selesai, kamu harus battle dance sama aku"ujar abel dengan santainya.
Alin membelalakkan matanya tidak terima.
"Abel ban*sat dia kira gue robot apa?!" Batin alin menahan dirinya agar tidak mencakar wajah polos abel.
Sedangkan yang lain, tidak jauh berbeda dari alin. Mereka menatap tak percaya abel karena gadis itu berbicara dengan santai seolah olah tidak tau apa apa. Padahal mereka semua tau betapa lelah nya alin, dan sekarang gadis itu ingin dance lagi? Yang benar saja!
"Eh cewek gila!!"sentak seorang gadis bersama kedua temannya menatap tajam abel yang kini telah merubah raut wajahnya menjadi ketakutan. Ketakutan?
"Lo jangan seenaknya gitu dong! Lo pikir ni anak dance dari tadi gak ngeluarin tenaga apa?!"ujar gadis itu seraya menunjuk alin yang sedang menatap mereka dalam diam.
"Itu emang tantangan dari aku, kalo dia gak sanggup, aku juga gak maksa"jawab abel dengan takut takut.
"Emang bener lo gak maksa tapi dia butuh ttd lo bego!"ujar teman gadis tadi
"Kalo dia butuh, ya lakuin aja tantangan yang aku kasih tadi kenapa malah jadi panjang?"tanya abel polos.
"Lo lama lama ngelunjak juga ya"
"Heh anabel! Kita semua disini tau kalo dari tadi alin dance itu capek. Lo pikir dia robot?seenaknya aja nyuruh dia dance lagi"ujar siswa menatap tajam abel
"Mendingan lo aja sana! Jungkir balik aja sekalian!"ujar seorang siswi dengan dandanan menor menatap sinis abel.
"Jangan mentang-mentang lo disini anggota osis jadi seenaknya dengan adkel!"ujar siswa lainnya.
"Iya bener"ujar mereka yang ada disana serentak.
"Hiks kalian kenapa marahin aku? Hiks aku salah apa?"ujar abel sesegukan.
"NANGIS AJA DI GEDEIN OTAK KAGAK!"
"DIA KAN GAK ADA OTAK"
"HAHAHAHA"
Sedangkan alin yang mendengar itupun berusaha mati matian agar tidak menyemburkan tawanya begitu saja saat melihat wajah merah malu dari abel seperti menahan berak.
"Bang hiks"abel menatap sayu pada steven yang sedari tadi menatapnya dalam diam, begitupun dengan para sahabatnya.
"Kenapa mereka malah diem aja sih" batin abel kesal.
"BISA DIEM GAK?!"bentak steven yang langsung membuat suasana disana menjadi senyap seketika.
Siapa yang berani menentang anak dari pemilik sekolah yang mereka tempati sekarang. Tidak ada satu pun yang berani.
"Ck ck anak pemilik sekolah ternyata hebat juga ya statusnya" batin alin miris
Sedangkan abel yang mendengar bentakan steven pun tersenyum miring dalam tangisnya.
"Sstt udah ya, jangan nangis lagi. Udah abang marahi mereka"ujar steven lembut seraya membawa tubuh abel kedalam pelukannya.
"Kok gue sakit ya ngeliat mereka berdua" batin alin memegang dadanya sembari menatap steven dan abel dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa gue malah pengen nangis?" Lanjutnya dengan mata berkaca kaca tanpa ia sadari.
Alin juga tidak tau ada apa dengan dirinya ini. Kenapa tiba tiba dia merasa tidak nyaman saat melihat kedekatan steven dan abel. Apakah dia jatuh cinta pada pemuda itu? Alin langsung menepis pikiran anehnya itu dari otaknya.
"Kenapa?"tanya rey heran dan hm..sedikit khawatir saat melihat alin yang sepertinya ingin menangis.
Mereka yang mendengar ucapan rey pun langsung menatap pemuda itu dan terlihatlah alin yang telah bercucuran air mata, karena gadis itu berdiri tepat disamping rey.
"Alin? Kenapa hm?"tanya dita khawatir. Takutnya gadis itu menangis karena cedera atau apalah itu tanpa dia sadari.
"Hah? Apa?"tanya alin linglung.
"Kenapa nangis?"tanya dion
Alin langsung memegang pipinya yang basah karna air matanya.
"Astaga gue beneran nangis?!" Batin alin tidak percaya.
"Oh hehe gak papa, alin cuma kelilipan kok"ujar alin terkekeh canggung karna mereka semua menatapnya begitu intens.
"Beneran?"tanya liam memastikan dan langsung di angguki oleh alin.
Sedangkan kenan dan steven, menatap alin rumit. Entah apa yang dipikirkan oleh kedua pemuda itu.
"Alin sini bukunya"ujar abel
"Buat apa kak?"tanya alin bingung.
"Mau tanda tangan gak?"tanya abel
"Mau mau"jawab alin semangat yang membuat mereka menatap nya gemas.
"Cih, kalo aja gue gak disuruh bang steven. Ogah banget ngasih ttd gue ke cewek bodoh itu" batin abel menahan kesal.
Lalu alin memberikan bukunya dan diterima abel.
"Makasih kak"ujar alin tersenyum manis setelah mengambil bukunya yang telah selesai di tanda tangani oleh abel.
"Sama sama"jawab abel tersenyum simpul dengan terpaksa.
"Kalian gak mau nambahin gitu?"tanya alin kepada inti the blue yang hanya menatapnya intens. Dia kan jadi malu:(
"Boleh tapi ada syaratnya"ujar dion
"Apa?"tanya alin penasaran.
"Kita foto berdua dulu baru nanti gue kasih ttd gue"ujar dion tersenyum manis.
"Mendadak dapet fans?" Batin alin
"Cuma foto kak?"tanya alin dan diangguki oleh dion.
"Oke"
"Eh gue ikut dong"ujar rey dan liam bersamaan.
"Gak boleh"ujar dion menatap mereka sinis.
"Fotoin"lanjutnya seraya menyerahkan hp nya kepada liam.
"Ck ogah"tolak liam.
"Oh gak mau? Gue bocorin ni-
"Iya! Iya! Nyebelin banget sih lo"sela liam menatap tajam dion yang kini sedang tersenyum puas.
"Nanti sekalian ttd punya dita juga ya kak"ujar alin
"Iya"jawab dion.
Lalu dion menghampiri alin dan berdiri tepat disamping gadis itu.
"Deketan lin, itu kejauhan"ujar dita saat melihat jarak alin dan dion yang cukup terbilang jauh.
Alin bergeser.
"Masih jauh itu"ujar dita
Belum sempat alin bergeser, dion langsung menarik pinggang alin hingga tubuh alin benar benar menempel pada dion.
Sedangkan alin yang diperlakukan seperti itu tentu saja kaget dan langsung menatap dion yang kini malah tersenyum manis menatapnya.
Mereka semua yang melihat itupun hanya bisa melongo.
Kini mereka berdua sedang bertatap tatapan ala ala sinetron.
"Cantik" batin dion
"Matanya bangus banget"batin alin terpukau
Cekrek
Bahkan liam saja tidak sadar jika jarinya telah memencet tombol kamera.
Alin tersadar saat mendengar suara kamera. Lalu gadis itu menjauhkan tubuhnya dengan canggung, sedangkan dion hanya menatap alin dengan senyuman tipis.
"Sia*an" batin abel marah
"Sini"ujar dion seraya mengambil hp nya dari tangan liam yang masih menatapnya cengo.
Lalu dia melihat fotonya bersama alin.
"Bagus"ujarnya tersenyum simpul.
"Tapi kan alin belum siap kak"ujar alin
"Gak papa, gue lebih suka yang ini"ujar dion.
"Mana bukunya"lanjutnya. Lalu alin memberikan bukunya dan dita yang langsung di tanda tangani oleh dion dan tidak lupa juga menuliskan namanya.
"Degem mau ttd kakak gak?"tanya liam yang mendapatkan respon sinis dari mereka.
"Mau kak mau"jawab alin senang.
"Tapi ada syaratnya"ujar liam.
"Bangsa* syarat mulu dari tadi" batin alin menggerutu.
______________________________
Bersambung...