
Tandai typo✔️
Happy reading guys~
_________________________
Semua orang yang melihat kejadian itupun sontak menahan nafas bersamaan.
Hampir saja seseorang kehilangan nyawanya.
Sedangkan alin terdiam diatas tubuh pemuda yang ia selamatkan. Alin masih syok, jika dia tidak bertindak cepat, bisa saja dia yang kehilangan nyawanya.
Tidak jauh berbeda dengan alin, pemuda yang alin tolong juga terdiam karna terlalu syok.
Setelah sadar, pemuda tersebut memegang bahu alin dan sedikit menjauhkan tubuh gadis itu dari ceruk lehernya untuk melihat wajah gadis yang telah menyelamatkan nyawanya.
"Lo?!"pemuda itu membelalakkan matanya terkejut saat melihat wajah gadis yang ia kenal.
Alin pun sama kagetnya dengan pemuda ini.
"Justin?!" Batin alin terkejut.
Dengan cepat, justin menyingkirkan alin dari atas tubuhnya hingga tanpa sengaja dia mendorong alin sedikit kuat dan menyebabkan gadis itu terjatuh diaspal.
"Aw"ringisnya saat tangan mulusnya bergesekan dengan aspal.
Justin yang melihat itupun kaget dan reflek membantu alin berdiri. Namun setelah pemuda itu sadar akan perilakunya, justin langsung melepaskan tangannya dari bahu alin dan itu menyebabkan alin terjatuh untuk kedua kalinya.
Bruk
Alin terdiam dengan nafas memburu. Sakit, marah dan malu menjadi satu.
Bahkan untuk merintih saja alin tidak bisa lantaran terlalu kesal dengan cowok jadi jadian didepannya ini.
Salah satu pemuda yang melihat itu, langsung membantu alin berdiri dan menatap tajam temannya itu yang tak lain adalah justin.
"Lo kasar banget jadi cowok!"ujarnya menatap tajam justin yang hanya menampilkan wajah datar.
"Bukan urusan lo"jawab justin
"Dia adek lo justin!!"sentak pemuda tadi ternyata adalah liam.
Segerombolan pemuda yang alin liat tadi adalah inti the blue (-steven).
"JANGAN PERNAH SEBUT DIA ADEK GUE!!"bentak justin seraya menarik kerah baju liam.
"Sampai kapan pun gue gak akan pernah mau punya adek kayak dia"desisnya
"Lo kenapa sebenci itu sama alin?"tanya kenan tidak habis pikir.
"Karna dia emang pantes untuk dibenci"jawab justin dingin sembari mendorong liam hingga menjauh darinya.
"Ngapain lo kesini"sentak justin menatap tajam alin yang sedang menunduk.
Alin hanya diam karna dia bingung ingin menjawab apa. Tidak mungkin kan jika dia berbicara jujur.
"Gue tanya sama lo. Lo gak punya mulut?"ujar justin ketus.
"Justin bangs*t gue bunuh juga lo lama lama"
"Ini semua karna lo sistem! Kalo aja gue tau target gue si cowok jadi jadian ini gak bakal mau gue jalanin misinya"
"Mending gue bisulan"
"Misi ini dari atasan saya tuan, saya tidak tau apa apa"
"Ba-
"Anjing"
Alin tersentak kaget saat tiba tiba saja tangannya ditarik kasar oleh justin.
Justin ingin pergi bersama alin namun tidak terjadi karna aiden mencengkram tangannya.
"Lepasin tangan lo"ujar aiden datar.
"Ini bukan urusan lo aiden! Minggir"justin menghempaskan tangan aiden yang berada ditangannya hingga terlepas.
"Lo nyakitin dia justin!"ujar dion dengan penekanan saat dia melihat raut wajah alin yang menahan sakit sembari mengcekram tangan sebelahnya milik justin.
Justin melepaskan tangannya dari alin. Lalu menatap kagum pada teman temannya.
"Wow"justin bertepuk tangan.
"Kalian semua belain ni cewek?"tanya nya
Kemudian justin menganggukkan kepalanya paham.
"Dikasih apaan lo pada sama dia?"pertanyaan yang keluar dari mulut justin mendapatkan respon bingung dari mereka semua termasuk alin.
"Oh gue tau"
"Lo kasih tubuh lo sama mereka heh?"tanya justin menatap alin sinis.
Alin terdiam begitupun inti the blue yang kini sedang menatap tak percaya pada justin.
"Emang ya kalo pada dasarnya udah ****** bakalan tetap jadi ******"justin menghampiri alin yang masih terdiam dengan tangan terkepal.
Justin yang melihat itupun tersenyum sinis. Lalu menatap alin dari atas kepalanya sampai kakinya dengan pandangan menilai.
"Boleh juga body lo"ujar justin menatap rendah alin.
"Kalo lo mau, gue bakalan bayar berapa pun yang lo minta"
"Mau main sama gue?"bisiknya seraya menyeringai. Bisikan justin ternyata masih bisa didengar oleh mereka semua.
PLAK
Mereka semua membelalakkan matanya terkejut tidak terkecuali justin yang telah ditampar oleh alin. Ya alin. Dengan nafas memburu dia menatap tajam justin yang kini terdiam menatap tak percaya padanya.
Sudah cukup. Alin tidak tahan lagi dengan semua penghinaan yang dilontarkan untuknya. Baru kali ini alin merasa sangat terhina akibat ucapan pemuda ini. Bahkan didunia pertamanya saja tidak ada yang berani menatapnya rendah apalagi untuk menghinanya.
"Lo-
"Kenapa? Lo mau nampar balik?"alin memotong ucapan justin.
Mereka semua terdiam saat alin mengubah kosa katanya. Sepertinya saat ini gadis itu benar benar marah terbukti dengan matanya yang memerah.
"Sudah cukup semua penghinaan nya tuan muda anderson"ujar alin menekan setiap kalimatnya.
"Apa gue sehina itu dimata lo?"tanya alin tidak habis pikir.
"Lo kaget sama sikap gue?"tanya alin saat melihat justin hanya diam menatap tidak percaya padanya.
"Gue bukan cewek menye yang cuma bisa nangis dibelakang cowok saat orang lain ngehina gue"lanjutnya
Alin tidak peduli lagi dengan wajah polosnya. Sekarang yang alin inginkan hanyalah memberikan pelajaran pada laki laki gila ini yang sialnya adalah abang kandungnya.
"Lo pikir lo siapa justin? Dengan beraninya lo ngeluarin kata kata hina lo itu"
"Lo sering bilang gue ****** right?"tanya alin pada justin yang masih terdiam seraya menatapnya.
"Lo pernah liat gue ngangkang dimana?"Alin meninggikan nadanya sedangkan justin hanya bisa terdiam begitupun dengan yang lain.
"LO PERNAH LIAT GUE BUKA ************ GUE DIDEPAN TEMEN LO HAH?!"bentak alin
"Lin-
"DIAM"alin langsung menatap rey tajam saat pemuda itu ingin berbicara.
Rey yang diperlakukan seperti itupun tertegun karna baru kali ini dia melihat alin semarah itu.
Alin kembali menatap justin.
"Tadi pagi gue diem bukan berarti gue takut sama lo! Karna gue masih nganggep lo sebagai abang gue justin"alin menunjuk tepat di wajah justin
"Tapi sekarang gak lagi, karna status itu terlalu mulia untuk lo yang terlalu bajingan"
Justin mengepalkan tangannya guna menyalurkan rasa sesak yang kini ia rasakan.
"Kalo pun gue jadi ******, lo berani bayar gue berapa hm?"tanya alin seraya menarik kerah baju justin dengan lembut.
"Lo punya apa sampe berani bayar gue?"
"Kalo lo mampu kasih apa yang gue mau"alin tersenyum manis pada justin
"Gue bakal layanin lo sampe lo puas"alin mengelus rahang tegas milik justin.
"Lo mau tau apa yang gue mau?"tanya nya.
Sedangkan justin hanya bisa terdiam. Lidahnya terasa kelu, bahkan untuk membalas perkataan alin saja ia tidak bisa.
"Gue mau nyawa lo"lanjutnya.
"Lo-
"Yes i'm"alin tersenyum manis pada justin yang kini sedang menatapnya murka.
"Lo cewek gak tau malu yang pernah gue temuin alin!"ujar justin menatap tajam alin.
"Dan lo cowok gak tau diri yang pernah gue temuin justin"alin membalikan perkataan justin.
"Kalo aja gue gak nyelamatin lo, lo udah mati sekarang"lanjutnya yang membuat justin bungkam.
"Bukannya terimakasih yang gue dapet tapi malah hinaan dari lo"
"Apalagi kalo bukan gak tau diri?"alin menatap remeh justin.
"Gue gak tau apa penyebabnya lo sebenci ini sama gue justin"justin menatap alin lekat.
"Tapi yang jelas, gue gak akan tinggal diem kalo lo berani ngerendahin harga diri gue!"ujar alin tajam.
Setelah itu alin pergi meninggalkan mereka semua yang masih terdiam.
"Mau kemana lo?"tanya justin setelah kesadarannya kembali.
"NGEJALANG"teriak alin.
"Cewek gila"desis justin
"DAN LO LEBIH SINTING!"balas alin yang masih bisa mendengar ucapan justin.
Lalu justin menaiki motornya dan pergi meninggalkan teman temannya yang masih terdiam mencerna semua kejadian barusan.
"Itu beneran alin"ujar liam tidak percaya.
"Keren"timpal dion kagum
"Dan gue suka"lanjutnya tersenyum tipis.
"Lo suka sama alin?"tanya rey
Sedangkan aiden hanya diam seraya menghisap rokoknya.
Kini mereka semua terdiam dengan pikiran rumit masing masing.
"Mau kemana"tanya aiden saat melihat kenan yang mulai menaiki motornya.
"Nyusul alin"jawabnya
"Gak usah"ujar aiden
"Kenapa?"tanya dion bingung dengan pikiran aiden
"Justin gak akan sejahat itu"jawab aiden dan dimengerti oleh mereka.
...***...
Alin terus saja berjalan sembari menendang nendang kerikil dan ditambah gerutuannya yang tidak pernah berhenti.
"Tau gitu gak akan gue selametin tu cowok"ujar alin kesal.
"Anak mama aja sok sok an mau bayar gue"
"Mending gue ama hot daddy aja dari pada sama mahluk jadi jadian itu"
Tin
"Eh kodok kodok"latah alin saat mendengar klakson yang mengangetkan nya.
Alin mengalihkan pandangannya pada motor sport hitam yang berjalan pelan mengikutinya.
Alin menghentikan jalannya dan diikuti oleh motor tersebut.
"Siapa?"tanya alin dengan dahi mengernyit bingung.
Lalu seseorang itu membuka kaca helmnya dan terlihatlah wajah menyebalkan milik justin.
"Ngapain lo ngikutin gue? Masih belum puas?"ujar alin ketus lalu melanjutkan jalannya.
Begitupun justin yang ikut menjalankan motornya tepat disamping alin.
"Naik"titahnya
"Gak"tolak alin mentah mentah
"Emang lo tau jalan pulang?"tanya justin
Alin terdiam.
"Tau"jawabnya sedikit ragu.
"Pulang bareng gue"ujar justin sembari menahan tangan alin.
"Gue gak mau!"sentak alin dan menghempaskan tangan justin namun itu tidak berhasil.
"Mau lo tu apa sih?!"ujar alin kesal. Sekarang mood nya benar benar buruk.
"Pulang bareng gue"jawab justin
"Gue cuma gak mau mama marah dan sedih karna kehilangan lo"lanjutnya.
"Gue bisa pulang sendiri"balas alin lalu menggigit tangan justin hingga terlepas.
"Siala*"umpat justin. Kemudian pemuda itu turun dari motornya dan mengejar alin yang kini tengah berlari menghindarinya.
Kenapa gak pake motor aja? Justin kan rada rada bego jadi di maklumi aja ya.
"Alin berhenti gak lo"ujar justin di sela sela larinya.
"GUE GAK MAU!! LO PULANG AJA SANA SENDIRI"jawab alin.
Justin mempercepat larinya dan-
Hap
Dapat. Justin mendapatkan tangan alin dan langsung memojokkan gadis itu ke dinding yang terletak dipinggir jalan.
Justin menahan kedua tangan alin diatas kepala gadis itu yang kini sedang memberontak.
"Lepasin gak?! Lo tu apa apaan sih hah?!"dengan nafas ngos ngosan, alin berucap kesal.
Ingin sekali alin berteriak minta tolong namun situasi sekarang tidak memungkinkan karna jalan yang dilalui oleh nya ini sepi dan tidak ada satu orang pun.
"Lo budek atau gimana?!"lanjutnya saat justin tidak menjawab ucapannya dan hanya diam sembari menatapnya lekat.
Justin memajukan wajahnya dan berbisik tepat didepan alin.
"Diem atau gue perkosa lo sekarang"bisiknya
Alin yang mendengar itupun sontak membelalakkan matanya.
"Brengsek" batin alin
"Lo gila?! Kita saudara kandung bego"alin menatap tajam justin.
"Dan gue gak peduli"jawab justin santai.
Alin menggigit bibir bawahnya bagian dalam guna menyalurkan rasa kesalnya.
"Pulang sekarang"ujar justin seraya melepaskan tangannya dari tangan alin.
Alin langsung pergi menuju motor justin tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sedangkan justin menatap alin dengan tatapan yang sulit diartikan.
Lalu pemuda itu pergi menyusul alin.
...***...
Pagi ini, alin telah bersiap siap untuk berangkat ke sekolah.
Dan sejak semalam, alin tidak pernah menegur justin.
Tok tok tok
"Alin ayo sarapan sayang"ujar rindi dari luar
"Iya ma"jawab alin lalu membuka pintu kamarnya.
"Imut banget anak mama"ujar rindi seraya mencium gemas pipi alin.
"Udah ma"ujar alin
"Hehe yaudah yok kita turun"rindi menarik lembut tangan alin menuju meja makan yang telah diisi oleh keluarganya yang lain.
"Pagi"sapa alin riang.
"Pagi sayang"balas mereka kecuali justin yang hanya menatap datar alin sedangkan abel tersenyum tipis pada alin.
Alin mencium mereka satu persatu bahkan abel pun ia cium kecuali justin yang hanya ia lewatkan begitu saja.
"Harus mandi 7 kali ni gue" batin abel kesal
"****" batin justin
"Alin mau makan apa sayang?"tanya tanti lembut
"Alin mau roti aja mi"jawab alin dan dituruti oleh tanti.
"Alin bareng papa ya"ujar aris seraya mengelus kepala alin yang duduk disampingnya.
"Gak! Alin bareng papi"ujar aril tidak mau mengalah.
"Alin berangkat bareng abang aja"ujar rafa menatap lembut alin. Tidak ada wajah datar yang senantiasa ia tampilkan.
"Tapi abel mau berangkat sama bang rafa"ujar abel.
"Abel bareng steven aja, abang lagi mau berangkat sama alin"balas rafa tanpa mengalihkan pandangannya dari alin.
Sedangkan abel yang mendengar itu mengepalkan tangannya kuat.
"Gimana dek?"tanya rafa pada alin yang sedang menatap abel.
"Iy-
"Alin bareng abang"ujar arthur dan kenzi serentak. Lalu mereka berdua saling melemparkan tatapan tajam.
"Gak gak. Alin biar sama abang aja"timpal reza
"Mending alin bareng bang steven sama kak abel aja, kita juga searah"tambah steven yang tak mau kalah.
Sedangkan alin hanya terbengong. Apakah sekarang dia lagi diperebutkan?
"Alin akan berangkat sama justin"ujar adam melerai.
"Tidak ada penolakan"lanjutnya dengan tegas saat melihat mereka yang ingin protes.
"Kenapa harus justin bajingan itu" batin alin kesal.
Justin hanya diam seraya menatap lekat alin.
"Alin mau kan sayang?"tanya rindi memastikan.
Bukan tanpa alasan adam menyuruh alin berangkat bersama justin. Dia melakukan ini agar hubungan mereka berdua lebih dekat dan tidak ada konflik antara mereka.
"Iya ma"ujar alin pasrah.
Justin yang mendengar itu merasa sedikit senang. Namun langsung ditepis oleh pemuda itu.
"Aku udah selesai"ujar justin lalu berdiri dari bangkunya dan pergi begitu saja.
"Cepetan sebelum gue tinggal lo"lanjut justin di sela sela jalannya.
Alin yang mendengar itupun langsung memasukkan rotinya yang tersisa sebagian kedalam mulutnya hingga pipi gadis itu mengembung yang malah terlihat semakin menggemaskan dimata mereka.
"Alin berangkat dulu"ujar alin tidak jelas lalu berlari menyusul justin yang telah keluar lebih dulu.
__________________________
Bersambung...
Mau bilang apa sama justin?