
“Apa Airen bisa ketemu kita lagi?” pertanyaan tiba-tiba dari Oliv mengejutkan Timmy dan Stavor.
“Entahlah, yang pasti dia tak akan kalah dari kroco-kroco itu hahaha....” jawab Stavor.
“Benar juga kita tak tahu seberapa luas negeri ini.”
“Benar'kan.”
“Tak apa nanti kita pikirkan caranya saat telah sampai disana.”
“HEI YANG DI DEPAN SANA! TOLONG KAMI!”
Sebuah teriakan yang berasal entah dari mana, sampai di telinga kelompok Airen. Mereka pun mencari-cari asal dari suara tersebut.
“Apa kau mendengarnya?” tanya Timmy.
“Ya aku juga dengar, suaranya dari belakang. Coba kita hentikan kawanan ini terlebih dulu. Hei Oliv....”
“Ya! Kalian para burung berhentilah!” saat Oliv mengatakan "Titah" nya kepada para burung, para burung pun tak merespon.
“Apa yang kau lakukan cepat berhentilah kawanan ini.”
“Diam kau Tua Janggut. Ini aneh kenapa mereka tak ingin mendengarku. Oh iya aku lupa, para burung ini punya pemimpin seharusnya aku menyuruh pemimpinnya berhenti maka yang lainnya juga berhenti, dan pemimpin para burung ini adalah burung yang dinaiki Stavor.”
“Andai saja kau tak pernah mengataiku mungkin aku akan lebih menurut....” Stavor menggerutu sendiri.
“Hei kau burung....” saat memulai pembicaraannya dengan telepati kepada burung yang dinaiki Stavor awalnya tak berjalan lancar.
“Hei burung....” dan untuk yang yang kedua kalinya pun sama.
“Apa mungkin... Yang Mulia Paduka para Burung.”
Seketika burung yang ditunggangi Stavor langsung melirik Oliver.
“Maaf mengganggu Yang Mulia, hamba ingin meminta hal kecil kepada yang paduka, tolong berhenti'kan kawanan ini sebentar saja-”
“Ditolak.”
“Dijawab? Ah maaf Yang Mulia tapi sepertinya ada yang meminta pertolongan di belakang kita di kita harus membantunya.”
“Kita sedang berada di Padang pasir yang luas dan kita tak akan tahu bahaya akan datang dari mana.”
“Yang Mulia tenang saja salah satu teman kami sedang menghadang para monster di gurun ini, namanya Airen. Dia orang yang kuat dan para monster disini bukanlah tandingannya.”
“Jangan menganggap remeh sesuatu wahai manusia walau temanmu itu sangat kuat seperti apa yang kau katakan tapi kita tak pernah tahu kapan kematian menjemput kita.”
“Berwibawa sekali anda, wahai Yang Mulia. Maaf atas kelancangan saya tapi saya memohon kepada paduka untuk berhenti sejenak saya akan menjamin keselamatan para kawanan.”
“Dengan kekuatanmu kau tak mungkin-”
“Tak mungkin apa hah?!”
Lalu Offhies pun datang melingkar di leher Oliver.
“Apakah itu kau Offhies? Penjaga Pohon Besar di Hutan Terlarang. Kalau begitu akan kuturuti perintahmu.”
Lalu para kawanan mulai melambat dan memberhentikan laju mereka.
“Terima kasih Ray!” Ray hanya membalasnya dengan melambaikan ekor nya lalu menghilang, dan Oliv memberi jempol kepada mereka berdua yang sedaritadi menunggu bahwa urusannya telah selesai.
“Sekarang aku mulai mencemaskan Airen.”
“Ada apa Oliv?”
“Ya aku hanya khawatir saja, semoga dia baik-baik saja.”
“Ternyata memang kita tak bisa jika tak mengkhawatirkannya.”
“Sudah kubilang jangan melakukan hal yang tak berguna.”
“DIAM KAU TUA PENDEK-JANGGUT” Oliv dan Timmy pun mengejek Stavor dengan ejekan yang berbeda lalu mereka tertawa.
Tinggalkan mereka sejenak yang sedang tertawa di atas penderitaan orang lain. Mari kita pindah tempat dimana 3 jenis monster dipertemukan oleh gurun yang luas ini.
“Entah mengapa mereka sangat mewaspadai ku.”
Lalu seketika sang ular menyerang tanpa aba-aba kepada salah satu kalajengking itu. Kalajengking yang lainnya segera menolong kalajengking yang diserang oleh ular itu. 5 ekor beracun menancap di tubuh ular dan membuat ular itu bergerak kesana-kemari dan hampir mengenai Airen.
“Pertarungan langsung tanpa aba-aba. Bersiaplah kalian! Sihir Tanah : Gundukan Tanah.”
Lalu daratan tempat para monster itu berdiri seketika meninggi dan melemparkan mereka di udara.
“Hahaha kena kalian.” Airen bersiap dengan busurnya. Mengarahkan anak panahnya kepada para monster tersebut. Lalu melesatkannya.
Tampak beberapa sinar meluncur dari busur Airen dan mengarah dengan cepat menuju para monster tersebut.
SYUUTT! DOOUMM!
“Hahaha bagaimana sialan?”
Para monster itu segera jatuh setelah menerima serangan yang kuat dari Airen. Satu dari tiga kalajengking itu tewas akibat racun yang menjalar di tubuhnya akibat gigitan sang ular.
“Satu tewas. Ular itu pun tampaknya sudah tak kuasa menahannya, sudah kuat ditambah menang jumlah dasar sialan.” dumel Airen.
Sang ular masih bangkit dan menatap sekitarnya. Ia mulai kehilangan kesadarannya.
Hembusan angin meluncur dengan cepat. Bagaikan sebuah belati yang sudah diasah dengan sempurna udara pun terbelah dan serangan itu berakhir mendarat di leher ular tersebut.
“Sisa dua lagi...? Dimana satunya.”
Saat Airen mengalihkan perhatiannya kepada ular yang sudah dikalahkan olehnya, salah satu dari kalajengking itu pun menghilang. Airen segera melihat sekelilingnya dan tampaklah salah satu dari kalajengking itu mengejar orang yang telah diselamatkan olehnya.
“Brengsek. Sihir-” saat ingin menyerang kalajengking yang kabur itu, Airen diserang oleh kalajengking satunya lagi.
Kalajengking yang ada di hadapan Airen saat ini mencoba mencegah Airen untuk mengejar temannya itu.
“Kau memang menyebalkan sialan. Kalau kau sepingin itu untuk mati maka aku yang akan menjadi malaikat mau bagimu.”
Airen kemudian menggantungkan busurnya di pundaknya. Mulai merapal sihir yang mungkin akan berskala besar.
“Sihir Tanah : Ngarai Kematian.”
Lalu tanah bergetar dengan sangat kencang. Retakan tanah terlihat dari jauh dan semakin mendekati Sang Monster Gurun tersebut.
Sadar akan bahaya dirinya segera bergerak mendekati Airen. Dia berpikir jika harus ada yang mati adalah musuhnya terlebih dulu, namun sayang retakan itu datang lebih cepat.
Kalajengking itu jatuh ke dalam inti sari bumi. Saat dirinya melayang dalam ajal yang pasti, Airen pun merapat sihirnya lagi.
“Ini belum selesai. Sihir Angin : Trisula Raja.”
Angin berkumpul menjadi suatu pusaran dan pusaran itu berubah wujud menjadi mirip seperti manusia yang menggunakan mahkota dan memegang senjata nya. Wujud manusia itu pun melihat ke arah kalajengking yang sedang jatuh tersebut. Dia mengangkat senjata nya lalu melemparnya dengan sangat kencang dan menancap tepat di tubuh kalajengking itu.
“Tinggal yang kabur.”
Airen segera mengambil busur nya dan menyiapkan sebuah serangan dari jarak yang cukup jauh.
“Sihir Penguatan : Penglihatan. Sial jaraknya sudah sejauh ini semoga saja mereka baik-baik saja. Kau tak akan bisa lepas dariku sialan. Sihir Angin : Bulan Sabit Merah.”
Namun saat dirinya ingin menembak sesuatu hal tak terduga menimpanya, sang ular bangkit dan melahap Airen di tempat.
Kita kembali lagi ke tempat kawanan itu berada.
“Terima kasih wahai kalian para pengembara. Maaf telah merepotkan.” ujarnya setelah meminum segelas besar air. “Sebaiknya kita memasuki tembok dan akan kupertemukan dengan tuanku sang pemilik burung ini.”
“Baiklah, mohon pimpin jalannya-”
Booom!
Ledakan besar di atas langit di belakang para kawanan terdengar di telinga semua orang yang berada di sana.
“Airen....” Timmy pun segera melihat arah ledakan tersebut dan juga yang lainnya.
“Aku turut bersedih atas teman kalian wahai para pengembara aku akan meminta imbalan lebih untuk kalian.”
“Hah?! Kalian bercanda, kalian menyamakan sebuah nyawa dengan sekantong emas sialan?! Dan juga Airen tak mungkin mati!” ucap Oliv dalam hatinya.
“Terima kasih atas pengertiannya. Tolong bantuannya.”
“Hei-hei kita mendapatkan teman baru di depan sana loh.” Stavor dengan santai menunjuk seekor monster kalajengking yang datang mengejar mereka.
“Kita harus segera pergi sebelum "dia" memakan habis kita semua.” pemimpin para burung pun memperingati Oliv.
“Tenang saja semua yang ada disini tak akan mati kecuali monster itu kau hanya perlu menunggu-”
“3”
“2”
Stavor pun dengan anehnya menghitung mundur sedangkan orang yang baru sampai meminta pertolongan tampak gelisah.
“Sebaiknya kita segera pergi! Para monster di gurun ini sangat kuat bahkan perlu ratusan tentara kerajaan untuk membunuh satu kalajengking saja.”
“Hei, hei, jangan kau mengganggu hitung mundurku sialan. 1!”
SYUUU!! DUAARR!!
Sebuah serangan dari jauh datang menghantam kalajengking tersebut dan membuat debu beterbangan.
“Serangan?!”
Saat debu menghilang tampak lah tubuh kalajengking itu yang sudah terpencar kemana-mana.
“Wahahaha! Kau sungguh hebat tuan, kau mampu mengalahkan monster gurun ini dengan sekali serang dengan sihirmu!”
“Hohoho! Tentu saja karena akulah yang terkuat.”
“Padahal itu serangan Airen.” pikir Oliv dan Timmy.
Ya seperti yang dipikirkan oleh Oliv dan Timmy itu adalah serangan Airen yang sangat kuat. Tapi bagaimana bisa? Kita sendiri tahu bahwa terakhir kali Airen dilahap oleh sang ular secara tiba-tiba.
Kalian tak perlu bingung karena kalian akan mendapatkannya jawabannya.
Di tempat yang cukup jauh dari para kawanan burung berada. Tampak seseorang berdiri berlumuran darah memegang busurnya sambil berjalan berlumuran darah.
Dan di belakangnya terdapat ular besar yang hancur kepalanya tergeletak di sebelah retakan besar.
“Sialan bajuku jadi kotor semuanya! Ular sialan!”
Airen tak mati atau tergigit oleh sang ular melainkan saat ular itu menutup mulutnya sebuah serangan meluncur dari busur Airen dan menghancurkan kepala itu seluruhnya dan mengakibatkan dirinya tewas di tempat.