
“Hmm ini dimana?”
“Kakak sudah bangun?”
“Airen? Kita sedang berada dimana?”
Saat dalam perjalanan pulang setelah keluar dari dunia roh secara acak, sang kakakpun terbangun saat berada di daerah hutan selatan. Tempat dimana hanya pohon Akasia yang tumbuh.
“Hutan bagian selatan.”
“Biarkan aku berjalan sendiri, aku sudah baik-baik saja.” kemudian Airen melepas rangkulan terhadap kakaknya itu dan membiarkan ia berdiri sendiri.
“Apa kakak mengingat kejadian terakhir kali kakak ingat?”
“Entahlah. Sebentar, kakak hanya mengingat saat di gua, oh iya Airen!” sambil memegang erat tangan Airen. “Kau sungguh hebat dapat mengusir hewan buas tersebut. Kau memang adikku yang kuat.”
Dalam pikirannya, Airen menangkap dua kata yang diucapkan oleh Harry yaitu "Hewan buas". Apakah yang dimaksud hewan buas itu adalah hewan seperti serigala yang memiliki 3 mata di kepalanya yang Airen hadapi saat di gua atau apa.
“Sudahlah kak, lebih baik kita segera pulang ayah dan ibu sudah menunggu kepulangan kita.”
“Kau benar. Kalau begitu ayo pulang!”
Di gerbang desa. Penyambutan terakhir bagi mereka yang terlambat kembali. Ucap selamat kembali seraya dengan pelukan hangat untuk bersyukur atas kembalinya mereka. Disertai tangis bahagia dan rasa cemas akan kehilangan keluarga sangat terasa disana.
“Jacky! Jacky!”
“Ohhh sayangku...”
Mereka berdua terikat peluk masing-masing membiarkan mereka hanyut dalam rasa nyaman. Membiarkan air mata menangis tanpa perlu ditahan lagi.
“Syukurlah kau berhasil kembali... Jadi Harry sudah selamatkan?”
Seketika pertanyaan itu membuat suasan hening disana. Orang-orang yang mengikuti pencarian merasa tak enak hati dikarenakan dengan banyaknya orang yang ikut tapi tak ada satupun diantaranya yang melihat mereka.
“Harry masih belum ditemukan, sayang.”
“Tak mungkin! Kenapa, kenapa kalian tak bisa menemukan anakku! Hei prajurit kenapa-kenapa kalian tak bisa menemukan putraku!?”
Para prajurit pun hanya diam. Sang Letnan pun mendekatinya dan berupaya menenangkannya.
“Nyonya bersabarlah... Kami tak akan berhenti mencari sampai kami menemukannya.”
“Jika kalian tak akan berhenti mencari, lantas kenapa kalian kembali sebelum menemukan mereka.”
“Kami butuh istirahat nyonya, nyonya tolong mengertilah.”
“Kalian hanya perlu mencarinya di hutan kan! Apanya yang butuh istirahat! Kalian bisa beristirahat disana bukan lalu kembali mencarinya disana!”
Salah satu prajurit telah muak dengan cemoohan yang dilontarkan istri dari Jack ini.
“JIKA BEGITU KENAPA TIDAK KAU SAJA YANG MENCARINYA SENDIRI!!”
“Hei kawan tenanglah, dia hanya syok.”
“AKU TAK BISA TENANG!! DIA HANYA BISA TAHU BAHWA KAMI PULANG DAN MEMBAWA ANAKNYA, DIA TAK TAHU KESULITAN KAMI SAAT MENCARI ANAKNYA. DINGINNYA MALAM, SERANGAN DARI BERBAGAI MAKHLUK DAN TENAGA YANG DIBUTUHKAN UNTUK MENCARI ANAKNYA!!!”
“Hei kawan sudah cukup.”
“Kau harus bisa mengontrol dirimu lagi.”
Salah satu prajurit itu akhirnya ditenangkan secara paksa oleh rekannya dan ingin membawanya pergi tapi...
“Kalau begitu akan kucari sendiri!”
“Hei sayang apa maksudmu, kau harus tenang dan sabar, kita harus berpikir jernih dan tak boleh bertindak gegabah disaat yang seperti ini.”
“Sabar... Ya kau benar aku harus sabar... Kalau begitu bagaimana jika kau yang di posisiku, dan kau merasakan tak bisa berbuat apa-apa disini hanya bisa berharap kepada ORANG LAIN! KAU TAK MENGERTI RASANYA MENUNGGU LAMA DISINI SEMENTARA ORANG YANG KAU TUNGGU BELUM TENTU AKAN KEMBALI!!”
Jack memeluk istrinya tersebut. Dan berbicara berbisik kepadanya.
“Aku tak tahu... Aku tak merasakannya...”
“Jika kau tak tahu lantas...”
“Jika aku tak tahu maka kau harus memberi tahuku. Aku disini bersamamu, aku akan melindungi keluarga ini dengan nyawaku. Kau kecapekan, kau perlu istirahat.”
“Baiklah, maaf sayangku.”
“Aku juga minta maaf.”
Lalu Jack mengecup kening istrinya itu dan melepaskan pelukannya. Ia memegang pipinya dan jari-jarinya merayap menuju bola matanya yang ingdah. Menghapuskan seluruh air mata di pipinya.
“Jangan disini, aku malu...”
“Tak apa untuk hari ini saja...”
Suasan yang sebelumnya mencekam kini kembali hangat akibat tingkah laku mesra mereka di depan semua orang.
“Hei Jack aku sedikit bingung.”
“Hmm?”
“Airen dimana? Sedari tadi aku mencarinya tapi tak menemuinya, bahkan di rumah pun tak ada. Jadi kupikir dia ikut bersamamu.”
“Dia...”
“Dia kemana?”
“Dia-”
“SESEORANG TOLONG KAMI, SIAPAPUN TOLONG!!”
Suara teriakan minta tolong dari kejauhan membuyarkan suasana disana.
“SESEORANG SIAPAPUN!!! AKU AKAN MEMBAYAR BERAPAPUN TOLONG SELAMATKAN ADIKKU!!”
“Sa... Sayang... i-ituu, apa aku tak salah liat.”
“HARRY!! AIREN!!”
Tanpa pikir panjang sang ibu meneriakkan nama anaknya masing-masing. Setelah itu ia berlari menuju mereka.
“Para ahli medis bantu mereka ada yang terluka diantaranya!”
“Baik Letnan!”
“Harry!”
“Uwahahaa IBU!!”
“Ahh anakku tersayang...”
“Ibu tunggu dulu!”
Saat ingin memeluk Harry, untuk melepas semua kecemasannya selama ini tapi ia ditahan untuk melakukannya oleh anaknya tersebut.
“Ada apa?! Apa kau tak ingin ibu peluk? Ibu sangat mengkhawatirkanmu selama ini!”
Baru menyedarinya ia langsung terkejut dengan adanya Airen yang sedang di gendong oleh Harry.
“A... A... Ai... Airen... Airen!”
Harry kemudian segera membaringkan Airen di tanah.
“Apa kepala desa sedang tak sibuk ibu? Airen sedang tak sadarkan diri sekarang, dan banyak sekali luka di tubuhnya.”
“Tolong menjauh, sisanya biar kami yang merawatnya.” saat tim medis datang membawa tandu, mereka dengan sigap memindahkan Airen dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan luka lebih parah lagi.
“Tuan silahkan ikuti kami, tuan juga harus diperiksa terlebih dahulu.”
“Maaf, apa aku bisa menemani anak-anakku?”
“Tentu saja nyonya.”
“Terimakasih!”
Saat tim medis membawa Airen dengan tandu dan juga diikuti oleh Harry dan sang ibu, mereka sempat berhenti sebentar di depan Jack, Vlam dan sang Letnan. Airen pun sempat sadarkan diri.
“Airen! Harry!”
Sang ayah memegang tangan Airen dan juga memeluk Harry disebelahnya.
“Ayah... Ayah busurnya... Sangat membantu.” setelah mengatakan itu dengan senyum tipis di wajahnya, dapat membuat sang ayah menangis.
“Iya, kau benar...”
“Tuan kami harus segera mengobatinya.”
“Baiklah. Sayang aku titip anak-anak kepadamu.”
“Akan kurawat mereka dengan sekuat tenaga.”
Kemudian tim medis pun pergi melewati mereka.
“Syukurlah anak-anakmu selamat semuanya.”
“Yahh kau benar. Aku sangat berterima kasih kepada dewa atas hari ini mungkin besok aku akan pergi ke kota untuk berdoa.”
“Saya ucapkan selamat atas keselamatan anak-anak anda.”
“Ya terima kasih.”
“Untuk saat ini kita istirahat dulu. Siang nanti mari kita bicarakan langkah selanjutnya.”
“Baiklah.”
Mentari saat ini sedang ingin-inginnya memamerkan cahayanya yang amat sangat terang. Bahkan untuk menghadap lurus saja sudah tak kuat.
“Siang ini cukup terik bukan.”
“Iya kau benar.”
“Dari pada kita membuang waktu untuk basa-basi lebih baik kita langsung membahasnya.” ujar sang Letnan.
“Ahh dasar anak muda, mereka tak paham tata krama dalam pembicaraan orang tua.”
“Tolong serius terlebih dahulu. Omong-omong dimana Kepala desa?”
“Ahh dia... Dia menyerahkannya padaku, dia masih merawat para warga dan juga beberapa prajurit yang terluka sakemarin mengikuti pencarian.”
“Baiklah.”
Kemudian mereka membahas kembali kelanjutan dari kisah ini yaitu pembasmian terhadap monster yang mereka temui kemarin.
Mereka akan menelusuri hutan lagi tapi hanya para prajurit yang tersisa saja. Mereka tak ingin mengorbankan para warga sipil yang tak bersalah.
Menjelang sore, mereka segera bersiap-siap untuk menelusuri hutan itu lagi dengan lebih siap dikarenakan mereka sudah mengenal medan tempur dan lawan yang mereka hadapi.
Hujan pun turun menemani acara mereka. Semerbak bau hujan pun menyengat hidung para prajurit dan dicampuri oleh bau yang sangat tak enak dihirup hidung.
“Bau ini seperti bau bangkai.”
“Bangkai hewan, atau monster?”
“Mana kutahu bodoh.”
“Sudahlah kalian, kita lanjutkan perjalanan.”
“Letnan! Kemari dan lihatlah!”
Merasa terpanggil dengan cepat ia menghampiri salah satu prajurit yang memanggilnya.
“Ada apa?”
“Lihatlah.”
“Ini!”
Terkejut ia saat melihat apa yang ada di balik semak yang ditunjukkan oleh anak buahnya.
“Wah wah wah...”
“Bukannya hanya 2 ekor saja! Tapi mengapa jadi sebanyak ini?!”
“Jangan bilang ini semua Airen yang melakukannya?!”
Saking terkejutnya melihat banyak bangkai monster yang kemarin ia lawan dihutan, ia menyangkut pautkan luka yang dialami Airen dan Harry saat pulang adalah karena mereka melawan monster-monster ini.
Di rumah pak Kepala desa. Disatu ruangan dimana keluarga kecil yang penuh dengn cinta berkumpul. Ditengah 2 ranjang berada, seorang wanita menggenggam erat 2 orang yang sedang tak berdaya di tas ranjang tersebut.
“Ibu bersyukur kalian semua selamat dan berhasil pulang, walau dengan keadaan kalian yang terluka parah tapi ibu tetap bersyukur.”
“Tentu saja kami akan pulang, jika kami tak pulang-pulang mungkin ibu akan memarahi kami saat kami pulang nanti benar bukan, Airen, Harry.”
“Tentu saja, aku tak ingin tidur di luar...”
“Kau benar, saat kami dihukum tidur di luar karena terlambat pulang, kami sangat kedinginan.”
“Tapi kami akan lebih kedinginan jika kami tak bersama ibu ataupun ayah.” Timpal Airen.
“Hmm dasar kalian... Ibu juga merasakan dingin tahu saat kalian di luar. Tapi ibu akan lebih kedinginan jika kalian tak dalam pengawasan ibu. Ibu sangat khawatir jika kalian pergi tak ada kabar sama sekali.”
“Dan kini kami sudah berada di sisi ibu, jadi ibu tak perlu merasa kedinginan lagi... ” ucap Harry lalu memeluk ibunya dari belakang.
“Ya bagaimanapun kami akan tetap berada di sisi ibu.” ucap Luis yang kemudian lebih menggenggam erat tangan ibunya.
“Kami pasti akan selalu berada di sisimu.” Airen pun melakukan hal yang sama dengan Luis.
“Iya... Iya ibu percaya.”
Sang ibu pun menangis bahagia bersamaan dengan kehangatan yang mengelilinginya itu. Tak ada lagi rasa cemas untuk malam ini, hanya akan ada kehangatan yang tak akan tergantikan oleh apapun di dunia ini, yaitu hangat dari keluarga kita sendiri.