Airen The Lost Prience

Airen The Lost Prience
AKAN KEMBALI



Fajar bangkit kembali, kembali menerangi jalan-jalan sesat yang ada. Membangunkan jiwa-jiwa yang harus bekerja demi keluarga ataupun kehidupan mereka masing-masing.


Terbangun dari sebuah alam sadar yang tak bisa digapai. Airen melihat sekelilingnya dan bersyukur ia masih bisa terbangun di tempat yang akan ia rindukan.


Teringat tentang pembahasan tadi malam, ia melupakan saudaranya. Ia ingin memberitahu mereka tentang kepergian-nya.


Kemudian ia keluar dari kamarnya. Menelusuri seluruh sudut rumah dan menyadari bahwa tak ada satupun disana. Dia terheran-heran dengan tak adanya mereka di rumah. Masih sangat pagi untuk keluarganya beraktivitas, dan saat ini adalah waktunya mereka sarapan bersama.


Terakhir dia pergi ke dapur untuk memastikan apakah ibunya sedang berada disana. Dan hasilnya pun sama tak ada siapapun, hanya ada. sebuah hidangan yang tampaknya dengan sengaja ditempatkan di sana.


Bertuliskan sebuah pesan yang mengatakan. “Makanlah ini, ibu membiarkannya untukmu tolong dihabiskan ya.” Ibu. Pesan tersebut bertuliskan isi dan penulis pesan.


Airen berharap di dalam isi pesan itu dituliskan kemana mereka semua pergi. Menyampingkan hal tersebut, Airen segera bersiap untuk menyantap hidangan yang sudah dibuat oleh tenaga, cinta, dan rasa kasih sayang dari sang Ibu.


Setelah selesai memakannya Airen pergi keluar rumah dan pergi ke rumah Vlam yang berada di ujung dari gerbang desa.


“Paman Vlam! Apa kau ada di rumah?” ujar Airen saat sudah sampai di depan rumahnya.


“Siapa di sana?”


“Airen!”


“Rupanya kau, masuklah aku sedang sibuk untuk menyambutmu.”


“Permisi, aku masuk ya.”


Saat Airen memasuki pintu rumah Vlam. Ia terkejut dengan barang-barang yang tergeletak dimana-mana.


“Ada apa kau pagi-pagi begini sudah mampir ke rumahku?”


“Aku hanya ingin mampir dan menanyakan sesuatu.”


“Hah?! Apa yang ingin kau tanyakan.” ucapnya sambil mencari sesuatu di sebuah kotak kayu.


“Apa paman melihat ayah dan ibuku serta kedua saudaraku?”


“Bukannya kau yang serumah, kenapa malah bertanya kepadaku? Apa kau ini bodoh?”


“Jangan mencemoohku tua bangka!”


“Apa kau bilang, bocah idiot!”


“Aku menanyakan karena aku tak tahu kemana mereka pergi. Saat aku terbangun tak ada siapapun di rumahku.”


“Mungkin mereka sedang menyiapkan sesuatu untukmu, seperti hadiah ulang tahunmu.”


“Mana mungkin, ulang tahunmu itu saat musim panas.”


“Lalu? Apa kau tak terkalahkan sesuatu.”


“Entahlah... Omong-omong kapan Letnan itu kembali?”


“Letnan? Hohh William toh, besok petang dia akan kembali kesini bersama seseorang.”


“Siapa?”


“Entahlah dia bilang ingin bertemu denganmu.”


“Aku? Untuk apa?”


“Entahlah. Ahh akhirnya ketemu!” setelah sekian lama mencari akhirnya Vlam menemukan sesuatu yang ia cari. “Oii bocah ambilah.” Vlam kemudian melemparkan sesuatu.


Dengan sigap Airen menangkapnya.


“Sarung tangan?”


“Benda "itu" memakan sihirmu terlalu banyak bukan, pakailah itu. Benda itu bisa meredam penyerapan sihirmu yang berlebihan.”


Kemudian Airen memakainya.


“Terima kasih.”


Lalu ia pun pergi mengelilingi desa untuk menghabiskan waktu untuk menunggu mereka pulang.


Waktu berlalu dengan sangat cepat. Fajar sudah menemani kini ia pergi dan akan kembali. Melewati malam yang dingin bersama sinar rembulan yang cerah. Tak ada awan yang terlihat, hanya ada rembulan dan bintang.


Airen kembali ke rumahnya dan berharap mereka sudah kembali. Sesampainya Airen mendengar suara dari dalam rumahnya. Terdengar suara gaduh di dalam.


“Hei kalian cepat bereskan Airen seharusnya sebentar lagi pulang.” ucap seorang wanita dari dalam.


“Ahh ini sangat susah dimasukkan ke dalam sini. Harry bantu aku.”


“Kalian jangan terlalu berisik nanti-”


Krekk Krekk.


“Itu pasti dia kalian sembunyikan saja dulu-”


“Sembunyikan apa Yah?”


“Ehh?”


Lalu semua orang yang berada di dalam terkejut akan kedatangan Airen.


“Kalian sedang apa?”


“Ahh Airen sudah kembali. Sudah ya sebaiknya kau makan dulu pasti kau lapar bukan?” Sang Ibu mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“Aku tak lapar.” Airen menolak ajakan ibunya mentah-mentah. “Apa yang kalian sembunyikan dariku?”


“Ayah rasa percuma menyembunyikan ini dari mu. Padahal kami ingin memberimu kejutan.”


“Ahh padahal kita sudah susah-susah menyiapkannya. Andai saat di sana Harry tak terlalu lama makan.”


“Kok jadi aku yang kena.”


“Sesuatu?”


“Kau tahu kan bahwa kau akan pergi ke akademi... Jadi kita semua merencanakan ini untuk menyiapkan segala kebutuhanmu di sana, agar kau bisa nyaman disana.”


“Ta-daa... Ini adalah jas untukmu Airen! Kau bisa menggunakannya untuk menghadiri acara tertentu.”


“Jeng-jeng sepatu hitam super mengkilap khusus dari kakak tersayangmu.”


“Apa-apaan kalian! Kenapa kalian membuang-buang uang untuk ini. Dan dari mana kalian mendapatkan uang untuk membeli semua ini, bukannya ini semua mahal!”


“Ini semua memakai tabungan ibu dan ayah nak. Mungkin kau berpikir kami menghamburkan uang untukmu padahal semua ini tak terlalu berguna. Tapi ini adalah sesuatu yang kau butuhkan disana. Kau membutuhkannya nak.”


“Kenapa... Bukannya biaya itu bisa digunakan untuk hal lain dan bukan untukku!” menahan tangis ia masih mencoba memberontak.


“Kau membutuhkannya nak.”


Saat sang Ayah mengatakan hal yang sama. Airen menangis di tempat. Ia merasa sesuatu yang aneh dalam dirinya. Bukannya ia harusnya tersenyum dan memeluk orang tuanya karena mereka sudah peduli kepadanya.


Bukan! Bukan itu yang ia pikirkan. Ia berpikir bahwa ini adalah salam perpisahan baginya. Ia masih belum siap untuk meninggalkan keluarga yang ia sayangi ini.


Sang Ayah kemudian mendekat dan memeluk Airen. Lalu dilanjutkan dengan sang Ibu dan para saudaranya.


“Terima kasih! Aku sangat berterima kasih kepada kalian, aku berterima kasih untuk semuanya!”


Keluarganya pun tersentuh. Sang ibu menangis dan yang lainnya hanya mencoba menahan mata air mereka untuk tidak jatuh, jika tidak mungkin mereka akan menahan kepergian Airen. Mereka harus tegar menghadapi ini.


Hari yang tak pernah diperkirakan pun tiba. Hari dimana Airen meninggalkan rumah untuk waktu yang lama. Mereka tak akan tahu kapan ia kembali dan dalam keadaan apa ia kembali.


Mereka berharap mereka akan bertemu kembali dengan Airen dalam keadaan yang sehat.


Di sore hari...


Waktu dimana mereka akan berpisah dengan salah satu keluarga mereka.


“Kau jangan telat makan disana ya. Masaklah makanan seperti yang ibu sudah ajarkan padamu.”


“Terimalah ini nak.” sekantong uang koin diberikan kepada Airen. “Terimalah ini uang jajanmu disana.”


“Baiklah aku akan menggunakan ini dengan hemat.”


Lalu Airen berhadapan dengan dua saudaranya itu. Ia tak sanggup menatap mata mereka. Mereka berdua pun saling menatap dan kemudian memeluk Airen secara bersamaan.


“Kau tak perlu khawatir.”


“Ini giliran kami untuk menjaga keluarga ini.”


“Kalian... Terima kasih. Tolong jaga orang tua kita selama aku pergi.”


“Kau tak pergi pun aku akan tetap menjaga mereka.”


“Iya, terima kasih.”


Ayah dan ibu mereka yang mendengar percakapan mereka pun tersentuh. Kemudian mereka berpelukan sekali lagi untuk yang terakhir kalinya.


“Pergilah nak.”


“Kami akan menunggumu disini Airen.”


Airen pun berjalan berpaling dari mereka. Dan menuju sebuah kereta kuda yang di dalamnya sang Letnan sedang menunggu bersama seseorang.


“Tolong senjata dan barang bawaan tuan berikan kepada saya, saya akan menyimpannya di bagasi kereta.”


“Untuk senjata biar aku saja yang bawa. Terima kasih.”


“Siap tuan.”


Airen kemudian memasuki kereta kuda dan langsung duduk dan berhadapan dengan dua orang. Yaitu sang Letnan dan seseorang yang tak dikenalnya.


“Keberadaan saya di sini karena saya sudah ditawari sesuatu yang berharga oleh Letnan. Saya sangat berterima kasih kepada anda, saya tak akan mengecewakan anda.”


“Iya, terima kasih sudah menerima tawaran saya. Dan perkenalkan ini adalah kepala sekolah dari akademi yang akan kau datangi.”


“Salam kenal saya adalah Airen Hallour, putra ke-dua dari Jacky Hallour. Senang bertemu dengan anda pak Kepala Akademi.”


“Jangan sungkan kepadaku, santai saja.”


“Baik.”


“Aku mendengarnya dari Letnan, apa benar kau yang membunuh Serigala Malam itu sendirian?”


“Maaf, maksud anda Serigala Malam itu apa?”


“Serigala yang kaubunuh saat itu.”


“Ohh jadi monster itu namanya Serigala Malam.”


“Hohoho bahkan kau tak mengetahui nama dari monster yang kau serang. Tapi aku turut bersyukur atas keselamatan dirimu dengan mengalahkan mereka. Kau layak mendapatkan sebuah beasiswa dari seorang Letnan Jenderal kerajaan.”


“Saya berterima kasih atas rasa hormat anda pak Kepala Akademi.”


“Nah Silahkan kau mengucapkan selamat tinggal kepada keluargamu.”


“Sungguh saya sangat terima kasih atas kebaikan hati anda.”


Airen pun membuka jendela kaca di kereta kuda tersebut. Ia kemudian melihat ke arah dimana keluarganya berada. Dan mengucapkan salam perpisahan kepada mereka.


“AYAH! IBU! KALIAN BERDUA! AKU BERANGKAT!”


“IYA, HATI-HATI DI JALAN.”


Dengan ini perjalanan menjadi seorang Foréas Seier akan dimulai.