Airen The Lost Prience

Airen The Lost Prience
BOS STAVOR



Setelah berminggu-minggu penantian dan pada hari itu penantian mereka terbayarkan. Mereka semua berhasil memasuki wilayah yang dilindungi oleh tembok besar pencakar langit tersebut.


“Ternyata tembok ini sangat kokoh jalan pintu masuknya saja panjang sekali.” ucap Stavor kagum.


Saat ini mereka sedang melewati jalur perantara antara kehidupan dibalik tembok dan kejamnya padang pasir diluarnya.


Jalur yang akan sangat gelap dan dingin pada saat malam hari. Jalur terbuka yang tak ditutupi secercah kayu pun namun tak dapat dimasuki oleh para monster karena ada sihir yang melindungi jalur tersebut.


Setelah cukup lama melewati jalur awal untuk masuk ke Negeri Tembok Surga akhirnya mereka kembali melihat cahaya matahari kembali.


“Tak kusangka akan seluas ini bahkan bagian tembok lainnya masih terlihat walau sangat jauh sekali.”


“Kau sungguh berisik kakek tua.” ujar Oliv yang sudah terlihat bosan dengan pesona pasir.


“Hahaha negeri ini memang luas bahkan dibagi menjadi beberapa kota dan pusatnya. Sekarang kita akan menuju pusat karena tempat bos kami berada disana.”


Mereka meneruskan perjalanan dengan cukup cepat karena kemampuan berlari yang dimiliki para burung unta tersebut adalah yang terbaik di negeri ini.


Pada suatu ketika mereka melewati bangunan-bangunan runtuh yang terlihat sepanjang mata memandang.


“Apa ada orang yang tinggal disana?” Stavor melemparkan pertanyaan kepada para penduduk asli negeri ini.


“Sayangnya tuan... Tempat itu sudah tak berpenghuni sejak lama karena kini mereka telah pindah ke daerah kota yang didirikan para bangsawan.”


“Ohh begitu, apa cuman perasaanku saja....”


Perasaan Stavor tak pernah salah apa lagi bersangkutan dengan makhluk hidup terutama manusia. Dia bisa merasakan kehadiran suatu kehidupan dan dapat membedakannya dengan algoritmanya sendiri.


Pertanyaan yang Stavor keluarkan itu karena ia merasakan sebuah nyawa, tidak bahkan lebih dari satu mungkin ada ratusan nyawa yang tinggal dibalik bayangan reruntuhan bangunan-bangunan itu.


Stavor benar, ada makhluk hidup dibalik bayang-bayang reruntuhan dan sekarang mereka sedang mengamati pergerakan rombongan-nya.


“Ayo bergerak!”


Stavor sampai saat ini masih penasaran dan masih melihat-lihat keadaan sekitarnya karena ini adalah keadaan sunyi yang bukan alami melainkan dibuat.


“Hei Oliv, Timmy sampai bertemu di pusat kota.”


Sebelumnya di luar tembok yang melompat dari burung secara tiba-tiba adalah Airen dan sekarang itu terjadi kembali kepada Stavor.


“Hei apa yang kau lakukan!?”


“Aku kebelet, alam sudah memanggilku.” Stavor segera berlari ke reruntuhan untuk menghilang dari pandangan mereka.


“Arrghh semuanya saja menghilang sial!”


Kini Oliv sedikit frustrasi karena teman-temannya selalu menghilang secara tiba-tiba.


Stavor yang sekarang sedang berjalan di reruntuhan, yang sebelumnya kabur secara tiba-tiba dengan dalih alam sudah memanggilnya tapi itu adalah kebohongan.


Stavor sudah tahu bahwa rombongannya sudah di incar dari awal saat melewati reruntuhan. Sekarang dia mulai memancing musuhnya keluar dengan sebuah sekantong kecil koin emas.


“Keluarlah, kalian menginginkan ini bukan?”


Suara dentingan uang yang saling bertabrakan pun terdengar oleh para perampok yang menginginkan barang tersebut.


Para perampok mulai keluar satu per satu dengan wajah yang ditutupi oleh kain dan satu belati di tangan masing-masing. Dan sesuai dugaan Stavor, terdapat orang-orang yang sedang mengincar rombongannya dengan bermaksud jahat.


“Kau juga keluarlah, orang yang dibalik pilar. Aku tahu kau bos mereka bukan?!” Stavor mulai waspada.


“....”


Orang yang diberi peringatan oleh Stavor juga keluar dari persembunyiannya.


“Kirim orang untuk tarik kembali tim yang kau beri perintah untuk mengejar rombonganku.”


“Diam kau! Serang dia ambil semua yang dia miliki!”


“Hahh... Dasar anak-anak kalian itu tak pernah hormat kepada orang tua. Majulah.”


Mereka menyerbu Stavor dengan membabi buta. Namun salah satu dari serangan mereka tak dapat mengenai Stavor sedikitpun.


“Cih bagaimana bisa!?”


Bos para perampok itu geram dan memilih mencoba bertarung melawannya dengan sebuah pedang yang ia siapkan sendiri.


Stavor pun meladeninya.


Ia memulai serangan terlebih dahulu dan hal yang sama berlaku pada dirinya. Setiap serangan yang ia layangkan tak sedikit menggores tubuh Stavor dan hanya menebas angin saja.


“Kurasa sudah cukup.”


Stavor berlari ke belakang.


“Jangan lari kau sialan.”


Stavor berlari bukan untuk kabur tetapi untuk menghabisi para keroco terlebih dahulu.


Setiap orang yang terkena serangannya berpikir bahwa pukulannya adalah bukan pukulan manusia.


“Sihir Tanah : Pengikat Langkah”


Pasir yang diinjak oleh Stavor kini mengikat kakinya dan membuatnya tak bisa bergerak, namun ia tak gentar sama sekali.


“Mati kau!”


Bos mereka segera menyerang Stavor setelah dirinya berhasil menjebak Stavor dengan sihirnya.


“Jika kau ingin membunuhku kau harus memotong tanganku. Sihir Khusus Dwarf : Alchemist, Palu Perang.”


Seketika sebuah palu besar tercipta di tangan Stavor dan membuat bos mereka terkejut.


“Hahahaha! Rasakan ini!” dengan senyum iblis ia mengayunkan palunya dan mengenai bos para perampok lalu membuat dirinya terpental cukup jauh di atas pasir.


“Bos kalian sudah kalah! Sekarang aku adalah bos kalian tunduklah padaku atau kalian akan merasakan akibatnya.”


Para perampok yang masih sadar dan tak mendapat luka pun hanya bisa bertekuk lutut.


“Hei kau!” Stavor memanggil salah satu dari mereka. “Cepat panggil kembali tim yang mengejar rombongan itu.”


“Baik....”


“Cepat!”


“Baik!”


“Kalian sisanya cepat bawa mereka yang pingsan itu kemari dan jangan lupa bos lama kalian yang terpental jauh itu.”


Mereka semua segera membawa temannya yang tergeletak di atas pasir ke hadapan Stavor dan juga kapten mereka yang sebelumnya.


“Bagus, kalian tenang saja mereka akan sadar beberapa menit lagi. Aku ingin tahu, apa kalian memiliki sebuah markas atau tempat rahasia yang biasa kalian pakai untuk berkumpul?”


“....”


“Kalian memiliki mulut bukan jawablah pertanyaan ku!”


“Ya kami memilikinya.”


“Baiklah antarkan aku kesana setelah kita menunggu yang lain tiba, untuk sementara aku akan tidur sebentar kalau kalian macam-macam biar paluku yang bicara nanti!”


Di tempat yang senyap, tempat kecil di antara himpitan-himpitan gedung kokoh tak berpenghuni dimana Xyan terkurung oleh tembok yang terbuat oleh sihir. Dan sekarang di depannya sudah terdapat seorang kapten dari militer bagian pusat kota yang berada di bawah titah raja secara langsung.


“Serahkan barangnya wahai kau anak muda, sebelum terlambat.” ucap orang tersebut dengan cukup tegas.


BUUGG BUUGG


Suara dentuman keras yang berbunyi dari balik tembok menandakan bahwa tembok itu akan segera hancur.


Sempat hening sementara namun keheningan itu adalah suatu hal buruk.


Drap Drap... BRAAK!


Tembok itu kini sudah tak bisa menahan daya hancur lagi, nasib tembok itu kini tetap berdiri dengan bagian tengah yang sudah tak berbentuk seperti semula.


Membuat debu bertebaran dan membuat sudut pandang menjadi terhalang. Seketika suara teriakan terdengar dan memecahkan suasana hening setelah pecahnya tembok.


“HUAA!”


Xyan berteriak karena dengan tiba-tiba dirinya di angkat dan dibawa pergi.


“Jangan lari kau, nak!” ucap pria yang mengejar Xyan.


“Tak akan kubiarkan kau lewat!”


Seseorang dibalik debu menahan sang Kapten yang ingin mengejar Xyan dengan memberi tinju kosong saja kepadanya dan berhasil membuat sang Kapten terpental menghantam tembok.


“Uhuk... Uhuk... sudah kutangkis namun daya serangnya begitu kuat. Siapa kau dan apa yang akan kau perbuat dengan barang haram itu.”


“Kau tak perlu tahu, dan kau tak perlu ikut campur. Kapten Flits....”


“Bagaimana kau tahu, padahal aku sedang menggunakan baju tempur khusus ini.”


Baju tempur khusus. Setiap militer di setiap daerah di negeri ini, memiliki seragam khusus tersendiri.


Dan seragam yang paling unik adalah militer di daerah pusat kota. Memakai sebuah kain yang dijahit dan dirancang menutupi seluruh tubuh sampai menutupi tengkuk leher. Lalu dilapisi sebuah baju baja dan dilapisi lagi oleh kain yang sama seperti sebelumnya. Memakai sebuah helm khusus dimana menutupi semua kepala termasuk wajah dan hanya ada beberapa bolongan kecil di bagian mata untuk penglihatan yang sangat minim. Setelah itu bagian luar helm ditutupi kain lagi dan membuatnya hanya terlihat memakai topeng saja.


Dengan baju khusus itu dapat membuat musuhmu kebingungan dalam mengambil keputusan. Karena tak ada perbedaan apapun pada prajurit biasa dan para komandan. Musuh yang pintar akan berjaga-jaga sementara musuh yang tak sabaran akan menerjang tanpa pikir panjang.


Namun beda halnya jika kau sudah tahu siapa yang berada di balik kostum tersebut. Seperti kasus yang dihadapi Kapten Flits saat ini.


“Kau akan berakhir disini Kapten Flits.”


“Itu pun jika kau lebih kuat dariku, sekarang majulah akan kuladeni kau.”