ALIN TRANSMIGRATION

ALIN TRANSMIGRATION
20



Tandai typo ✓


Happy reading~


_______________________________


Sekarang alin sedang berada di taman belakang sekolah bersama dengan inti aodra dan alaska.


Alin duduk di bangku sedangkan mereka hanya berdiri seraya menatap datar alin.


"Kenapa"ujar rendi datar, tidak ada lagi tatapan lembut yang selalu ditunjukan untuk alin.


"Hah"alin melongo tidak paham maksud dari ucapan rendi.


"Kenapa kabur?"tanya axel lebih detail agar gadis ini mengerti.


Alin terdiam memikirkan jawaban yang tepat.


Lalu gadis itu menunduk dan memilin bajunya.


"Alin gak mau ngerepotin kalian"cicitnya.


"Wow pinter banget gue ngibul mwhehe" batin alin bersorak senang.


Mereka yang mendengar ucapan alin itupun langsung melembutkan tatapannya.


"Kenapa alin sampe kepikiran gitu?"tanya andra dengan lembut.


"Kita sama sekali gak ngerasa direpotin"timpal gevan.


"Malahan kita seneng kalo ada alin disana"tambah aldi.


"Jadi jangan pernah berpikiran kayak gitu lagi"ujar rendi sembari mengelus kepala alin.


Alin menganggukkan kepalanya.


Sedangkan adnan hanya menatap alin lekat. Kemudian pemuda itu menyeringai tipis. Entah apa yang ada dipikirannya.


"Sekarang alin tinggal dimana?"tanya axel.


Sebenarnya mereka sudah tau tempat tinggal alin, axel bertanya hanya memastikan alin yang akan bohong atau tidak.


"Dimansion anderson"dan yah, jawaban alin sesuai dengan dugaan mereka.


Alin tidak pernah bohong jika bersama mereka.


Padahal sebenarnya alin sudah tau jika mereka telah menaruh gps ditas nya yang berada di mansion, dan itu berkat bantuan sistem.


Mereka memang telah mengetahui jika alin adalah putri bungsu dari keluarga anderson dan tentu saja itu berkat bakat kevin yang pintar dalam mencari data diri seseorang.


"Pantesan mereka tau gue disini"


"Lagian kenapa lo gak ngasih tau gue dari awal sih tem" lanjut alin kesal.


"Anda tidak bertanya tuan"


"Terus kenapa lo kasih tau gue sekarang? Padahal gue juga gak nanya tuh"


"Karna saya yang inisiatif tuan" jawab sistem lugu.


"Aarghhh sistem gilaa!!" Teriak alin frustasi


"Saya sedih sekali"


"Tem, lo bisa sembunyiin semua data gue? Jangan biarin orang lain tau tentang identitas gue"


"Tentu saja bisa tuan, apakah anda ingin melakukannya sekarang?"


"Iya, gue gak mau kecolongan kayak gini lagi"


"Baik tuan"


"Mau?"rendi menawarkan permen susu yang bertangkai pada alin.


"Mau, makasih kak endi"alin menerima pemberian rendi dengan senang hati karna dia juga suka dengan permen susu.


"Sama sama cantik"


Cup


Alin terdiam saat rendi dengan santainya mencium pipinya.


Sedangkan yang lain, mendelik tajam kearah pemuda itu yang sedang menatap remeh pada mereka.


"Eh?!"alin tersentak kaget saat adnan tiba tiba saja menggendongnya ala koala lalu pergi meninggalkan mereka yang masih tercengang.


"Adnan bajingan"desis gevan kesal lalu menyusul adnan dan diikuti oleh mereka yang masih menahan umpatan untuk adnan.


...***...


Adnan membawa alin ke rooftop. Lalu mendudukkan alin ke atas sofa yang telah usang, kemudian dia juga ikut duduk tepat disamping alin.


Tidak ada yang memulai pembicaraan.


Alin yang fokus menatap lurus. Percayalah, sebenarnya alin sedang ketar ketir saat berada didekat pemuda ini.


Sedangkan adnan menatap alin intens yang sukses membuat alin risih.


Alin tersentak kaget saat adnan tiba tiba berbaring diatas pahanya.


"Kenapa?"tanya adnan saat melihat wajah alin yang sedikit pucat.


Alin menggelengkan kepalanya kaku.


"Elus"ujar adnan sembari menutup matanya.


Sedangkan alin hanya bisa planga plongo saja karna tidak mengerti ucapan singkat dari pemuda itu.


Adnan membuka matanya saat dia tidak merasakan sentuhan.


"Elus alin"masih dengan tatapan datar.


"Alin mau ke kelas kak"ujar alin. Dia tidak ingin berlama lama dengan adnan disini karna bisa saja bahaya menghampirinya.


Siapa yang tau dengan isi pikiran pemuda licik ini.


Adnan bangun dari rebahannya dan menatap alin lekat. Lalu dia mendekat pada gadis itu yang kini malah mundur.


Alin terus saja memundurkan kepalanya saat adnan memajukan wajahnya. Hingga tanpa sadar, kepala alin hampir saja terbentur dinding dibelakangnya jika saja adnan tidak dengan cepat menahan kepala gadis itu.


"Kenapa takut hm?"tanya adnan lembut.


Alin hanya diam sembari menormalkan jantung nya yang kini sedang tidak normal.


Adnan menatap intens alin dan mengangumi kecantikan dari gadis itu. Tatapan adnan terpaku pada bibir tipis nan mungil milik alin, sepertinya adnan ingin mencobanya.


Alin membeku saat adnan mengusap bibirnya dengan sensual. Sensual?


Alin melototkan matanya lalu menyentak tangan adnan dengan kasar sembari berdiri, lalu pergi menuju pintu roftoop tanpa mengucapkan sepatah kata.


Sedangkan adnan menyeringai kecil dan dengan santai dia menyenderkan tubuhnya pada sofa seraya merokok.


Kita lihat ke alin.


"ADNAN BABI LO AARGHH KENAPA PINTUNYA MALAH DIKUNCI?!!"


"BRENGSEK!!" Batin alin kesal. Lalu gadis itu kembali menghampiri adnan yang masih asik dengan rokoknya.


Alin langsung menutup hidungnya saat segumpal asap masuk dalam hidungnya.


"Kak"panggil alin yang masih berusaha mempertahankan wajah polosnya.


Adnan menatap alin dengan sebelah alis yang ia naikkan seakan bertanya 'ada apa'


"Bisa matiin dulu rokoknya?"pinta alin.


"Tentu baby"jawabnya lalu mematikan rokoknya.


"Ni orang kenapa sih?" Batin alin heran.


"Dia gak mungkin suka sama gue kan?"


"Gak mungkin dan gak boleh! Big no!!"


"Sini"adnan menepuk tempat disebelahnya, menyuruh alin duduk disampingnya.


Karna tidak ingin memperpanjang, alin langsung menuruti pemuda itu.


"Kenapa pintu dikunci?"


"Mana kuncinya?"


"Siniin"


"Alin mau keluar"


Ucap alin dengan beruntun.


Adnan terkekeh geli saat mendengar ucapan alin yang sepertinya sudah tidak sabar.


"Kenapa kakak malah ketawa?"alin mengernyitkan dahinya heran.


"Sakit jiwa ni cowok" batin alin miris.


"Karna kamu lucu"jawab adnan seraya menarik leher jenjang alin guna mendekatkan wajah gadis itu dengannya.


Alin yang diperlakukan seperti itupun langsung berontak.


"Diam"seketika ucapan adnan sontak menghentikan kegiatan alin.


Entah kenapa, aura yang adnan keluarkan saat ini dapat menekannya.


Kini mereka berdua saling menatap diri masing masing. Hingga sebuah usapan dapat menyadarkan alin dari kekagumannya.


"Shh"alin menggelinjang geli saat adnan mengelus leher nya.


Lalu dengan segera, gadis itu menjauhkan tangan adnan dari lehernya.


Ayolahh itu adalah area yang cukup sensitif bagi perempuan. Apakah adnan sengaja melakukanya? Lihatlah, bahkan pemuda ini tersenyum miring padanya.


"Emang ya cowok, kalo gak brengsek ya homo" batin alin kesal.


Alin menatap adnan tajam.


"Jangan menatapku seperti itu baby"ujar adnan menatap alin dalam.


"Aku tidak ingin terlalu jatuh cinta padamu"lanjutnya yang malah membuat alin mengernyit bingung.


"Ya. Aku telah jatuh cinta denganmu"


"Jatuh cinta pada seorang alincya evalina anderson"alin terdiam, tidak percaya apa yang dikatakan oleh pemuda ini.


Jatuh cinta? Oh tidak usah! Jangan repot repot mencintainya! Alin tidak ingin dicintai oleh pemuda ini sama sekali!! Tolongg siapa pun bawa alin pergi sekarang juga.


Brak brak brak


Suara dobrakan dari arah pintu sontak mengagetkan mereka.


"ADNAN BRENGSEK KELUAR GAK LO!!"


"LO NGAPAIN SAMA ALIN HAH?!"


Ternyata yang berteriak itu adalah rendi dan andre.


"Peganggu"desis adnan kesal saat acara romantisnya malah diganggu oleh para hama itu.


Brak BRAK


Bruk


Pintu rooftop akhirnya terbuka karna dobrakan mereka. Lalu dengan cepat mereka masuk dan melihat alin yang melongo menatap pintu roboh itu.


"Ck ck ternyata tenaga kuli semua" batin alin menatap miris pintu yang telah roboh.


Tapi itu hanya sementara, sebelum mendengar bisikan adnan.


"Kau hanya milikku alin. Sampai kapan pun kau hanya milik adnan"bisik adnan tepat ditelinga alin yang kini telah membeku.


"Paham baby"lanjutnya lalu mengecup leher alin.


"LO! BENER BENER YA!!"axel menarik kasar adnan yang masih santai menatapnya.


Bugh


"Brengsek lo adnan"ujar gevan menatap tajam temannya, setelah memukul pemuda itu.


Adnan malah terkekeh.


"Itu lumayan sakit loh dan dia masih sempatnya ketawa?" Batin alin heran.


"Emang sikat jiwa"


"Sakit jiwa tuan" ralat sistem.


"Iya iya itu"


"Eh!! Apeni?! Apeni?!" Alin tersentak kaget saat tiba tiba saja seorang pemuda menariknya keluar dari rooftop tanpa disadari oleh mereka yang malah asik baku hantam.


...***...


Sekarang alin berada dikelas kosong bersama dengan pemuda yang menariknya tadi.


Pemuda itu menatap alin dengan tatapan yang sulit diartikan oleh alin sendiri.


"Kak andre?"panggil alin menyadarkan andre.


Yang menarik alin tadi adalah andre, dia tidak peduli dengan teman temannya yang sibuk berkelahi. Dia hanya peduli dengan alin, gadis mungil yang berhasil menarik perhatiannya sejak awal bertemu.


Sejak dia kehilangan alin, hidupnya menjadi sedikit suram. Dia juga tidak tau mengapa pengaruh alin begitu besar dalam hidupnya. Sekarang dia telah menemukan gadis nakalnya ini dan tidak akan pernah dia lepaskan begitu saja.


Pada intinya adalah, andre telah mengklaim alin sebagai gadisnya. Entahlah, apakah ini kabar baik atau mungkin...buruk?


Andre memojokkan alin ke dinding dan mengurung gadis itu dengan kedua tangannya.


Alin yang diperlakukan seperti itu tentu saja jantungnya menjadi jedag jedug dan mungkin sebentar lagi akan duarr.


"Dimana saja dia menyentuhmu?"tanya andre dengan lembut.


Alin hanya mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


"Apakah hanya disini?"tanya andre lagi, sembari mengusap leher alin yang sempat dicium oleh adnan.


Oke. Sepertinya alin telah mengerti kemana arah pembahasan ini.


Alin memegang tangan andre yang masih mengusap lehernya, lalu menjauhkannya.


"Jawab alin"bisik andre dengan penekanan.


Alin menelan salivanya gugup. Baru kali ini dia melihat andre yang sedikit menakutkan seperti sekarang.


Andre menaikkan kedua alisnya menunggu jawaban dari gadis itu. Alin mengangguk kaku.


Tepat setelah alin mengangguk, andre langsung mencium leher alin, ******* dan menghisapnya hingga menyisakan bercak kemerahan dileher putih alin.


Alin sempat menegang. Tidak lama, karna setelah itu alin langsung berontak dan berusaha menjauhkan andre darinya namun tubuhnya inilah yang tidak sebanding dengan tenaga andre.


"Ahh"dan yah, suara sesat yang alin tahan mati matian malah dengan santuy nya keluar.


Andre tersenyum tipis disela sela kegiatannya saat mendengar ******* alin yang begitu indah di pendengarannya. Bahkan pemuda itu tidak menghiraukan alin yang terus saja berontak.


"Kak!"


"Kak a-emh"baru saja suara sesat itu ingin keluar lagi, alin langsung membekap mulutnya sendiri.


"ARGHHH ANDRE BANGSAT!!"


"SISTEMM TOLONGIN GUEEE"


Sistem off.


"SISTEM GAK GUNA LO ANJING!! YANG KAYAK GINI AJA LANGSUNG KABUR" teriak alin frustasi dalam batinnya


"Gak ada cara lain"


Dug


Kegiatan andre terhenti begitu saja saat alin menendang perutnya menggunakan lutut gadis itu.


Dengan nafas memburu, alin menatap tajam andre yang malah tersenyum manis padanya.


Apakah antagonis memang kebanyakan tidak waras? Tolong jauhkan mereka dari alin. Bisa saja gadis itu akan ikut menjadi tidak waras.


"Finish"ujar andre tersenyum manis.


"Kumannya udah hilang"lanjutnya dengan santai seraya membawa alin kedalam pelukannya.


"Kuman?!! Andre jingan!"


"Diam alin"ujar andre saat alin berontak dalam dekapannya. Lalu pemuda itu melepaskan pelukannya dan menatap lembut alin yang masih menatap dirinya tajam.


Ahh ingin sekali dia mengurung alin, dan hanya dialah yang bisa melihat semua ekspresi dari gadis ini. Dia tidak rela jika orang lain melihat wajah menggemaskan alin saat ini.


"Lepas"ujar alin berusaha melepaskan tangan andre yang memeluk pinggangnya.


"No"jawab andre


"Lepas kak!"alin sedikit meninggikan suaranya.


"Gak mau"tolak andre dengan wajah yang cukup menyebalkan bagi alin.


Alin menghela nafas pasrah.


"Mau apa?"tanya alin dengan wajahnya yang lelah.


Andre yang mendengar pertanyaan alin pun tersenyum sangat manis hingga ingin rasanya alin menggampar wajah tampannya itu. 


Lalu andre mendekatkan wajahnya pada pada alin yang tidak bisa mundur karna pemuda gila ini menahan tengkuknya.


Alin hanya bisa berdoa semoga dia masih perawan setelah keluar dari kelas ini.


"Mau makan kamu boleh?"bisik andre dengan wajah polos yang mana membuat alin tercengang.


Apakah pemuda ini mengidap bipolar? Cepat sekali merubah raut wajahnya. Pikir alin tidak sadar diri.


"Gak boleh lah! Emang alin makanan?!"alin mendelik kesal pada andre.


"Bukan gitu maksudnya sayang"ujar andre.


Alin seketika merinding saat mendengar panggilan keramat itu.


"Jadi?"tanya alin bingung. Entah dia yang pura pura polos atau bagaimana.


"Aku mau makan ini"andre menunjuk bibir alin.


"Ini"beralih pada leher alin


"Dan.."tatapan andre menuju pada-


"Heh!! Liatin apa?!"alin mendelik tidak terima saat andre menatap dadanya.


Sontak saja alin menjauh dari andre dan menutup dadanya dengan kedua tangannya.


Kenapa pemuda ini menjadi mesum?


Dengan perasaan amarah yang memuncak alin langsung keluar dari kelas kosong itu meninggalkan andre yang kini telah tersenyum smrik.


"Kenapa kau sangat menggemaskan baby"lirihnya.


...***...


Sepanjang jalan menuju kantin alin mengisinya dengan umpatan untuk kedua pemuda gila tadi yang meracuni otak polosnya.


Untuk tanda merah yang dilehernya tadi, alin menutupnya dengan foundation jadi tidak terlihat oleh orang lain.


"Alin"panggil dita saat melihat alin yang baru saja masuk kantin dengan wajah yang memerah?


Alin berjalan menghampiri dita, masih dengan nafas yang memburu.


"Kenapa lo cil?"tanya dita heran saat menyadari nafas alin yang sedikit tidak normal.


"Habis lari tadi"jawab alin polos sembari duduk disamping dita.


"Nih makan"dita menyodorkan semangkok bakso yang sengaja ia pesan untuk alin.


"Makasih dita"alin menatap binar pada bakso tersebut. Seketika amarahnya menghilang begitu saja saat disodorkan makanan.


Tidak ingin berlama lama menatap bakso itu, alin segera meraciknya dengan semangat 25.


Saat ingin mengambil sambal, tiba tiba ada tangan seseorang yang menjauhkan mangkok sambal itu. Alin langsung mendongak menatap pemuda yang telah berani menjauhkan sambal itu darinya.


"Kenapa dijauhin?"alin menatap kesal aiden yang ternyata pelakunya.


"Gak boleh pake sambal nanti sakit perut"jawabnya santai lalu duduk didepan alin dan diikuti oleh inti the blue yang lainnya + justin.


"Dikit aja. Sini sambelnya"pinta alin berusaha menggapai mangkok sambal itu namun masih tidak bisa karna keenan merebutnya duluan.


"Gak boleh"ujar keenan


Alin cemberut lalu menjauhkan mangkok baksonya dan memainkan handphonenya dengan perasaan dongkol.


Mereka semua saling menatap satu sama lain saat melihat alin hanya diam sembari memainkan ponselnya.


"Alin"panggil dita namun tidak dijawab oleh alin.


Sungguh, saat ini alin benar benar kesal. Dia sudah lelah menghadapi kedua pemuda gila tadi dan sekarang? Ayolahh dia hanya ingin makan apakah harus sesulit itu.


Alin tidak bisa memakan makanan tanpa rasa pedas karna alin adalah salah satu pecinta pedas. Lebih baik dia tidak makan jika tidak ada sambal. Serepot itulah kehidupan alin. Tapi dia senang karna menjadi beban haha.


"Degem"panggil liam namun masih tidak terjawab oleh sang empu.


"Alin mau apa hm?"tanya steven dengan lembut mengusap kepala adiknya.


Masih dengan keadaan menunduk, alin menunjuk sambal tanpa mengeluarkan suaranya.


"Gak boleh"ucapan steven sedikit menyentak.


Setelah sadar, pemuda itu langsung meminta maaf pada alin yang masih diam.


"Eh maaf sayang maaf abang gak maksud bentak kamu"ujar steven sedikit panik.


"Alin" steven mengangkat wajah alin yang menunduk. Kemudian pemuda itu langsung memeluk alin saat dia melihat mata alin yang telah mengeluarkan air.


"Kenapa sayang? Alin kenapa nangis?"tanya dengan lembut sekaligus heran.


Mereka semua hanya terdiam saat melihat alin menangis tanpa suara.


"Nyesek juga ya liatnya" Batin mereka.


Alin menggeleng dalam pelukan steven.


Mood alin cepat sekali berubah, mungkin karna dia sedang datang bulan.


"Makan ya abang suapin"alin menggeleng lagi.


Sedangkan justin hanya menatap mereka datar, namun tidak bisa dipungkiri, dia merasa sedikit iri dengan kedekatan mereka berdua.


Seharusnya hubungan alin dengannya juga seperti itu bukan? Justin menggelengkan kepalanya guna mengusir pikiran aneh itu.


Karna kelamaan menangis, alin pun tertidur dalam pelukan steven. Steven yang menyadarinya, langsung menggendong alin ala bridal style dan pergi membawanya ke uks agar gadis itu tidur dengan nyaman.


________________________


Bersambung...