Airen The Lost Prience

Airen The Lost Prience
ALAM LAIN



Dalam sebuah obrolan yang tingkat ketegangannya sudah menurun, kini kembali menaik diakibatkan kedatangan Airen yang secara tiba-tiba dan langsung menyela obrolan mereka.


“Kau, bukannya kau masih dalam proses pemulihan Manamu?” orang yang nampaknya membela keberadaan Airen disana mengkhawatirkan keadaan Airen.


“Aku tak butuh, tolong segera kembalikan senjataku dan aku akan segera pergi dari sini.”


“Jika kami tak mengembalikannya padamu bagaiman?” orang yang meragukan keberadaan Airen kini bertanya.


“Maka aku akan mengambilnya secara paksa.”


Airen dan orang itu saling menatap tajam satu sama lain. Sebaliknya orang yang mempertimbangkan keberadaan Airen hanya menghela nafas.


“Sudah hentikan. Tak usah bersikap konyol. Terutama kau Andine, kau salah satu dari empat roh suci disini seharusnya bisa bersikap lebih baik.” lalu ia melihat Airen. “Bisa kita memperkenalkan diri terlebih dahulu, kami tak berniat jahat kepadamu-”


“Dan aku juga tak berniat jahat kepada kalian, aku hanya ingin pulang bersama kakakku.”


“Aku mengerti. Tapi seperti yang Vall bilang, kau masih harus memulihkan diri disini.”


“Aku bisa melakukannya jika sudah berada di rumah.”


“Apa kau yakin bisa pulang dengan cara satu-satunya yaitu melawan monster itu?”


“......”


Setelah berdebat cukup cepat dengannya Airen tak bergeming hanya dengan satu pernyataan. Cukup lama ia terdiam, ia kembali menjawab.


“Akan kulakukan apapun demi pulang ke rumah.”


“Kau melawan monster itu dengan membawa saudaramu yang sedang tak sadarkan diri itu?”


Kesal Airen sedikit menaikkan nada bicaranya. “Cih! Apa kalian ingin menahan kami disini, dan menjadikan kami tumbal untuk sesuatu yang ingin kalian dapatkan?!”


“Kami bukanlah iblis.”


“Lalu apa?!”


“Kau orang yang beruntung karena bisa bertemu dan bicara bahkan membentak kami yang seorang roh suci disini. Tak perlu khawatir kami tidak akan berbuat macam-macam selama dalam pengawasan-"nya".”


“Omong kosong dengan roh suci, mereka tak pernah ada, mereka hanyalah cerita pengantar tidur bagi kami.”


“Lalu cerita pengantar tidur kalian sedang berbicara di hadapanmu.”


Tak bisa menahan emosinya lagi Airen segera menyiapkan sihir tapi sebelum sempat melakukannya kaki dan tangan Airen sudah ditahan oleh tanah yang memegangi tubuhnya tersebut.


“Hei apa ini?!”


“Kau tadi berniat menyerang Drayd bukan?! Jawablah kau, manusia busuk!” seseorang muncul dari tanah dan segera mendekati Airen lalu membentak Airen tepat di depan mukanya.


“Ohh jadi ini yang kau sebut dengan roh suci, dengan sifat seperti ini apa pantas kalian menyandang dan menggunakan nama dari roh suci?!”


Terprovokasi orang yang menahan Airen mulai mengepalkan tangannya, dan bersiap menonjok muka Airen namun sebelum melakukannya kakinya ditarik oleh sebuah batang pohon dan membuatnya bergelantungan di atas sana.


“Tak perlu lebih jauh wahai kau anak manusia. Kami hanya berniat membantumu tak ada niat tersembunyi seperti yang kau lakukan. Jika kau memang ingin sekali untuk pulang, aku persilahkan. Silahkan bertemu dengan malaikat mautmu di luar sana.” kemudian ia melihat ke arah orang yang menahan Airen, yang kini sedang bergelantungan di atas sana.


“Lepaskan sihirmu.”


“Tak akan kulakukan.”


“Lakukan saja.”


Dengan terpaksa orang itu segera melepaskan sihir yang mengikat tubuh Airen.


“Siapa namamu?”


Ragu, ia terdiam beberapa saat dan menyebut namanya. “Airen.”


“Kakakmu?”


“Bukannya aku saja sudah cukup?!”


“Baiklah, kau kembali saja terlebih dahulu. Kami akan memperbaiki busurmu yang sudah usang ini.”


“Jangan pernah mengatai suatu barang yang diberikan Ayahku.”


“Baiklah.” Tak pergi dan hanya diam saja, akhirnya dia bertanya “Kau ingin apa?”


“Kau tak perlu mengetahuinya.”


“Kenapa?”


“Kau akan mengetahuinya nanti.”


Gelap masih berkuasa, dengan beberapa obor di tangan mereka, mereka berani memasuki wilayahnya. Mencari seseorang selama berjam-jam tanpa tahu waktu mulai mendekati waktu fajar.


Seluruh beluk semak, melihat melalui sudut pandang Rajawali mereka terus mencari. Setiap monster atau hewan buas mereka hadapi tanpa rasa takut.


Menghunuskan pedang dan merapalkan mantra sihir mereka lakukan untuk bertahan dari kengerian malam.


Tim pencari di utara...


“Kita sudah mencari-cari selama berjam-jam bahkan kita hampir hapal rute jalan disini.”


“Tak ada yang memberikan sinyal sama sekali sedari awal kita melakukan operasi ini.”


“Suuut!”


“Tapi ini perintah dari Letnan kita tak bisa membantah, Letnan jugalah yang telah membantu kehidupan kita.”


“Suuut!”


“Mau bagaimana lagi, aku pun berutang kepadanya.”


Seolah peringatannya tak digubris sang Letnan pun berbicara. “Kalian semua diamlah! Jangan ada yang bersuara dan bergerak dan juga segera siapkan senjata kalian sesuatu sedang datang kemari.”


Menuruti perintah sang atasan mereka segera menyiapkan senjata yang mereka pakai untuk bertarung dalam medan pertempuran.


“Lindungi warga desa yang tak bisa bertarung, paham?” sang Letnan mulai berbicara dengan nada pelan dan kecil, mereka tak mendengarnya tapi mereka membaca pola gerak mulut sang Letnan kemudian membalasnya dengan mengangguk.


Merasakan bahaya yang semakin mendekat sang Letnan merapalkan sebuah sihir.


“Sihir Api : ....” menunggu waktu yang tepat, sang Letnan menahan sihirnya. “Hembusan Nafas Api.”


Seperti sebuah semburan naga api yang keluar dari mulut seekor naga, api mulai menyembur ke arah yang telah ditentukan sang Letnan.


Terbakar, pohon yang dilewati oleh api tersebut langsung lenyap tanpa menyisakan sebutir abu pun. Dalam hembusan api tersebut masih terdapat monster yang masih berlari.


Sekilas salah satu pasukan melihat monster tersebut.


“Arah jam 3, dengan sebuah anak panah menancap di mata kanannya. tapi tunggu-”


“Sesuatu datang dari arah jam 6!”


“Priotaskan keselamatan warga desa mengerti?!”


“SIAP LETNAN!”


Sementara itu di tempat Harry tertidur, Airen sedang duduk disebelahnya dan termenung. Ia berpikir bahwa dirinya cukup kuat untuk melindungi satu orang, dan ternyata ia masih belum sanggup.


Lalu ia melihat Harry yang sedang tergeletak tak sadarkan diri.


“Jika pemulihan yang dimaksud adalah hanya tidur saja itu percuma. Kita akan keluar dalam beberapa hari lagi, tidak mungkin sebulan atau lebih.”


Ia lalu melihat sebuah keganjilan di bagian luka Harry yang terdapat beberapa sinar disana. Dan ia bertanya-tanya apa itu yang ada di tubuh Harry. Penasaran, ia mendekatkan wajahnya.


“WAA!” terkejut, ia segera berdiri. Masih dalam keadaan syok, ia pun masih penasaran. Sekali lagi ia mendekatkan wajahnya dan tampak sesosok manusia kecil yang juga terkejut melihat Airen.


“Kau! Bagaimana kau bisa melihat kami yang merupakan roh dengan kekuatan spirit kami yang kecil.”


“Apa jangan-jangan kau memiliki sihir aneh yang bisa melihat keberadaan kami?!” temannya ikut bertanya dengan kesan menuduh.


“Aku? Ehh bukannya kalian yang harus dicurigai. Apa yang kalian lakukan di tubuh kakakku?”


“Dasar tak tahu terima kasih, jika bukan karena nona Vall yang meminta tolong kami tak akan membantu untuk menyembuhkan seorang manusia.”


“Memang kalian ini apa? Kalian pasti bukan roh.”


“Jangan asal bicara. Kami adalah para roh, yang membantu pemulihan di dunia ini, Dunia Para Roh.”