
Ciip... Ciip...
Diluar... terdengar suara burung yang sudah berkicau di atap-atap rumah kayu. Seseorang terbangun dari tidurnya karena suara kicauan para burung.
Kritt
Pintu kamar terbuka dan sesosok pria dewasa memasuki kamar tersebut...
“Rupanya kau sudah bangun, cepat bersiap kita akan berangkat mencari kayu bakar sampai siang nanti.” ia berbicara kepada seorang pemuda yang baru saja terbangun dari tidurnya.
“Lagi...”
“Sudahlah jangan mengeluh. Kau tak ingin kedinginan dimusim dingin yang akan datang'kan?”
“Baiklah, ayah tunggu diluar saja bersama yang lain.”
“Ya sudah tapi cepat atau bekalmu akan menjadi bagian dari "dia". Ayah tunggu diluar sembari mengawasinya agar tak merebut bekalmu.... Airen.”
“Iya...”
Lalu pria tersebut keluar dan juga diikuti pemuda tersebut. Ia pergi ke sebuah kamar mandi kecil dan membasuh mukanya disana.
Setelah selesai dengan persiapannya dia segera keluar rumah dan tampak pria sebelumnya dan beberapa orang telah menunggu nya, dengan sedikit keributan.
“Oii Airen! Tangkap!”
Seseorang melempar sekantong tas kecil disana yang berisikan bekal dan air minum milik Airen.
“Terima kasih telah menjaganya.”
“Yahh kalian kenapa tak berada dipihakku, jika kalian berpihak padaku kalian akan mendapatkan sedikit bagian.”
Buagh.
Jitakan keras mendarat dikepala orang yang menginginkan bekal Airen.
“Sakit...”
“Kau tahu! Jatahmu saja sudah lebih banyak dibuatnya dari pada aku dan Airen.”
“Tapi tubuhku kan lebih besar tentu saja aku harus makan lebih dari yang biasanya untuk memulihkan tenaga-ku.”
“Kauu!”
Buagh... Buagh.
Dua bogem mentah mereka dapatkan dari pria yang datang ke kamar Airen.
“Harry, Luis sudah jangan bercanda lagi, kita akan berangkat sekarang.”
“Maaf...”
“Hmm... Kalau begitu ayoo berangkat.”
Mereka berempat pun pergi dari halaman rumah tersebut menuju sebuah hutan yang berada di barat laut desa tempat mereka tinggal.
“Harry sekarang siapkan alat-alat untuk menebang pohonnya. Lalu kau carilah tempat untuk bisa berteduh.” pria tersebut memerintahkan Harry, orang yang paling gemuk diantara mereka berempat.
“Aku akan menebang ditengah hutan.” ucap Airen.
“Aku akan menebang di sekitaran sini.”
“Kalau begitu ayah akan menebang didaerah timur.”
“Aku akan mencari tempat berteduh disekitaran sini.”
“Baiklah kita semua akan berkumpul lagi disini, lalu mencari tempat berteduh yang ditentukan Harry, dan kau Harry jangan lupa membuat jejak untuk kami.”
“Baik.” ucapnya sambil memberi hormat.
“Kita akan berkumpul lagi apabila sudah hampir siang hari.”
Dan kemudian mereka berpisah sesuai tujuan mereka masing-masing.
“Asyikk akhirnya aku bisa mencari tempat bersantai, ohh iya jangan lupa memberi beberapa petunjuk.” lalu Harry berjalan melewati pepohonan sembari menggunakan pisaunya dan memberi petunjuk dipepohonan berupa garis silang.
Tanda yang dibuatnya cukup besar ia sengaja melakukannya agar yang lain bisa melihatnya. Puluhan tanda telah ia buat tapi... Setelah beberapa detik ia membuat tanda, tanda itu menghilang.
Dan sampailah dia disebuah tempat...
“Ahh tempat itu, tampaknya bisa menjadi tempat istirahat. Sudah diputuskan!” ia pergi mendekati sebuah gua yang cukup besar dan sedikit lembab.
Teg... Teg...
Suara besi terdengar sedang berusaha memotong kayu yang sudah ditebang menjadi beberapa bagian.
“Ini yang terakhir...” lalu ia mengikatnya dengan menggunakan akar-akar pohon yang keluar dari tanah.
“Matahari sudah terik sebaiknya aku kembali.” kemudian ia mengikat beberapa ikatan kecil menjadi sebuah ikatan besar, dan menggeretnya.
Sesampainya...
“Hah hah hah...” Luis yang berhasil datang ke tempat sebelumnya segera membaringkan dirinya di tanah menghadap langit untuk menghilangkan sedikit penatnya.
“Apa ayah dan Airen belum sampai? Dan lagi dimana si gendut itu memberi tandanya?!”
Ia pun bangkit kembali...
“Sebaiknya aku mencari tandanya terlebih dahulu" lalu ia melihat ikatan besar berupa ikatan potongan kayu yang ia bawa. "AHH TAK USAH DIBAWA!!”
Dan akhirnya ia menelusuri daerah sekitar. Yang awalnya hanya menelusuri tempat sekitar, kini hampir mengitari seluruh bagian selatan hutan ini.
Sreet.... Sreet...
Tampak seseorang sedang menggeret sebuah ikatan yang sama persis dengan ikatan yang dibawa Luis, yaitu ikatan berupa kayu yang telah dibelah menjadi beberapa bagian.
“Hooiii!! Aireen!”
Teriakan seseorang terdengar didepan jalan sana, dan Airen mengenali siapa yang memanggilnya itu adalah pria yang dipanggil ayah oleh Airen.
“Ayah...”
Airen menghampiri pria tersebut.
“Apa ayah sudah dari tadi?”
“Tidak, ayah juga baru datang tapi... seharusnya Luis sudah datang. Kayu-kayu tersebut pastinya kayu yang dikumpulkan Luis.”
“Apa dia sedang mencari tanda yang diberi oleh Harry?”
“Mungkin... Sebaiknya kita segera mencari tanda yang dibuat Harry setelah itu kita segera mencari Luis bersama.”
“Baiklah.”
Mereka segera berjalan mengitari daerah hutan bersama dan sampailah pada jalan yang bercabang.
“Aku akan menelusuri jalan ini.”
“Kalau begitu ayah yang sebelah sini. Jika kau menemukan sesuatu segera kembali di pertigaan jalan ini dan tembakan sihir ke udara. Itupun berlaku kepada ayah. Baiklah jaga dirimu Airen.”
Pria itu pergi menuju jalan yang sudah dipilihnya, dan Airen juga sudah berjalan di jalan yang dipilihnya.
“Aku rasa ini sudah cukup jauh dari tempat awal.”
Psyuuu... Duaar...
Ledakan terdengar dari tempat Airen berada, ledakan itu berasal dari arah jalan pertigaan yang dilalui Airen.
“Itu tanda dari ayah... Aku harus segera kembali-”
“Ai...re...nn...”
Suara rintihan orang memanggil namanya terdengar jelas dari arah belakangnya. Airen segera berbalik dan terkejutlah dia melihat seseorang yang sedang ia cari.
“Lu... Lu...is!”
Seseorang tersebut ternyata adalah Luis. Dia tampak seperti... Diserang oleh seseuatu. Dia berjalan terpincang-pincang, luka sayatan disekujur tubuh dengan darah keluar tanpa henti. Sadar dari keterkejutannya Airen segera menghampirinya.
“Hei Luis!”
“Harry... Dia sudah...”
“Sudah kau jangan bicara dulu!”
Airen segera melepas bajunya dan merobeknya menjadi beberapa bagian untuk menutupi luka-luka Luis yang masih terbuka dan mengeluarkan darah. Setelah itu dia merangkulnya dan membawanya menuju tempat pria itu berada.
“LULULU...LUIS!!”
Terkejut pula pria tersebut saat melihat kedatangan Airen dan melihat siapa yang dirangkulnya.
“Hei Airen! Apa yang terjadi dengannya?! Tunggu jangan dijawab dulu baringkan dulu dia disuatu tempat”
Mereka kemudian mencari sebuah pohon rindang dan menidurkan Luis yang tak sadarkan diri dibawahnya.
“Sekarang ceritakan apa yang terjadi dengannya dan dimana bajumu.”
“Saat aku melihat tanda yang dibuat ayah dia datang dari belakangku dengan luka sayatan dimana-mana, tanpa pikir panjang aku merobek bajuku menjadi beberapa bagian untuk menutupi lukanya yang masih terbuka dan berdarah.”
“Lalu Harry?”
“Aku tak menjumpainya, tapi Luis bilang sesuatu tentangnya tapi kusuruh untuk tak berbicara dulu karena dia harus beristirahat.”
“Keputusan yang bagus. Sebaiknya kita kembali ke desa dan melapor ke Kepala Desa tentang ini.”
“Baiklah.” Airen tak melawan perintahnya karena memang benar priotas utamanya adalah merawat Luis terlebih dahulu. Lalu mencari Harry yang hilang.