Airen The Lost Prience

Airen The Lost Prience
PERKARA BURUNG



Siang hari adalah dimana waktu sang fajar menunjukkan sinarnya dengan membara. Bangunan-bangunan yang didirikan untuk berteduh pun berasa tak berguna karena rasanya tetap panas dan tiada sejuk sama sekali.


Disebuah keramaian jalanan pusat kota. Dimana banyak orang dari luar dan dalam sedang melakukan negosiasi demi sebuah barang dibawah teriknya sinar matahari hari ini.


Seorang anak kecil terlihat tengah berlarian dan dikejar-kejar oleh sekawanan orang berseragam khusus. Anak kecil berlari sambil menyelip dan mendorong beberapa orang agar dirinya bisa kabur dari mereka yang mengejarnya.


“Tolong minggir!!” ucap anak kecil berlarian sambil memegangi sebuah tas koper di tangan kirinya.


“Nak berhentilah sebelum kau menyesal!” salah satu dari mereka memberi peringatan kepada anak itu namun tak digubrisnya sama sekali. Ia justru menambah kecepatannya.


“Sial kenapa orang-orang itu tidak berhenti untuk mengejarku. Kalau begitu apa boleh buat, maaf ibu. Sihir Tanah : Jalan Tak Berujung. ”


Lalu tercipta sebuah jalan yang terbuat dari tanah dan membuat jalur untuk dirinya kabur.


“Kapten dia melarikan diri menggunakan sihir!”


“Kau tak perlu melapor aku juga bisa melihatnya.”


“Lalu kita harus bagaimana Kapten!”


“Kau bodoh atau apa kejar dia jangan sampai 'benda' itu jatuh di tangan yang salah. Aku izinkan kalian menggunakan sihir.”


“Baik Kapten! Perintah diterima! Ayo semuanya kejar anak itu!!”


“Sungguh merepotkannya ini! Harusnya aku sudah dirumah dan tidur seharian.” Kapten itu pun terlihat sedikit kesal dengan apa yang terjadi sekarang ini.


Jalanan kini semakin sempit dan semakin sepi. Bangunan-bangunan di sekitar pun sudah tampak kumuh dan berlumut, jalan yang rusak, serta beberapa bangunan yang bolong dan runtuh diakibatkan badai pasir yang menghantam.


“Seharusnya sebentar lagi sampai- Ah itu mereka.” lalu anak itu sudah melihat orang yang menunggu dirinya untuk memberikan tas koper itu kepada mereka tapi...


“Sihir Tanah : Pelindung Jiwa.”


Tiba-tiba sebuah tembok menghalangi jalurnya dan itu membuatnya terjungkal kedepan dan terjatuh tapi tidak melepaskan koper yang ada di tangannya.


“Hah! Hah! Hah! Cepat kembalikan agar aku bisa tidur bocah sialan!” Tak disangka-sangka justru sang Kapten lah yang lebih dulu menemukan anak kecil tersebut.


Di sisi lainnya, di luar tembok adalah padang pasir yang membentang sejauh mata memandang. Dipenuhi dengan air yang sangat banyak tapi hanya tanaman saja yang mampu menggapainya.


Dipenuhi dengan tulang-belulang bekas dimakan atau memakan. Memiliki permukaan tanah seperti butir-butir debu yang mampu menenggelamkanmu kapan saja jika tak berhati-hati.


Dataran yang penuh harapan palsu di depan mata. Melihat sebuah surga di ladang lava yang membara namun itu hanyalah ilusi semata.


Inilah kejamnya padang pasir di sini. Tapi banyak dari mereka yang mengetahui betapa kejamnya dataran ini, tapi masih melewatinya berulang-ulang kali. Seakan sudah terbiasa dengan yang terjadi di sini.


Dan ada juga beberapa orang yang berasal dari 'luar' yang ingin datang hanya untuk berkunjung, belajar, atau masalah politik.


Dan kini terdapat sebuah kelompok dimana mereka sudah tampak sangat kelelahan untuk berjalan.


“Hei Ai...ren. Apa kau yakin... Kita sudah dekat.”


“Bukankah kau juga melihat tembok besar itu?!”


“Ya aku melihatnya tapi kurasa kita sudah berjalan berjam-jam tapi kenapa rasanya tak kunjung mendekat....”


“Iya sih... Hei Ver-”


“Namaku Oliv kau tahu itu kan!”


“Oliver, itu yang benar bukan?”


“Terserah kau saja!”


“Apa Offhies bisa kau panggil lagi? Atau makhluk lainnya yang bisa kita manfaatkan untuk melihat sekitar.”


“Hewan-hewanku bukan alat sialan!”


“Maaf-maaf. Jadi bagaimana, apa mereka sudah bisa bergerak?”


“Untuk Offhies mungkin beberapa menit lagi dia akan pulih. Kalau yang lain mereka tak cocok dengan udara panas. Ya mau bagaimana lagi aku kan hidup di "Dunia Putih" jadi kebanyakan hewanku tak kuat menghadapi cuaca panas.”


“Hah... Tak bisa diharapkan...” ucap Airen dengan nada sedikit mengejek.


“Apa kau bilang!!”


“Aku tak bilang apa-apa kok.”


“Bohong!”


“Sungguh aku tak berbicara apapun.”


“Airen-”


“PEMBOHONG!”


“Ai-”


“AIREN TUKANG BOHONG- Mmmhhh mmmhh.” lalu seketika oliver disekap oleh Timmy dengan tangannya.


“Diamlah sebentar. Hei Airen apa kau tak merasakan getaran?”


“Getaran? Hei kau bangunlah.”


“Hah?”


“Apa itu getaran dari suara perutmu?”


“Memang perutku jika bergetar(lapar) akan sangat kencang tapi kali ini bukan aku. Ada sekawanan hewan datang dari arah timur.”


“Sungguh?!” respon Airen dengan semangat setelah mendengar jawaban si Dwarf itu.


“Perasaanku tak enak.” ucap si Dwarf.


“Ayo kita tangkap pemimpinnya dan buat mereka berlari untuk kita!”


“Sudah kuduga.”


“Jika dalam perjalanan jauh kau ditawari tumpangan kendaraan apa kau akan menolaknya?”


“Ya tak mungkin aku menolaknya, tapi ini kan-”


“Kan... Hei Oliver kau ikut bersamaku, Timmy bawa dia dan ikuti aku!”


“Baiklah. Hei pria gendut cepatlah sebelum kau menjadi tak bernyawa disini.”


“Berisik kau penggila darah!”


Lalu mereka pun berlari mengikuti Airen yang berada di depannya untuk memimpin jalan.


“Timmy apa kau melihat kawanan itu?”


“Ya aku melihatnya! Itu burung unta... tapi ada yang aneh darinya-”


“Bagus. Oii pak tua buat jaring untuk menangkap pemimpin kawanan itu!”


“Sunnguh kau sangat tak sopan, baiklah akan kubuatkan! Sihir Khusus Dwarf : Alchemist, Jaring.” Sebelum merapalkan mantranya sang Dwarf mengambil sepotong kecil kain dari kantung bajunya lalu saat mantra diucapkan kain itu berubah menjadi jaring yang kuat.


“Hei Ver apa kau bisa membedakan yang mana pemimpinnya.”


“Sebentar... Ahh ketemu! Itu dia yang paling depan, dan juga dia lebih kecil dari yang lainnya!”


“Hei Timmy, Stavor!”


“Kami mengerti.” jawab Stavor


“ Sihir Penguatan : Fisik. ” lalu Timmy pun menggunakan sebuah sihir dimana sihir yang dapat membuat ototnya menjadi lebih kuat berkali-kali lipat dari yang sebenarnya, tergantung tingkatan penggunaan Mana masing-masing.


“Ini dia!!”


Kemudian Timmy dan Stavor berhenti. Lalu Stavor memegang tangan Timmy dan juga bersiap-siap untuk suatu aksi.


“Terbanglah kau Pria Tua!!”


“Sial-” lalu Stavor pun dilemparkan menuju target yang sudah ditetapkan sebelumnya. “KENA KAU!!” dan..... Berhasil. Stavor berhasil menangkap pemimpin kawanan itu tetapi...


“Airen mereka masih terus berlari!” Oliver berhenti berlari untuk memberi peringatan kepada Airen.


“Apa kali ini kita salah sasaran?”


“Mana mungkin! Aku ini punya 'bakat' dalam bidang pertenakan!”


“Tapi Burung Unta bukan hewan ternak-”


“Airen tampaknya kawanan itu sedang dikejar oleh sesuatu di belakangnya.” lalu Timmy pun tiba-tiba memberitahu bahwa ada keanehan dalam segerombolan Burung Unta tersebut.


“Monster? Atau hewan buas?”


“Aku tak tahu tapi yang pasti mereka sedang dikejar oleh sesuatu.”


“AIREN!! Larilah, ternyata kawanan ini sedang dikejar monster! Lari sekarang juga!!” dari jarak yang cukup jauh Stavor pun berteriak namun itu tak tersampaikan.


“Kalian bersiaplah, kita akan mengambil tunggangan masing-masing!”


“Tapi tunggu, tadi stavor mengatakan apa?” tanya Oliver.


“Aku pun tak mendengarnya.” jawab Timmy.


“Bersiaplah mereka datang!”


Dengan jumlah yang cukup banyak, kawanan itu berlari menerjang tempat Airen berdiri bersama teman-temannya. Puluhan pasang kaki pun menginjak-nginjak tempat Airen berada.


Lalu saat kawanan tersebut berlari dalam risau, sempat beberang burung tersebut mengeluarkan suara yang cukup keras seakan ada yang mencekik mereka.


Setelah burung-burung itu melewati tanah dimana Airen dan teman-temannya menginjakkan kakinya, tampaklah tanah itu kosong dan hanya membekaskan banyak tapak kaki Burung Unta yang telah melewatinya.


“TUMPANGAN GRATIS YANG TERBAIK!!”


Lalu sebuah teriakan, seperti teriakan kebebasan terdengar sangat kencang. Itu adalah suara Airen yang berhasil menaiki salah satu Burung Unta tersebut. Kedua temannya pun juga berhasil menaiki salah satu dari kawanan burung tersebut.


“Kau ini bocah atau apa, malu sama kumis yang udah tumbuh!” protes pun dilontarkan oleh Oliver, karena suara Airen yang terlalu keras sudah masuk dengan tak sopan ke dalam telinganya.


“BODOH KENAPA KALIAN MALAH IKUT NAIK! APA KALIAN TAK MENDENGARKAN PERINGATANKU TADI!”


“Tidak.” mereka pun menjawabnya dengan kompak.


“Sudahlah...”


“Memang kau bicara apa tadi Stav?” tanya Timmy.


“Lihatlah di belakang kalian...” kemudian mereka pun segera melihat ke belakang mereka.


“Eh... Ini bohongkan?” Airen berkata seperti orang bodoh.


“Hahaha itu hanya fatamorgana kok, ilusi padang pasir, sudah biasa hahaha...” Oliver pun mencoba tak mempercayai dengan apa yang sudah ia lihat.


“Ya mungkin ini hanya ilusi, mungkin...” Timmy pun mendukung perkataan Oliver tapi dengan sedikit ragu.


“SUNGGUH KALIAN INI BODOH ATAU APA! ITU BENERAN MONSTER! ITU ADALAH KALAJENGKING EKOR 3 BODOH SEKARANG MEREKA SEDANG MENGINCAR KAWANAN INI!!”


“Lalu kenapa?” sekarang dia sudah jadi orang bodoh.


“YANG SUDAH PASTI KITA JUGA AKAN MENJADI MAKANAN MEREKA BODOH!”


“SERIUS!? KALAU BENAR INI AKAN SANGAT GAWAT!”


“Aku sudah menyerah. Sisanya aku serahkan pada kalian burung-burung kesayanganku.” ujar Stavor yang sudah duduk dan menghadap ke depan dan tak melihat ke belakang lagi.


Dan itulah awal mula dari petualangan mereka di negara yang berada di tengah padang pasir ini. Negeri Tembok Surga.