Airen The Lost Prience

Airen The Lost Prience
MENGHILANG



“HARRY, DIA MENGHILANG, DAN LUIS SEKARANG SEDANG TERLUKA PARAH DAN DIRAWAT KEPALA DESA DI BAR!”


“..... Sayang, kau jangan mengada-ngada... kau berbohong kepadaku seperti itu pasti untuk menutupi kenyataan bahwa Harry telah membuat masalah-”


Drapp...


Jack berlutut dan menangis sembari mencoba berbicara “Itu... bukan... sebuah kebohongan.”


Istrinya terkejut dengan pernyataan suaminya. Ia lalu menarik kerah suaminya. “LALU LUIS! DIMANA DIA SEKARANG?!”


“Dia... sedang dirawat di Bar...”


“Hikss.”


Istrinya segera keluar dan berlari sambil menangis, tanpa pikir panjang suaminya segera mengejarnya.


“SAYANG!!”


Masih di rumah Pasutri tersebut, lebih tepatnya di kamar Airen.


Kini Airen sedang duduk termenung di balik pintu kamarnya. Ia menangis dan ia berhenti menangis saat kedua orang tua angkatnya pergi dari rumah.


Dia berdiri dan mendekati ranjangnya. Ia meraba-raba bawah ranjangnya dan mengambil sebuah tas panjang dari sana.


Ia membuka tas tersebut dan terekspos lah sebuah busur perak dengan beberapa corak di badan busur tersebut, serta yang paling menonjol adalah sepasang tanduk yang menempel di busur tersebut.


“Ini pemberian Ayah untukku saat itu....”


“Ini untukmu Airen, Ayah berikan busur ini untukmu sebagai hadiah ulang tahunmu. Kau boleh melakukan apa saja dengan busur ini, jika suatu saat kau butuh uang juallah busur ini. Nah terimalah.”


“Sudah saatnya kau meluncurkan anak panahmu.”


“Tapi Ayah dimana anak panahnya? Tak mungkin aku bisa memanah tanpa anak panah.”


“Mereka akan hadir saat kau mengaliri busur ini dengan sihir.”


“Terima kasih Ayah!”


Airen kemudian bersiap-siap untuk pergi, ia memakai mantelnya yang berwarna hitam dan juga sebuah tas kecil untuk minumnya. Ia menggendong tas dipunggungny yang merupakan wadah busur tersebut.


“Harry tunggulah, aku akan menjemputmu dan kau akan segera pulang.”


Di Bar....


Braaakk


Pintu depan didobrak dengan kencang walau tanda di pintu tersebut bertuliskan "tutup"


“Luis!! Luis!!”


Sang pemilik Bar pun menemuinya...


“Nyonya mohon tenang disini ada pasien yang sedang dirawat-”


“Luis! Luis dimana?!!”


“Apa nyonya adalah keluarga pasien yang sedang dirawat?”


“Ya! Iya aku ibunya!”


“Kalau begitu tolong ikuti saya dan jangan berisik.” sang Pemilik Bar pun mengantarkannya menuju ruang pasien “Dia di dalam, nyonya tolong jangan ribut jika sudah masuk.”


Tanpa menghiraukan omongan sang pemilik Bar ia segera masuk dan terkejut dengan kondisi Luis.


Disaat ia memasuki ruangan, Jack pun datang tergesa-gesa.


“Pemilik Bar apa istriku sudah datang?”


“Dia di dalam.”


Saat diberi tahu bahwa istrinya sudah memasuki ruangan, jack pun memasukinya dan ia mendapati istrinya yang sedang menangis disamping ranjang sambil memegangi tangan Luis yang sudah dibalut perban.


Meskipun Luis dan Airen adalah anak angkat mereka


“Sayang...”


“Untuk sekarang biarkan Luis istirahat terlebih dulu, aku akan pulang, nanti malam aku akan kembali merawatnya. Kalian berdua juga sebaiknya pulang karena waktu akan menjelang sore hari.” Kepala desa berbicara kepada dua orang yang membantunya dari awal.


“Ahhh akhirnyaa.” mereka menghela nafas panjang...


“Haaaa....”


“I-ibu...” saat Kepala desa hendak pergi Luis berbicara.


“I-ibu...” ibunya yang masih menangis segera tersadar saat Luis memanggilnya untuk yang kedua kalinya.


“Lu-Luis!!” saat mengetahui anaknya sudah sadar ia semakin menggenggam erat tangan Luis.


“Harry... dia.. apa dia baik-baik saja?”


“Dia... Ya dia baik-baik saja.” sang ibu tersenyum sambil menangis, ia tak ingin membuat Luis khawatir dengan keadaannya yang sedang terluka.


“Syukurlah... Airen dia dimana?”


“Oh iya... Airen dia sedang menjaga rumah, kau tak perlu khawatir. Kau tidurlah dulu, jangan khawatirkan yang lainnya.”


“Baik bu...” Luis kembali menutup matanya.


Setelah Luis tertidur kembali sang ibu kembali menangis... Karena kebohongan yang telah ia katakan.


Pada suatu waktu diantara pertengahan siang dan malam, Airen kini berjalan seorang diri ditengah kesunyian hutan yang begitu nyaring, hanya ditemani hembusan angin dingin dan beberapa suara binatang-binatang sekitar hutan.


“Ini kayu yang kita kumpulkan...” Airen memegang kumpulan potongan kayu yang mereka tinggalkan dan melanjutkan perjalanan, bukan maksudnya misinya untuk menyelamatkan Harry seorang diri.


Ia berjalan dengan di jalan yang sebelumnya dilewati ayahnya saat mencari Luis dan Harry di pagi hari. Sebelumnya ia ingat ayahnya menggunakan sihir untuk memberi tanda jika salah satu dari mereka menemukan sesuatu.


“Ini semakin gelap... Sihir Api : Lentera Cahaya.” Ia menciptakan api disalah satu tangannya untuk menerangi jalan.


Hari semakin gelap, suara hewan nokturnal mulai mengganti keheningan. Ia menelusuri jalan tersebut dengan sangat hati-hati. Busur yang sebelumnya masih menyembunyikan dirinya kini telah berada di genggaman Airen.


Ia berjalan terus tanpa henti dan ia tak tahu sudah sedalam mana ia memasuki hutan. Dan sampailah pada suatu gua...


Di Bar...


Ngihiihii...


Suara ringkikan dan suara langkah tapak kuda terdegar dari luar Bar. Sang pemilik Bar kemudian segera membukakan pintu dan ia melihat pasukan yang berbaris sempurna dengan baju tempur mereka.


Dua orang turun dari pasukan kuda tersebut dan menghampiri Pemilik Bar.


“Apa jack ada di dalam?”


“Iya. Dia...”


“Tukang kokiku dulu.”


“Aku tahu bahwa aku pernah mengikutimu dulu tapi sekarang aku adalah salah satu Letnan Jendral di kerjaan. Senang bertemu dengan anda, namaku William Gradov.” sang Letnan menjulurkan tangannya dan disambut hangat oleh tangan Pemilik Bar.


“Kalau begitu kita segera masuk.”


Pada sebuah meja dengan empat kursi disetiap sisinya, terdapat salah satu kursi yang sudah diduduki oleh seseorang, seseorang tersebut adalah Jacky.


“Silahkan duduk terlebih dahulu, aku akan membuatkan minum untuk kalian.” Pemilik Bar pergi menuju dapur untuk membuatkan minum dan beberapa makanan ringan untuk perbincangan mereka.


Krieet...


Pintu Bar terbuka dan memunculkan orang terpenting di desa tersebut, orang tersebut adalah Kepala Desa.


“Aku mendengar banyak derap langkah kaki kuda saat di rumahku, kupikir Vlam telah kembali dengan bala bantuannya dan ternyata benar.”


Kepala Desa kemudian mendekati meja yang sudah dikelilingi beberapa orang, kemudian ia menjabat tangan orang-orang yang sudah berada di meja tersebut lalu duduk di salah satu kursi yang masih kosong.


Pemilik Bar datang dengan sebuah nampan yang di atasnya terdapat 4 gelas minuman dan sebuah mangkok kecil berisikan camilan.


Ia menghidangkannya secara perlahan tanpa ada suara dentingan sedikitpun. Setelah selesai dengan tugasnya ia kembali ke dapur.


“Sebelumnya akan kuperkenalkan kepada kalian.” Vlam berbicara "Pria ini adalah Letnan Jenderal militer di kerajaan ini, dan akan kuperkenalkan kepadamu dia adalah Kepala desa disini..." Kepala desa hanya menganggukkan kepalanya. "Dan dia adalah ayah dari korban."


“Saya turut berduka atas kejadian yang menimpa keluarga anda.”


“Terima kasih Letnan.”


“Sudah cukup basa-basinya kita harus segera membuat rencana.” ucap Kepala desa dengan tegas.


“Ya, rencana penyelamatan.”