Airen The Lost Prience

Airen The Lost Prience
DUNIA PARA ROH



“Dunia roh adalah tempat dimana para roh tinggal dan disini adalah tempat utama para roh agung tinggal. Kau lihat pohon besar disana itu...” pohon yang ditunjuk oleh roh kecil tersebut adalah pohon yang didatangi Airen sebelumnya. “Itu adalah pohon yang ditinggali oleh roh agung, Dryad. Roh agung Dryad dan disana juga adalah tempat para roh agung berbicara.”


“Dryad? Roh agung?”


“Apa kau tak tahu siapa dia? Dia adalah roh yang paling dikagumi menjaga dan merawat alam sekitar baik dunia kami ataupun dunia luar. Ia menghukum orang-orang yang merusak alam tanpa alasan yang jelas.


Ghodus. Tak ada di udara, tak ada di lautan, hanya ada di daratan, itulah kata-kata yang cocok untuknya. Roh agung Ghodus. Ia bisa saja melongsorkan tanah hanya dengan mengedipkan kelopak matanya saja.


Sang Pembawa Segalanya, Vall. Dia adalah roh agung yang mampu "membawa" apa saja saat dia marah. Tak peduli jika itu gunung, bukit, lautan bisa ia bawa saat dia marah. Itulah roh agung Vall.


Tak ada yang berani menyentuh tubuhnya sama sekali bahkan seorang manusia dalam jarak 3 meter saja sudah terbakar habis. Sang Ratu Api sekaligus salah satu dari roh agung, Hellen.


Tenang, lembut namun dapat menghancurkan segala yang ada didepannya. Penguasa Air, roh agung Andine. Mereka berempat adalah para roh agung yang memiliki kekuatan spirit yang besar dan manusia pun bisa melihatnya dengan mata telanjang, tapi kau! Kau?! Bagaimana bisa seorang manusia melihat roh dengan kekuatan spirit yang kecil seperti kami?!”


“Aku pun tak tahu kenapa bisa melihat kalian...”


Selang beberapa menit setelah perdebatan antara Airen dan para Roh kecil disana, seseorang datang ke tempat Airen dan juga kakaknya yang sedang dirawat oleh roh-roh mungil disana.


“Tok tok... Apa ada orang disini, aku Hellen datang untuk menemuimu.”


“Gawat putri Hellen datang, semuanya sembunyi!” para roh kecil pun berlarian kesana kemari mencari tempat bersembunyi yang bisa mereka gunakan.


“Hei kalian...”


“Ahh itu dia.” seseorang datang dan menemukan Airen sedang duduk dihadapan seseorang. “Astaga kau ini kemana saja sih, aku mencarimu kemana-mana loh.” orang tersebut berbicara sangat akrab dengan Airen seolah dia berbicara dengan sahabatnya.


“Siapa kau? Apa maumu?!”


“Tak usah kasar kepadaku, ayo ikut aku kita bermain dan menghabiskan waktu sementara "dia" memulihkan dirinya.” orang tersebut segera menarik tangan Airen dan membawanya pergi tetapi sebelum itu... “Ahh iya untuk kalian rawat dia baik-baik ya dadah...”


Para roh mungil itu terkejut serta ketakutan dengan perkataan yang dilontarkan seseorang yang datang ke tempat tersebut.


“Baik, maaf putri Hellen...”


Setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan tempat tersebut. Dan membiarkan Harry tertidur disana bersama para roh kecil yang merawatnya.


“Baiklah bagaimana kita bermain tangkap bola saja untuk awalan kita dalam bersenang-senang, Ahh aku hampir lupa...” orang tersebut mengulurkan tangannya kepada Airen. “Namaku Hellen salam kenal ya... Kalau begitu-”


“Tunggu! Sebenarnya siapa kau dan apa maumu apa kau juga salah satu dari "mereka" ?”


“Mereka? Siapa?”


“Yang kalian para roh bilang adalah Roh Suci ataupun Roh Agung.”


“Ahh benar aku adalah salah satu dari roh agung loh keren'kan?”


“Jangan bercanda!”


“Ahh kau tidak menyenangkan sama sekali... Ya sudah, memang kenapa kalau aku salah satu dari mereka?”


“Tidak apa-apa, tapi...”


“Apa kau tak mau bermain denganku, sama seperti yang lain. Huaaaa...” kemudian ia berpura-pura menangis dihadapan Airen.


“Hei tunggu jangan menangis.”


“Huaaa” ia semakin menangis.


“Akh baiklah aku akan bermain denganmu tapi ingat, jangan berani berpikiran untuk menyerangku saat aku lengah,-”


Beberapa jam setelahnya...


“Hah... Hah... Hah...”


“Hei ayoo kita lanjutkan.” Hellen memanggil Airen dan mengundangnya untuk bermain kembali.


Airen yang sudah kehabisan tenaga, hanya bisa berdiam dan mencoba bertahan atas tubuhnya yang sepertinya sebentar lagi akan pingsan dikarenakan ia bermain dengannya selama 5 jam tanpa istirahat.


“Hei Airen ayo bangun...”


“Bagaimana bisa dia sudah bermain selama berjam-jam tapi masih bersemangat seperti itu.”


Kemudian dirinya terjatuh karena sudah tak bisa menahan dirinya lagi. Tiduran dengan posisi terlentang menghadap langit cerah nan biru yang membentang sepanjang mata memandang.


“Ini aneh, atau memang aku yang baru menyadarinya. D**isini belum malam, padahal sebelum sampai disini aku masih berada di hutan yang sangat gelap tanpa ada cahaya sedikitpun.”


“Ahh kau membuatnya cape saja...”


Lalu Airen mendengar Helen berbicara kepada seseorang tapi bukan dirinya yang dituju melainkan orang lain. Dia ingin bertanya tapi apalah daya dirinya yang sudah tak bisa mengeluarkan suara sepatah kata pun.


Selang beberapa detik, kepakan sayap yang terdengar sangat keras dan juga hembusan angin ditimbulkan oleh kibasan dari sayap tersebut yang dirasakan oleh tubuh Airen.


“Siapa yang datang? ”


“Maaf telah merepotkanmu Hellen. Terima kasih telah membantuku untuk dapat membawanya.”


“Aku tak masalah sebenarnya, aku hanya kasihan dengannya apa dia akan sangat terkejut saat terbangun dan melihat naga berdiri dihadapannya.”


“Aku pun begitu, tapi mau bagaimana lagi ini perintah "Raja" aku tak bisa apa-apa.”


“Baiklah kalau begitu hati-hati saat membawanya, bisa-bisa dia akan terbangun sebelum kau kembali ke istana.”


“Baiklah aku pergi dulu.”


Lalu makhluk yang disebut sebagai naga itu mendekati Airen dan membawanya pergi menggunakan cakarnya.


“Manusia yang cukup aneh, biasanya manusia tak akan sanggup berhadapan dengan roh karena roh akan menyedot energi spirit milik manusia tapi, anak itu seperti memiliki sebuah kekuatan yang dapat menangkal roh untuk melakukan itu pada dirinya.


Untuk pertama kalinya sesuatu yang kusentuh tak terbakar, kepanasan, meleleh, ataupun langsung hangus. Apa akan menjadi yang "terpilih" generasi berikutnya...”


Terbangun kembali. Disebuah tempat tak dikenalnya lagi. Hanya ada salju, salju, dan salju saja yang ia lihat namun anehnya ia tak merasa kedinginan sama sekali bahkan dengan pakaiannya yang tipis.


“Lagi-lagi aku terbangun di tempat yang tak kukenali sama sekali, lagi.”


“Halo apa ada orang disini, hai...”


Penasaran, akhirnya ia berteriak dan mencoba apakah ada manusia yang tinggal disini. Tapi kita sudah tahu tak ada manusia yang sanggup tinggal ditengah badai salju yang berkepanjangan tanpa ada yang lain sama sekali, hanya ada salju dan salju.


“Selendang apapun kau berteriak tak ada satu orang pun yang akan menjawabmu.”


Seketika bulu kuduk Airen berdiri semuanya. Ia merasakan hawa yang sangat menakutkan datang dari belakangnya, dimakan oleh penasarannya yang bahkan mampun menekan rasa takutnya, ia sedikit demi sedikit melihat ke arah belakangnya.


“Haa.... AAAA!! NAGA!!”


Setelah menyaksikan makhluk apa yang ada dibelakangnya ia seketika pingsan kembali dan tergeletak di atas salju seperti sebuah mayat manusia yang dengan sengaja dibuang ditengah-tengah daratan dingin tersebut.