
Tandai typo✔️
Happy reading~
___________________________
Kini alin sedang dalam perjalanan menuju sekolahnya bersama justin.
Suasana di mobil sekarang hanya ada hening. Justin memang membawa mobil tadi entah karna apa pemuda itu tidak membawa motor yang biasanya ia pakai ke sekolah.
Justin yang fokus menyetir dengan sesekali dia melirik alin yang terdiam menatap jendela mobil disampingnya.
Alin diam dengan pikirannya yang kemana mana.
"Kok perasaan gue gak enak ya" batin alin gusar.
Dia tidak tau mengapa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, dan alin merasa akan terjadi hal buruk yang akan dia hadapi.
"Ekhem"alin mengalihkan pandangannya pada justin, namun hanya sebentar karna gadis itu langsung memalingkan wajahnya saat bertatapan dengan justin.
Karna bosan, alin memainkan ponselnya tanpa menghiraukan justin yang terus saja melirik nya.
"Gue minta maaf"ucapan justin, seketika menghentikan kegiatan alin.
Alin hanya diam tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone.
Justin yang melihat keterdiaman alin pun menghela nafas berat. Dia akui, semalam dia salah dan perkataannya telah keterlaluan maka dari itu dia ingin meminta maaf pada alin. Tapi sepertinya gadis itu enggan memaafkannya.
Alin melanjutkan aktifitasnya saat justin tidak melanjutkan ucapannya.
"Gue minta maaf lin, semalam perkataan gue terlalu kasar"ucapan justin sama sekali tidak direspon oleh alin sedikit pun. Gadis itu masih asik dengan dunianya sendiri tanpa menyadari tatapan justin yang kini telah menajam.
Justin menghentikan mobilnya saat telah sampai di parkiran AHS.
Belum sempat alin membuka seatbelt, justin langsung mendorong tubuh alin hingga menempel di sandaran bangku mobil.
Alin yang diperlakukan seperti itupun tentu saja kaget, dia ingin keluar dari mobil namun tidak bisa karna justin langsung mengurungnya.
"Terlalu deket bangs*t" batin alin kesal saat menyadari jarak mereka berdua sangatlah dekat.
"Minggir"tekan alin menatap tajam justin yang malah tersenyum tipis. Entah apa yang ada dipikiran pemuda gila ini, intinya alin ingin cepat cepat keluar dari mobil ini. Sesak sekali bestie. Gimana pun alin juga cewek yang doyan cogan:)
"Kalo gue gak mau"ucap justin dengan wajah tengilnya.
Entah kenapa dia suka sekali membuat alin kesal, ada rasa senang tersendiri baginya. Sepertinya membuat alin kesal adalah hobi barunya mulai saat ini.
Alin menutup matanya guna meredakan amarahnya yang telah mencapai diubun ubun.
"Tahan lin tahan. Inget dia abang lo jangan sampe lo kelepasan" batin alin
"Lo mau apa hm?"tanya alin dengan lembut.
Justin tertegun saat mendengar suara lembut alin, namun itu hanya sebentar.
"Gue minta maaf"ucap justin menatap dalam alin.
"Gini cara lo minta maaf sama orang?"balas alin sinis.
"Gini? Gimana?"tanya justin yang masih tidak peka.
"Lo minggir dulu bangsat!"sentak alin yang sudah kepalang kesal.
Justin mendatarkan wajahnya.
"Jangan mengumpat"ujarnya menatap alin dingin.
Hey ayolah alin hanya ingin keluar dari mobil ini kenapa susah sekali seperti mendapatkan crush yang telah berpawang.
"Lo mau gue maafin kan?"tanya alin
"Sekarang lepas dulu"lanjutnya dan dituruti oleh justin.
Alin yang mendapatkan kesempatan itupun dengan cepat membuka pintu mobil berniat kabur dari pemuda itu.
Alin? Memaafkan justin? Ck yang benar saja, dia bukan orang baik yang dengan mudahnya memaafkan seseorang. Alin masih ingat dengan jelas bagaimana dirinya direndahkan begitu saja didepan teman temannya justin.
Apakah alin dendam? Tidak, alin tidak dendam hanya saja dia masih belum bisa menerima permintaan maaf justin. Lagi pula, itu tidak terlalu penting bagi justin bukan? Secara kan dia membencinya jadi tidak masalah alin memaafkannya ataupun tidak.
Baru saja alin menginjakkan satu kaki nya ke tanah, gadis itu melototkan matanya dan langsung masuk kembali kedalam mobil.
Sedangkan justin yang sempat berusaha menggapai tangan alin pun dibuat keheranan saat melihat alin kembali masuk dengan wajah syok?
"Ken-
Belum sempat justin menyelesaikan ucapannya, alin menariknya hingga berada tepat didepan gadis itu. Jika saja dia tidak reflek menahan tubuhnya mungkin tubuh mungil alin akan kegencet.
Sekarang posisi mereka berdua kembali seperti sebelumnya.
"Diam"ujar alin saat melihat justin yang ingin protes.
Alin menjadikan tubuh justin sebagai penutup kaca depan yang transparan. Jadi, dia tidak akan terlihat dari luar karna tubuhnya kini berada dibawah kukungan justin.
Alin sedikit mengintip dari tubuh justin guna memastikan penglihatannya.
Dan ya! Penglihatannya tidak salah lagi. Alin menyenderkan tubuh lemasnya.
"Why? Kenapa mereka bisa disini? Kenapa? Kenapa?!! Batin alin histeris.
"Gue susah susah kabur dari mereka dan sekarang? Bisa bisanya mereka muncul"
Ingin tau apa yang alin lihat? Alin melihat inti aodra dan inti alaska yang sedang duduk dimotor mereka tepat diparkiran.
Tentu saja alin syok miska. Bermacam macam pertanyaan yang muncul dibenak gadis itu.
Kenapa mereka ada di AHS? Apakah mereka telah menemukan keberadaannya? Apakah dia ketahuan? Pikiran itulah yang sedari tadi menganggu nya.
Alin sebenarnya tidak takut pada mereka, dia cuma tidak ingin terlibat dengan para antagonis brengsek itu. Tapi sayangnya alin telah terlibat dengan mereka dari awal dia berada di dunia ini.
Justin hanya menatap alin lekat.
"Tenang jangan berprisangka buruk dulu"
"Tem, di alur cerita ada adegan mereka yang pindah sekolah demi abel kan ya?"
"Benar tuan" alin menghela nafas lega saat mendengar jawaban sistem.
"Oke. Mereka pindah ke AHS cuma demi abel dan gak ada hubungannya sama sekali dengan lo alin" lanjut alin menenangkan pikirannya.
Tanpa alin ketahui, sebenarnya mereka pindah itu karna dirinya lah.
Inti aodra dan alaska sudah tau jika alin bersekolah di AHS maka dari itu mereka pindah demi bertemu dengan alin.
Kenapa mereka bisa tau? Karna aldi lah, pemuda itu baru ingat, dia sempat menaruh gps di dalam tas alin tanpa diketahui gadis itu. Aldi melakukannya untuk berjaga jaga jika hal yang seperti ini terjadi.
Kenapa tidak dari awal? Manusia tidak luput dari lupa bukan? Dan karna itulah aldi dihajar oleh teman temannya. Mereka susah susah mencari keberadaan alin dan ternyata dengan bodohnya teman mereka satu itu melupakan gps yang ia letakkan.
Alin menatap justin yang masih menatap lekat dirinya. Dan akhirnya mereka berdua saling bertatapan.
"Coba aja dia bukan abang gue, dah gue gebet lo ngab" batin alin mengsedih.
Tidak ada yang berniat mengalihkan pandangan dari diri masing masing.
"Mau sampai kapan kalian tatap tatapan tuan" ujar sistem jengah menyadarkan alin.
"Ada hoodie?"tanya alin tanpa mengalihkan pandangannya.
"Untuk?"justin menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Pinjem"jawab alin.
"Iya buat apa"ujar justin sedikit kesal.
"Ck gak usah kepo"jawab alin tidak kalah kesal.
"Mau dimaafin apa gak?"lanjut alin saat melihat justin yang sepertinya ingin bertanya lagi.
"Ck"pemuda berdecak kesal lalu menjauhkan tubuhnya dari alin.
"Eh bentar bentar"seketika alin panik saat justin ingin menjauhkan tubuhnya, alin reflek menarik baju seragam justin agar pemuda itu tidak melanjutkan kegiatannya.
"Lo kenapa sih? Minggir dulu, gue mau ambil hoodie nya"ucap justin sedikit kesal sekaligus bingung dengan sikap alin yang tidak seperti biasanya.
Tanpa menjawab ucapan justin, alin merosotkan tubuhnya kebawah.
"Mana hoodie nya"ujar alin setelah menempatkan tubuhnya dibawah.
"Gila"justin menatap aneh alin, lalu pemuda itu mengambil hoodie hitamnya yang berada didalam tasnya.
"Nih"justin melemparkan hoodie nya tepat didepan wajah alin.
"Santai dong"ujar alin ngegas.
Justin tidak membalas ucapan alin, dia hanya melihat alin yang sibuk memakai hoodie nya ditubuh mungil gadis itu sehingga menenggelamkannya.
"Ada masker gak?"tanya alin setelah selesai memakai hoodie justin yang ternyata kebesaran ditubuhnya. Tapi tidak apa-apa, bukankah ini lebih baik.
Tanpa bertanya, justin menyerahkan satu box masker pada alin.
"Gue cuma minta sebiji bego"ujar alin kesal.
"Alin"tekan justin saat mendengar gadis itu dengan santainya mengumpat.
"Ck ribet banget lo"ucap alin.
"Gue toxic cuma sama lo"jawab alin.
"Kenapa?"tanya justin.
"Karna lo pantes"jawab alin santai yang membuat justin terdiam.
Setelah itu, justin keluar dari mobilnya dan diikuti oleh alin yang telah selesai menggunakan maskernya.
Siswa yang masih berada diparkiran itu pun sontak menatap bingung sekaligus penasaran pada alin yang berpenampilan tertutup seperti itu.
Tidak terkecuali inti aodra dan alaska yang sedang menatap penasaran pada alin.
Alin yang menyadari tatapan mereka itu pun langsung mendekat pada justin yang berjalan disampingnya.
"Ngapain lo?"tanya justin kaget saat alin tiba tiba saja merangkul tangannya.
"Diem dan terus jalan"desis alin sedikit kesal saat justin malah menghentikan jalannya tepat didepan inti aodra & alaska.
Justin melanjutkan jalannya dengan alin yang menggandeng tangannya.
Dengan jantung dag dig dug alin melewati mereka dengan selamat dan akhirnya bisa bernafas lega.
Namun itu hanya sebentar, karna andre menghalangi jalannya. Alin yang melihat andre berdiri tepat didepannya itu pun langsung menundukkan kepalanya.
Inti aodra & alaska mengikuti andre dan berdiri dibelakang pemuda itu tanpa mengalihkan pandangan mereka dari alin.
Justin yang melihat itupun mengernyitkan dahinya tidak suka.
"Kenapa?"tanya justin pada andre yang masih menatap alin.
Tanpa menjawab pertanyaan justin, andre mengangkat wajah alin hingga gadis itu mendongak dan menatapnya lekat.
Sedangkan alin telah merapalkan doa qunut dalam hatinya agar dia bisa selamat dari mereka.
"Robbana atina fidduniya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina adzabannar" batin alin panik hingga dia lupa bagaimana doa qunut.
"Sepertinya anda salah doa tuan"
"Eh iyakah?"
"Bodo lah. Intinya sama sama doa selamat"
Andre ingin membuka masker yang alin gunakan, tapi belum sempat dia melakukannya bel sekolah berdering menandakan pelajaran akan segera dimulai.
Justin langsung menarik alin saat melihat kode dari gadis itu.
"Tunggu"axel mencekal tangan alin. Lalu gadis itu menoleh kebelakang dan wuss
Secepat kilat, kevin menarik masker alin hingga terlepas.
Mereka terdiam dengan tatapan datar, begitupun dengan alin yang tercengo, mencerna peristiwa barusan.
"Anjing sekali ya kamu kevin" batin alin geram
"SURPRISE!!"teriak alin heboh. Tidak ada cara lain lagi selain membalikkan keadaan.
Krik krik krik.
Tidak ada respon yang sesuai dengan ekspetasi alin. Ck kenapa mereka malah berwajah tembok semua.
"Datar amat kayak hidup"cibir alin yang masih terdengar oleh mereka.
Sedangkan para siswa yang lain telah masuk ke kelas masing masing saat bel tadi.
"Dahlah, mending alin blacklist aja kalian dari daftar cogan alin"
"Gak suka ama yang datar datar, karna terlalu gelay"lanjutnya
"Byee"alin langsung ngacir berlari meninggalkan mereka yang hanya bisa menahan kesal saat mendengar ucapan gadis itu.
"ALIN!!"teriak mereka serentak kecuali gevan dan adnan yang hanya menatap datar alin.
Alin yang mendengar teriakan mereka pun langsung terjengkit kaget lalu dia menyengir sambil melambaikan tangannya.
"ALIN TUNGGUIN BANG ENDI"rengek rendi lalu berlari mengejar alin.
"Iya bang sendi"jawab aldi meniru suara banci sawah.
"Cabut"ujar gevan dan dituruti oleh yang lain.
Sedangkan justin hanya melongo.
"Gue sendirian ni ceritanya?"
"Ck bisa bisanya gue dibuang setelah digunain"justin terdiam saat menyadari ada yang aneh dari ucapannya.
"Kok rada ambigu yak"
"Bodo udin lah"lanjutnya acuh, kemudian berjalan menuju kelasnya.
Setelah kepergian justin, muncul seorang pemuda yang sedari tadi menyimak dengan tatapan dingin.
"Banyak sekali sainganku baby" batin pemuda itu
"Sepertinya aku harus berbuat sesuatu untukmu alin" lanjutnya.
...***...
Kringgg
Bel istirahat telah berbunyi menandakan waktunya para murid mengais makanan:)
Sama hal nya seperti kedua anak pungut ini.
"Cil kantin yok"ajak dita pada alin yang masih sibuk mengerjakan tugasnya.
"Bentar, dikit lagi"jawab alin
"Akhirnya"alin menghela nafas lega saat tugas nya telah selesai.
"Ayok kantin"ujar alin semangat sembari menarik tangan dita.
"Pelan pelan alin, nanti lo nyung-
Dug
"Sep"lanjut dita dengan lirih.
Alin tidaklah nyungsep guys, tapi kepentok dada human.
"Duhh"alin meringis saat merasakan dahinya nyut nyutan. Lalu gadis itu mendongak untuk melihat siapa pelaku dari kecelakaannya tadi.
Seketika alin terdiam saat melihat adnan berdiri tepat didepannya dengan bersedekap dada, sedangkan inti aodra dan alaska juga ikut berdiri didepan alin dengan melingkar.
Jadilah alin berada ditengah tengah mereka.
Alin menelan salivanya gugup karna mereka semua yang menatap alin dengan tatapan berbeda beda.
"Dita"cicit alin namun tidak ada respon dari gadis itu.
"Di-
"Dia udah ke kantin duluan"sela andre.
Dita memang disuruh oleh axel ke kantin duluan dan meninggalkan alin pada mereka. Awalnya dita sempat ragu meninggalkan bocil kesayangannya namun ketika mendengar ucapan meyakinkan dari rendi, akhirnya dia sedikit percaya pada mereka.
Lagi pula siapa yang tidak kenal dengan mereka?, Aodra dan alaska adalah geng motor terbesar di kota ini.
"Huaaa gue mau ngilang aja dahh serius" batin alin putus asa.
"Ikut kami"kevin menarik lembut tangan alin.
"Mau kemana kak?"tanya alin was was sembari terus mengikuti langkah kevin dan tidak lupa yang lainnya juga ikut mengintil.
"Gue gak akan diperawanin kan?" Batin alin cemas.
"Tenang aja, kita gak bakal ngapa ngapain kok"bisik axel tepat ditelinga alin.
Alin menjadi merinding sendiri saat merasakan hembusan nafas axel.
"Tolongg gue meluap"
"Meleyot tuan" ralat sistem.
"Sejak kapan diganti?"
"Sejak anda menjadi ironmen"
"Sayangnya gue bukan ironmen tem"
"Jadi apa tuan?"
"Alam barzah the beban"
Sistem bergidik ngeri saat mendengar ucapan tuannya itu.
_________________________
Bersambung...
Segini dulu:)