
Dua hari kemudian di mana Menma telah melewati masa diskorsnya. Matahari kembali terbit di ufuk timur dan waktu sudah mulai pagi. Kali ini, Menma sudah merapikan dirinya dan bersiap untuk berangkat ke akademi untuk menerima pembelajaran pertamanya walaupun dia terlambat dua hari dari teman-teman seangkatannya. Dia tidak akan terlambat dan melakukan perbuatan yang sama seperti sebelumnya yang pernah dia lakukan pada hari upacara pembukaan. Menma meninggalkan rumahnya lalu berjalan menyusuri jalanan utama di desa dan pada akhirnya, sampailah dia di akademi ninja tepat waktu sebelum pembelajarannya dimulai. Sesampainya di sana, Menma langsung menuju ke ruang kelasnya yang di mana dia akan satu kelas dengan beberapa anak elf maupun half elf di sana.
" Apa benar ini kelasku? Kalau benar, apakah ada orang di dalam? "
Setelah memeriksa ke dalam kelas itu, Menma melihat ada Nia dan Tora yang sedang duduk di bangku yang sama.
" Hei! Itu Nia dan Tora. Ternyata mereka juga ada di kelas ini. Kalau begitu, aku segera menemui mereka. " seru Menma sambil berjalan ke dalam ruang kelas.
Kemudian,
" Hei, lihat! Itu Menma! Akhirnya dia datang tepat waktu juga ke sini. " seru Tora saat melihat Menma masuk ke dalam kelas.
" Apa?! Benarkah? *Melihat ke arah Menma* Wah!! Dia datang juga datang ke kelas ini ya. Yokatta, kali ini dia tidak terlambat. " balas Nia.
" Ohayou, minna! " sapa Menma.
" Ohayou, Menma. Apa kabarmu? " tanya Tora.
" Kabarku baik. Bagaimana dengan kalian? " jawab Menma.
" Aku baik. " jawab Tora.
" Iya, sama aku juga baik. Kali ini, kau benar-benar datang tepat waktu, Menma. " balas Nia.
" Hehe. Ya tentu saja. Itu karena aku tidak mau datang terlambat seperti dua hari yang lalu. Selain itu, aku tidak akan menyiakan-nyiakan kesempatan ini untuk meraih impianku nanti. " balas Menma.
" Wah! Baguslah. Kuharap kau tidak mengacau lagi seperti pada saat upacara pembukaan itu. " sahut Nia.
" Iya. Kau bisa-bisanya menerobos masuk ke akademi lewat udara dengan terbang. Aku saja bingung bagaimana kau bisa melakukan sampai sejauh itu? Padahal, pada saat upacaranya dimulai, gerbang masuk ke akademi sudah dijaga oleh para penjaga. " ucap Tora.
" Itu karena aku juga sering berkunjung ke dataran tinggi dan bermain-main dengan kawanan burung yang bersarang di sana. Karena itulah, aku jadi ingin bisa terbang seperti burung-burung itu. Lalu, aku mencari cara untuk membuat baju yang bisa terbang dengan menggunakan alat dan bahan seadanya yang aku temui. " jawab Menma.
" Begitu ya. Yang benar saja, Menma. Tapi, itu sangat berbahaya tau. Kau bisa saja jatuh dan terluka jika kau ceroboh sedikit saja. " balas Nia.
" Heh.. Kalau soal itu, sudah biasa untukku. Malahan, aku tidak memperdulikannya. Yang penting, aku bisa melakukannya dengan hati-hati ya meskipun, hanya ada masalah kecil yang tidak aku sadari. Hehehe. " balas Menma dengan cengiran di wajahnya.
" Cih, dasar kau ini. Ada-ada aja. " gumam Tora.
Saat perbincangan antara mereka bertiga berlangsung, tiba-tiba Keita datang bersama dengan kedua temannya yakni Juto dan Yura ke dalam ruang kelas dan mereka melihat perbincangan antara Menma, Nia dan Tora.
'Bukankah itu Menma. Ternyata, si pecundang itu datang tepat waktu ya. ' batin Keita dalam hatinya saat melihat ada Menma didalam kelas.
" Minna. Lihat! Tebak siapa yang ada di dalam kelas itu. " tanya Yura kepada yang lainnya.
" Iya, aku tau. Itu kan Menma, si pengacau yang berbuat ulah di hari upacara pembukaan sebelumnya bukan? " balas Juto.
" Iya, kau benar. Bagaimana menurutmu, Keita? "
" Tak masalah. Ini akan menjadi menarik." jawab Keita dengan nada dinginnya.
Kemudian mereka bertiga bergerak ke arah Menma dan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol di sana. Lalu, Keita langsung menyapa kepada Menma.
" Ternyata, kau juga ada di kelas ini ya. Kuharap kau tidak berulah lagi seperti pada waktu itu, pecundang. "
Karena mendengar kata yang terkesan menyinggung perasaannya Menma, akhirnya dia langsung berhadapan dengan Keita dengan tatapan kesal.
" Siapa yang kau sebut pecundang? Kau pikir kau ini siapa heh? "
" Kalau kau tidak kenal denganku, itu tidak masalah. Yang penting, kau jangan menghalangi kami pada saat pembelajaran nanti. " ucap Keita dengan dingin dan angkuh.
" *Kesal* Kau ini... Ingat ya. Mungkin aku hanya terlambat datang saja pada waktu itu. Tapi, kali ini dan ke depannya, aku akan menunjukkan kalau aku akan menjadi yang terbaik di kelas ini nanti. " ucap Menma dengan tegasnya.
" Ya, terserah saja. Apapun yang kau katakan, kau tetaplah seorang pecundang di mataku. " balas Keita.
" Iya. Teruslah bermimpi setinggi langit, Menma. Suatu saat nanti kau akan jatuh juga dan terus jatuh sampai kau tidak bisa bangun lagi. Hahahaha. " ejek Yura sambil menertawakan Menma bersama dengan Juto.
" Minna, mari kita pergi ke bangku kita dan tinggalkan dia bersama dengan para pecundangnya. " Seru Keita saat mengajak Juto dan Yura untuk meninggalkan Menma dan teman-temannya untuk pergi ke bangkunya.
Setelah itu,
" Kusso... Awas ya kalian!!! " kesal Menma.
" Sudahlah, Menma. Biarkan saja mereka. " seru Tora sambil menenangkan Menma.
" Iya. Kau tenang saja. Aku yakin kau pasti bisa membuktikannya bukan? " sambung Nia.
" Hahh... Wakatta. Ngomong-ngomong, kalian tau mereka itu siapa? " tanya Menma kepada Nia dan Tora.
" Ohh.. *Sambil melihat ke arah Keita dan teman-temannya* Anak yang kau jumpai itu bernama Keita. Dia adalah anak yang sangat berbakat dalam keterampilan ninjanya di kelas ini. Aku juga dengar kalau ayahnya merupakan seorang shinobi tingkat jounin yang sering menjalankan misi dari Tuan Shinrinkage bersama dengan ibunya. Karena itulah, bakat dari mereka berdua sudah diturunkan ke anaknya sehingga membuatnya menjadi anak yang sangat jenius terutama yang kaitannya dalam ilmu shinobi. " jelas Nia.
" Hah?! Shinrinkage? Siapa itu Shinrinkage. " tanya Menma lagi.
" Apa!? Kau tidak tau? Shinrinkage itu adalah sebutan untuk kepala desa ini, Menma. Dia yang memimpin para shinobi di desa ini dan juga sempat menjadi pemimpin upacara pembukaan di akademi pada waktu itu. " jawab Tora yang terkejut karena mendengar pertanyaan yang baru saja diucapkan oleh Menma.
" Oh.. Begitu ya. Gomen saja karena ibuku tidak memberitahu tentang itu kepadaku. Jadinya ada beberapa hal yang tidak aku ketahui di desa ini. Hehe. " balas Menma dengan cengiran di wajahnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Tenang, itu tidak apa-apa, Menma. Yang penting kau sudah tau bukan. Oh ya, dua anak yang bersama Keita itu adalah Juto dan Yura. Mereka berdua adalah teman setianya Keita. Mereka selalu mengikuti Keita ke manapun yang dia mau. " balas Nia.
" Oh.. jadi itu mereka. Souka, sepertinya aku akan mendapatkan teman baru lagi di sini. Atau mungkin juga tidak karena kalau aku pikir, mereka bertiga terlihat menyebalkan juga. Apalagi si Keita itu yang berlagak sok keren dihadapanku. " jawab Menma.
" Ya begitulah dia, Menma. Keita memang tidak begitu memperdulikan kepada siapapun bahkan dia menganggap kalau yang lainnya itu sama saja. Jadinya, dia memang tidak pernah memberikan ekspresinya yang jelas kepada anak-anak yang lainnya. " jelas Tora.
" Begitu ya. " balas Menma.
" Oh ya, teman-teman. Sepertinya kelas mau dimulai. Menma, kau boleh duduk di bangku ini bersama kami. " ajak Nia kepada Menma.
" Iya. Satu bangku ini bisa diisi oleh tiga orang jadi kau boleh duduk di sini jika kau mau. " sambung Tora.
" Benarkah?! Kalau begitu, arigatou gozaimasu kalian berdua. " balas Menma.
" Dōitashimashite! "
Tidak lama kemudian, muncullah seorang elf yang berpakaian seperti seorang ninja masuk ke dalam kelasnya Menma lalu dia meletakkan beberapa buku yang dibawanya di atas meja. Kemudian, dia langsung berhadapan dan menyapa kepada para murid di kelasnya.
" Ohayou gozaimasu, anak-anak. "
" Ohayou gozaimasu, Merlin-sensei. "
" Yosh. Hari ini, kita akan kembali melanjutkan pembelajaran tentang sejarah dari shinobi. Tapi sebelum itu, saya melihat ada murid yang belum saya kenal di sini. Jadi, bagaimana kalau kita akan berkenalan dengan murid baru itu. " ucap seorang guru yang bernama Merlin sambil menunjuk ke salah satu murid yaitu Menma.
' Apakah dia sedang menunjuk ke arahku? ' batin Menma yang merasa ditunjuk oleh Merlin.
" Hey, minna! Itu siapa orang yang di sana itu? " tanya Menma sambil menunjuk ke arah orang yang ada di depan kelas yaitu Merlin.
" Ohh... Dia itu wali kelas kita yaitu Merlin-sensei. " jawab Nia.
" Hah!? Wali kelas kita? " balas Menma.
" Iya. Jadi, selama kita berlajar di akademi, kita akan dibimbing di bawah pengajaran langsung olehnya sampai kita lulus nanti. " ucap Tora.
" Ohh... Begitu ya. " sahut Menma.
Sementara itu, ketika Merlin melihat dan menunjuk ke arah Menma,
" Kau... Anak elf yang berambut hitam, apakah kau berkenan untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada yang lainnya di sini? " seru Merlin.
" Ehh... Y-ya tentu saja. Mohon, ijinkan aku untuk memperkenalkan diri. " ucap Menma.
" Souka, silahkan. " sahut Merlin.
Menma langsung berdiri dari kursinya dan memperkenalkan diri kepada semua anak-anak di dalam kelasnya.
" Hai, Minna! Perkenalkan, watashi no namaeha Menma desu. Saya berasal dari desa ini di komplek perumahan yang agak terpencil. Aku adalah anak dari seorang pendeta yang bernama Lindis. "
" Kalau boleh tau, kau berasal dari klan mana? " tanya Merlin.
" Etto... Soal itu, aku tidak punya klan karena aku hidup sendiri bersama ibuku. " jawab Menma.
" Begitu ya. " sahut Merlin.
' Anak itu ya... Kalau tidak salah, dia yang memiliki sesosok monster raksasa di dalam tubuhnya itu bukan. *Sambil melihat ke arah Menma* Aku tidak mengira dia akan menjadi murid akademi di sini. Aku dengar dia baru mendapat diskors selama dua hari gara-gara kejadian di upacara pembukaan itu. Tapi, ya sudahlah karena dia baru saja memulai hari pertamanya di sini, jadi aku tidak perlu terlalu memikirkannya. Meski begitu, sebaiknya aku harus berhati-hati padanya. ' batin Merlin yang memiliki rasa kecurigaan terhadap Menma yang diketahui memilki monster King Ghidorah di dalam tubuhnya.
" Yosh, Menma. Itu saja sudah cukup. Sekarang kau kembali duduk. " seru Merlin kepada Menma untuk kembali duduk di bangkunya.
Tetapi, di sisi lain, banyak cibiran-cibiran dari para murid setelah mendengarkan perkenalan diri dari Menma dan ada beberapa di antara mereka yang menghina Menma karena ciri fisiknya terutama warna rambutnya.
" Dia kan anak yang membuat onar di upacara pembukaan itu. Ternyata dia masih menjadi murid akademi ini ya. "
" Iya. Padahal, aku kira dia bakal di keluarkan. Tapi, ternyata bukan malahan di menjadi teman sekelas kita. "
" Anak itu tidak tau malu ya. Berani-beraninya di datang ke akademi ini. "
" Dasar anak monster. "
" Pembawa petaka. "
" Bocah iblis. "
Perkataan demi perkataan dari para murid lain meskipun terdengar pelan masih bisa didengar oleh Menma dan hal itu juga membuat Menma menjadi merasa terpuruk dan sakit hati. Tidak hanya Menma, ternyata Nia dan Tora juga bisa mendengar cibiran-cibiran dari murid lainnya. Hal itu membuat Tora menjadi tersulut emosi.
" Ihh... Apa apaan mereka itu. Seenaknya aja mereka menghina Menma dengan perkataan-perkataan seperti itu. Aku tau Menma itu pernah membuat kesalahan. Tapi, tidak begitu juga cara menanggapinya. "
" Sudah-sudah! Tidak usah menghiraukan mereka, Tora. Sebenarnya, aku juga sama kesalnya dengan kau. Tapi, kita tidak boleh membuat keributan di sini karena sedang ada pelajaran. " ucap Nia sambil menenangkan Tora.
" Iya, aku mengerti. Tapi, tetap saja aku menjadi merasa kesal karena mereka sudah menghina teman kita. Tapi, kau sendiri tidak apa-apa kan, Menma? " ucap Tora.
" Iya. Aku tidak apa-apa kok. Aku sih sudah terbiasa dengan itu. " balas Menma dengan memasang senyum kecut di wajahnya menandakan kalau saat ini dia sedang menyembunyikan rasa sedih dan tersinggung di dalam hatinya.
Melihat Menma yang terlihat murung begitu, membuat Nia dan Tora menjadi merasa kasihan kepadanya.
" Sabar ya, Menma. Aku turut prihatin dengan yang kau alami sekarang. " ucap Nia.
" Iya, tenang saja. " balas Menma.
' Iya, Menma. sebenarnya, aku juga turut prihatin dengan perkataan-perkataan pahit dari mereka kepadamu. Tapi, akan lebih baik, kau tidak perlu memperdulikan mereka dan fokuslah ke depan agar kau bisa melupakan semua itu. ' batin Tora.
Akhirnya, para murid di kelas kembali melanjutkan dan memperhatikan penjelasan tentang pelajaran yang sedang diajarkan oleh Merlin.
Waktu berlanjut hingga memasuki pelajaran kedua di mana Merlin menjelaskan tentang teknik bela diri ninja. Tapi sebelum itu, dia mengajak para muridnya untuk keluar menuju ke lapangan di luar. Di sana, Merlin akan menjelaskan sambil mempraktekkan kepada para murid tentang seni bela diri ninja.
" Yosh, minna. Pelajaran selanjutnya yang ingin saya jelaskan di sini adalah teknik taijutsu. Taijutsu adalah teknik dasar bela diri seorang ninja yang menggunakan tangan kosong atau tidak menggunakan senjata apapun. Teknik ini juga menggunakan anggota gerak tubuh lainnya untuk melakukan serangan, pertahanan dan pembelaan. Kali ini, saya akan memperagakan beberapa teknik taijutsu yang akan kalian ketahui dan selanjutnya, saya juga akan menguji coba kepada kalian semua untuk menunjukkan sejauh mana kemampuan taijutsu milik kalian dalam sebuah pertarungan. Paham? " jelas Merlin kepada para muridnya.
" Hai! "
Kemudian, Merlin langsung memperagakan beberapateknik taijutsu yang dia kuasai dihadapan para muridnya. Para murid langsung terkesan melihat kemampuan taijutsu yang diperagakan oleh Merlin.
" Sugoi! Jadi itu yang disebut taijutsu? Kelihatannya seperti orang yang ingin bertarung saja. " kejut Menma.
" Iya. Itu karena teknik itu digunakan untuk pertarungan jarak dekat yang biasanya dilakukan oleh para ninja. " jelas Tora.
" Jadi, kalau misalnya ada musuh yang mendekat atau menyerang, kita bisa melawannya dengan menggunakan teknik itu? Kelihatannya seram juga. " balas Nia.
" Heh, tidak juga, Nia. Memang begitulah, seorang ninja harus berwaspada terhadap sekelilingnya dan bersiaga jika ada sesuatu yang mengancam dirinya maupun orang sekitarnya. " balas Tora.
" Ohh.. Begitu ya. " sahut Nia.
Di sisi lain,
" Kalau berbicara tentang taijutsu, itu hal yang tidak terlalu sulit bagi kita. Iya kan Keita. " ucap Yura kepada Keita.
" Iya. Kita bahkan sudah berlatih itu bersama sebelum kita mulai masuk ke akademi ini. Jadi tidak masalah kalau kita akan disuruh untuk menguji coba kemampuan taijutsu kita kepada yang lainnya. " balas Juto.
" Iya, kau benar. Tapi, kita tidak boleh meremehkan kemampuan dari anak-anak lainnya. Mungkin saja, ada yang lebih terampil daripada kita. " ucap Keita dengan nada dinginnya.
" Hahaha. Itu tidak mungkin, Keita. Di antara kita bertiga di sini, hanya kau lah yang paling kuat. Jadi, kau tidak mungkin bisa terkalahkan dengan mudah oleh yang lainnya. " balas Juto sambil menyemangati Keita.
" Hmmp.. Kalo soal itu, aku tau itu. " ujar Keita.
Setelah Merlin memperagakan teknik taijutsunya, Merlin langsung melakukan uji coba taijutsu yang dimiliki oleh para muridnya ke dalam sebuah pertarungan yang akan dia adakan.
" Baiklah. Karena kalian sudah melihat beberapa teknik yang saya peragakan, sekarang saya akan membuat sebuah pertarungan kecil untuk melihat sejauh mana kemampuan taijutsu milik kalian. Pertarungan ini berupa satu lawan satu di mana satu murid akan berhadapan dengan satu murid lainnya yang akan saya tentukan nanti. Jadi, kalian semua harus bersiap saat akan dipanggil ke depan untuk memperlihatkan kemampuan taijutsu dengan melawan teman kalian. Pertarungannya akan selesai jika kalian bisa menumbangkan lawan kalian. Paham? " jelas Merlin.
" Hai! "
Kemudian, Merlin mulai memanggil dua nama muridnya ke depan untuk melakukan pertarungan satu lawan satu. " Yosh. Sekarang, saya memanggil Roy untuk melawan Tama. Kalian berdua segera ke depan untuk memulai pertarungannya. "
" Hai, sensei. " balas dari Roy dan Tama yang pertama dipanggil untuk melakukan pertarungan satu lawan satu.
Kemudian,
" Yosh, sebelum memulai pertarungan, kalian berdua harus melakukan gerakan menunduk terhadap satu sama lain sebagai sebuah salam penghormatan kepada lawan kalian. Kemudian, kalian acungkan jari jempol, telunjuk dan tengah di depan wajah kalian sebagai simbol untuk memulai pertarungan yang juga merupakan bagian dari tradisi pelatihan di desa kita. " jelas Merlin kepada Roy dan Tama.
" Hai, sensei. Ikuzo, Tama! Kita mulai! "
" Wakatta. Ikuzo! " balas Tama kepada Roy.
Roy dan Tama langsung menunduk kepada satu sama lain. Kemudian, mereka berdiri tegak kembali dan Merlin bersiap untuk memulai pertarungannya.
" Yosh, kalian berdua bersiaplah untuk bertarung. "
" Siap... HAJIME!!! " seru Merlin saat memberi instruksi untuk memulai pertarungannya.
Peraturangan dimulai antara Roy melawan Tama dimana mereka berdua mengeluarkan kemampuan taijutsu mereka dihadapan oleh Merlin dan teman-temannya. Tama memulai serangan pertama berupa pukulan tangan kepada Roy. Tapi Roy bisa menghindar dan melawan balik dengan serangan balasan kepada Tama. Tapi, Tama juga bisa mengatisipasi serangan balasan Roy dengan menangkisnya dan memberi serangan lainnya. Para penonton merasa kagum dengan kemampuan taijutsu yang diperagakan oleh Roy maupun Tama. Keduanya mengeluarkan kemampuan terbaik mereka untuk mengalahkan satu sama lain. Tama mencoba menyerang Roy kembali dengan tendangannya. Tapi, serangan itu bisa dihindari oleh Roy dan hal itu dilakukan berkali-kali untuk mencegah serangan Tama mengenainya.
" Rasakan ini!! " Tama menyerang dengan kepalantangannya ke arah kepala Roy.
Tetapi,
" Ini saatnya... "
Roy langsung menahan pukulannya Tama dan dia menangkap tangan Tama lalu mengangkat dan membanting Tama ke atas tanah. Tama langsung tergeletak dan Roy langsung berada di atas Tama dan memberi pukulan ke arah wajahnya. Kemudian, Merlin yang melihat itu langsung menghentikan pertarungannya.
" Cukup! Yosh, kalian berdua kembali berdiri dan melakukan gerakan menunduk seperti sebelumnya dan jangan lupa untuk membuat simbol perdamaian antar dua belah pihak. "
" Baiklah, guru. "
Roy dan Tama kembali berdiri dan menunduk kepada satu sama lain sebagai bentuk salam terhadap lawannya dan tidak lupa untuk membentuk simbol perdamaian antar dua belah pihak berupa mengaitkan jari telunjuk dan tengah mereka satu sama lainnya.
" Yosh. Kalian berdua bisa kembali ke teman-teman kalian. " seru Merlin.
" Hai, sensei. Ayo Tama, kita kembali. " ajak Roy kepada Tama.
" Wakatta. Ngomong-ngomong, kemampuan Taijutsumu hebat juga. " balas Tama.
" Ahh.. biasa saja. Selain itu, kemampuan taijutsumu juga tidak kalah bagusnya, Tama. " sahut Roy.
" Hm. Itu karena aku sudah latihan itu bersama dengan ayahku. " jawab Tama.
" Begitu ya.. " gumam Roy sambil berjalan kembali ke kumpulan penonton bersama Tama.
Kemudian,
" Sekarang, untuk pertarungan keduanya, saya memanggil Juto untuk berhadapan dengan Tora. "
" Hai, sensei. Yoshaa, ini kesempatanku untuk mengeluarkan kemampuan taijutsuku kali ini. " jawab Juto.
" Baguslah. Jangan sampai kau sia-siakan. Kerahkan semua latihan yang pernah kita jalani sejauh ini. Jadi, semoga berhasil. " ucap Keita kepada Juto.
" Wakarimasta, Keita. Serahkan itu kepadaku. Aku akan memberikannya yang terbaik. " balas Juto.
" Yosh. Ganbatte, Juto. " seru Yura sambil menyemangati Juto.
Di sisi lain,
" Yoshaa, aku terpanggil juga. Tapi yang jadi lawanku adalah Juto. Kelihatannya tidak akan mudah tapi aku melakukannya dengan sungguh-sungguh. " jawab Tora.
" Tidak apa-apa, Tora. Yang penting, kau lakukanlah yang terbaik. Aku yakin kau pasti bisa mengatasinya. " sahut Nia.
" Iya. Jangan sampai kau kalah olehnya, Tora. Kau pasti bisa. " sambung Menma.
" Wakarimasta. Terima kasih, minna. " balas Tora.
" Hehe. Tidak masalah. Ganbatte. " seru Menma sambil menyemangati Tora.
Akhirnya, Juto dan Tora saling berhadapan satu sama lain. Mereka berdua melakukan hal yang sama seperti di pertarungan sebelumnya.
Setelah itu, mereka berdua mulai bersiap untuk bertarung.
" Baiklah, kalian berdua bersiaplah. Siap... HAJIME!!! " Merlin memberi instruksi untuk memulai pertarungan kedua antara Juto melawan Tora.
Tora langsung menyerang ke arah Juto. Tapi Juto berhasil menangkisnya dan memberi serangan balasan. Tapi, Tora tidak tinggal diam dan mencoba untuk menahan serangan balasan dari Juto dan memberi beberapa pukulan dan tendangan ke arahnya meskipun masih bisa diatisipasi oleh Juto. Pertarungan berlangsung sangat seru dan beberapa penonton mencoba untuk menyemangati teman mereka yang sedang bertarung. Menma dan Nia berusaha untuk menyemangati Tora untuk tidak kalah dari Juto sedangkan Yura juga berusaha menyemangati temannya di sana.
" Heh... Dilihat dari kemampuan bertarungmu, ternyata kau boleh juga. " ucap Juto sambil berusaha menangkis semua serangandari Tora.
" Ini bukan apa-apa. Lagipula, aku tidak terlalu ahli dalam pertarungan jarak dekat seperti ini. " balas Tora sambil melancarkan serangan berupa pukulan kepalan ke arah Juto.
" Oh.. benarkah begitu? Jika memang benar, kau seharusnya tidak perlu bersusah payah untuk menyerangku. Lebih baik kau menyerah saja. " ujar Juto yang berniat menghasut Tora untuk menyerah.
" Berisik!! Kita tidak akan tau jika tidak mencobanya. " balas Tora sambil memberikan pukulan ke arah Juto.
Pada akhirnya,
" Cih... Kau harusnya lebih baik dalam memberikan seranganmu dari yang ini. " ucap Juto sambil menahan pukulan dari Tora.
" *Kesal* Rasakan ini!!! "
Tora melancarkan tendangannya tapi berhasil dihindari oleh Jito.
Kemudian,
" Ini saatnya. Hei, Tora! Lihat! Ada yang memanggilmu di belakang! "
" Hah!? siapa dan mana yang memanggilku? "
Bodohnya, Tora langsung melihat ke arah belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya padahal tidak ada satupun yang memanggil Tora di sana. Melihat keadaan Tora yang mulai lengah, Juto langsung mengambil kesempatan dengan memberikan tendangan 180 derajat ke arah wajahnya Tora. Tora yang kembali menghadap Juto, terlambat mengatisipasinya. Alhasil, Tora yang terkena tendangan itu langsung terpental dan terguling. Akhirnya, Tora tumbang oleh Juto dalam pertarungan itu. Semua penonton terkejut termasuk Menma dan Nia yang melihat Tora dikalahkan dengan cara seperti itu.
" Hahaha. Kau terkecoh oleh omonganku. Akibatnya, kau kehilangan fokus dalam bertarung dan tidak sempat menghindari seranganku tadi. Tsk.. tsk.. Lemah sekali. " ejek Juto kepada Tora.
' Kusso... Aku terkecoh oleh tipuannya. Bodohnya aku... ' batin Tora sambil merutuki kebodohannya dan menahan rasa sakit di kepalanya akibat dari tendangannya Juto.
Kemudian Tora berusaha untuk bangkit dan mereka berdua melakukan gerakan yang sama seperti pada pertarungan sebelumnya.
Kemudian,
" Yosh. Untuk pertarungan ketiga, aku memanggil Keita untuk melawan Menma. Kalian berdua silahkan ke depan sini. " seru Merlin saat memanggil Keita dan Menma untuk melakukan pertarungan ketiga.
" Yoshaa. Ini kesempatanku untuk mengalahkan si menyebalkan Keita itu. Akan kuhajar dia. " jawab Menma dengan penuh semangat.
" Ganbatte, Menma. Tapi, berhati-hatilah pada saat pertarungan. Karena kulihat Keita bukanlah lawan yang main-main untuk kau. Apalagi dia adalah seorang jenius dalam limu ninja. " balas Nia sambil menyemangati dan memberikan waspada kepada Menma.
" Iya. Jangan sampai kau berakhir sepertiku juga, Menma. Jika bukan karena tipuannya, aku harusnya bisa menang lawan Juto." sambung Tora.
" Hehe. Jangan khawatir, teman-teman. Kali ini, aku tidak akan kalah dari dia. Lagipula, dia juga tidak akan melakukan hal yang sama seperti temannya itu. Jadi, aku pasti bisa mengalahkannya. " balas Menma.
" Hm. Aku yakin kalau kau pasti bisa mengalahkannya. " balas Tora.
Di sisi lain,
" Yosh, aku mendapatkan lawan yaitu si pecundang itu. Ini akan menjadi pertarungan yang singkat. " ucap Keita dengan penuh percaya diri.
" Iya, kau benar. Karena lawanmu adalah Menma, jadi ini akan menjadi terlalu mudah untuk kau mengalahkannya. " sahut Juto.
" Iya. Kasih tau kepadanya seperti apa kemampuanmu yang sekarang ini, Keita. Hehehe. " sambung Yura.
" Hn. Aku tau itu. "
Kemudian Menma dan Keita langsung berdiri berhadapan di depan para penonton maupun Merlin. Setelah mereka membungkuk satu sama lain, mereka berdua langsung bersiap untuk bertarung. Tapi sebelum itu,
" Hei, Keita!!! Ingat ya! Kali ini, aku pasti akan mengalahkanmu dan setelah itu, aku akan menjadi seorang murid yang paling kuat dan populer di Akademi ini. Jadi, kau lihat saja nanti. " teriak Menma kepada Keita sebagai bentuk provokasi yang penuh semangat dan percaya diri untuk mengalahkannya.
" Hn... Terserah kau mau bilang apa. Tapi, meskipun begitu, kau tetaplah seorang pecundang sejati. Selain itu, kau tidak akan bisa mengalahkanku. " balas Keita sambil merendahkan Menma.
" *Kesal* Awas ya kau!!! " geram Menma setelah mendengar ucapan remeh dari Keita.
Nia dan Tora mencoba untuk menyemangati Menma sedangkan Jito dan Yura juga tidak kalah untuk menyemangati Keita sebelum pertarungannya dimulai.
" Yosh, kalian berdua bersiaplah. "
Menma dan Keita langsung mengacungkan jari jempol, telunjuk dan tengah ke depan wajahnya masing-masing sebagai simbol untuk melakukan pertarungan.
" Siap... HAJIME!!! " seru Merlin sambil memberi instruksi untuk memulai pertarungan ketiga antara Keita melawan Menma.
Pertarungan di mulai di mana Menma langsung menyerang dengan memberi pukulan tapi bisa dihindari oleh Keita. Lalu, Menma memberi serangan bertubi-tubi berupa pukulan dan tendangan tapi lagi-lagi, Keita bisa membaca semua itu dan mengatisipasinya dengan mudah. Hampir semua penonton di lapangan memberi dukungannya kepada Keita agar bisa mengalahkan Menma dengan cepat dan mudah. Bahkan hampir tidak ada satu pun yang memberi dukungannya kepada Menma kecuali Nia dan Tora. Pertarungan terus berlanjut dimana Keita memulai memberi serangan balasan kepada Menma. Tapi Menma tidak tinggal diam dengan menangkis serangannya Keita dan berusaha untuk menyerang balik.
" Rasakan ini!!! "
Menma memberi pukulan telak ke arah wajah Keita tapi gagal. Keita yang berhasil menangkis serangan itu langsung menyerang balik dengan melontarkan serangan beruntun berupa dua pukulan ke arah kepalanya Menma lalu diikuti dengan tendangannya ke badannya lalu yang terakhir yaitu Keita memutar badannya 360 derajat dan melancarkan serangan kepalan yang sangat telak ke arah wajahnya Menma dan memberi tendangan belakang yang kuat ke arahnya. Akhirnya, Menma langsung tumbang seketika oleh Keita dan pertarungannya telah berakhir.
" Heh... Gerakanmu itu mudah sekali dibaca. Selain itu, kau terlalu terburu-buru untuk melakukan serangan sehingga tenagamu cepat sekali terkuras dan tidak sempat melakukan pertahanan saat akan diserang. Dasar... Kau benar-benar seorang pecundang. " jelas Keita kepada Menma yang masih terbaring kesakitan setelah terkena serangan terakhir sebelumnya.
Setelah mengakhiri pertarungannya, Merlin memerintahkan Menma dan Keita untuk melakukan ritual penutupan yang sama seperti di pertarungan sebelumnya. Setelah masing-masing saling membungkukan badan mereka, Menma dan Keita diminta untuk membentuk simbol perdamaian. Tetapi, ketika mereka hampir mengaitkan jari telunjuk dan tengahnya masing-masing, tiba-tiba Menma langsung bergerak dan mencengkeram kerah bajunya Keita sampai ke atas karena masih kesal dan tidak menerima kekalahannya.
" Tidak usah sok pintar hanya karena kau sudah mengalahkanku tadi. Aku bisa saja ingin menghajarmu lagi kapan saja. Selain itu... " ucapan Menma terpotong oleh Keita dan dia mulai berkata,
“ Selain itu apa? Kau tidak bisa mengalahkanku hanya karena kau itu lemah. Kau seorang pecundang yang tidak bisa menerima kenyataan yang kau hadapi. Jadi, percuma saja kalau kau ingin menghajarku lagi karena apapun yang kau lakukan, tidak akan mengubah hasilnya. Kau paham?! ”
“ *Kesal campur amarah* AWAS KAU... ” geram Menma.
Kemudian, Merlin mencoba untuk melerai pertengkaran antara Menma dan Keita.
“ Hei!!! Menma, hentikan! Mohon segera lepaskan cengkeramanmu dari Keita dan segera minta maaflah kepada dia. ” seru Merlin saat melihat Menma sedang mencengkeram Keita.
Tapi, Menma tidak mau melepaskan cengkeramannya dan dia ingin menghajar Keita untuk sekali lagi. Pada akhirnya,
DUUAAAK!!!
" Ittai, sakit sekali kepalaku. " jerit Menma sambil menahan rasa sakit di kepala akibat menerima jitakan dari Merlin.
" Kau ini keras kepala sekali. Cepat, kau minta maaf kepada Keita sekarang juga! "
Merlin terpaksa melakukan itu agar Menma segera melepaskan cengkramannya dan meminta maaf kepada Keita.
Tetapi,
“ Hah... Aku tidak mau minta maaf kepada dia. Ingat ya. suatu saat nanti, aku akan membalasmu. Lihat saja nanti. ”
Menma tidak mau minta maaf dan langsung pergi meninggalkan tempat pertarungan.
“ Huffft... Anak itu sukanya mencari masalah aja. Aku jadi pusing melihat ini. ” gumam Merlin setelah melihat Menma pergi dengan merasa tidak bersalah akibat dari perbuatannya.
Para penonton yang melihat tindakan itu langsung terdiam dan terheran sambil membicarakannya dengan suara pelan kepada satu sama lainnya.
“ Anak itu kenapa sih? Padahal dia sudah kalah, tapi dia tidak mau menerimanya. Memalukan. ”
“ Memang, dia itu anak payah. Sukanya mencari masalah dengan orang lain. ”
“ Orang tuaku aja tidak mengizinkan aku untuk bicara dengan dia. Aku sendiri tidak tau kenapa tapi kalau dilihat, dia itu memang tidak pantas punya teman. ”
" Iya, kau benar. Dasar payah si anak elf berambut hitam itu. ”
Di sisi lain,
“ Apa yang sedang terjadi dengan Menma? Apakah dia sedang kesal? ” tanya Nia.
“ Entahlah. Tapi, aku rasa kalau seharusnya dia tidak boleh berbuat seperti itu karena itu sudah melanggar peraturan. ” jawab Tora.
“ Iya, kau benar. Dia lebih baik menerima kekalahan itu daripada membuat masalah lagi. Ternyata, sikapnya buruk sekali. ” balas Nia.
“ Heh... Si Menma itu memang payah juga. Sudah kalah tapi masih ingin bertarung aja dengan Kei. Menyedihkan. ” jawab Jito.
“ Iya. Aku juga merasa kalau dia tidak pantas berada di akademi ini karena tindakannya itu. ” sambung Yura.
" Hm. Itu benar sekali. " balas Juto.
' Biarlah kau berbuat sesuka hatimu. Tapi, apapun itu, kau tidak mungkin bisa menandingiku karena perbandingan antara kita berdua sangat jauh. ' batin Keita dalam hatinya saat melihat Menma pergi ke arah kerumunan teman-teman lainnya.
Waktu berlanjut hingga mencapai jawab pulang akademi. Para murid telah meninggalkan ruang kelasnya dan bergerak ke gerbang keluar akademi untuk kembali pulang. Saat itu juga, Menma berjalan bersama Nia dan Tora sambil membicarakan pelajaran-pelajaran yang telah mereka ikuti selama berada di akademi.
“ *Tertawa* Kelihatannya kalian berdua kelihatan berantakan sekali. ” jawab Nia sambil ngeledek Menma dan Tora yang mengalami luka ringan akibat dari latihan pertarungan yang mereka jalani sebelumnya.
“ Heh.. Ini sih bukan apa-apa bagiku. Aku sudah terbiasa dengan ini. Bagaimana denganmu Tora? ” tanya Menma.
“ Ya, ini juga tidak masalah untukku. Lagipula, aku ini kuat untuk menghadapi berbagai macam serangan seperti itu sebelumnya karena aku sudah berlatih beberapa kali dengan ayahku. ” jawab Tora.
“ Iya. Aku tau kalau kau itu memang kuat, Tora. Aku yakin kalau suatu saat nanti, kau bisa menjadi seorang ninja yang hebat. ” balas Nia.
“ Iya, kau benar. Saat ini, aku memang sedang berjuang untuk mencapai cita-citaku itu. Oh ya. Ngomong-ngomong, soal pertarunganmu melawan Keita, kenapa kau sampai mencengkeramnya, Menma? Kau tau kalau itu tidak baik apalagi kau sudah kalah darinya. ” tanya Tora kepada Menma.
“ Iya, kenapa kau sampai melakukan itu kepada Keita? ” tanya Nia.
“ Hmm... Soalnya dia itu... Aaarrgh! Bagaimana aku menjelaskannya ya. Pokoknya, dia itu adalah anak yang sok keren dan jago dihadapan semua orang. Karena itulah, aku ingin mengalahkannya dengan cara apapun agar aku bisa menunjukkan kalau aku itu lebih hebat daripada dia. ” jawab Menma.
“ Hn... Hanya karena itu, kau jadi sampai berbuat kelewatan hanya karena ingin menunjukkan kalau kau itu lebih hebat daripada Keita. Perlu kau ketahui ya, Keita itu memang anak yang sangat jenius. Baik di bidang pelajaran teori maupun praktek. Aku juga dengar kalau dia itu sering dilatih oleh seorang yang sangat berbakat dalam dunia ninja. Karena itulah, dia bisa sehebat itu. ” jelas Tora.
“ Begitu ya. Pantas saja aku melihat Juto dan Yura juga memiliki keunggulan yang sama dengan Keita. Aku rasa, mereka bertiga sering berlatih bersama sebelum masuk ke akademi. ” balas Nia.
“ Iya, kau benar. Karena itulah, aku juga harus berlatih untuk mengasah kemampuanku setajam mungkin agar tidak kalah dari mereka. ” jawab Tora.
“ Aku setuju. Aku juga harus berlatih lebih giat lagi. Bagaimana denganmu, Menma? ” tanya Nia kepada Menma.
“ Iya. Aku juga tetap harus berjuang dan berlatih lebih sungguh-sungguh supaya aku bisa mengalahkan Keita dan juga teman-temannya itu. Aku tidak akan menyerah. ” balas Menma.
" Hmm. Youkatta, Menma. " sahut Nia.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga berpisah dan kembali ke rumah masih-masing.