
“Bertahanlah kalian semua! Setelah ini kita akan kembali terlebih dahulu, memang kita sudah kehabisan tenaga karena 2 monster sebelumnya, tapi kita harus bisa kembali hidup-hidup.”
Terluka, compang-camping, kelelahan, itulah 3 kata yang dapat menggambarkan pasukan yang mencari di utara. Mereka telah dibuat kerepotan dengan kedatangan 2 monster yang sebelumnya secara tiba-tiba menyerang rombongan mereka di hutan bagian utara.
Terus berjalan dan berjalan dengan dituntun dengan satu buah obor yang tersisa di tangan sang pemimpin jalan. Entah kejutan apa lagi yang akan mereka dapatkan entah diserang hewan buas atau seekor monster.
Kegelapan telah jatuh, sekarang cahaya surya lah yang akan berkuasa. Keadaan hutan sudah mulai kembali riuh dengan suara beberapa hewan yang hidup didalamnya.
Di desa... Semua orang yang sebelumnya mengikuti kegiatan pencarian, telah kembali dengan selamat dan hanya beberapa goresan luka ditubuh mereka yang tak membahayakan nyawa.
“Fajar sudah hampir tiba, apa mereka baik-baik saja?” Kepala desa menunggu di depan gerbang desa yang masih dalam proses peningkatan.
Airen yang masih berhadapan dengan sang naga melanjutkan perbincangan mereka.
“Sekarang kemarilah wahai anak manusia. Berikanlah tanganmu lalu bersumpah atas nama keselamatan umat manusia.”
“Lalu apa sumpahnya?”
“......”
“Aku harus mengaturnya sendiri?! Baiklah!” Airen memejamkan matanya mulai mengatur teks sumpah yang akan diucapkannya.
Sudah yakin dan siap Airen mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
“AKU AIREN HALLOUR, PUTRA DARI JACKY HALLOUR. BERSUMPAH ATAS KESELAMATAN UMAT MANUSIA, AKU AKAN MEMBAWA KEDAMAIAN YANG ABADI DARI IBLIS. DAN AKAN KUPASTIKAN TAK ADA LAGI PERTUMPAHAN DARAH YANG TERJADI AKIBAT PERANG MELAWAN IBLIS.”
“Bertahanlah.”
Lalu sang naga menjabat tangan Airen yang sudah diulurnya.
“ARGHH!! AHHH SAKITT ARGHH.”
Setelah rangkaian jeritan yang cukup keras dilakukan, Airen kembali tenang dan mengatur nafasnya agar normal kembali.
“Apa itu tadi?”
“Lihat dipundak kananmu.”
Menuruti perkataannya, Airen segera melihat pundaknya lalu ada sesuaty disana.
“Tanda apa ini?”
Tanda yang dimaksud Airen adalah tanda bergambar naga seperti posisi bulan sabit.
“Itu adalah tanda bagi para Foréas Seier. Tanda itu membuktikan bahwa kau adalah pembawa kekutan naga agung, yaitu aku. Kau bisa menghubungiku semaumu karena aku tak bisa tertidur ataupun kelelahan.”
“Baiklah.”
Kemudian beberapa saat setelah perbincangan mereka berakhir salju berhamburan beraturan. Seperti terkena sapuan angin yang kencang.
“Silahkan kembali.”
“Eh?” kemudian ia menengok ke belakangnya dan-
“NA-NAGA!”
Ya benar seekor naga kini berdiri dibelakang Airen tapi dengan ukuran yang cukup kecil untuk dibilang sebagai naga lebih tepatnya "Elang raksasa berwujud naga".
“Tak perlu setakut itu, aku bukan hewan buas atau sejenisnya. Karena urusan dengan suamiku sudah selesai maka kau akan kupulangkan alam roh, dan disana kau akan mendapatkan kembali senjatamu dan juga kakakmu telah pulih.”
“Benarkah?!”
“Aku bersungguh.”
“Kalau begitu aku pergi.” Airen kemudian menaiki punggu naga tersebut.
Lingkaran portal yang berukuran sebesar tubuh naga itu tercipta, kemudian ia melewatinya dan menghilang dari Leviathan.
“Cara berpamit yang buruk. Butuh waktu beratus-ratus tahun untuk bisa membunuhnu tapi kau membagikan kekuatanmu menjadi 26 bagian dan menyisakan kekuatan untuk mengunciku disini. Butuh berapa ratus tahun lagi untuk menyelesaikan "drama" ini...”
Kini, di tempat Airen berada sekarang, yaitu di alam roh lebih tepatnya di sebuah pohon beringin besar dimana para roh agung berkumpul. Portal tercipta dihadapan mereka dan mereka segera berlutut dihadapan portal tersebut.
Lalu keluar sang naga yang membawa Airen dari portal tersebut.
“Selamat datang kembali, wahai Ratu dari seluruh roh yang ada di dunia ini.” sambut hangat Drayd lalu diikuti para roh agung lainnya.
Airen segera turun dari punggung naga itu dan segera menanyakan kabar tentang kakaknya.
“Dimana kakakku? Apa dia sudah sadar?”
“Ck.”
Terlihat salah satu roh agung yang sebelumnya terlibat konflik dengan Airen kini merasa jengkel kembali dengan tingkah laku Airen yang tidak sopan.
Sadar akan hal itu, Drayd meliriknya dan seakan-akan memberinya isyarat untuk “Jangan berulah!”, seperti itu. Dan roh agung tersebut hanya menunduk.
Fall menjawab pertanyaan Airen.
“Iya dia sudah sadar dan sekarang ia sedang mengisi tenaganya.”
“Baiklah aku akan menyusulnya.”
Airen pun pergi menuju hutan ditempat kakaknya berada.
“Aku akan segera pergi karena aku sudah mengantarnya kemari. Kalian pulangkanlah dia dengan hormat karena dia sudah 'terpilih' dan jangan lupa untuk menghilangkan ingatan saudaranya karena kita tak boleh diketahui oleh siapapun kecuali bagi mereka yang terpilih.”
“Baik Ratu!”
Naga itu pergi melalui portal yang ia buat kembali.
“Kalau begitu mari kita antar-”
“Aku tak akan ikut.”
”Baiklah itu lebih baik. Siapkan jubah kalian!”
Saat Drayd ingin mengajak para roh agung untuk mengantar kepergian Airen, salah satu roh agung menolaknya dan disetujui oleh Drayd.
“Kak! Kak Harry!”
Airen memanggil kakaknya yang sedang memakan hidangan yang telah disiapkan oleh para roh lain.
“Airen!”
Harry menghentikan makannya sebentar, dan berdiri lalu menghampiri Airen.
“Syukurlah kakak baik-baik saja.”
“Iya begitulah... Kau juga terlihat baik. Ahh ayo kita makan bersama seseorang telah menyiapkan makanan ini saat aku terbangun.”
“Ahh aku tidak lapar hehe...”
“Sayang sekali jika makanan sebanyak ini kumakan sendiri tapi tak apa, kita tak boleh membuang-buang makanan sedikitpun.”
“Iya hehe...”
Saat mereka sedang melepas rindu walau hanya terpisah sebentar, Airen kemudian dipanggil oleh para roh agung yang datang menghampirinya.
“Airen.”
“Hei Airen, siapa mereka... Tunggu aku ingat ahh mereka adalah orang-orang yang memberiku makanan ini jadi kau mengenal mereka rupanya.”
“Ya begitulah, sebaiknya kakak habiskan dulu makanannya aku akan menghampiri mereka terlebih dahulu.”
Airen pun menghampiri mereka dan terheran-heran dengan pakaian mereka.
“Ada apa, kenapa kalian memakai pakaian seperti itu.”
“Kami pikir kalian berdua harus segera kembali ke dunia kalian.”
Salah satu roh agung maju dan memberikan sebuah apel kepada Airen.
“Berikanlah apel itu kepada kakakmu. Apel itu akan membuatnya melupakan kejadian saat ini atau lebih tepatnya ingatan saat dia terbangun disini.”
“Apa ada efek sampingnya?”
“Hanya akan tertidur setelah memakannya dan saat terbangun hanya pusing ringan.”
“Baiklah.”
“Dan ini senjatamu. Senjata ini dapat kau perbaiki hanya dengan mengalirkan Mana-mu kenalannya maka ia akan memperbaiki dirinya sendiri.”
“Baiklah.”
“Kami akan membuat portalnya saat kakakmu sudah tertidur.”
Airen kembali kepada kakaknya dan menawari apel tersebut.
“Kak cobalah apel ini. Apel ini sangat manis, apel ini sangat langka tadi aku diberi dua oleh mereka dan satunya sudah kucoba dan ternyata benar-benar manis.” ucap Airen sembari merayu kakaknya.
“Benarkah? Kalau begitu aku juga ingin mencobanya.” Harry kemudian mencobanya dengan satu gigitan. “Kau benar ini sangat manis Airen... dan juga rasanya...” setelah beberapa detik menelannya, efeknya langsung timbul dengan cepat. Teramat kantuk yang disebabkan oleh buah tersebut membuat Harry terjatuh dan tertidur.
“Baiklah kerja bagus.”
“Apa aku tak memakannya juga?”
“Setidaknya berilah pertanyaan yang berbobot.”
Pertanyaan Airen dilewati begitu saja tanpa ada yang menjawabnya.
“Akan kubuat portalnya sekarang, kau bersiaplah.”
Airen menggendong busurnya di pundaknya. Kemudian ia mengangkat dan merangkul kakaknya untuk membawanya.
“Sihir Roh : Jalan Penghubung.”
Lingkaran dengan kekuatan sihir tercipta.
“Silahkan, kalian hanya perlu jalan melewati lingkaran ini.”
“Baiklah terima kasih para roh agung.”
......
“Ini? Hutan bagian mana?” setelah melewati portal itu ia sedikit kebingungan dan ia lupa tak bertanya, bahwa dirinya akan dipindahkan kemana.
Di desa...
“Pak Kepala! Pak Kepala!”
Seorang pria terlihat tengah menerobos melewati beberapa orang yang sedang berdesak-desak di depan rumah kepala desa.
“Pak Kepala apa suamiku baik-baik saja. Ini sudah pagi dan dia masih belum kembali.”
“Bagaimana dengan anakku yang ikut dengan meraka. Aku harap dia baik-baik saja.”
“Semuanya harap tenang.”
“Bagaimana kami bisa tenang bila keluarga kami sedang pergi ke tempat yang berbahaya.”
“Aku jamin mereka pasti akan pulang.”
“Lalu apa jaminanmu pak Kepala!!”
“Kepalaku. Akan kujamin bila mereka belum datang sampai malam tiba lagi, maka kepalaku tak akan bersatu lagi dengan tubuhku ini.”
Lalu semuanya berbisik-bisik satu sama lain.
“Tunggu pak Kepala!”
Lalu suara seseorang memanggil Kepala desa terdengar oleh orang-orang yang sedang berkumpul disana.
“Permisi, beri jalan, permisi...”
Setelah susah payah melewati kerumunan yang padat itu akhirnya berhasil menghampiri sang Kepala desa.
“Hah... Hah... Pak Kepala saya membawa berita baik. Digerbang yang masih dibangun, kami melihat mereka... Telah kembali.”
Orang-orang yang mendengarnya pun masih sedikit tak percaya.
“Apa kau yakin itu mereka?”
“HOI JANGAN BERCANDA DISAAT SEPERTI INI!”
“Semuanya! Kalian tak perlu cemas lagi karena... Keluarga kalian... TELAH KEMBALI!”
Setelah mendengar kabar baik yang dibawakan pria tersebut, para warga yang sebelumnya berkumpul di depan rumah kepala desa kini bergerombol menuju gerbang desa yang masih dalam tahap pembangunan.
Ibu Airen yang sedang berada di dalam rumah kepala desa menemani Luis dikarenakan pindahnya tempat merawat Luis. Tertegun setelah mendengar kabar berita tersebut. Ia segera keluar sembari meneteskan air matanya sambil berlari menuju arah gerbang desa. Ia sangat, sangat, sangat menantikan kepulangan keluarga kecilnya itu.