Airen The Lost Prience

Airen The Lost Prience
BERPISAH



Di kandang, tempat para pekerja yang sebelumnya bekerja bersama Xyan. Kini sedang berkumpul dan membicarakan sesuatu.


“Sekarang kita harus apa?” seseorang memulai pembicaraan.


“Melakukakan apa yang seharusnya kita lakukan.” lalu dijawab oleh yang lainnya.


“Apa?”


“Bermain dadu, minum susu hangat, bermain catur....”


“Jangan bercanda sialan.”


“Terus harus bagaimana lagi sekarang kita hanya memiliki beberapa burung saja, dan itupun sudah kita rawat.”


“Hahh....” ia pun menghebuskan nafas dengan sedikit kasar.


“Hei lihat, dia datang.” salah satu dari mereka yang lain, menyerukan peringatan kepada yang lain.


Lalu seseorang datang menghampiri mereka.


“Hei kalian. Kalian sedang luang bukan... Ikutlah denganku.”


“Kemana?”


“Mencari para burung itu.”


“Hah!!! Apa yang kau pikirkan, mencari para burung itu di luar sana. Kau tahu bukan seberapa luas daratan pasir itu.”


“Ya aku tahu. Sedari dulu aku tak pernah melakukan hal yang sia-sia. Kau tahu bukan kalau para burung itu adalah maskot negeri ini. Apa kau pernah melihat patung burung itu di kota?”


“Ya dengan seseorang yang menungganginya sambil menghunuskan pedangnya.”


“Ya kau benar. Dia adalah raja kita saat masih berjuang menyatukan negeri ini. Dengan burung itu ia menyatukan negeri ini dengan bertempur sambil meyakinkan kepada mereka yang ketakutan bahwa mereka akan baik-baik saja saat dirinya datang.”


“Lalu?”


“2 hari lagi, yaitu besok lusa akan ada acara dimana para bangsawan akan membeli burung itu untuk mengikuti pemilihan penerus raja. Dan jika tuan kita tak bisa ikut serta dalam event ini tuan kita akan hancur dan kita juga akan dipecat, dan kita pun akan menjadi pengangguran. Kalian sudah merasakannya bukan betapa sulitnya mencari pekerjaan di negeri ini. Mari kita manfaatkan waktu ini untuk mendapatkan hadiah dari tuan kita karena telah berhasil mengembalikan mereka. Aku sudah menemukan lokasi mereka dimana dan mengarah kemana.”


“....”


“Mereka sedang menuju kemari.”


“HAHA! Kau memang hebat ketua! Hei kalian cepatlah siapkan burung-burung yang tersisa lalu kita berangkat!”


“Ya!”


Mari kita pindah menuju tempat di luar Tembok Surga. Kini suatu peristiwa sedang terjadi di luar tembok, yaitu selapanan burung tengah dikejar-kejar oleh 3 monster besar di belakang mereka.


“Hei apa benar kita tak akan melakukan apapun pada mereka?”


“Entahlah aku pun terheran-heran mereka ini berniat memburu burung ini atau tidak.” lalu Airen menjawab pertanyaan dari Stavor.


“Aku juga merasa aneh dengan ini, para burung ini memang merasa cemas tapi apa kecepatan para monster itu tak bisa melampaui kecepatan burung ini?” Oliv pun memasuki pembicaraan.


“Hei Stav... Apa kita masih punya cadangan makanan dan minum?”


“Masih ada kok, kau tak perlu khawatir karena kita masih memiliki stok makanan dan minum yang banyak.”


“Jangan cuekin aku, sialan!”


“Hei, kalian semuanya tampak sedang asik ya.”


“Asik dengkulmu, aku dicuekin sama mereka asik dari mananya.”


Kemudian Oliv hanya diam saja memandangi sekitar, hingga pada suatu waktu matanya tertuju pada sebuah debu yang berhamburan dari arah sebelah kirinya.


“Hei kalian, apa kalian melihat debu yang bertebaran itu?” Oliv mencoba memberi tahu apa yang ia lihat kepada yang lainnya.


Airen dan Stavor yang masih memakan camilan mereka sembari memberi makan burung mereka sendiri pun memberi respon.


“Aku melihatnya.” ujar Stavor.


“Hei Stav pinjamkan teropongmu.”


Stavor pun mengambil teropong yang ia simpan di tas kecil khusus miliknya dan memberikan teropongnya kepada Airen.


“Aku melihat burung yang sama dengan yang kita tunggangi saat ini, dan juga ada orang yang menungganginya dan sepertinya mereka sama seperti kita.”


“Kau kalau bicara jangan setengah-setengah. Sini berikan kepadaku.” Stavor pun mengambil teropongnya kembali.


“Apa yang kalian berdua lihat?” Timmy pun bertanya.


“Ya seperti yang aku katakan aku melihat kawanan burung yang sama dengan kita dan juga ditunggangi oleh orang lain, yang pasti mereka berlaju lebih cepat dari kita ya'kan Stav?”


“....” Stavor hanya terdiam sambil tetap memegang teropong di tangannya.


“Stav?”


“Ahh mungkin mereka sedang melihat kita diserang monster ini dan mereka dengan cepat ingin menolong mereka.”


“Itu tak mungkin, lalu apa yang dimaksud "habis" oleh si Tua Janggut itu.”


“Entahlah, hei Stavor jelaskan.”


“Kau ini memang beberan bodoh ya Airen. Apa kau mengira mereka berlaju lebih cepat dari kita itu karena mereka ingin menolong kita?”


“Eh salah ya?”


“TENTU SAJA BODOH! Mereka sedang dikejar... Hahaha... oleh Ular Gurun yang merayap dengan sangat cepat.”


“Jangan bercanda kau Stavor dikejar oleh 3 monster di belakang kita saja sudah berbahaya.”


“Aku berbicara yang sesungguhnya!”


“Hei kalian semua lihatlah ke belakang, para monster itu berhenti dan melihat ke sebelah kiri.” Oliv pun memberi peringatan lagi kepada mereka. “Mereka segera menuju kawanan di sebalah kiri kita.”


“Sepertinya mereka teralihkan oleh sang ular itu. Timmy! Kau yang memimpin mulai dari sekarang, pastikan semuanya selamat, jika mereka bertarung dan sang ular yang menang itu akan berbahaya untuk kita. Aku akan mencari kalian saat sudah sampai di dalam sana.” kemudian Airen pun loncat dari burungnya dan berlari mengejar para monster itu.


“Baiklah! Hati-hati!”


Airen pun tanpa menghadap ke belakang memberikan jempolnya yang mengartikan "Tenang saja, aku tak akan mati."


“Kurasa kau berlebihan jika mengkhawatirkan dirinya.”


“Jangan banyak omong kau Tua Cebol.”


“Cihh entah mengapa lebih baik bersama Airen dari pada bersama kalian berdua.”


Lalu kita akan bergeser sedikit ke sebelah kiri dari kawanan Airen.


“Sialan! Seharusnya aku tak ikut rencana bodoh orang itu. Sial kenapa jadi begini!”


“Lihat ke depan! Ada kawanan lain di depan mungkin kita bisa meminta bantuan!”


“TOLONG! HEI YANG DI DEPAN SANA TOLONG KAMI!”


“Percuma mereka mungkin tak mendengar kita atau mungkin mereka hanya menganggap kita hanya debu gurun biasa.”


“Tidak! Mereka mendengar kita lihatlah mereka kemari.”


“Wahh!!” rasa lega datang sesaat kepada mereka.


“Hei teriaklah lebih keras lagi untuk meyakinkan mereka.”


“Ya. Hei tolong kami, tolong kami!!”


“Ehh tunggu sepertinya yang datang bukan manusia....”


“Apa maksudmu?!”


“Wah... Dia benar! Itu monster yang lainnya.”


“Tamatlah riwayat kita.”


Saat mereka mulai pasrah. Sang ular masih mengejar di belekang mereka dan di depan mereka terdapat monster yang menyergap mereka, tapi....


“KALIAN YANG ADA DI SANA!”


Mereka bertiga sadar saat ada yang menyerukan mereka.


“BERGERAKLAH KE ARAH KIRI! DI DEPAN SANA KALIAN AKAN MENDAPATKAN BANTUAN!”


Tanpa pikir panjang mereka segera mengalihkan arah dari para burung yang mereka tunggangi menuju utara yaitu sebelah kiri mereka.


“CEPATLAH!”


“SIAPAPUN KAU KAMI BERTERIMA KASIH PADAMU!”


Saat mereka bergerak ke arah kiri, sang ular pun ingin mengikuti mereka tapi hal itu dicegah oleh Airen.


“Tak akan kubiarkan. Saatnya kau menunjukkan tandukmu.”


Kemudian Airen berhenti dan menyiapkan sebuah serangan dengan busurnya. Airen mengalirkan Mana nya ke dalam busur itu kemudian busur itu mengeluarkan cahaya yang begitu terang.


“Bersiaplah kau hewan melata!”


Cahaya melesat dengan sangat cepat dan mengenai kepala ular tersebut. Para kalajengking juga tak melewatkan kesempatan itu mereka segera mendekati sang ular dan bersiap menyuntikan racun mereka ke tubuh ular, namun sayang sang ular segera bangkit dari serangan Airen.


Ular itu pun telah dalam posisi siaga dia melihat 4 musuh di matanya, dan dia sangat mewaspadai Airen karena serangannya dapat melukai dirinya.


“Ayo kita mulai pertempurannya!”