Airen The Lost Prience

Airen The Lost Prience
MENUJU KEHANCURAN



Hari telah berganti, semua terlahir kembali. Mereka yang tak berjuang akan tertidur dalam keterpurukan dan terlarut dalam sebuah stigma yang mengatakan bahwa orang lain selalu bernasib baik dibanding diri mereka sendiri.


Mengendalikan diri sendiri itu adalah langkah pertama dalam menggenggam sesuatu yang kita inginkan atau lebih baik dari itu.


Mereka yang menari dengan baik dalam takdir selalu mendapat perhatian oleh Sang Penentu Nasib.


Airen terbangun dari tidur panjangnya. Hampir 12 jam ia tertidur. Tembok kasar berwarna cokelat pudar, sekeliling yang dipenuhi barang-barang yang tak dikenalnya itu lah yang diperhatikan dirinya saat terbangun.


Saat mencoba melangkah dari tempat dirinya tertidur ia merasakan pusing yang menyerang dirinya.


“Akkhh.” Airen mengeluarkan sedikit suara.


Dirinya kembali terduduk dalam ranjang. Derap langkah kaki terdengar dari balik tembok yang pintunya hanyalah sebuah tirai yang mampu terbakar dengan mudah.


Tirai dibuka. Memperlihatkan perempuan paruh baya yang membawa sebuah ember kecil dan ditaruhnya sebuah kain di pinggiran ember kecil tersebut.


“Ohh rupanya kau sudah terbangun, syukurlah.” dia pun berjalan mendekati Airen.


“Siapa?”


“Apa kau ingat prajurit yang kau selamatkan saat di gurun?”


“Ya, aku ingat.”


“Kalau begitu izinkan aku untuk berterima kasih kepadamu nak....” kemudian perempuan itu bersujud di hadapan Airen yang terduduk di pinggir ranjang tidur.


“Uhh bi, kau tak perlu sampai seperti itu... Tolong jangan bersujud di depanku seperti itu.” Airen meranjak turun dari ranjang dan duduk di samping perempuan itu.


“Tapi nak....”


“Bibi telah merawatku kan, anggap saja itu impas dan bibi tak memiliki utang lagi kepadaku.”


“Itu tak setara nak, tolong mintalah sesuatu dari kami apapun itu.”


Dia keras kepala. Pikir Airen.


“Baiklah, jujur aku sedang tak ada energi jika bibi tak keberatan tolong berikan aku makanan.”


“Baik nak, dengan senang hati. Mari ikut denganku.”


Mereka pun segera berjalan menuju dapur. Airen yang tak sanggup untuk berjalan sendiri itu dibantu oleh perempuan itu untuk berjalan.


Setelah makan....


“Biar aku bantu bi.”


Saat perempuan itu ingin mencuci piring yang telah kotor setelah dipakai untuk menjadi tempat makan Airen. Airen mencoba untuk membantunya namun....


“Tak perlu nak. Sungguh aku akui kau memang baik tapi kau cukup duduk saja, kau tamu kami.”


Selesai membersihkan piring. Mereka berpindah menuju ruang tamu dan disana ada seorang anak kecil yang sedang bermain pasir dan membuat sebuah kerajaan kecil disana.


“Hei Ujwar, sapalah kakak ini. Dia yang telah menolong ayah loh. Ayo beri salam.”


Anak kecil itu berjalan sedikit tertatih-tatih dikarenakan jalan nya yang belum terlalu lancar.


Dia menggapai tangan Airen, dan Airen menyambutnya dan menekuk lututnya. (jongkok)


Daging lembut mungil yang dibalut kulit menempel pada ruas-ruas jari Airen. Hangat. Itulah yang dirasakannya.


“Siapa namamu, hei mungil....” Airen sedikit gemas mencubit kedua pipi tembam miliknya.


“U... War....” ucapnya terbata-bata.


“Lucunya....”


“Namanya adalah Ujwar. Dia anak ketiga dari 3 bersaudara. Dia memiliki satu kakak laki-laki dan satu kakak perempuan....” Saat perempuan itu memberitahu latar belakang keluarganya Airen sedikit tersenyum dengan apa yang ia dengar, ia sedikit merindukan sesuatu. “... Dan ayah mereka yang kau tolong bernama Usman dan aku bernama Sallamah.”


“Kemana semua kakaknya pergi bi?”


Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka lebih lanjut sampai mereka tak ingat akan dunia.


Kemarin....


Beralih kepada Xyan yang sekarang sedang dilanda oleh kebahagiaan karena mendapatkan sesuatu yang ia butuhkan sejak lama. Yaitu uang. Terutama untuk menghadapi orang yang kini sangat dibenci olehnya.


Berhadapan dengan orang yang dibenci nya. Di sebuah ruang berbeda di dalam istana milik sang saudagar. Berbicara empat mata dengan penuh ketegangan.


“Aku sudah melihatnya, para burung telah kembali bukan?”


“Lalu apa masalahnya dengan itu?” saudagar itu mengangkat satu alisnya.


“Sudah jelas bukan berarti aku tak perlu membayar sepeserpun uang kepadamu.”


“Apa yang kau katakan bocah. Para burung itu memang kembali namun jumlahnya berkurang kau harus tetap mengganti rugi.”


“Ck.” dia berdecak. “Berapa?”


“Total dari para burung yang seharusnya kembali adalah 108 burung dan yang kembali hanyalah 87 burung saja, yang berarti kau harus membayar untuk para burung yang hilang itu.”


“Tak perlu panjang lebar!” ucapnya dengan sedikit kesal.


“Baiklah-baiklah kau cukup membayarnya 7 juta saja. Bagaimana sudah sangat murah bukan?”


“Baiklah akan ku bayar semampuku terlebih dulu.” dia mengangkat sebuah karung yang sudah disiapkan di sampinngnya.


“Ini adalah semua uang yang kupunya, berisikan sekitar 2 juta koin emas.”


Saudagar itu melirik karung cokelat yang dibawakan oleh Xyan. Kemudian ia menjentikan jari tangannya dan datanglah seorang pelayan lelaki memasuki ruangan.


“Bawa ini dan hitung kembali.” perintahnya.


“Baik Tuan.”


Pelayan itu membawa pergi karung yang dimaksudkan tuannya dan segera meninggalkan ruangan kembali.


“Baiklah senang bekerjasama dengan mu bocah, kau hanya perlu membayar sisanya.”


Xyan masih menatapnya dengan curiga.


“Tenanglah sudah aku bilang bukan kau hanya perlu membayar sisanya tak akan ada bunga. Prinsip berdagangku itu tak berbohong dengan orang yang bekerja sama denganku.”


“Baiklah aku akan pergi.”


Xyan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Meninggalkan istana dan kembali ke jalanan kota.


“Hei kau, ikutilah dia.”


“Baik Tuan.”


Sang Saudagar memerintahkan prajurit bayangan yang saat itu menendang keluar Xyan dengan paksa saat Xyan melakukan kesalahan fatal dalam pekerjaannya.


“Sekarang mungkin ada baiknya menyapa para tamu terlebih dahulu sebelum acara besok.”


Menyambut hari pelantikan raja yang baru dimana festival akan segera digelar dan dirayakan dengan penuh kegembiraan.


Para rakyat bersenang-senang habis-habisan pada hari perayaan dan akan siap menjalani hari-hari baru dengan raja mereka yang baru setelah pelantikan raja baru telah diresmikan.


Para militer dari setiap daerah akan berkumpul di pusat kota bekerjasama untuk mencegah kericuhan yang terjadi dalam festival.


Dan untuk para kriminal mereka akan mendapat jarahan yang luar biasa pada hari ini. Entah itu pengedar, perampok, dan pemalak. Mereka akan mendapatkan harta jarahan yang cukup banyak.


Dan Xyan mendapatkan misi baru yaitu, pengiriman di utara. Dia akan mengirim barang dengan cara berpura-pura sebagai pengantar minyak untuk lolos dari penjagaan yang dilakukan kepolisian dan tentara nasional dari negeri ini.


Penjahat di balik layar hanya bisa tersenyum, tertawa dan menunggu dimana dia bisa berkuasa sepenuhnya atas negeri ini.


Kehancuran akan selalu datang entah itu cepat atau lambat pasti akan selalu terjadi. Di dalam kehancuran selalu ada yang berjuang dan membantu mereka yang kesulitan akan hal ini. Entah itu dari luar atau dari dalam.