Airen The Lost Prience

Airen The Lost Prience
KESEMPATAN



Beberapa hari selang insiden hilangnya Harry.


Para pasukan dari kerajaan akan kembali. Sudah 4 hari mereka disana. Mereka harus kembali karena kemungkinan ada daerah lain yang tengah butuh bantuan.


“Saat pulang nanti, aku akan melapor jika desa ini diserang oleh monster.”


“Alasan yang cukup bagus.” respon Vlam yang mendengarnya.


“Terimakasih banyak Letnan, anda telah sangat membantu keluarga saya. Suatu hari nanti saya akan membalas perbuatan baik Letnan.”


“Tak perlu. Toh aku hanya sekedar patroli saja. Dan pada akhirnya mereka kembali dengan sendirinya tanpa bantuanku jadi kau tak perlu merasa berhutang padaku.”


“Tapi-”


“Sudah tak perlu dilanjutkan, dan aku juga ada yang ingin kusampaikan pada anda. Ini mengenai putra anda, Airen.”


Jack pun memerhatikan dengan serius.


“Aku ingin memberi penawaran beasiswa untuk putramu itu. Aku rasa putramu memiliki sebuah bakat namun akan tak tumbuh jika ia tetap berada disini. Ia butuh tempat untuk berkembang yaitu di Akademi.”


“Sebelumnya biar saya perjelas hubungan saya dengan putra saya Airen. Aku dan dia bukanlah keluarga kandung. Aku membawanya ke rumahku saat dia masih bayi. Waktu itu aku menemukannya di sebuah gang gelap dan tak ada orang sama sekali. Jadi untuk pembahasan kali ini biarkan dirinya yang mengambil keputusan.”


“Yahh keputusan yang benar. Kau hanya ayah angkatnya jadi kau tak memiliki hak untuk mengaturnya tapi akan lebih bagus jika dia mengerti apa itu balas budi.” ucap Vlam yang mendengar pernyataan yang baru saja diucapkan Jacky.


“Kalau begitu izinkan saya menemuinya.”


“Silahkan.”


Kini Airen, Harry dan Luis serta sang Ibu. Mereka telah pulang ke rumah mereka sehari setelah dirawat di rumah Kepala desa. Untuk Airen lukanya masih diperban tapi sudah dalam keadaan kering dan sudah diperbolehkan berjalan tapi masih tak boleh melakukan pekerjaan yang berat.


Untuk Luis ia masih berbaring di atas ranjang dikarenakan luka yang ia alami lebih parah dari Airen. Infus saja masih terpasang di tubuhnya yang berarti ia masih tak boleh melakukan aktivitas apapun.


Dan Harry, sekarang ia yabg membantu sang ibu mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu, menjemur pakaian dan masih banyak lagi.


Ia juga terkadang mengecek keadaan dua saudaranya teruma Luis karena keadaannya masih belum stabil. Sedangkan Airen, dia sudah bisa melakukan aktivitas yang ringan-ringan saja.


Kini Airen sedang berada di kamarnya. Ia sedang membersihkan busurnya karena setelah kembali dari kejadian itu ia tak sempat untuk melakukan apapun. Hanya duduk saja pun tak boleh oleh sang Ibu.


“Airen kau ada di dalam?”


Saat sedang asyik membersihkan busurnya itu terdapat suara memanggilnya dari luar yaitu suara ibunya.


“Ya masuklah.”


“Airen- Heh kamu tuh sudah ibu bilangkan jangan melakukan kegiatan yang berat-berat!”


“Tapi aku hanya sekedar mengelapnya saja.”


“Tak ada tapi-tapian kau masih harus istirahat. Jika kau bisa bergerak lebih baik kau membantu ibumu ini.”


“Ahh baiklah.”


“Tapi kau harus makan terlebih dahulu. Ibu sudah menyiarkannya.”


“Kak Harry dimana dia, apa dia sudah makan duluan?”


“Iya dia sudah makan lebih dulu dan sekarang dia sedang keluar. Entah cuma perasaan ibu atau memang dia akhir-akhir ini sering keluar.”


“Entahlah aku pun tak tahu bu.”


“Segera makan lalu cepat bantu ibu.”


“Iya.”


Selesai dengan kegiatan mengisi perutnya. Airen kini sedang di luar bersama ibunya. Mereka sedang menjemur pakaian di halaman rumah mereka.


“Ibu.”


“Kenapa?”


“Tak apa-apa”


“Ada apa denganmu kau tampak aneh.”


“Aku ingin bekerja di kota bu.”


“......”


“Aku ingin bekerja dan menabung untuk membeli rumah disana. Aku ingin kita pindah ke kota yang lebih aman. Aku juga yang akan menafkahi keluargaku, sudah cukup bagi ayah untuk mencari uang. Sekarang giliranku.”


“Lalu kau akan bekerja apa?”


“Apa saja. Selama masih ada peluang untuk bekerja akan kuambil dan kulakukan dengan bersungguh-sungguh. Walau pekerjaan berbahaya sekalipun.”


“Kau tahu Airen. Rumah-rumah di kota sangatlah mahal. Pajak disana juga jauh berbeda dibanding disini. Sering kali banyak tindak kriminal disana, nyawamu akan terancam bila hidup disana. Kehidupan di kota lebih keras dibanding kehidupan di desa.”


“Tapi...”


“Walaupun disini sangat berbahaya akan kehadiran monster atau hewan buas tapi disini kehidupannya jauh lebih tenteram dan damai. Ibu tahu keinginanmu itu tulus tapi ibu sudah cukup dengan kehidupan ini, hanya perlu kalian bertiga untuk membuat ibu bahagia.”


“Apa ayah tidak dapat membuat ibu bahagia?”


“Hahaha... Tentu saja ayah juga.”


Lalu sang Ibu memeluk anaknya itu dengan erat, dan dibalas juga oleh sang anak.


“Ibu! Ibu!”


Dari kejauhan seorang tengah bertatih-tatih untuk berjalan. Tampak jelas keringat dari jauh keringatnya membuat pakaiannya basah.


“Ibu maaf aku telat untuk menjemur pakaian. Ehh Airen kau...” dirinya segera melihat sekeliling dan menemukan kejutan sudah terkejut rapih dibawah sinar penerang langit siang. “Kau membantu ibu menjemur pakaian?”


“Iya, ibu yang memintanya. Kau sudah pergi terlalu lama jadi ibu memutuskan untuk menjemurnya sendiri tapi ibu melihat Airen lagi tak sibuk jadi ibu minta tolong padanya untuk membantu ibu.”


“Padahal ibu bisa menungguku sedikit lebih lama lagi dan tak perlu meminta bantuan Airen yang masih dalam pemulihan.”


“Kak Harry tak usah cemas, aku sudah bisa beraktivitas seperti biasa lagi. Jadi aku akan membantu Kak Harry mengurus rumah.”


“Sudah-sudah, Harry sebaiknya kau mandi, kau tampak sangat basah. Cepatlah ibu akan menyiapkan makan untukmu karena tampaknya kau lapar lagi.”


“Baik bu.”


Harry segera masuk ke dalam dan disusul dengan ibunya. Kini Airen seorang diri di halaman rumah, sedang duduk memikirkan sesuatu yang ada di pikirannya.


Saat sibuk dengan pemikirannya, beberapa tamu datang menghampiri Airen yaitu ayahnya dan juga sang Letnan.


“Airen? Kenapa kau di luar bukannya kau masih harus beristirahat?”


“Selamat datang ayah, Hmm aku hanya ingin menghirup udara segar dan aku juga bosan di kamar saja dan anda...” Airen lalu menyadari bahwa sang Ayah tak sendirian, dia bersama seseorang yang asing baginya.


“Perkenalkan aku adalah Letnan Kerajaan El-Varia. Salam kenal. Apa kau itu yang bernama Airen?”


“Ahh.” Airen segera berdiri dan menundukkan kepalanya. “Senang bertemu dengan anda letnan. Saya Airen putra dari Jacky.”


“Tak perlu selalu itu. Kau bisa santai.”


“Aku akan menyiapkan minum untukmu. Kau bisa mengobrol dengan anakku dulu. Airen temani dia sebentar ya.”


“Iya.”


“Aku akan langsung bicara ke intinya.”


Airen pun panik. Ia tak tahu harus bagaimana.


“Apa benar kau lah yang menghabisi monster monster di hutan tempo hari.”


“I-iya. Apa ada sesuatu tentang itu.” Airen pun ragu untuk menjawab.


“Jika benar itu kau yang melakukannya aku berniat untuk memberimu sesuatu. Entah kau berbohong atau tidak aku tak tahu tapi aku percaya dengan bukti fisik yang ada.”


Yang dimaksudnya adalah luka yang dibawa Airen saat kembali dari hutan.


“Aku berniat memberi mu beasiswa untuk belajar di akademi sihir. Aku ingin kemampuanmu lebih di asah lagi, aku percaya kau memiliki bakat di dalam dirimu dan aku harus memicu bakat itu muncul, yaitu dengan memasukkan mu ke akademi, bagaimana apa kau tertarik?”


Airen berpikir. Ini adalah keuntungan yang sangat bagus karena dia harus bersiap melawan iblis 5 tahun lagi, tapi dia memikirkan keluarganya. Dia tak ingin kejadian yang sama akan terulang kembali.


“Tak usah terburu-buru untuk mengambil keputusan. Aku datang kesini hanya untuk menawarkan ini. Penawaran ini sangat jarang loh apalagi langsung dari seorang Letnan sepertiku .”


“Aku tahu ini penawaran emas tapi biarkan aku berpikir terlebih dahulu. Terimakasih atas tawarannya Letnan.”


“Iya, bukan masalah.”


Hari menjelang sore. Kegelapan akan menaklukan cahaya fajar. Sebelum kegelapan datang fajar akan senantiasa memberi cahaya indahnya sebelum ia takluk yaitu cahaya senja.


Dikamarnya, Airen sedang memikirkan tawaran tersebut. Dia tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Dia gelisah dalam pikirannya. Dan ia memutuskan untuk membicarakannya dengan kedua orang tuanya saat malam nanti.


Malam sudah larut. Sudah waktunya berganti shift dengan mahkluk nokturnal. Semua manusia yang sudah lelah dengan aktivitas sepanjang hari kini telah terlelap. Semua lentera dimatikan, dan juga ada beberapa rumah yang masih menyalakan lenteranya. Salah satunya kediaman keluarga Jacky.


“Ibu, ayah... Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian berdua.”


“Ini tentang tawaran beasiswa kan?” sang Ibu langsung bertanya untuk memastikan.


“Mmh Iyaa.”


“Ibu sebenarnya menyetujuimu untuk menerima beasiswa itu dan masuk ke akademi tapi ibu khawatir denganmu yang akan hidup sendirian disana. Ibu tidak dapat memastikan apa makanmu cukup atau tidak saat kau berada di sana.”


“Ayah yakin kau mampu untuk mandiri disana tapi ada keraguan dipikirkan ayah. Apa kau siap hidup sendiri di tengah-tengah kesannya kehidupan kota?”


“Aku siap! Aku ingin belajar lebih banyak hal lagi.”


Sang Ayah dan Ibu saling menatap mata sebentar dan dengan yakin membuat keputusan.


“Kau boleh menerima beasiswa itu Airen. Itu pencapaian mu kau berhak menerimanya. Tak perlu khawatirkan kami, kami akan baik-baik saja.”


Saat sang Ibu mengatakannya, ia menangis. Ia sudah tak kuat menahan rasa sedih akan rasanya kehilangan satu anggota keluarga untuk pergi dari rumah dan akan tak akan pulang untuk waktu yang lama.


“I-Ibuu.”


Airen pun segera menghampiri sang Ibu yang sedang menangis. Sang Ibu pun memeluk anak kedua nya itu dan menangis dalam pelukannya.


“Ibu... Ibu masih belum kuat untuk membiarkanmu pergi, tapi ibu tak mau menghalangimu. Padahal beberapa hari yang lalu kalian bilang tak akan meninggalkan ibu tapi kau sudah ingin meninggalkan ibu.”


“Ibu... Airen tak pernah bilang akan meninggalkan ibu. Airen hanya akan pergi dan pastinya akan pulang kemari lagi. Ibu percayalah, Airen tak akan meninggalkan ibu.”


“Iya. Iya ibu percaya...”


Setelah mendapatkan izin yang pasti. Airen pun cukup bahagia dan juga sedih, karena dia akan pergi untuk sementara dan tak akan kembali untuk beberapa saat.


Dibelakang layar. Harry dan Luis yang berada di satu kamar mereka mendengar percakapan Airen dan kedua orang tuanya.


“Dia akan meninggalkan kita loh.”


“Ya dia pantas untuk pergi. Tapi aku berharap dia tak akan kemana-kemana dan tetap disini bersama kita. Tapi takdir berkata lain, yang harus kita lakukan hanyalah mendukungnya.”


“Kau benar Luis. Sekarang giliran kita berdua yang melindungi keluarga ini sampai Airen kembali bahkan sampai dia tinggal disini lagi.”


“Benar. Kita juga perlu latihan untuk menjaga keluarga ini dari ancaman apapun.”