
“Apa dia yang menggambar peta ini sendiri? Tak terlalu buruk. Disini ada gambar angka 2 dan matahari dan juga bulan sabit yang di silang. Hmm apa maksudnya barang harus tiba sebelum 2 hari dan itu harus diantarkan saat matahari masih ada dan jika barang datang pada malam hari itu tidak diperbolehkan?”
Dia pun melipat kembali peta tersebut dan berencana untuk pulang dan beristirahat. Dia akan pergi saat pagi buta agar tak membangunkan adik dan ibu nya.
Negeri ini hanya terdiri dari satu ibu kota saja namun memiliki sekala yang cukup luas bahkan sampai dibagi beberapa kawasan yaitu pusat kota, bagian utara, bagian timur, bagian selatan dan bagian barat. Tapi ada sebuah kawasan dimana letaknya itu sangat dekat dengan tembok besar itu berdiri yaitu daerah kumuh, daerah yang sudah di tinggalkan banyak orang dan hanya tersisa beberapa orang saja yang masih menetap karena alasan ekonomi.
“Vyan... Ibu... Aku pulang.”
Anak itu pulang saat fajar ingin berganti tugas untuk menyinari bumi.
“Kakak? Bagaimana hari ini, apa kakak menaiki burung-burung itu lagi?” lalu disambutlah kepulangan anak itu oleh adiknya.
“Itu sudah pasti. Ibu dimana apa ada perkembangan?”
“Setidaknya ibu sudah ingin makan dan bisa menghabiskan makanan yang kubuat!!” ucapnya dengan sedikit bersemangat.
“Aku akan memeriksa ibu dulu.”
“Baiklah, aku akan menyiapkan makanan untuk kakak.”
“Terima kasih.”
Anak itu segera pergi menuju sebuah kamar yang hanya diterangi oleh sebuah lentera, dimana lentera itulah yang senantiasa menemani malam sang ibu dengan sebuah kehangatan kecil.
“Ibu... Aku pulang.”
“Xyan...”
“Ibu tak perlu bergerak, ibu berbaring saja.”
Saat Xyan datang ibu nya ingin bangun dari tidurnya dan duduk untuk menyambut kepulangannya.
“Tak apa nak... Jadi bagaimana kerjaanmu hari ini?”
“Sama seperti sebelum-sebelumnya.” Xyan tak bisa berkata jujur di depan ibu nya. Ia tak ingin membuat ibu nya yang sedang sakit menjadi khawatir akan dirinya.
“Kak makanannya sudah siap, jika ingin mandi airnya juga sudah kusiapkan.” lalu sang adik datang untuk menjemput kakaknya.
“Baiklah terima kasih. Ibu aku tinggal dulu ya.”
“Ya nak.”
“Ibu sudah makan belum, kalau belum biar aku suapi ibu dulu sebelum pergi mandi dan makan.”
“Sudah kok. Kau tenang saja, pergilah. Pasti kau lelah sekali.”
“Baiklah bu. Vyan tolong jaga ibu.”
“Tanpa kakak suruh pun aku akan melindungi ibu bahkan jika perlu aku akan mengorbankan diriku demi keselamatan ibu.”
“Terima kasih.”
Anak itu pergi dari kamar yang ia masuki yaitu, kamar ibunya dan pergi ke belakang untuk segera mandi lalu makan.
“Vyan....”
“Iya bu.”
“Tolong doa'kan kakakmu agar selalu selamat dalam pekerjaannya.”
“...Walau aku tak tahu harus berdoa kepada siapa?”
“Bukankah kau sering mendoakan ibu walau kau tak tahu kepada siapa kau berdoa?”
“Bagaimana ibu tahu?!” sang adikpun tersipu malu karena kegiatan yang ia lakukan diam-diam diketahui oleh sang ibu.
“Apa itu mimpi yang ibu ingat terakhir kali?”
“Ini bukan khayalan atau dongeng, ini kenyataan. Jika doa kita tak diwujudkan berarti hati kita belum tulus. Jikalau sudah tulus dan masih belum juga terkabul maka kita hanya harus bersabar.”
“Ya ibu benar. Sabar... Adalah kunci jawaban dari segala pertanyaan.”
Di sisi lain, Xyan kini sedang berhadapan dengan sebuah bak yang cukup lebar dan di dalamnya terdapat sebuah gayung yang mengapung dikarenakan bak itu sudah terisi penuh dengan air.
Xyan memulai mandinya dengan membasuh seluruh tubuhnya, kemudian dilanjutkannya dengan menggosok tubuhnya dengan sabun namun saat ingin melakukannya ia terhenti. Ia terpikirkan akan masa depan yang ia takutkan. Dan ia merenung dalam waktu yang cukup lama.
Tak sadar ia tertidur dalam posisi duduk bersandar di tembok kamar mandi yang kasar. Ia segera bangkit dan memakai handuknya. Ia lalu keluar dan segera mengecek keadaan sang ibu dan sang adik.
Ia memasuki kamar sang ibu dengan perlahan agar ia tak membangunkan sang ibu atau adik nya saat ia memasuki kamar itupun jika mereka sudah tertidur.
“Ibu....” ucapnya lirih.
Saat memasuki kamar, ia melihat sang ibu dan sang adik telah tertidur pulas.
“Kakak....”
Lalu ia terkejut saat sang adik memanggilnya. Dia berpikir telah membangunkannya tapi ternyata tidak, dia hanya mengigau.
Dia segera kembali keluar lalu menuju kamarnya dan segera memakai pakaian nya karena ia tak ingin dirinya jatuh sakit karena kedinginan.
Dia memeriksa keadaan diluar rumahnya dan menatap langit yang hanya berisikan bintang dan bulan yang selalu menemani malam.
“Fajar sebentar lagi aku harus bersiap-siap.”
Ia mengambil sebuah jubah dari kamarnya lalu kembali menuju kamar ibu nya dan mengintipnya. Ia hanya bisa meratap kehidupan ibu nya yang kini sedang mengalami penyakit yang harus disembuhkan olehnya. Dia hanya berharap ibu nya akan kembali seperti semula.
“Ibu, Vyan, aku berangkat.”
Ini sudah waktunya dimana sang rembulan untuk pergi memberikan waktu istirahat kepada mereka yang sudah lelah bekerja dan beraktivitas di belahan bumi bagian lain.
Dan sekarang adalah waktunya bagi negeri ini untuk beraktivitas. Fajar dan senja sebenarnya datang terlambat untuk negeri ini, bukan terlambat namun terhalang oleh garis pertahanan yang dibuat dewa untuk melindungi negeri ini dan membuat seolah-olah fajar dan senja datang terlambat bagi mereka.
Para pekerja keras, para pejuang hidup, para pahlawan keluarga kini mulai bersiap-siap menghadapi hari ini. Pedagang, pencuri, militer, mereka yang berjuang demi hidup mereka akan diberikan kemudahan oleh dewa karena kemauan mereka yang kuat untuk tetap hidup di dunia yang kejam ini.
Di sebuah keramaian tempat, sebuah pasar berdiri di sepanjang jalanan dipusat kota. Xyan memulai pekerjaannya. Ia mencoba berbaur dengan para pembeli yang berdesak-desakan, dan memulai misinya yang pertama.
Di lain sisi dan masih di tempat yang sama.
“Kapten perhatikan orang itu dia tampak mencurigakan.” dan ia pun memberikan pemandangannya kepada orang yang disebut kapten tersebut. “Berjalan ke arah utara dengan jubah dan koper di tangannya.”
“Apa mereka mengirim seorang kurir baru?”
“Terus awasi dia dan cegat dirinya bila itu sudah dipastikan barang yang kita cari berada dalam koper itu dan lagi kita harus mengintrogasi dirinya tentang siapa yang menyuruhnya melakukan ini.”
Saat ini Xyan sedang mencoba meyakinkan dirinya.
“Aku berharap hari ini tak ada patroli agar aku bisa menjalani ini dengan tenang.”
Xyan tetap berjalan mengikuti arus dan saat ditengah-tengah ramainya jalan Xyan diberhentikan oleh dua orang menggunakan seragam khusus dan Xyan langsung menyadarinya.
“Berhenti kami dari pasukan militer-” saat orang itu ingin berbicara Xyan segera kabur melarikan diri.
“Hei kau jangan kabur!!”
“Dipastikan dia kurir yang baru, kita harus segera mengejarnya.”
“Akhh sial, sial, sial. Sungguh sial kenapa ada pasukan militer tiba-tiba. Padahal tadi sangat tenang. Aku harus segera memberikan barang ini ke tempat tujuannya. Demi ibu dan membayar si brengsek itu.”