
Jalan gelap tak berujung yang berada di balik dataran pasir. Seorang anak kecil yang sedang di gendong dengan kasar oleh seseorang, berlari menelusuri jalur gelap tersebut tanpa penerangan apapun.
“Hei lepaskan! Aku bisa berjalan sendiri.” Xyan mencoba memberontak.
Tak digubris oleh orang itu ia memaksa dirinya untuk lepas dari genggamannya, namun sayang perbedaan berat badan yabg terpaut sangat jauh membuat dirinya tak bisa berkutik.
Ia akhirnya pasrah dengan keadaan dan hanya bisa menunggu dirinya dilepaskan oleh orang itu.
Tiba di sebuah percabangan jalan yang dibagi menjadi dua jalan, orang itu segera menurunkan kecepatannya lalu berhenti. Dia mulai meraba-raba tembok bebatuan yang berada dihadapannya dan pada suatu tempat tertentu di tembok tersebut terdapat sebuah tombol untuk membuka jalan yang sesungguhnya.
Tembok dihadapannya bergetar dan bergeser sehingga membukakan jalan rahasia di bawah tanah tersebut.
Setelah itu orang tersebut menurunkan Xyan dan mendorong dirinya untuk masuk terlebih dahulu.
“Baiklah aku tahu, tak perlu mendorongku.”
Xyan memasuki jalan tersebut dan diikuti oleh orang yang membawa dirinya tersebut. Langkah pertama ia mulai dan berhasil menapakkan kakinya di jalan tersebut, namun seketika pintu yang menghubungkan jalur rahasia tersebut tertutup dengan rapat saat Xyan melewatinya.
“Teruslah jalan.”
Menuruti perintahnya, Xyan berjalan dan perlahan tampak cahaya mulai menyinari jalan.
Lalu sampailah Xyan pada suatu tempat besar yang gelap. Ia samar-samar melihat sebuah singgasana dari cahaya yang masih menyala di akhir jalan rahasia tersebut.
“Keluarkan barangnya, cepat!”
Xyan segera membuka kopernya dan memberikan koper tersebut kepada orang yang membawa dirinya ke tempat ini.
Orang itu berjalan ke arah kegelapan dan berhenti setelah maju beberapa langkah.
Terdengar banyak langkah sepatu dari arah kegelapan yang sedang berjalan.
“Apa dia pengantar yang baru?”
“Benar, Tuan.”
Seseorang datang bersama beberapa orang lainnya. Lalu dia mengambil barang yang berada di koper tersebut, yaitu sebuah kotak kecil yang berisikan sesuatu.
“Ya kerja bagus. Ini bayaran untuknya... Dan dimana dirimu yang satunya.”
“Militer dari pusat hampir saja berhasil menangkapnya, aku memutuskan untuk mengorbankan diriku agar tak mengulangi kesalahan yang sama.”
“Baguslah akan kuberi kau bonus.”
“Terima kasih atas kemurahan hati Tuan.”
“Dan untukmu lain kali hati-hati, dan juga bilang kepada-nya aku akan memesannya lagi nanti. Dadah....”
Orang itu kembali ke kegelapan dan tampak seketika menghilang karena sudah tak ada suara sepatu yang melangkah lagi.
“Ini bayarannya lain kali berhati-hatilah atau kau akan mati.”
Xyan sedikit tertegun dengan apa yang ia dengar.
Orang itu kemudian pergi meninggalkannya sendirian. Xyan pun memiliki rasa penasaran atas uang yang berada di depannya, dan dengan perlahan ia membuka uang yang berada di dalam karung tersebut dan melihat isinya.
Terkejut, itulah yang ia rasakan saat pertama kali menerimanya. Uang yang setara dengan gajinya bertahun-tahun.
“Ini seberapa banyak?! Tapi lebih baik aku mengkhawatirkan bagaimana caranya aku membawa barang yang tampak berat ini.”
Xyan mencoba mengangkatnya dan diluar dugaan karung tersebut justru lebih ringan.
“Hahaha aku memang kuat.” itulah yang Xyan pikirkan saat mengangkat sekarung uang tersebut namun ia tak tahu isi sebenarnya dari karung tersebut.
Dia berpikir dirinya telah mendapatkan sebuah anugerah yang entah datang dari siapa. Namun tidak semua anugerah yang ia terima juga anugerah bagi orang sekitarnya.
Berpindah di luar tembok. Sebuah gerombolan kereta kuda sedang menuju ke arah pintu masuk gerbang.
Kali ini gerombolan kereta kuda ini terlihat tenteram dan damai. Seperti di gerombolan kereta tersebut terdapat sebuah jimat yang menekan hawa kehidupan mereka dan membuat mereka tak dapat terdeteksi oleh monster gurun manapun.
Namun sebuah hal tak terduga datang kepada mereka, sesosok monster gurun yang memiliki tubuh seperti cacing tetapi tidak seperti cacing pada umumnya. Tubuhnya yang sangat besar menutup jalannya gerombolan kereta kuda tersebut.
“Bagaimana bisa?! Padahal sudah ada 'itu'.” Salah satu penjaga kereta kuda itu terkejut bukan main.
“Semuanya jangan panik! Lindungan Tuan Putri walau jiwa kalian taruhannya!”
“Baik!”
“Kusir jalanlah ke kanan! Aku akan melindungi kereta.”
Kereta kuda kembali berjalan namun tidak dengan rombongannya. 5 orang yang menunggang kuda kini berhadapan dengan sang cacing dan seorang lagi mengawal kereta kuda dan membuat jalan bawah tanah.
Kereta kuda itu dengan cepat memasuki jalan yang melewati bawah tanah dan kegelapan.
“Lalu bagaimana caranya kita untuk mengalahkan monster ini?!”
“Mana aku tahu!”
Monster tersebut memperlihatkan gelagat aneh pada dirinya. Dan beberapa detik kemudian dirinya kembali ke dalam tanah.
“Dia kabur?”
“Syukurlah kukira aku akan mati hari ini.”
Lalu salah satu dari mereka merasakan sebuah getaran dari tanah yang dipijaknya. (Badan kuda yang bergetar)
“Hei kalian, tampaknya ini masih belum selesai.”
Getaran di bawah tanah semakin terasa hingga salah satu mereka teriak untuk menghindar.
“Kalian semua melompatlah ke samping sekarang!”
Seketika monster tersebut keluar kembali dari dalam tanah saat mereka menghindar.
“Tampaknya memang kita harus membunuhnya. Siapkan pedang kalian dan rapal sihir kalian demi... Demi diri kita yang akan terus hidup sampai ajal benar-benar menjemput kita.”
“Sihir Tanah : Tusukan Tombak. ”
Pasir berkumpul di sebuah tempat dan memadatkan, lalu dengan seketika seperti sebuah peluru yang dihempaskan pasir yang padat itu menjadi sebuah ujung tombak yang tajam dan menusuk monster tersebut.
Rumor yang tersebar tentang butuh ratusan tentara kerajaan untuk membunuh monster gurun tampaknya tidak dilebih-lebihkan.
Benar dengan kenyataan, serangan satu prajurit saja tak berpengaruh apapun pada monster tersebut. Bahkan yang hancur adalah sihir mereka sendiri.
“Bagaimana bisa?!”
“*S**ihir Angin : Cakaran Penguasa Langit*.”
Satu orang lainnya pun mencoba menyerang dengan sihir tipe lain. Dan sama seperti sebelumnya serangannya bagaikan sebuah angin sejuk bagi monster tersebut.
“Aku akan menebasmu!!”
Satu orang lagi maju dengan sebuah pedang tajam di tangan kanannya.
“Haaa!!!” Satu ayunan, dan satu kehancuran. Pedang yang digunakan hancur.
Monster itu seakan sudah muak, mengeluarkan sebuah auman, lalu menyemburkan sebuah racun yang hampir mirip seperti serangan Offhies.
“Hei awas!”
Orang yang pedangnya hancur tersebut terdiam saat ada racun yang akan jatuh di atas nya, sehingga temannya mendorong dirinya dan menerima sebagian dari serangan tersebut.
“Arrghh!! Panas!! Brengsek sakit sekali!”
“Hei kau, bertahanlah aku akan membawamu ke dalam tembok dan segera membawa ke dokter militer terdekat.”
Ia segera menggendongnya dan membawanya pergi. Dia berpikir dengan lari biasa dirinya akan selamat begitu saja tetapi hal itu tidak sesuai perkiraannya.
Monster itu berbalik arah dan membuka rongga mulutnya lebar-lebar. Sebuah bola racun di luncurkan dan mengarah kepada seorang prajurit yang sedang lari tersebut.
“Awas di belakang mu!”
Prajurit itu lalu menengok dan terkejut bukan main. Dirinya seakan sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Namun takdir berkata lain.
Syuuuut!
Sesuatu melintas di atas kepalanya dan menghancurkan serangan monster tersebut.
Syuuuut... Syuuuut....
Dua serangan yang sama melintas kembali dan mengenai monster tersebut.
Tak ada reaksi dari sang monster. Tapi setelah beberapa detik lamanya monster itu tergeletak di tanah dengan dua lubang yang cukup besar di kepalanya.
“Apa... Apa yang terjadi disini.”
“Siapa yang berhasil membunuh monster ini dengan serangan singkat tadi?!”
Para prajurit yang sebelumnya menggunakan sihir terheran-heran. Lalu mereka melihat di seberang tubuh monster tersebut dan melihat kedua rekan mereka yang lainnya dihampiri oleh orang yang memakai topi jerami dan menggunakan selendang.
“Kupikir gonggongan tadi berasal dari ular tadi ternyata monster lain.” Dia kemudian melihat kedua prajurit yang masih tergeletak tersebut. “Hei kalian, apa yang kalian lakukan di tanah panas begini?”