Airen The Lost Prience

Airen The Lost Prience
PENYELAMATAN II



“Matilah!!”


Airen melepaskan anak panahnya dari busurnya, menghempaskan suatu cahaya yang hanya bisa dilihat sekejap mata.


Dan disusul dengan ledakan yang cukup besar. Memadamkan lingkaran api yang dibuat Airen, dan juga menghempaskan dirinya dalam jarak beberapa meter.


“Sekali lagi. Sihir Api : Lingkaran Cahaya Neraka. ”


Lingkaran api kembali menyala namun dengan lingkup yang lebih luas sekarang. Tampak Harry masih tergeletak tak jauh dari posisi Airen berdiri.


Sang monster justru menghilang dari pandangan Airen sekarang ini. Ia tak tahu kemana monster itu pergi. Tanpa pikir panjang Airen segera berlari mendekati Harry dan merangkulnya kemudian dibawanya pergi dari sana.


Diluar gua, sinar sang Penerang Jalan Pulang tak terlihat sama sekali. Awan jahat menutupi langit tanpa satu celah sedikitpun untuk cahaya rembulan masuk dan menerangi jalan pulang.


Dengan tubuh Harry yang sedikit gemuk Airen tak bisa berjalan dengan maksimal. Dengan membawa beban berat di pundak dan diikuti oleh sesuatu di dalam kegelapan.


Seakan merasakan bahaya Airen membaringkan Harry di tanah dan membuat cahaya sekali lagi.


“Sihir Api : Lingkaran Cahaya Neraka.”


Dengan busur yang masih digenggaman, Airen mengamati sekitarnya dengan teliti ia tak hanya menggunakan indra penglihatannya saja ia juga menggunakan indra lainnya seperti indra pendengaran.


Mengira-ngira dari mana monster itu akan menyerang.


“Belakang.”


Ia merasakan hawa kehadiran sesuatu dari belakangnya dan benar saja monster tersebut hadir di belakangnya.


“Aku tak tahu bisa menembakkan berapa anak panah lagi, pandanganku sudah mulai kabur.”


Menarik tali busurnya sekali lagi mengarahkannya ke arah musuh yang terlihat samar.


“Ini mungkin serangan terakhir, aku harus mengenainya.”


Dengan tangan yang gemetar saat menarik tali busur yang menandakan bahwa tenaganya sudah terkuras dan Mana-nya juga sudah habis.


Psyuu


Anak panah dilepaskan. Cahaya melintas dengan cepat sekali lagi namun cahaya tersebut kini tak mengenai sasarannya. Anak panah tersebut tertancap di tanah depan sang monster.


“Gawat aku meleset.”


Putus asa. Itulah yang dialami Airen sekarang ini. Tubuhnya yang sudah tak kuasa menahan dirinya untuk tetap sadar kini tergeletak dan menatap monster dengan tatapan pasrah.


“Andai aku memiliki kekuatan lebih... ”


Di saat-saat terakhir matanya ingin tertutup sesosok makhluk datang dan mengatakan sesuatu.


“Tidurlah.”


Dan setelah makhluk tersebut mengatakannya Airen langsung menutup matanya seakan ia percaya bahwa makhluk tersebut akan menolongnya.


Di depan jalan masuk menuju hutan...


“Sekarang berpencar! Cepat! Kita harus menemukannya sebelum fajar!”


Sesuai yang direncanakan. Setelah membagi tim, pasukan penyelamat segera berpencar. Setiap tim masing-masing membawa tiga kuda untuk segera menyelamatkan korban jika sudah berhasil ditemukan.


Sang Letnan, Jack, Vlam berada dalam satu tim menuju utara sedangkan Kepala desa bergabung dengan tim yang menuju bagian selatan hutan.


“Bagian-bagian hutan ini memiliki sebuah ciri khas. Bagian hutan yang pertama kali kita masuki adalah bagian selatan. Bagian selatan hutan ditumbuhi oleh pohon bernama Acasia. Pohon itulah yang membuat kami bisa bertahan di desa ini. Bunganya bisa di olah dan dijadikan parfum, setelah mengolahnya menjadi sebuah parfum yang wangi lalu kami menjualnya di kota dan menghasilkan uang untuk membayar pajak. Untuk kayunya kami biasa memanfaatkannya untuk memperbaiki rumah kami.”


“Jadi parfum yang populer dan sering dijual di pasar berasal dari desa ini, siapa yang memberitahu kalian tentang bunga pohon itu bisa dijadikan parfum.”


“Tentu saja Kepala desa. Dia adalah orang yang mengubah dan membangun desa ini menjadi lebih baik dari sebelumnya.”


“Sepertinya Kepala desa kalian sangat membantu ya... ” seorang anggota lain menyambung obrolan mereka.


“Begitulah dia juga memiliki kemampuan seperti dokter.” kemudian Vlam melihat ke atas. “Sekarang kita telah berada di bagian barat hutan ini-”


“Eh kita tak berjalan lurus?”


“Ada sebuah alasan kenapa kami selalu mengambil jalan memutar saat menuju utara. Kembali ke topik sebelumnya. Pohon disini bernama pohon Ek. Dimana kayunya kami manfaatkan untuk membuat pagar desa untuk melindungi kami dari serangan monster yang sudah kami rencanakan dari sekian lama. Kami memilih pohon ini karena pohon inilah yang paling sulit kami tebang.”


“Warga disini sungguh memanfaatkan alam sekitar.” timpal anggota lainnya.


“Jika kami tak memanfaatkannya kami akan mati dengan sangat cepat jika tinggal disini.”


Setelah Vlam berkata seperti itu semuanya yang berada disana hanya menatap Vlam sambil berjalan.


Semua tim kini sudah berada di tempat bagian pencarian masing-masing dan segera menelusuri bagian mereka. Hanya dengan ditemani sebuah lentera dan juga obor yang dibuat warga desa mereka berjalan dengan dinginnya malam.


Di sebuah tempat di dalam hutan. Tak ada kegelapan sama sekali disana dan hanya ada cahaya menghangatkan tubuh. Airen terbangun dari tidurnya dan menyadari ia terbangun entah dimana.


Ia melihat ke samping terlihat Harry yang masih tertidur dengan luka yang hampir pulih. Ia tersenyum, bersyukur bahwa saudaranya masih selamat dan berhasil ia bawa pulang, tetapi sekarang ia tak mengetahui dirinya berada dimana.


Hingga suara bisik-bisik orang terdengar di telinga Airen dan membawanya menuju sebuah pohon beringin besar. Dari jauh Airen melihat beberapa orang tengah berdiskusi.


“Kau! Apa yang kau lakukan membawa orang luar kemari?! Apa kau ingin mereka mengetahui keberadaan kita disini?!” terdengar suara orang sedang menegur seseorang lainnya.


“Aku tak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin berbalas budi.”


“Manusia itu tak pernah tahu apa itu balas budi! Jika mereka pernah menolong seseorang dan seseorang itu membalas budi, maka orang pertama yang menolong akan memeras korban dan selalu mengungkit kembali kejadian dimana dirinya menolong orang lain tersebut!”


“Tapi dia tak seperti itu!”


“Kalian berdua tak perlu bertengkar sehebat itu, jadi dia itu orang yang baik menurutmu'kan Fall?”


“Ya! Saat awal dia membantuku, aku tawari dia imbalan tapi dia tak menghiraukan aku, aku percaya dia orang yang baik!”


“Manusia tak memiliki satu wajah kau tahu?!” orang yang sebelumnya berbicara mengotot sekarang menyela pembicaraan lagi.


“Hentikan kalian berdua! Jika Raja dan Ratu tahu bahwa ada manusia disini mungkin manusia itu akan dibunuh.”


“Lebih baik seperti itu.”


“Jangan! Aku akan bertanggung jawab untuk memulangkan mereka tapi tolong biarkan mereka pulih terlebih dahulu disini, aku akan merawat mereka!”


“Aku sudah muak dengan pembicaraan ini! Aku akan pulang.” orang yang sedari tadi emosi akhirnya meninggalkan tempat pembicaraan.


“Apa tak apa membiarkannya merawat manusia itu, Dryad?”


“Tenang saja, aku yang bertanggung jawab-”


“Tak perlu. Aku akan segera pulang sekarang! Dan tolong kembalikan busurnya.” dalam obrolan serius mereka dengan tiba-tiba Airen menyela obrolan mereka.