
tandai typo✓
happy reading~
__________________________
Saat ini alin berada di sebuah kamar yang terdapat di markas black moon.
Gadis itu menatap kosong langit langit kamar.
"Cya"gumamnya saat melihat sesosok gadis cantik bergaun putih yang sangat mirip dengan wajahnya sekarang.
Alin langsung terduduk setelah ia sadar jika sosok itu adalah cya, pemilik tubuhnya yang kini tengah tersenyum manis padanya.
"Hai kak alin"
Alin turun dari ranjang dan berjalan menghampiri cya. Dia ingin memegang tangan gadis itu namun tidak bisa, alin berusaha mencoba berulang kali tapi hasilnya tetap sama.
"Kakak gak akan bisa nyentuh cya" cya menatap lembut alin yang terdiam membisu.
"Kenapa"gumam gadis itu
"Karna takdir" cya tersenyum tipis.
"Apa cya bisa balik lagi ketubuh ini?"tanya alin
"Gak bisa kak" cya menggelengkan kepalanya.
"Kakak udah ditakdirkan untuk menjadi pemilik tubuh cya selanjutnya. Cya terlalu lemah untuk menghadapi dunia yang penuh dengan drama. Tapi kak alin gak, kakak bisa ngehadepin mereka karna kakak kuat. Cya percaya sama kakak" alin hanya diam membiarkan cya meneruskan ucapannya.
"Terimakasih dan maaf karna cya tadi sempet pinjem tubuh kakak" ujar cya tidak enak.
"Kenapa harus minta maaf? Ini juga tubuh cya. Kalo cya mau, kakak bakal nyerahin tubuh ini karna cya lah yang menjadi pemilik aslinya"balas alin dengan lembut.
Entah kenapa dia tidak bisa kasar pada cya, aura yang cya bawa itu begitu lembut sehingga dia tidak sanggup jika harus meninggikan suaranya.
"Gak kak, cya gak mau" tolak cya
Alin menghela nafasnya.
"Kenapa cya tadi masuk?"tanya alin
"Karna cya mau bunuh abel dengan tangan cya sendiri"
Pantas saja alin tidak mengingat bagaimana dirinya membunuh abel, ternyata yang mengambil alih tubuh alin saat itu adalah cya.
Alin menganggukkan kepalanya paham.
"Kak boleh cya minta tolong sekali lagi?" Tanya cya ragu.
"Boleh, cya mau minta apa?"
"Bunuh anggota keluarga anderson" tentu saja alin langsung mengangguk, ia setuju dengan permintaan cya karna itulah misi selanjutnya yang akan ia lakukan. Menghabisi keluarga anderson.
"Kecuali papa aris"
Sontak saja alin membelalakkan matanya terkejut dan tidak terima.
"Kenapa? Cya, kamu jangan terlalu baik. Dia juga anggota keluarga anderson bahkan dia lah yang sering menyakiti kamu. Apa cya lupa?" Cerocos alin.
"Cya ingat kak, cya ingat dengan jelas. Tapi tolong turuti permintaan cya untuk terakhir kali ini aja. Kakak boleh habisi seluruh anggota keluarga anderson tapi jangan sakiti papa aris kak" ujar cya dengan mata yang telah berkaca kaca.
Alin terdiam tidak habis pikir dengan jalan pikiran gadis ini. Apa dia masih belum cukup merasakan kebencian aris padanya? Ingin sekali alin membunuh aris namun sepertinya ia akan memikirkannya lagi karna permintaan cya ini.
"Beri kakak alasan"
"Kakak akan tau alasannya saat waktunya udah tiba"
Alin mengernyitkan dahinya bingung. Oh ayolahh teka teki macam apalagi ini miska.
"Oke"putus alin
"Makasih kak dan maaf karna cya udah repotin kakak"
"It's okay"alin tersenyum lembut.
"Cya pergi ya kak, jaga diri kakak dan jangan pernah percaya sama siapa pun selain diri kakak sendiri" ujar cya lalu sosok gadis cantik itu menghilang dengan perlahan dan meninggalkan wangi melati yang menguar di ruangan itu.
Sedangkan alin, gadis itu terdiam dengan pikiran yang berkecamuk karna memikirkan ucapan terakhir dari cya.
...***...
Diwaktu yang sama namun berbeda tempat.
Di suatu ruangan terdapat seorang pemuda dengan wajah serta tubuh yang penuh dengan darah. Bau anyir lah yang mendominasi ruangan itu. Mayat berserakan dimana mana.
Seolah tidak terganggu dengan mayat mayat itu, pemuda tersebut menuangkan minuman alkohol dalam gelasnya dan meminumnya dengan perlahan sembari menikmati sensasi pahit namun bisa membuatnya candu.
"Alin"gumamnya menatap mayat mayat yang berserakan dibawah karna ulahnya dengan tatapan kosong seperti tidak ada kehidupan dalam mata pemuda itu.
"Dimana kau sebenarnya"pemuda tersebut mencengkram gelasnya dengan kuat guna melampiaskan amarah yang ia rasakan sejak kehilangan gadis itu.
Pyar
Dan akhirnya gelas itupun terpecah di genggaman pemuda itu. Seketika darah menetes dilantai akibat luka yang ada di telapak tangannya karna pecahan gelas. Namun itu tidak membuatnya meringis ataupun merasa sakit, yang ada hanyalah tatapan kosong. Ia menatap tangannya yang terluka dengan tatapan kosong.
"Aku benar benar akan menjadi gila jika tidak bisa menemukanmu"lanjutnya sembari menggenggam pecahan gelas hingga beberapa pecahan gelas itu menancap di telapak tangannya.
Dia tidak merasakan sakit sama sekali. Bahkan luka ini tidak akan sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan saat kehilangan gadis itu. Benar benar sakit dan dicampur dengan amarah.
Dia ingin sekali menghancurkan kota ini dan mencari keberadaan gadis nakalnya itu, tapi dia tidak bisa melakukannya karna keluarganya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Ceklek
Tiba tiba saja pintu ruangannya terbuka dan menampilkan seorang pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan sedikit mirip dengan pemuda itu.
Pria paruh baya tersebut menghela nafasnya saat melihat mayat mayat yang berserakan di lantai dan itu pasti karna ulah putranya.
Ini sudah menjadi kebiasaannya jika sedang dalam suasana hati yang buruk, frustasi, atau putus asa. Putranya akan menjadi pembunuh bayaran untuk melampiaskan semua emosinya.
Namun jika dia tidak mendapatkan job itu, maka dengan senang hati putranya itu akan mencari korbannya dengan sendiri.
Lalu pria paruh baya itu berjalan menghampiri putranya yang sedang termenung dengan darah yang terus saja menetes dari tangannya.
"Pergi"titah pemuda itu tanpa menoleh sedikitpun padanya.
"Apa kau mengusir daddy mu sendiri boy"ujar pria paruh baya itu sinis.
Melihat keterdiaman dari putranya, dia berjalan mendekat dan menepuk bahunya pelan.
"Cari dan dapatkan gadis itu jika kau memang mencintainya" pemuda tersebut hanya diam dan mendengarkan semua ucapan sang daddy.
Sebenarnya dia sudah berusaha mencari keberadaan alin namun tidak bisa. Sebesar apapun usahanya untuk menemukan gadis itu tetap sia sia. Bahkan seluruh bawahannya saja ia perintahkan untuk mencari alin tapi sampai sekarang masih tidak ada kabar.
Dia juga heran, kenapa mencari keberadaan gadis itu sangat sulit. Bahkan ini adalah pertama kalinya ia gagal dalam melacak keberadaan seseorang.
Sebenarnya siapa alin? Kenapa keberadaannya sangat susah dilacak?
"Hentikanlah semua ini kevin" kevin hanya menatap datar sang daddy.
"Apa kau yakin jika gadis itu tidak akan membencimu saat dia mengetahui keburukan mu ini?"pertanyaan dari daddy nya ini seketika membuatnya sadar.
Benar. Alin akan membencinya saat gadis itu tau jika dia sering membunuh orang. Tidak! Tidak! Kevin menepis pikiran menakutkan itu. Dia tidak ingin alin membencinya dan menjauhinya. Demi apapun kevin tidak akan sanggup dan mungkin saja pemuda itu akan menjadi gila.
"Aku akan berhenti dari hobiku ini hanya demi dirimu alin, jadi ku mohon kembalilah jika kau tidak ingin melihat lautan darah manusia disini" batin kevin
Kesimpulannya adalah kevin mencintai alin.
...***...
"Maafin papa sayang"ujar pria setengah paruh baya menatap sendu sebingkai foto yang terdapat seorang gadis kecil tengah tersenyum manis.
"Cuma ini yang bisa papa lakuin untuk nyelamatin nyawa kamu"
"Sebentar lagi. Tunggu sebentar lagi alin, setelah semuanya selesai kita akan pergi dari sini"
"Papa akan buat mereka semua menderita karna sudah berani nyakitin kamu sayang"tatapan yang tadi sendu berubah menjadi dingin.
"Satu persatu mereka akan mati ditangan ku"desisnya tajam.
"Tidak peduli jika mereka keluargaku sekalipun"
...***...
"Gue mau pulang"ujar alin yang entah sudah berapa kali ia ucapkan pada ketiga manusia bodoh didepannya ini.
"Gak, gak boleh. Lo masih belum sehat lin"tolak agas
"Gue gak kecelakaan agas"desis alin yang mulai kesal karna penolakan mereka dari tadi.
"Lo pikir gue kecebur sungai? Ketabrak truk? Telindes angkot?"lanjutnya menatap tajam agas
"Walaupun gitu kan, kita cuma antisepstik aja biar lo gak pingsan lagi. Takutnya lo bakal pingsan terus kita gak ada disamping lo"ujar erga
Plak
"Antisipasi bego"ralat saga setelah memukul kepala erga yang membuat sang empu mendelik tajam.
"Ngapain juga gue pingsan dongo?!"sewot alin yang sudah terlanjur kesal.
"Ya kan kali aja lin"sahut saga
"Ck bodoamat lah. Siniin kunci mobil gue"pinta alin karna memang kunci mobilnya disimpan oleh saga.
"Jangan dikasih ga"ujar erga yang malah membuat emosi alin memuncak.
Dengan secepat kilat alin menubruk tubuh erga hingga pemuda itu yang tadinya duduk bersila dilantai kini telah terjerembab kebelakang karna ulah alin.
Saat ini posisinya, erga terlentang dan alin diatasnya sedangkan kedua manusia lainnya hanya melongo saat melihat alin dengan brutalnya menarik rambut erga.
"AAAAAA ADUH ALIN PALA GUE SAKIT EGE LEPASINN"Teriak erga sembari menahan tangan alin agar menjauh dari rambut badainya. Namun entah dia yang lemah atau alin yang kuli, dia tidak bisa melepaskan tangan gadis itu dari rambutnya.
"Mampus lo"ujar alin
"WOY BANGSAT TOLONGIN GUE AELAH"erga menatap tajam kedua temannya yang hanya menampilkan wajah bodohnya itu. Bisa botak erga jika tidak dijauhkan dari alin.
Sontak saja agas dan saga langsung menggeleng. Mereka tidak ingin botak lebih dulu. Definisi teman yang pantas untuk disedekahkan:)
"Kembaliin kunci gue erga"tekan alin seraya melototkan matanya tajam yang sial nya malah terlihat lucu di penglihatan erga.
"Enggak"balas erga meniru nada alin dan ikut melototkan matanya juga.
"Oke. Bukan salah gue"ujar alin yang membuat erga mengernyitkan dahinya bingung.
Lalu gadis itu dengan lincah, menggelitik pinggang erga yang membuat pemuda itu bergerak kalang kabut karna menahan geli.
"HAHAHAHA UDAH LIN U-AHAHAHA"
"Dimana kuncinya"tanya alin
"Gak HAHAHAHA WOY ASU TOLONG GU-AHAHAHA"
"Pegangin tangan erga"titah alin pada agas dan saga yang terdiam seperti orang bodoh.
"Cepetan!"sentak alin saat melihat mereka berdua hanya diam.
Lalu tanpa sadar, mereka berdua menuruti perintah alin karna sedikit takut dengan sentakan gadis itu.
"HEH ANJING HAHAHA hosh NGAPAIN KALIAN HAHA NURUT BEGO AHAHA"erga berontak saat agas dan saga menahan kedua tangannya.
"Saga, ambil alih tugas gue"dengan polosnya saga mengangguk, kemudian pemuda itu beralih menggelitik erga.
Sedangkan alin sibuk mencari kunci mobilnya dikantong celana erga.
"AHAHAHA SAGA BAJINGAN HAH AWAS LO HAHA"
"Dimana sih anjir"gerutu alin dengan tangan yang masih sibuk meraba kantong celana erga.
"HAHAHA-
"EH?!"Alin menarik tangannya kaget dengan mata yang hampir saja keluar dari tempatnya.
Begitupun dengan erga, pemuda itu langsung berhenti tertawa dengan wajah yang sudah memerah hingga ke telinganya. Bahkan agas dan saga saja menahan nafas sejenak saat alin tidak sengaja meremas 'adik' erga.
Sama. Alin juga tidak kalah kagetnya. Sumpah demi colornya patrick dia tidak sengaja. Itu terjadi karna erga yang terus saja bergerak, dan karna itulah dia jadi salah tempat.
Kini mereka semua terdiam canggung. Ingin sekali alin menghilang.
"Ah ha ha ha"alin tertawa garing
"Gu-gue pergi ya bye"dengan cepat alin berdiri dan mengambil kunci mobilnya yang terjatuh dari atas meja.
Sial. Ternyata kunci mobilnya ada diatas meja.
"Yang tadi..gue gak sengaja sorry"
Brak
Alin membanting pintu kamar setelah ia keluar dari sana.
Sedangkan mereka masih terdiam mencerna kejadian tadi.
"Gue..dilecehin?"gumam erga dengan tatapan kosong.
"Anjir apaan tadi?"gumam alin bergidik ngeri.
"Gede banget"lanjutnya. Lalu memukul kepalanya sendiri.
"Alin bego mati aja lo sana!"ujarnya kesal dengan pikiran liarnya itu.
______________________________
Bersambung...