
Pada hari itu dimana Flits menghadapi seorang lawan yang tangguh.
“Kau akan berakhir disini Kapten Flits.”
“Itu pun jika kau lebih kuat dariku, sekarang majulah akan kuladeni kau.”
Flits berhasil mengalahkan orang itu namun sayang itu hanya kloning.
Flits kembali ke markas setelah melacak keberadaan bawahannya dan memberi sinyal berupa tulisan pada jalan yang ditempuh bawahannya.
Flits kembali dengan beberapa luka lebam dan dataran di beberapa bagian tubuhnya. Terkejut bawahan Flits saat melihat kaptennya terluka. Bagaimana tidak, Flits adalah salah satu kekuatan terbesar dalam negeri tersebut. Di umurnya yang terhitung masih muda, 20 tahun. Seumuran dengan Airen saat ini. Dia sudah mencapai tingkat panglima dalam usianya yang masih belia. Ayahnya yang seorang prajurit khusus dimana prajurit yang menerima titah langsung dari raja pun terkagum dengan bakat anaknya.
“Sialan saat aku ingin mengambil libur selalu saja ada yang mengganggu!” ucapnya dengan sangat kesal dan kemudian duduk di meja kantornya.
“Kapten apa yang terjadi padamu?! Sebentar aku akan memanggil dokter terlebih dulu!”
“Hei tak per-”
Flits ingin mencegah anak buahnya namun sayang ia terlambat. Dan ia hanya menghembuskan nafas dengan sedikit kasar.
“Kapten apa yang sebenarnya terjadi saat penangkapan berlangsung. Sebelumnya maafkan kami karena kelalaian kami yang tak mampu mengejar orang itu.”
“Tak apa, tak perlu dipikirkan. Orang itu, yang membawa benda tabu itu.adalah seorang anak kecil.”
“Anak kecil!?” para bawahannya kaget bukan main.
“Ya. Kali ini dia mengantarkannya kepada seseorang yang memiliki kloning dan dia mengetahui identitasku saat mencegahku untuk mengejar anak itu. ”
“Seharusnya tak ada yang mengetahui jati diri kita saat memakai seragam tempur tapi bagaimana bisa dia....”
“Aku pun bingung. Tapi mulai sekarang aku ingin kegiatan di seluruh penjuru ibukota entah itu perdagangan, distribusi dari daerah lain atau apapun itu. Kita harus melakukan penggeledahan dan pemantauan yang ketat. Menyangkut hari besar akan tiba. Aku akan memberi tahu jenderal tertinggi dan meminta izin padanya untuk memerintahkan hal yang sama untuk seluruh daerah negeri ini.”
“Baik Kapten!”
“Kapten! Aku kembali membawa dokter!”
“Hei Flits bodoh apa yang terjadi denganmu!?”
“Diamlah kau, Mea. Ini luka ringan saja.” dokter itu adalah Mea, kakak perempuan Flits dan juga Ujwar.
“Seringan apapun lukamu harus tetap kuobati. Dan juga aku kakakmu, setidaknya panggil aku kakak!”
“Sudah kubilang tak perlu! Kalian keluarlah ini bukan tontonan!”
Para bawahannya yang tanpa sadar asik melihat tingkah laku dari dua bersaudara tersebut pun sedikit terkekeh dan segera keluar setelah Flits mengomel.
Flits menyerah dan akhirnya membiarkan Mea mengobati lukanya.
“Hei jangan ditekan bodoh!”
“Kau yang bilang ini luka ringan seharusnya kau bisa tahan!”
“Seringan apapun luka sayatan kalau ditekan tetap saja sakit!”
“Berisik!” Mea pun geram dan dengan sengaja menekan luka Flits lebih keras.
“ARGHH SAKIIIT SIALAN!”
Mea lalu segera membereskan barang-barang medisnya dan ingin segera pergi, namun hal itu ditahan oleh Flits.
“Hei tunggu dulu.”
“Apa!?”
“Ka-kau akan mengambil libur hari ini bukan?”
“Iya. Aku akan mengambil libur selama seminggu penuh, Bagaimana denganmu?”
“Niatnya aku ingin mengambil libur juga tapi tampaknya tak mungkin bisa. Aku akan sibuk untuk beberapa hari kedepan. Tolong sampaikan pesanku ke ibu kak.”
“Baiklah kalau begitu aku permisi Kapten.”
“Hufftt!” Mea mendengus kesal dan meninggalkan kantor adiknya.
Di beberapa tempat dari seluruh daerah kumuh. Para perampok, Preman pasar, serta beberapa kumpulan bandit yang ada mulai merencanakan rencana mereka masing-masing.
Ada yang menandai beberapa toko yang memang selalu ramai dan toko perhiasan yang dijaga ketat.
Ada juga yang menandai dan mencari tahu beberapa jalur dalam negeri yang sering dilewati para distributor barang dan menyusun rencana untuk merampoknya.
Ada yang banding harga dengan beberapa toko dan memvote beberapa toko yang akan didatangi untuk dimintai uang "penjagaan".
Dan hal di atas pula berlaku pada kelompok yang sekarang berada dalam pengawasan Stavor.
“Dewa sedang berbaik hati pada kita saat ini! Kita harus memanfaatkannya dengan sangat baik, walau pak tua itu memberi kita uang yang cukup namun kita tak akan tahu seberapa cukup uang ini untuk para penduduk disini. Kita harus bersiap "bermain" di hari besar besok!”
Mantan pemimpin mereka memulai pembicaraan dengan memberi beberapa kata sebelum dibahasnya rencana akan esok hari.
“Aku akan membagi beberapa tim dan aku sudah berkoordinasi dengan beberapa ketua di beberapa daerah lainnya jauh sebelum hari ini akan datang. Pertama, kalian pakailah ini di lengan atas kalian.”
Sebuah kain merah berlambang sebuah koin yang tertancap pedang.
“Tunjukkan tanda ini jika kalian bertemu dengan salah satu dari mereka yang menggunakan itu.”
“Lalu kita semua akan-”
“Oii tunggu dulu! Kalian memulai sebuah rencana tanpa mengajakku, Bos kalian sendiri? Sungguh kalian keterlaluan sekali. ”
“Kau!”
“Mau apa kau teriak denganku?! Kau ingin menantang aku untuk bertarung ulang denganmu? Hah!!?” ucap Stavor dengan sedikit menaikkan nada bicaranya di akhir.
“Ugh... tidak.” jawabnya sedikit ragu dengan sedikit ingatan trauma yang ia miliki.
“Jadi kau memiliki rencana apa biarkan aku mendengar dan melihatnya. Hmm apa kalian memiliki peta negeri ini aku ingin melihat denahnya.”
“Tunggu aku akan mengambilnya.” salah satu suruhan pun segera mengambilnya.
“Ini dia. Aku mendapatkannya saat ada penjagaan di kawasan barat.”
“Kerja bagus.”
Dalam peta tersebut terdapat satu denah yang cukup besar dan terperinci, mungkin karena ini milik militer di negeri ini jadi cukup kompleks di dalamnya.
Sebuah lingkaran besar tak simetris terlihat sangat menonjol dari beberapa tanda yang lainnya, tanda lingkaran itu adalah menunjukkan tembok yang mengitari negeri ini.
Beberapa kastil di perlihatkan. Itu adalah rumah atau tempat tinggal para bangsawan yang masing-masing memimpin jalannya sebuah daerah.
Terdapat empat kastil di masing-masing daerah. Kastil Utara, Kastil Selatan, Kastil Barat, dan Kastil Timur. Dan dua kastil di daerah pusat kota. Satu lagi sedikit unik karena berbeda dari yang lain. Simbol kastil ini berwarna emas, dan hanya ada satu-satunya.
Stavor bertanya, kastil apa ini. Salah satu dari mereka menjawab, itu adalah kastil milik saudagar terkaya di negeri ini. Hampir semua barang jual yang ada di negeri ini dibeli dari dirinya lalu dijual kembali dengan harga yang sedikit mahal. Terkecuali makanan ia tampak tak tertarik dengan bisnis kuliner.
Seluruh denah yang dilihat telah dipahami oleh Stavor dan dia meminta mantan bos mereka yang sekarang jadi wakil bos bagi Stavor untuk melanjutkan perbincangan mengenai rencana untuk hari esok.
Coretan garis dimana-mana dalam peta. Beberapa jalur telah ditetapkan dan toko-toko yang sudah menjadi ingatan pun sudah ditandai dalam peta namun ada yang mengganggu Stavor. Bagaimana dengan para penegak hukum yang berada di negeri ini.
Stavor menyadari satu hal esok akan datang "hari besar", semuanya akan bekerja lebih ekstra untuk menjemput puncak dari hari besar.
Stavor sedikit berpikir lebih dalam dan meminta wakilnya itu untuk mengantarkan dirinya kepada bos besar lainnya.
“Apa kau gila?! Matahari sudah tenggelam. Tak mungkin untuk mengantarmu.”
“Kau pikir mereka adalah sesosok bayi menyusui yang harus tidur saat matahari benar-benar baru saja tenggelam? Tidak bukan, cepat antarkan aku atau salah satu dari kalian temani aku bertemu dengan yang lainnya.”
“Tak perlu! Biar aku saja, yang mengenal mereka hanyalah aku. Akan kupersiapkan obor dan sedikit bekal karena mungkin kita tak akan pulang malam ini.”
“Baiklah akan ku tunggu.”
Stavor menunggu beberapa saat. Setelah dia kembali, mereka segera berpamitan dan langsung pergi untuk menghemat waktu.