AFATA Tales Of Shinobi Elves

AFATA Tales Of Shinobi Elves
CHAPTER 4 " MAKING A FRIENDSHIP "



Kemudian, pada suatu hari yang cerah, Menma sedang berjalan-jalan menyusuri sebuah kawasan hutan di dekat desa Moonlight Plains. Di sana, dia tidak sengaja bertemu dengan dua anak elf yang sedang ingin bermain berburu sambil membicarakan sesuatu.


" Hei, Tora! Apakah kamu dengar tentang anak elf yang suka membuat keributan dan masalah dengan orang lain di sekitarnya? "


" Tidak. Belum pernah dengar tentang anak itu. Memangnya, kenapa dia sampai melakukan hal itu? "


" Aku juga tidak tau. Tapi, Aku dengar kalau dia itu anak baru di desa kita dan mungkin dia masih belum bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. "


" Benarkah?! Kalau begitu, seperti apa anak baru itu? "


" Kalau tidak salah ingat saat aku pertama kali melihatnya, dia satu-satunya elf di desa Moonlight Plains yang rambutnya berwarna hitam gelap dengan tampang yang agak aneh menurut orang-orang. "


" Rambutnya berwarna hitam?! Baru kali ini, aku mendengar kalau ada elf yang rambutnya berwarna hitam. "


" Iya, aku juga berpikir begitu. Tetapi, dia sering dijauhi oleh orang-orang maupun anak-anak di sekelilingnya tanpa ada alasan yang jelas. "


" Kenapa dia sampai diperlakukan seperti itu? Memangnya dia salah apa? "


" Aku juga tidak tau tentang itu. Tetapi, aku dengar dari orang-orang yang mengatakan kalau ada elf yang rambutnya berwarna hitam, mereka percaya bahwa dia adalah pembawa keburukan dan petaka bagi orang lain. Itu sebabnya, setiap kali anak itu berinteraksi secara langsung dengan mereka, maka mereka tidak sungkan-sungkan untuk mengolok ataupun mengusir dia dari hadapannya karena takut dengan hal buruk yang akan terjadi menimpa mereka."


" Wow! itu kejam sekali. Tapi, mengerikan juga kedengarannya. "   


" Iya, aku juga sependapat dengan kau. Tapi, itu sih menurut orang-orang. Kalau menurutku, dia cukup unik dengan penampilan itu. Aku jadi penasaran ingin bertemu dengan dia secara langsung jika ada kesempatan. " 


" Kau yakin ingin menemui dia, Nia? Apakah kamu tidak takut kalau dia sampai melakukan sesuatu yang tidak-tidak kepada kau ataupun orang lain, begitu? "


" Untuk apa aku harus takut dengan dia. Bagiku, dia sama saja dengan kita bukan dan mungkin saja, dia bukanlah anak yang seperti yang dibicarakan oleh orang lain itu. " 


" Emm... Iya, kau benar juga. Kalau pun bertemu dengan anak itu, kita bisa saja jadikan dia sebagai teman dan aku sebenarnya juga tidak yakin kalau anak itu adalah pembawa keburukan malahan aku ingin tau lebih jauh tentang dia hanya karena dia memilik warna rambut yang berbeda. Tapi, kalau yang dikatakan oleh penduduk desa tentang dia memang benar, lebih baik kita tetap waspada. Ya, hanya untuk berjaga-jaga. Hehe. "


" Iya, aku setuju dengan kau. Ayo Tora, kita akan bermain berburu kelinci hutan di pedalaman hutan, yuk! "


" Iya.  Ayo, kita ke pergi sana! "


Kedua anak elf itu langsung berjalan menuju ke pedalaman untuk bermain berburu kelinci hutan di sana dan pada saat itu juga, Menma menguntit mereka dari belakang. Saat Nia dan Tora ingin berburu kelinci dengan menembakkan anak panah mereka, tiba-tiba mereka mendengar suara patahan ranting dari belakang.


" Kreeek " (Suara patahan ranting)


" Uh oh " kejut Menma setelah tidak sengaja mematahkan ranting yang diinjaknya.


Menma langsung bersembunyi di balik semak berlukar agar tidak ketahuan oleh Nia dan Tora.


" Suara apa itu? " respon Tora sambil melihat kearah sumber suara dan begitu juga dengan Nia yang juga terkejut mendengarnya. 


Tetapi di sisi lain akibat dari suara patahan ranting itu, kelinci hutannya yang menjadi objek buruannya langsung melarikan diri dari mereka. Melihat kelinci buruannya lari dengan cepat meninggalkan dua anak elf itu, Nia dan Tora langsung mengejarnya.


" Sial, kelincinya kabur gara-gara suara tadi. "kesal Tora sambil berlari mengejar kelinci hutan yang kabur. 


" Ya, aku tau. Tapi, kita tidak boleh membiarkan kelincinya melarikan diri dari kita. Kita harus mengejarnya. " tegas Nia.


" Aku mengerti. Ayo kita kejar! " seru Tora. 


Sementara itu, 


" Uhhh... Tadi hampir saja. Omong-omong, mereka sedang berlari mengejar apa? Sepertinya aku harus mengikutinya biar tidak penasaran." gumam Menma sambil mengikuti Nia dan Tora yang sedang berlari mengejar sesuatu. 


 Nia dan Tora masih berusaha mengejar kelinci itu dengan segenap kemampuan larinya sambil menembakkan anak panah ke arah kelinci itu. Di saat itu juga Menma masih bergerak mengikuti mereka dari belakang sambil mencari tahu apa yang sedang mereka kejar. Tak lama kemudian, saat mau menangkap kelinci itu, tiba-tiba Nia terkena jebakan yang membuatnya kakinya tertarik dan tergantung di cabang pohon. Tora yang saat itu berada tak jauh dari lokasi Nia yang tergantung, langsung berhenti dan menghampiri Nia untuk menolongnya.


" Ahhh... Aku terjerat! Tolong! Tora, tolong aku!!! "


" Nia!!! Kau tidak apa-apa? Bertahanlah, aku akan melepaskanmu dari jeratan itu. "


 " Tidak, Tora. Aku baik-baik saja. Hanya saja, aku tidak menyadari kalau ada perangkap yang tidak sengaja aku injak. "


" Tidak apa-apa. Itu bukan salahmu. Ini hanya kebetulan saja ada perangkap yang tak terlihat di sini. "


Lalu, Tora mencoba untuk memanjat ke atas pohon untuk melepaskan ikatan tali yang menjerat kaki Nia. Namun, dia tidak dapat memanjat pohon itu sampai ke atas sana. Alhasil, dia masih belum bisa membebaskan Nia dari jeratan jebakannya.


" Sial. Aku terlalu berat untuk memanjat pohon ini. Tapi aku harus melepaskan Nia dari jebakan itu. Tapi Bagaimana caranya? " bingung Tora sambil memikirkan sesuatu.


  Di sisi lain,


" Apa yang sedang terjadi di sana? Sepertinya ada sesuatu. Aku harus ke sana untuk melihatnya. " gumam Menma sambil mencari tau yang sedang terjadi di sana dengan penasaran.  


Nia masih bergelantungan di atas pohon sampai suatu ketika di mana Menma muncul dan melihat Nia dan Tora sedang mengalami kesusahan. Dia melihat Nia yang sedang tergelantung di cabang pohon yang cukup tinggi dan Tora sedang tak berdaya di bawah karena dia bingung bagaimana cara dia untuk bisa memanjat pohon ke atas dan melepaskan Nia dari jeratannya. Akhirnya, Menma memutuskan untuk menolong mereka berdua.


" Hey kalian! Apakah kalian berdua baik-baik saja di sana? " 


" Ya, kami baik-baik saja. Hanya saja aku tersangkut ke atas pohon ini. "


" Ya. Aku melihatnya dari sini dan sepertinya, kalian sedang membutuhkan pertolongan. "


" Jika kau tidak keberatan, bisakah kau bebaskan aku dari jeratan ini? Aku mohon! "


" Tentu. Tidak masalah, aku akan membantumu. "


Akan tetapi,


" Siapa dia? Jangan-jangan dia... " kaget Tora sambil melihat ke arah Menma.


" Tenanglah, aku bukan orang jahat. Aku hanya kebetulan melihat kalian sedang kesusahan seperti ini. " respon Menma kepada Tora.


" Maaf ya telah merepotkanmu. "


" Tidak apa-apa kok. Aku melakukan ini dengan senang hati. " 


Lalu, Menma langsung memanjat pohon dengan mudahnya dan dia mengeluarkan pisau kecil dari kantungnya untuk memotong tali jeratan yang mengikat kaki Nia.


" Hampir selesai, kau akan segera bebas! "


" Benarkah? " 


" Ya. Sebentar lagi. "


" Nia, aku akan menangkapmu dari bawah jadi kau bersiaplah! " 


" Baik, aku mengerti, Tora. " 


Akhirnya tali jeratannya berhasil terpotong dan Nia langsung terjatuh ke bawah. Untungnya, Tora sudah bersiap untuk menangkap Nia dari bawah saat dia mau jatuh dan dia berhasil. Nia mendarat di tanah dengan selamat berkat adanya Tora yang rela menjadi bantalan pendaratan Nia setelah dia terjatuh dari atas pohon. Lalu, Menma langsung turun dari pohon dan memeriksa kondisi dari mereka berdua.


" Kalian tidak apa-apa kan? " 


" Ya, kami baik-baik saja. Aww *kesakitan*. Oh ya, terima kasih ya karena telah menyelamatkan temanku. " 


" Iya, sama-sama. "


" Tora, kau tidak apa-apa kan? Maaf kau jadi ikut terjatuh dan kesakitan karena menangkapku. " 


" Tenang, aku baik-baik saja. Yang penting, kamu aman saat kamu terjatuh dari atas pohon sana. "


Kemudian, pandangan Nia dan Tora mulai tertuju ke arah Menma. Mereka mulai menanyakan tentang sesuatu kepadanya.


" Hey! Bukankah kau adalah anak baru yang tinggal di desa Moonlight Plains? " tanya Nia kepada Menma.


" Ya, itu benar. " jawab Menma. 


" Apa benar itu anak yang sempat kau ceritakan pada waktu itu? " bisik Tora ke telinga Nia.


" Ya. Tidak salah lagi. Itu dia persis seperti yang aku ceritakan kepadamu sebelumnya. " balas Nia melalui bisikan ke telinga Tora. 


" Ohh.... "


Karena melihat tingkah aneh pada Nia dan Tora, Menma langsung bertanya kepada mereka dengan penasaran.


" Ehh... Ada apa dengan kalian? "  


" Oh! Tidak apa-apa. Hanya saja, baru kali ini kami berdua akhirnya bertemu dengan kau di sini secara kebetulan. Hehe. " ucap Nia.


" Iya. Selain itu, kami juga pernah dengar kalau ada anak baru telah menjadi penduduk baru di desa Moonlight Plains. Jadi, itu sebabnya kami ingin cari tau seperti apa anak baru itu. " sambung Tora.


" Oh begitu ya, hehe. Ya kebetulan juga, sebenarnya aku sedang mencari teman yang bisa aku ingin ajak bicara. " balas Menma.


" Kalau begitu, maukah kalau kami berdua ingin menjadi temanmu? " tanya Nia


" Hah?! Menjadi temanku? Apakah kalian benar-benar serius ingin berteman denganku? " kejut Menma.


" Tentu saja. Kami tak keberatan kalau kita bertiga akan menjadi berteman. Memangnya, ada apa? " tanya Tora.


" Tidak apa-apa. Hanya saja, setiap kali aku menyapa orang-orang maupun anak-anak di desa, aku sering dijauhi oleh mereka hanya karena rambutku berwarna hitam. Selain itu mereka juga sering membicarakan sesuatu tentang aku kalau aku hanyalah pembawa sial untuk mereka. "


" Tidak. Itu semua tidak benar. Kau tidak mungkin adalah seorang pembawa sial. Justru sebaliknya, kau adalah anak yang sangat unik bagi kami. Itu sebabnya kami ingin tau lebih jauh tentang kau. Iya kan Tora? "


" Eeh...*bingung* Iya. Ditambah lagi dengan warna rambutmu yang berbeda sendiri daripada yang lainnya membuat kau terlihat sangat menarik. " 


" Hah!?? Benarkah begitu? " kejut Menma. 


" Ya, tentu saja. Jadi, kau tidak perlu menutupi dirimu sendiri hanya karena penampilanmu itu. Hehe. " sambung Nia.


" Oh... baiklah kalau begitu. Sepertinya, Aku tidak keberatan kalau kita berteman. Jadi, bagaimana menurut kalian? " tanya Menma.


" Tentu saja, kita berteman. Oh ya, kalau aku boleh tau, siapa namamu? " 


" Namaku Menma. Salam kenal dengan kalian. "


" Menma?! Nama yang bagus. Perkenalkan, namaku Tora. "


" Dan namaku Nia. Salam kenal juga, Menma. " 


Akhirnya Menma menjalin hubungan pertemanan pertamanya dengan Nia dan Tora.