Airen The Lost Prience

Airen The Lost Prience
PEKERJAAN



Sebelumnya...


Di sebuah tempat. Dimana terdapat sebuah kandang besar yang berisikan makhluk bersayap berkaki panjang yang tak mampu terbang.


“Hei kalian bersiaplah kita harus membawa mereka 'jalan-jalan' di gurun! Hei bocah bangun jangan bermalas-malasan, kau tidak digaji untuk itu.”


“Baik paman.”


“Cepat siapkan beberapa burung penggiring, setelah selesai kita akan langsung berangkat karena 2 hari lagi akan ada pengunjung peting.”


“Baik paman!”


Lalu sang bocah pergi ke kandang tertutup tempat dimana burung pilihan dirawat dengan sangat baik. Dibuka nya beberapa pintu kandang lalu menarik keluar para burung-burung yang sudah diberi perawatan.


“Ayo kita bergegas. Ingat jangan bawa mereka keluar ke zona berbahaya!”


Lalu mereka melawati jalanan yang sudah dibuat khusus untuk orang-orang yang menunggangi hewan kendaraan seperti burung ini yaitu burung unta. Dan juga masih ada beberapa hewan yang bisa dimanfaatkan menjadi alat kendaraan menarik gerobak atau apapun.


Lalu mereka pun sampailah di sebuah gerbang besar yang menjadi salah satu jalur keluar masuknya pengunjung. Mereka tetap melanjutkan perjalanan hingga membawa kawanan burung itu pergi cukup jauh dari tembok tinggi yang melindungi mereka.


“Ketua, tampaknya disini sudah cukup jauh.”


“Baiklah. Ayo kita mulai kegiatannya.”


Para burung yang ditunggangi beberapa orang pun segera berpencar dan menempati beberapa posisi di samping kawanan burung tersebut, termasuk anak kecil yang sebelumnya menyediakan burung penggiring tersebut.


Orang yang sebelumnya dipanggil ketua lalu memulai jalan terlebih dahulu di depan kawanan burung yang terjajar cukup rapih. Saat ada beberapa burung yang mulai mengacau atau keluar dari barisan, para penggiring pun mulai menggunakan sihirnya untuk mencegah kawanan terpecah belah.


Lalu saat ada burung yang mengacau di bagian anak kecil tersebut menjaga, anak kecil itu pun melakukan hal yang sama yaitu menjaga barisan tetap rapih menggunakan sihirnya tetapi saat ingin merapat sihirnya, burung yang ditungganginya justru tersandung dan membuat kekacauan pada kawanan burung tersebut.


Burung yang mengacau pun segera berlari keluar dari kawanan dan para burung yang lain pun mengikuti burung yang kabur terlebih dahulu dan membuat barisan kawanan itu benar-benar hancur.


“APA YANG KAU LAKUKAN BOCAH SIALAN!!”


“Maaf....”


“MAAF?!!”


“Sudahlah jangan emosi sekarang, lebih baik kita kejar mereka sebelum mereka dikejar monster dari zona berbahaya.”


“SIALAN! KALIAN KEJAR BURUNG ITU!!”


Lalu orang yang marah tersebut pergi mengejar kawanan burung yang kabur bersama yang lain dan meninggalkan orang yang menasehatinya dan juga anak kecil tersebut.


“Maaf... Aku tak sengaja.”


“Sebaiknya kau juga segera mengejar para burung itu, segera tunggangi kembali burungmu. Aku akan pergi terlebih dahulu.”


Saat orang-orang itu mengejar kawanan burung tersebut mereka kehilangan jejak mereka dikarenakan badai besar yang tiba-tiba datang.


Kemudian mereka memutuskan kembali dan dalam perjalanan pulang mereka hanya diam dan sedang menyiapkan mental untuk berhadapan dengan bos mereka nanti.


Sebuah bangunan di tengah daerah pusat kota terdapat sebuah bangunan yang teramat sangat mencolok dari udara. Bangunan megah nan mewah yang dilapisi emas. Kubah-kubah emas yang begitu mengkilau, dan sepasang mata yang melihatnya pun tak dapat lepas dari kilaunya yang begitu mempesona.


Terdiri dari berbagai pilar-pilar tinggi dan juga disertai lantai lorong yang dilapisi karpet merah yang dikatakan adalah karpet istimewa karena digelar hanya untuk orang-orang penting saja.


Di dalam bangunan tersebut, disebuah ruangan yang megah dengan sebuah singgasana dan seseorang tengah duduk disana. Disuguhi buah-buahan yang masih segar dan segelas anggur (wine) yang terlihat mahal dari label produknya. Dilayani oleh wanita-wanita cantik yang menawan dan dengan pakaian yang cukup terbuka.


“Hahaha berapa kali aku meminumnya pun rasanya sungguh tak membosankan.”


“Fufufu tampaknya Tuan sangat menyukai anggur tersebut ya....”


“Tentu saja! Ini adalah anggur dari segala anggur, salah satu anggur yang dapat membuatku jatuh cinta lagi setelah sekian lama.”


Kemudian saat sedang menikmati anggur di tangannya. Pintu ruangan tersebut terbuka dan datanglah para orang-orang yang menggiring burung sebelumnya serta anak kecil yang sebelumnya membuat kesalahan ikut datang di barisan belakang.


“Tuan sepertinya memiliki tamu.”


“Cih mengganggu saja.”


“Kalau begitu kami berdua pamit, dan kami akan datang melayani Tuan lagi.”


“Baiklah cantik.”


Setelah para wanita itu pergi dari ruangan, suasana langsung berubah menjadi tegang. Semua orang yang mendatangi orang tersebut segera bertekuk lutut di hadapannya.


“Langsung saja.” Orang itu langsung memberi perintah.


“SEBELUM ITU MAAFKAN KAMI TUAN!!”


Semua orang pun segera bersujud dan memohon maaf, bukan. Lebih tepatnya ampunan. Entah seberapa menyeramkannya orang tersebut sampai-sampai mereka melakukan hal tersebut.


“Baik Tuan. Ini tentang burung yang akan anda jual lusa nanti... Mereka semua telah lepas Tuan. Ini terjadi saat kami melakukan kegiatan seperti biasa dan salah satu dari kami, penggiring telah membuat kekacauan.” Ketua dari tim penggiring pun yang mewakili untuk menjelaskan semua kejadian yang terjadi.


“Lalu siapa yang membuat kekacauan tersebut.”


Mereka semua sempat terdiam dan menunduk. Lalu dari mereka saling bertatapan kemudian mundur dan menyisakan sang bocah yang hanya terdiam saja dan hanya menunduk.


“Apa anak ini yang melakukan kekacauan itu?”


Mereka hanya mengangguk.


“Hei bocah....”


“Tuan tolong jangan bunuh saya, saya memiliki seorang adik dan ibu saya yang sedang sakit dan butuh perobatan.” ucap anak itu sambil menahan tangisnya.


“Apa kau berpikir aku ini pembunuh? Bukan aku ini adalah pedagang aku tak akan membunuhmu tapi....” dia tersenyum. “Kau harus membayar ganti rugi apa yang telah kau perbuat.”


“Tapi aku tak punya-”


“Aku tak peduli, tapi jika kau menolak....” lalu tiba-tiba saja ada seseorang yang berdiri di belakang anak itu dan sudah menempelkan pisau di leher anak itu.


“HIIII!! Baiklah aku akan mengganti kerugiannya berapa pun itu tapi tolong jangan bunuh aku.”


“Berapa pun? Baiklah 10 juta koin emas saja, bagaimana?”


“10 juta?!!”


“Yaa atau... Silahkan kau bawa pulang kembali mereka, jemput mereka, dan bawa mereka kemari dari sana. Aku sedang berbaik hati padamu karena kau seorang anak kecil.” ucapnya sambil menutup mata.


“Itu mustahil.”


“Aku tak mau tahu, bayar 10 juta koin emas kepadaku atau kembalikan mereka sebelum lusa siang. Sekarang bawa dia pergi dari sini, dan untuk kalian, jika kalian melakukan kesalahan mungkin akan lebih buruk lagi tanggungannya karena kalian sudah dewasa.”


Lalu mereka semua menelan air liur diri sendiri karena mendengar hal tersebut. Jika anak kecil saja harus membayar 10 juta koin emas apa lagi mereka yang sudah dewasa.


“Kenapa kalian masih tetap disini, sudah kubilang kalian boleh pergi bukan?!!”


“Baik Tuan!”


Anak kecil itu pun kemudian disekap lalu dibawa orang yang tiba-tiba muncul tersebut keluar dari tempat itu. Lebih tepatnya dari bangunan tersebut.


Saat sudah sampai di pintu keluar bangunan tersebut dia langsung dilempar ke tanah.


“Kau beruntung. Saat ini Tuan sudah setengah mabuk jadi sebaiknya cepat kau lakukan atau tidak sama sekali.” lalu setelah orang itu berbicara dia segera menghilang dari tempat.


Kemudian anak kecil itupun berjalan dengan meratapi kesedihannya. Berjalan tanpa melihat arah, memasuki jalan-jalan kecil dibalik rumah-rumah yang berdiri hingga sampailah dia kepada jalan buntu.


“Ehh kenapa aku kesini?”


“Kau....”


Secara tiba-tiba suara seseorang terdengar dari belakangnya.


“Huaa- Lepas... kan.”


Seseorang tersebut langsung menutup mulut anak kecil itu saat ingin teriak.


“Kau sedang dalam kesusahan bukan, aku akan membantumu. Aku memiliki pekerjaan untukmu. Kirimkan barang ini menuju tempat ini.” seseorang tersebut memberikan anak kecil itu sebuah koper dan juga secarik kertas yang menggambarkan sebuah peta kecil.


“Aku tak mau.”


“Apa kau serius? Bayarannya cukup besar untuk setiap kali pengantaran padahal kalau kau tak-”


“Berapa?”


“Hmm....” dia tersenyum. “Beragam dari 700 ribu koin emas sampai 5 juta koin emas bahkan ada yang 10 juta koin emas. Tergantung pesanan pelanggan. Jadi bagaimana?”


“Apa aturannya.”


“Mudah saja, pertama jika kau dikejar oleh petugas kota kau tak boleh tertangkap. Kedua jangan pernah telat sesuai jadwal. Ketiga selalu bilang terima kasih setelah dibayar oleh pelanggan. Untuk pembagian uangnya bagaimana 60:40, aku 60-”


“80:20 aku 80 kau yang 20.”


“Wow wow nak kau harus sabar, mungkin kau memiliki sebuah resiko bagaimana 70:30 kau yang 70 aku yang 30 bagaimana?”


“Sepakat!”


“Kalau begitu ini adalah pengiriman pertamamu. Ingat aturan-aturan yang sudah kujelaskan, dan aku pamit dulu.” orang itu segera berjalan dan berbelok kemudian ia menghilang.


“Aku tahu ini hal yang berbahaya tapi ini semua demi ibu! Maafkan aku ibu aku harus mengambil pekerjaan kotor ini demi menyembuhkanmu seperti dulu.”