Airen The Lost Prience

Airen The Lost Prience
ISTANA MILIK SAUDAGAR



“Si-siapa kau?!” ujar salah satu prajurit yang tergeletak.


“Sungguh tak ramah. Sebaiknya kau memberi pertolongan kepada temanmu itu.”


“Ah, hei kau bertahanlah.”


Prajurit itu segera menggendong temannya kembali, dan berniat berjalan tapi hal itu kemudian menjadi sebuah cemoohan.


“Kau itu benaran bodoh ya? Hei kalian yang disana jangan diam saja, cepat kemari dan bawa kuda-kuda nganggur itu kemari atau teman kalian akan mati.”


Mereka bertiga yang berada di seberang segera datang dengan sudah menaiki kuda mereka.


“Astaga lukanya separah itu!?”


Mereka yang baru tiba tampak terkejut setelah melihat luka rekannya itu.


“Tuan! Apakah Tuan bisa menggunakan sihir penyembuhan, kalau bisa tolong bantulah teman kami ini.” Prajurit yang menemani rekannya yang sedang sekarat tersebut seketika melontarkan pertanyaan (permintaan) kepada pria yang baru ditemuinya itu.


“Ahh aku itu bisa pakai sihir penyembuhan tidak ya....”


“Tolong jangan bersikap mempermainkan nyawa teman kami!”


“Aku tak pernah bermain-main dengan sebuah nyawa, bahkan benda yang tak memiliki nyawa sekalipun.”


“Apa maksudmu!”


“Lupakan. Sungguh aku tak tahu bisa melakukan sihir penyembuhan atau tidak. Baiklah akan kucoba.”


Pria itu seperti sedang menghafal sesuatu karena dia bergumam sesuatu dan diulang-ulang terus olehnya.


“Hei kalian, apa kalian memiliki perban atau semacamnya, aku tak yakin jika lukanya akan langsung sembuh tapi setidaknya bisa meredakan rasa sakitnya dan mencegah racun itu menyebar lebih jauh.”


“Tenang saja tentu ada.”


“Baiklah aku mulai. Tolong baringkan saja dia dengan tubuh terbalik.”


Salah satu dari mereka segera membalikkan tubuh temannya yang terluka tersebut dan membisikkan sesuatu.


“Kau harus bertahan, hari ini bukan saatnya kau menemui malaikat.”


“Aku mulai.”


Sihir yang akan digunakan Airen adalah Sihir Rapalan. Sihir ini sedikit berbeda dengan yang biasanya hanya menyebut elemennya dan nama dari sihir itu sendiri.


Ini adalah sihir yang dirangkai bagaikan sebuah doa kepada Sang Ilahi. Sihir ini lebih kuat, tetapi terlalu lama untuk digunakan.


Memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri namun bagi para Penyihir yang sudah melebihi suatu sihir dari sihir itu sendiri menganggap sebuah sihir yang rumit bagi kalangan penyihir biasa sebagai sebuah mahakarya dalam dunia sihir. Karena inilah mereka mengetahui bagaimana sihir itu tercipta.


“Paragraf Pertama : Ilmu Penyembuhan. Dari tanah kembali ke tanah, dari langit kembali ke langit, wahai Engkau yang memiliki kekuatan menghilangkan seluruh dosa, ampunilah dirinya yang tak berkuasa di hadapanmu ini.”


Seperti sebuah doa namun itu adalah sihir. Bagaimana kata-kata tersebut dapat membuat kekuatan hebat dan keajaiban yang bahkan dapat menghancurkan dan menyelamatkan diri sendiri itu.


Saat merapalnya, Airen tampak dengan penuh konsentrasi dengan sihirnya. Sungguh ia tak sedang bermain-main seperti biasanya.


Lingkaran sihir terbentuk dibawah mereka saat kata pertama dikeluarkan. Sebuah ilusi yang nyata terbentuk. Pilar-pilar hadir di antara mereka, tanah yang dipijak oleh mereka berubah menjadi bebatuan, dan tempat prajurit yang terluka itu berubah menjadi sebuah meja yang terbuat dari batu yang menjadikannya seperti sebuah altar.


Pertunjukan cahaya sihir di padang pasir, mungkin akan lebih indah jika pada malam hari.


Cahaya yang meliputi tubuh yang terluka, cahaya dari kekuatan ilahi. Tak ada yang tahu apa yang terjadi pada saat itu, karena cahaya yang begitu terang menutupi pandangan mereka.


Setelah cukup lama berada dalam ketidaktahuan, kini kinerja dari sihir rapalan sudah tak aktif.


Altar itu menghilang dan diikuti oleh bertekuk lututnya Airen karena kelelahan. Terlalu banyak menggunakan Mana adalah salah satu kekurangan dari jenis sihir ini.


Dengan sigap rekannya langsung membantu menutupi luka yang masih tampak terbuka itu.


Setelah selesai diperban oleh rekannya, prajurit itu segera sadar dan terbangun dari rasa sakitnya yang sekarang seperti terasa hilang sepenuhnya.


Sadar akan siapa yang menolongnya ia segera bersujud untuk berterima kasih atas pertolongannya.


Airen hanya diam saja. Bukan berarti ia tak peduli atas terima kasih dari orang yang telah ia tolong, hanya saja dirinya kelelahan.


Tak kuasa atas dirinya, Airen akhirnya tumbang ditengah panas dan teriknya gurun.


Para prajurit itu kebingungan dan memutuskan untuk membawanya ke dalam tembok.


Berpindah pada latar bangunan yang megah di pusat kota, istana yang berdiri cukup luas milik sang saudagar ulung.


Memasuki koridor yang cukup luas, karpet merah mereka injak dan berjalan menuju sebuah pintu besar. Dikawal oleh salah satu pekerja yang memimpin jalan bersama mereka.


Dibukanya pintu besar di hadapan mereka, sedikit demi sedikit memperlihatkan ruangan yang berada dibaliknya.


Singgasana emas yang sangat memanjakan mata, dengan seseorang yang duduk disana. Menggunakan pakaian mewah dan perhiasan emas yang sangat menawan. Didampingi wanita-wanita cantik nan ramping. Sungguh surga dunia (lelaki).


“Tuanku....” sujud pekerja itu, sementara dua orang dari mereka menggiring burung-burung itu ke kandang.


“Kabar baik, Tuan! Para burung telah kembali.”


“Kau jangan membohongiku!” ucapnya sedikit kesal.


“Kami tak berbohong, Tuan bisa melihatnya sendiri di kandang. Mereka telah kembali.”


“Dewi yang baik hati berpihak padaku, aku sungguh berterima kasih. Lalu siapa mereka wanita-wanita di belakang kalian?!” ucapnya dengan melirik tubuh wanita asing tersebut.


“Saat kami berinisiatif untuk memberikan kejutan kepada Tuan dengan membawa para burung kembali. Saat kami menemukan mereka, para burung. mereka sedang dikejar oleh para monster. Beruntungnya Tuan, mereka datang menolong para burung dan menyelamatkan harta Tuan.”


“Hahahaha... Luar biasa. Cantik, ramping dan kuat. Sempurna. Lalu siapa nama kalian?”


Oliv ingin rasanya membungkam mulut kotor lelaki tersebut namun dicegahnya oleh tangan Timmy.


“Perkenalkan Tuan, saya berasal dari luar. Nama saya Timmy Linear. Dan yang disebelah saya adalah adik perempuan saya bernama Olivia Linear. Kami berdua berasal dari keluarga Linear.” bohong Timmy.


“Pasti orang tua kalian sangat rupawan sehingga menghasilkan kalian yang sangat menawan.”


“Terima kasih atas pujiannya, kami kemari ada perlu, sebenarnya saudara laki-laki sayalah yang memiliki urusan disini tapi kami berpisah karena ada beberapa insiden.”


“Apa itu?” tanyanya agar terlihat simpati.


“Begini Tuan, tadi saat kami menolong mereka saudara laki-laki kami terlibat pertempuran yang berbeda, adik laki-laki saya yang pertama turun tangan langsung melawan monster yang mengejar kami semua saat di luar. Lalu kakak tertua kami turun tiba-tiba dari para burung yang kami tunggangi, sepertinya ia merasa ada yang sedang memperhatikan kawanan kami semua saat itu dan memilih untuk berkorban agar kawanan kami tak dikejar lebih jauh. Aku berharap keselamatan mereka berdua.”


“Aku turut bersedih atas apa yang terjadi pada saudara-saudara mu. Silahkan kalian boleh menginap disini selama yang kalian mau kalian akan menjadi tamu penting untukku karena telah menyelamatkan hidupku.”


“Terima kasih atas kemurahan hati Tuan, kami akan segera pergi jika sudah cukup lama saudara kami tak kunjung datang kemari, maka kami akan pulang ke negeri kami membawa kabar duka.”


“Aku akan menyambut hangat mereka jika mereka selamat. Silahkan kalian beristirahat terlebih dahulu. Perkenalkan namaku adalah Sahib Al Qariy, saudagar terkaya di ibu kota. Pelayan antar mereka ke kamar tamu yang paling mewah, ingat patuhi setiap perintah dari mereka seperti kalian melayaniku.”


Beberapa pelayan segera datang dan menjemput Oliv dan Timmy dari ruangan itu.


Kini tersisa para pekerja yang masih bertekuk lutut di lantai ruangan.


“Hahaha, kalian mengharapkan imbalan bukan? Baiklah akan kuberi kalian imbalan karena inisiatif kalian dan telah membawa sesuatu yang istimewa kemari. Pelayan siapkan uang untuk para pekerja yang pergi mengejar burung-burung ku, kalian boleh pergi dari ruangan ini.”


Ruangan tersebut akhirnya ditutup kembali dengan keluarnya para pengganggu, dan orang itu kembali menikmati surga dunia nya.