
Keesokan harinya, Menma bangun dari ranjangnya karena hari sudah mulai pagi. Lalu, dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan setelah itu, dia membuat sarapan di ruang dapur. Setelah menyantap sarapannya, Menma pergi ke teras di samping rumah lantai dua untuk melihat pemandangan desa Moonlight Plains sambil memikirkan tentang pendaftarannya ke akademi ninja dan alasan kenapa dia harus menjadi seorang ninja.
" Dulu, ibu pernah bilang kalau aku akan masuk ke akademi ninja. Sebenarnya apa alasannya aku harus masuk ke sana dan untuk apa menjadi seorang ninja? " gumam Menma sambil melihat keramaian di desa Moonlight Plains.
Tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu di depan rumah dan Menma langsung berjalan ke sana untuk membuka kunci pintu depannya.
" Siapa itu? Ya, Tunggu sebentar! "
Setelah dibuka, ternyata itu adalah Lindis yang ingin berkunjung sekaligus menengok keadaan Menma di dalam rumah. Menma sempat sedikit terkejut karena pada akhirnya, Lindis yang dianggap oleh Menma sebagai ibunya mau berkunjung ke rumahnya setelah sekian lama Menma hidup mandiri.
" Ah... Ibu?! "
" Selamat pagi, Menma. "
" Selamat pagi juga, ibu. "
" bagaimana keadaanmu? Apa semuanya baik-baik saja? "
" Ya. Semuanya baik-baik saja, ibu. "
" Ohh.. Syukurlah. Apa aku boleh masuk ke dalam?"
" Tentu saja, ibu boleh masuk. " " balas Menma sambil mempersilahkan Lindis masuk ke dalam rumah.
" Tumben, ibu mau datang kemari. Apa ada yang ibu inginkan dariku di sini atau ibu ingin tinggal bersamaku lagi di rumah ini?"
"Oh, tidak ada. Hanya saja, ibu hanya ingin tau dan memastikan kalau kau di sini baik-baik saja. "
" Begitu ya. Aku pikir ibu mau tinggal lagi disini seperti dulu. "
" *Sedikit tersenyum* Maaf ya. Untuk sekarang, ibu masih belum bisa untuk tinggal lagi bersamamu di sini. "
" Kenapa? "
" Karena ada banyak keperluan yang harus ibu kerjakan di luar sana. Jadi, untuk sementara kamu tetap tinggal sendiri dulu di rumah ini. "
Menma merasa kecewa karena Lindis belum bisa tinggal kembali dengannya akibat oleh banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan oleh Lindis sendiri di tempat yang lain. Kemudian, Lindis melihat sekeliling ruangan didalam rumah lalu dia mengajak Menma untuk duduk di ruang makan sambil menanyakan sesuatu tentang keadaan yang Menma alami setelah ditinggal olehnya untuk hidup mandiri.
" Bagaimana hari-harimu setelah kamu mulai hidup sendiri di sini? "
" Ya, begitulah. Banyak sekali yang terjadi selama aku tinggal di desa ini. Aku pikir semua orang-orang mau menerimaku sebagai orang baru tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka memandangku sebagai pengganggu atau pun sebagai pengacau. Padahal aku cuma ingin berinteraksi dan bermain dengan anak-anak lainnya. Tapi, mereka malah mengejekku dan meninggalkan aku sendiri. Sampai suatu ketika, aku mulai menemukan dua teman baru yang ingin mengajak bermain denganku. Saat itulah, aku mulai merasasenang karena ada yang mau menerimaku sebagai temannya, ibu. " jelas Menma.
" Begitu ya. Tapi, syukurlah kamu memiliki dua orang teman. Dengan begitu, kamu takkan kesepian lagi, Menma. " balas Lindis.
" Ya, ibu benar. Tapi, rasanya aku masih kesepian sampai sekarang. Aku tidak yakin bakal ada orang lain lagi yang ingin menerimaku apa adanya. "
" Kamu tidak perlu bersedih sampai seperti itu. Memang, ini berat bagimu untuk menghadapi semua hal yang telah kamu lalui sendiri. Tapi, kamu tidak boleh putus asa dan teruslah berusaha sambil berharap ada yang ingin memperhatikanmu sebagai orang biasa. "
" Tapi bagaimana caranya, ibu? Aku sudah melakukan berbagai macam cara agar mendapat perhatian dari semua orang. Tapi, mereka terlihat seolah tidak peduli dengan apa yang aku lakukan dan malah terus menghinaku bahkan menyebutku sebagai anak kutukan. Padahal, aku tidak tau kutukan apa yang mereka maksud itu kepadaku. " jelas Menma dengan raut mukanya yang penuh kesedihan.
' Kasihan juga, anak ini. Mungkin ini akibatnya jika aku mulai membiarkan dia hidup mandiri dan orang-orang masih menganggapnya sebagai pertanda petaka sehingga membuat mental anak ini menjadi sangat lemah. Tapi, aku tau dia bisa mengatasi semua itu dengan usaha dan kemampuannya sendiri. Aku percaya itu. ' " Emm... Menma, mungkin kamu tak seharusnya menyalahkan dirimu sendiri hanya karena orang lain tidak mau memperhatikanmu sebagai orang biasa. Tapi, kamu tetap harus berusaha dan percaya dengan sepenuh hati pada dirimu sendiri kalau kamu adalah anak yang baik dan juga merupakan penduduk desa Moonlight Plains. Jadi, kamu tidak boleh putus asa dalam menjalani kehidupanmu sekarang, Menma. " ucap Lindis yang berusaha untuk menghibur sekaligus menyemangati Menma.
" Hmm... Baiklah. Aku mengerti, ibu. "
" Baguslah kalau kamu sudah mengerti. Oh ya, ini ada uang yang akan kamu pakai untuk memenuhi kebutuhanmu meskipun tidak banyak tapi setidaknya ini cukup untuk dirimu sendiri selama beberapa hari ke depan. Lalu, ini juga ditambah untuk biaya pendaftaran masuk ke akademi ninja yang akan kamu ikuti besok. " jawab Lindis sambil tersenyum kepada Menma.
" Hah?! Apa benar aku akan masuk ke akademi ninja, ibu? " tanya Menma dengan nada sedikit terkejut.
" Ya, itu memang benar, Menma. Bukankah, ibu pernah bilang saat kita sempat mampir ke akademi ninja sebelumnya, ibu memang ingin memasukkanmu ke sana. "
" Tapi, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan kepadamu, ibu. "
" Apakah itu, Menma? "
" Kenapa ibu ingin aku untuk masuk ke akademi ninja itu? Selain itu, apakah setiap orang harus menjadi seorang ninja sepanjang hidupnya dan kenapa aku harus menjadi seorang ninja? " tanya Menma.
" Begitu ya. Lalu, apakah seorang ninja itu harus kuat untuk menghadapi segala yang dihadapinya? " tanya Menma lagi.
" Ninja itu tidak harus terlahir dengan kuat. Tetapi juga, mereka yang mau meningkatkan dan mengasah kemampuan fisik dan mental mereka untuk menghadapi berbagai ancaman yang muncul serta memiliki semangat dan tekad yang kuat untuk melindungi teman maupun desa, dialah yang bisa menjadi seorang ninja. Karena itulah, kamu akan mengetahui semua itu di akademi ninja nanti. "jawab Lindis.
" Jadi begitu... Tapi, bagaimana ibu bisa tau banyak hal tentang ninja sedangkan ibu sendiri bukan seorang ninja. "
" Ohh. Kalau soal itu, ibu memang punya seorang teman dekat yang merupakan seorang ninja. Dia juga pernah mengajarkanku tentang bagaimana seseorang bisa menjadi seorang ninja dan keputusan yang akan mereka pilih selama menjadi seorang ninja dalam hidupnya. Ibu tidak tau banyak tentang kemampuan-kemampuan yang dimiliki para ninja. Tapi, yang aku tau dari para ninja adalah mereka yang senantiasa untuk berjuang dan berkorban untuk melindungi orang-orang dari berbagai macam bahaya yang mengintai serta mereka juga tidak akan menyerah sampai mereka menuntaskan perjuangannya. Karena itulah, mereka sangat dikagumi dan disegani oleh banyak orang baik dari kaum elf maupun kaum lainnya di dalam negeri ini. "jawab Lindis.
" Wow! Sepertinya aku mulai mengerti apa yang semua ibu katakan padaku. Jadi, itu alasannya kenapa aku harus menjadi seorang ninja dan masuk ke akademi ninja nanti. " balas Menma.
" Syukurlah. Akhirnya, kamu mengerti juga. "sahut Lindis.
" Tapi, masih ada yang belum aku mengerti, ibu."
" Lalu, apa yang membuatmu belum mengerti, Menma? Coba kamu tanyakan saja kepada ibu. "
Menma langsung berdiri dari kursinya danbergerak ke arah jendela untuk melihat pemandangan di desa. Kemudian, dia bertanya kepada Lindis.
" Kenapa semua orang yang aku temui di desa ini, rambutnya berwarna-warni cerah, ibu. Sedangkan aku sendiri, hanya satu-satunya elf yang rambutnya berwarna hitam. Apakah elf yang memiliki warna rambut hitam itu adalah pembawa malapetaka untuk orang lain? "
Lindis sempat terdiam sejenak lalu dia berdiri dan berjalan ke samping Menma sambil memegang pundaknya.
" Terkadang, apa yang tidak dimiliki oleh orang lain, itu merupakan suatu keistimewaan bagi dirimu sendiri yang mungkin belum kamu sadari. "
" Keistimewaan? Keistimewaan apa yang ibukatakan lalu kenapa ada orang yang menyebutku sebagai anak kutukan? Apa maksud dari semua itu, ibu? "
" Kamu memiliki sesuatu yang sangat berharga pada dirimu yang bahkan tidak dimiliki oleh orang lain. Masalah tentang rambutmu berwarna hitam yang orang lain katakan kalau itu adalah sebuah kutukan untukmu atau semacamnya, itu hanyalah masalah untuk diri mereka sendiri. Tapi, yang harus kamu ketahui adalah kamu memiliki kekuatan dan potensi yang tersembunyi yang akan menentukan nasib desa Moonlight Plains pada suatu hari nanti. "
" Lalu, kekuatan dan potensi apa yang aku miliki, ibu? "
" Itu semua akan kamu ketahui pada saatnya tiba. Itulah sebabnya, kenapa ibu ingin kamu masuk ke akademi ninja karena disanalah, kamu akan mempelajari dan menggali semua kekuatan dan potensi yang kamu miliki agar kau bisa bertahan hidup dan menjadi seorang ninja serta selama kamu menjadi seorang ninja, kamu akan mempergunakan semua itu untuk melindungi semua orang di dekatmu maupun untuk melindungi desa ini. Ini hanyalah arahan dari ibu agar kau bisa menentukan nasibmu di masa depan. Sekarang, apakah semuanya sudah jelas untukmu? "
Setelah sempat berpikir sesaat, akhirnya Menma mulai mengerti tentang semua yang telah dijelaskan oleh Lindis.
" Aku mengerti, ibu. Jadi, itu semua adalah alasan kenapa aku harus menjadi ninja. *Sambil menghela nafas sejenak* Baiklah. Sudah kuputuskan, aku akan menjadi seorang ninja yang akan melindungi semua teman-temanku dan juga orang-orang di desa ini. Aku berjanji bahwa aku akan menjadi seorang ninja yang kuat, dikagumi dan disegani oleh semua orang di desa. Karena itulah pilihan yang akan aku tetapkan dalam diriku." Jawab Menma dengan sedikit nada bersemangat.
Akhirnya, Lindis kembali tersenyum sambil mengusap rambutnya Menma.
" Baguslah kalau kamu sudah menetapkan pilihanmu sebagai seorang ninja dalam hidupmu dan mudah-mudahan saja, semua yang ibu katakan padamu akan kamu terus ingat di dalam ingatanmu. "
" Tenang saja, ibu. Aku akan terus mengingat apa yang telah ibu katakan sebelumnya sepanjang hidupku, selama aku belajar di akademi dan menjadi seorang ninja yang hebat.
" Baiklah kalau begitu, sepertinya tidak ada apa-apa lagi yang harus ibu lakukan di sini. Ibu akan pergi sekarang. "
" Hah!? Ibu mau pergi ke mana sekarang? "
" Ibu akan kembali ke tempat di mana Ibu melanjutkan pekerjaanku. Jika kamu ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan atau semacamnya, kau bisa sampaikan saja kepada ibu di kuil, di Elbourne Woods. "
" Di Elbourne Woods? Itukan jauh sekali dari desa ini, ibu. "
" Iya, ibu tau. Maksudku, kamu bisa mengirim surat ditempat pengiriman surat. Nanti pesan yang ingin kamu sampaikan akan dikirim kelokasi tujuan. Ibu akan menunggu setiap ada pesan yang ingin kamu sampaikan kepadaku. "
" Baiklah, aku mengerti. " balas Menma dengan cengiran di wajahnya.
Kemudian Lindis pergi ke depan rumah danmengucapkan pamit kepada Menma.
" Ibu pergi dulu, ya. Suatu hari nanti, ibu akan mengunjungimu lagi di sini. Jadi, sampai jumpa lagi, Menma."
" Ya, sampai jumpa lagi juga, ibu. "
Akhirnya Lindis pergi meninggalkan rumahnya Menma dan berangkat menuju ke tempat dia bekerja yaitu di sebuah kuil di kawasan Elbourne Woods yang sampai saat ini masih dalam tahap pemulihan secara massal setelah terjadinya insiden amukan King Ghidorah beberapa puluh tahun yang lalu.
" Baiklah. Sudah kuputuskan bahwa aku akan mengikuti akademi ninja dengan penuh keyakinanku sendiri dan akan menjadi seorang ninja yang hebat sekaligus dikagumi dan disegani oleh masyarakat desa maupun negeriku ini. " gumam Menma yang sudah menetapkan pilihan untuk jalan hidupnya menjadi seperti apa di masa yang akan datang.