
Keesokan harinya, Menma baru bangun tidur lalu mandi dan menyantap sarapannya. Setelah itu, dia berangkat ke akademi ninja untuk melanjutkan pembelajarannya di sana. Setelah menyelesaikan pembelajarannya di akademi, Menma kembali melanjutkan tugas hukumannya seperti yang sudah disepakati di hari sebelumnya. Kali ini, Merlin masih mengikat Menma dengan menggunakan talinya agar dia tidak mencoba untuk kabur. Meskipun begitu, tampaknya Menma mulai menunjukkan sikapnya mulai sedikit penurut mengingat di hari sebelumnya masih ada rasa mengeluh dari Menma karena merasa keberatan dengan hukuman yang dijalaninya. Hal itu tentu saja membuat Merlin kesal dengan sikapnya Menma dan dia selalu mengingatkan Menma agar dia tetap harus bertanggung jawab atas semua perbuatan yang telah dia lakukan sebelumnya. Setelah mendapatkan teguran dan nasehat dari Merlin, akhirnya Menma mulai menuruti omongannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Hari itu berjalan tanpa ada hambatan yang muncul. Hampir seluruh tempat yang kotor di desa telah dibersihkan. Sebagian oleh Menma sendiri maupun sebagian lainnya oleh para penduduk yang membersihkan lingkungan sekitar. Kini, desa Moonlight Plains kembali bersih. Tetapi, ketika sedang mengerjakan tugasnya, Menma sering kali mendengar pembicaraan yang bisa dikatakan tidak mengenakan untuk hatinya. Beberapa orang yang melihat Menma sedang membersihkan lingkungan dengan dirinya diikat oleh Merlin suka mengatakan hal-hal buruk yang berkaitan dengan Menma mengingat kalau Menma selalu saja membuat banyak onar di desa. Masalahnya bukan hanya dari kenakalannya saja, tetapi juga dari sisi gelap dari Menma yang masih menjadi buah bibir di kalangan masyarakat di desa. Tentu saja, hal itu membuat Menma merasa sakit hati mendengarnya.
Hari berikutnya yang merupakan hari terakhir di mana Menma akan menyelesaikan tugas hukumannya. Sebelum memulainya kembali, Menma harus pergi ke akademi ninja terlebih dahulu untuk mengikuti tes penilaian yang akan diadakan oleh wali kelasnya. Kali ini, yang akan dijadikan tes penilaian oleh Merlin adalah panahan. Ya, panahan merupakan suatu keahlian tempur yang masih diterapkan oleh beberapa kalangan pejuang di negeri Afata dan hal itu juga tetap berlaku untuk dijadikan mata pembelajaran di akademi ninja khususnya untuk nilai-nilai yang akan menjadi pertimbangan saat ujian kelulusan genin nanti. Para murid telah bersiap untuk melakukan tes yang akan dilaksanakan di lapangan akademi. Merlin telah mengabsensi semua murid kelasnya agar memastikan tidak ada satu pun yang tidak hadir di tempat. Setelah dilakukannya absensi, Merlin mulai mengadakan tes penilaian untuk panahan kepada muridnya untuk mendapatkan nilai yang terbaik yang bisa menjadi pertimbangan pada saat hari kelulusan esok.
“ Yosh minna-san. Sekarang, Saya akan mengadakan tes penilaian terhadap kalian di mata pelajaran panahan. Di sini, saya akan melihat sejauh mana kemampuan memanah kalian selama 3 tahun terakhir dan ini juga berpengaruh untuk mata pelajaran lainnya yang akan diadakan tes nanti. Jadi, mohon untuk kalian memberikan yang terbaik. Sekarang kita akan mulai dan yang menjadi pertama adalah adalah Roy. Silahkan baiklah ke depan. ”
“ Hai, sensei. ”
Akhirnya, anak yang ditunjuk bernama Roy maju ke depan untuk memulai tes memanahnya di sana. Lalu, dia mengambil sebuah busur dan beberapa anak panah yang telah disediakan untuk memulai tesnya.
“ Yosh, Roy. Kau memiliki 5 buah kesempatan untuk menembakan panahmu ke arah sasaran yang telah ditentukan di sana. Jadi, lakukanlah yang terbaik. ”
“ Hai. ”
Roy langsung memasangkan anak panahnya di bagian ekornya ke tali busur itu. Kemudian, dia menarik tali busurnya secara perlahan untuk bersiap menembakan panahnya ke arah sasaran yang sudah disediakan. Tak lama kemudian, Roy langsung melesatkan panahnya dan hasilnya, panahnya menancap ke dinding sasaran walaupun tidak tepat di bagian tengahnya.
“ Oke, lumayan. Coba lagi. ”
Merlin meminta Roy untuk melakukan percobaan kedua untuk menembakkan panahnya lagi ke tepat sasaran. Roy segera melakukan hal yang sama dengan percobaan pertama dan panah kedua dilesatkan. Hasilnya, panah kedua itu mengenai sasaran yang lebih baik daripada yang pertama. Begitu juga dengan percobaan ketiga, keempat dan kelima. Hasilnya tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya.
“ Cukup! Sekarang kau kembali dan yang akan maju berikutnya adalah Yura. Silahkan ke depan. ”
Merlin memerintahkan Roy untuk kembali ke kerumunan murid-murid lainnya dan mencabut 5 anak panah yang ditembakkan Roy untuk membersihkan sasarannya. Lalu, anak yang dipanggil berikutnya langsung maju ke depan.
“ Hai, sensei. Yoshaa, ini kesempatanku. ”
“ Lakukanlah yang terbaik, Yura. Jangan sampai kau sia-siakan ini, kawan. ” ucap Juto.
“ Iya. Jangan sampai membuat kami malu kalau kau sampai gagal. ” ucap Keita.
“ Heh... Tenang saja, aku tidak akan gagal dalam tes ini. Lihat saja nanti. ” ucap Yura.
Yura berjalan ke depan untuk mengambil busur dan panah yang disediakan. Kemudian, Yura langsung memulai tesnya dengan menembakkan panah yang pertama ke arah sasaran. Hasilnya, panah langsung melesat dan menancap ke dinding sasaran yang hampir dekat dengan bagiah titik tengahnya. Hal itu membuat para penonton menjadi terkagum melihatnya.
“ Hebat! Dia hampir menembakkan panahnya ke tepat sasaran. ”
“ Iya, benar. Dia sungguh berbakat. ”
“ Dia hebat juga. ”
Sedangkan Merlin, hanya menatapnya dengan ekspresi biasa saja walau sebenarnya dia kagum dengan hasilnya itu.
“ Oke, itu cukup bagus. Coba Lagi! ”
Kemudian, Yura langsung melakukan percobaan berikutnya untuk menembakkan panahnya ke tepat sasaran. Hasilnya, pada percobaan kedua sampai kelima, semua panahnya hampir mengenai sasaran dan itu menjadi penilaian yang bagus untuk Yura.
“ Oke, Yura. Itu sudah cukup. Sekarang kau kembalilah dan yang akan maju berikutnya adalah Hikari. Silakan ke depan untuk memulai tesnya! ”
Akhirnya, Yura bergerak kembali ke kerumunan dan anak yang dipanggil berikutnya langsung maju ke depan.
“ H-hai, sensei. ”
‘ Yosh, aku pasti bisa. Aku akan berusaha sebaik mungkin. ’
Hikari langsung maju ke depan untuk mengambil busur dan panahnya di sana. Kemudian, Hikari memulai tesnya dengan menembakkan panahnya ke sasaran. Pada percobaan pertama, panahnya mengenai sasaran tapi masih jauh dari titik tengahnya. Lalu, pada percobaan kedua terjadi peningkatan di mana panahnya menancap lebih baik daripada sebelumnya. Lalu berlanjut pada percobaan ketiga, keempat dan kelima. Hasilnya tidak terlalu buruk yang di mana panah kelimanya hampir mengenai titik tengahnya.
“ Oke, Hikari. Itu sudah cukup. Hasilnya tidak terlalu buruk. Kau boleh kembali. ”
“ Arigatou gozaimasu, sensei. ”
Akhirnya, Hikari bergerak kembali ke kerumunan murid-murid lainnya. Tetapi, di tengah perjalanannya, Hikari tidak sengaja melihat Menma yang ada di depannya. Hal itu membuatnya menjadi gugup dan kedua pipinya mulai merona ketika berpapasan dengan Menma.
“ Dia boleh juga ya. ” ucap Nia.
“ Iya. Tapi, kenapa kepalanya menunduk seperti itu ya? ” tanya Menma ketika melihat Hikari sedang menahan rasa malunya dengan menundukkan kepalanya.
“ Entahlah. Aku juga tidak paham. ” jawab Tora.
“ Hn.. Dasar bocah pemalu. ” ucap Juto
“ Apapaan dia itu? Aneh sekali. ” ucap Yura.
“ … ”
Kemudian, Merlin memanggil anak berikutnya untuk memulai tesnya setelah mencabut panah-panah yang bersarang di sasaran.
“ Yosh. Sekarang, selanjutnya adalah Keita. Silahkan ke depan. ”
“ Hai, sensei "
Akhirnya, Keita mendapatkan giliran untuk memulai tesnya dan di saat itu juga terdengar teriakan penonton dari para gadis untuk menyemangati Keita.
“ KYAAAA, KEITAA!!! SEMANGAT!!!!!
“ KEITA, KAMI MENDUKUNGMU. BERJUANGLAH. ”
“ Cih, berisik sekali. Menggangguku saja. ” gumam Keita yang merasa risih karena sorakan dari para ‘ fansgirl ’ nya.
“ Hehe. Biarlah, Keita. Lagipula mereka cuma ingin menyemangatimu saja. Jadi, tidak usah diambil pusing. ” ucap Juto.
“ Iya, benar. Yang penting, kau fokus saja pada tesnya. Aku yakin kau pasti bisa mendapatkan hasil yang terbaik karena kau yang paling jenius di kelas kita. ” ucap Yura.
“ Hn. Ya, aku tau. Aku akan berusaha. ” balas Keita dengan nada dingin.
“ Ganbatte, Keita! ” ucap Juto sambil menyemangati Keita.
Di sisi lain,
“ Cih... Kenapa sih mereka antusias sekali memberi dukungan kepada Keita kalau dia sedang memperagakan bakatnya. Padahal, aku sendiri juga berbakat tapi tak ada satupun yang mau menyorakiku. ” kesal Menma melihat Keita yang selalu mendapatkan dukungan yang sangat banyak, terutama dari kalangan anak-anak perempuan.
“ Ya.. Itu karena Keita memang paling berbakat di kelas kita. Aku rasa sudah wajar saja kalau dia sangat menarik bagi banyak kalangan seperti yang kau lihat. Sehingga, dia mendapatkan banyak sekali dukungan dan sorakan meriah dari para penggemarnya. ” ucap Tora.
“ Iya. Selain itu, Keita memang selalu terlihat tampan dan gagah walaupun dia masih anak-anak. Itu karena dia selalu berlatih setiap saat sehingga bakatnya selalu terasah sempurna. Ditambah lagi dengan tampilan warna kulit putihnya serta rambut kelabunya membuat banyak sekali yang jatuh cinta pada anak itu. Ahhh... Indahnya kalau sampai ada yang menjadi kekasih dari Keita itu. ” ucap Nia yang tanpa sengaja menambahkan kesan menggodanya ketika membicarakan tentang ketampanan Keita.
“ Ooh. Jadi, kau selama ini juga suka dengan Keita ya, Nia? ” tanya Tora dengan nada mengejek terhadap ucapannya Nia sebelumnya.
“ Heh?! E-etto... T-tidak. Aku sendiri tidak begitu tertarik dengan dia kok. Bagiku, dia itu biasa aja. Lagipula, aku anggap kalau semua laki-laki itu sama saja. Memangnya kenapa? ” jawab Nia dengan nada agak sedikit malu.
“ Hufft. Aku pikir kau sama saja dengan mereka, Nia. Ah, sudahlah. ” ucap Tora dengan malasnya.
“ Hehehe, kalian berdua kenapa sih? Sepertinya ada yang cemburu? ” tanya Menma sambil menyindir di antara Nia dan Tora.
“ Tidak, aku tidak cemburu. Aku hanya sekedar bertanya saja. ” jawab Tora sambil melipatkan tangannya di depan dadanya.
“ Ohh.. Begitu ya. Baiklah kalau begitu, aku juga akan berusaha sebaik mungkin. ” ucap Menma dengan nada semangat pada dirinya sendiri.
Keita sudah berada pada posisinya di mana dia akan bersiap memulai tesnya dengan menembakkan panah pertamanya ke arah sasaran yang disediakan. Panah pertamanya langsung melesat. Alhasil, panah itu menancap di titik tengah sasaran tersebut dan semua orang melihat itu langsung terkagum.
“ WAHHHH HEBATNYA!!!! DIA MENGENAINYA TEPAT SASARAN ITU. ”
“ KEITA, KAU HEBAT SEKALI! SEMANGAT!!! ”
Tetapi, Keita tidak memperdulikan hirauan itu dan langsung melakukan percobaan berikutnya. Yang kedua, ketiga, keempat dan kelima semuanya tepat sasaran seperti pada percobaan pertama sehingga membuat Merlin merasa kagum dengan anak yang berbakat yang satu itu.
‘ Hebat sekali. Dia bahkan bisa mengenai langsung tepat sasaran tanpa ada yang meleset sedikitpun. Dia, benar-benar sangat jenius. Dia bisa saja akan menjadi seorang ninja yang andal. ’ batin Merlin yang melihat hasil yang diperoleh dari Keita yang sangat sempura di setiap lima percobaan yang diberikan.
“ Yosh, Keita. Sekarang kau kembalilah. ”
“ Hai, sensei. Arigatou gozaimasu. ”
Keita langsung kembali ke kerumunan dan disambut sorakan gembira dari para penggemarnya. Sedangkan Merlin kembali mencabuti anak panahnya untuk membersihkan sasarannya.
“ KYAAA. KEITA MEMANG LUAR BIASA. ”
“ DIA SUNGGUH BERBAKAT DAN JENIUS. ”
“ ORANG TUANYA PASTI SANGAT BANGGA MELIHATNYA YA. ”
Melihat sorakan serta pujian yang dilontarakan kepada Keita membuat seorang anak elf berambut hitam gelap alias Menma menjadi sangat iri melihatnya.
‘ Cih, dia selalu saja melakukannya dengan sempura dan selalu saja mendapatkan banyak pujian-pujian manis dari para penggemarnya. Kali ini, aku tidak akan kalah dari dia dan kutunjukkan kalau aku pasti bisa melakukannya. ’
Waktu terus berlanjut hingga menyisakan satu murid lagi yang belum mendapatkan giliran untuk memulai tesnya.
“ Baiklah. Sekarang, tinggal tersisa satu lagi yaitu Menma. Silahkan ke depan untuk memulai tesnya. ”
Akhirnya giliran yang karakter utama dalam cerita untuk memulai tesnya.
“ Yoshaaa. Ini saat yang aku tunggu-tunggu. Aku pasti bisa! ” gumam Menma.
“ Semoga berhasil, Menma. Aku harap, kau bisa memberikan yang terbaik walaupun mendapatkan giliran terakhir. ” ucap Tora.
“ Iya, Menma. Berjuanglah dan ganbatte! ” ucap Nia.
“ Hm. Arigatou, minna. Yosh, ini dia. ” ucap Menma sambil berjalan menuju ke posisi untuk memulai tesnya.
Berbeda pada saat gilirannya Keita, justru pada gilirannya Menma, yang dia dapat hanyalah cemoohan dan sorakan buruk dari para penonton yang membuat mentalnya Menma menjadi menurun secara perlahan.
“ Haaah... Sekarang tinggal si pembuat onar itu. ”
“ Iya, pantas saja dia mendapat giliran terakhir. Aku jadi malas melihatnya. ”
“ Mungkin, dia hanya berhasil di satu percobaannya saja atau bisa saja tidak sama sekali. ”
“ Pasti sangat membosankan melihatnya. Kalau dilihat dari kemampuannya sih biasa saja. Bahkan masih kalah jauh dari Keita. ”
“ Aku yakin si bodoh itu akan gagal dalam tes ini. Hahahaha. ”
Berbagai macam hinaan dan ejekan yang diterima memang membuat Menma merasa terpuruk. Tapi, dia tepis semua itu agar tidak mengganggunya pada saat tes nanti. Kini, Menma telah bersiap di posisi sambil mengarahkan panahnya ke arah sasaran yang dituju. Percobaan pertama dimulai dan Menma langsung menembakkan panahnya. Hasilnya, panah tersebut meleset dari sasaran. Hal itu membuat para penonton menyoraki buruk pada Menma.
“ BOOOOOO!!!! ”
“ BOOOOOO!!!! ”
“ PAYAH!!! ”
“ BARU SEKALI PERCOBAAN SAJA SUDAH MELESET. DASAR PAYAH!!! ”
Menma langsung geram karena mendengar umpatan berupa hinaan dan cacian terhadapnya.
“ *kesal* BERISIK!!!! Aku baru saja mau mulai! Lihat saja nanti! ” seru Menma sambil mempersiapkan untuk percobaan kedua.
“ Para penonton harap tenang! Jangan mengganggu kosentrasinya yang sedang melakukan tesnya. Yosh, Menma. Kau boleh coba di percobaan berikutnya. ” seru Merlin sambil menenangkan para penonton dan meminta Menma untuk coba lagi di percobaan kedua.
Tetapi, di percobaan itu, tembakkan Menma kembali meleset. Alhasil, sorakan buruk kembali terdengar dari para penonton.
“ BOOOOOOO!!!! ”
“ BOOOOOOO!!!! ”
“ BOOOOOOO!!!! ”
Menma tidak menggubrisnya dan kembali untuk coba lagi di percobaan berikutnya. Di percobaan ketiga, dia meleset lagi. Di percobaan keempat, dia berhasil mengenai sasaran meski panahnya menancap di sekitar pinggiran lingkaran target. Terakhir di percobaan kelima, Menma berhasil lagi tetapi hasilnya tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya meskipun hanya berjarak satu ruas jari lebih jauh dari pinggiran lingkaran target.
“ Huffft. Baiklah, Menma. Itu sudah cukup. Sekarang, kau kembalilah! ” seru Merlin.
“ Ehh... T-tapi guru, aku ingin coba sekali lagi. Aku pasti bisa kok. ” ucap Menma.
“ Tidak bisa, Menma. Kau hanya diberikan lima kali kesempatan dalam tes ini. Tidak ada penambahan. Sekarang kau kembalilah! ” tegas Merlin.
“ *Kesal* Hai, sensei. ”
Akhirnya dengan berat hati, mau tidak mau Menma harus kembali ke kerumuman penonton karena kesempatan yang diberikan di dalam tes hanya lima saja.
Sesampainya di sana, hanya keheningan pada saat Menma mendekati murid-murid lainnya. Dilihat dari tatapan dingin dari teman-temannya membuat Menma teringat dengan tatapan yang sama dengan para penduduk desa Moonlight Plains yang melihatnya sebagai anak monster atau iblis. Tentu saja, hal itu membuat Menma menjadi merasa tak nyaman ketika dilihat dengan tatapan seperti itu sampa-sampai dia sempat berteriak agar mereka berhenti mengecap buruk kepadanya.
“ APA LIHAT-LIHAT?!! Aku hanya tidak beruntung saja. Lain kali, aku pasti mendapatkan yang lebih baik dari ini dan suatu saat nanti, aku akan lulus menjadi seorang ninja. Lihat saja! ” teriak Menma sambil mengumpatkan emosinya ketika melihat teman-temannya melihat dia dengan tatapan datar dan dingin.
Tak seorang pun dari mereka yang iba melihat Menma diperlakukan seperti orang asing. Tentu saja, mana ada seorang anak yang mau diperlakukan seperti itu. Pasti, mereka ingin diperlakukan sama seperti anak-anak lainnya meskipun hanya kurang dalam hal bakat. Tetapi, hal itu tidak berlaku untuk si bocah half-elf berambut hitam ini yang sekarang berada di kerumunan para murid di bawah bimbingan wali kelasnya yaitu Merlin.
Hingga kemudian,
“ Yosh, minna-san. Karena tesnya sudah selesai, kalian kembali ke kelas untuk mengemasi barang-barang kalian dan boleh pulang. Silahkan! ” seru Merlin sambil membubarkan para murid didikannya karena tes panahan yang diadakannya sudah selesai.
Kini, para murid mulai berjalan kembali ke kelasnya dengan menyisakan Menma seorang diri yang masih berdiri di lapangan. Tak lama kemudian, Menma juga bergerak kembali ke kelasnya. Tetapi sebelum itu, Merlin sempat memanggil Menma untuk memperingatkan sesuatu kepadanya.
“ Oy! Menma! Chotto matte! ”
“ Heh!? Ada apa Merlin-sensei? ”
“ Apakah kau tidak lupa kan tugasmu hari ini? ”
“ Hah?! Tugas? Tunggu sebentar. ”
Setelah berpikir sejenak kemudian,
“ Oh ya, tentu saja aku masih ingat, sensei. Lagipula tinggal sedikit lagi akan selesai kok. Jadi, tenang saja. ”
“ Hn. Baguslah. Kalau begitu, seperti biasa ya. Setelah jam pulang, kau langsung berada di lokasi untuk melanjutkan tugasmu. ”
“ Hai, sensei. ”
Akhirnya, Menma kembali bergerak kembali ke kelasnya diikuti oleh Merlin di belakangnya. Sebelumnya, Merlin sempat bertanya tentang tugas yang dimiliki oleh Menma. Tugas yang dimaksud itu adalah tugas hukumannya yang diberikan oleh sang Shinrinkage dari beberapa hari yang lalu. Setelah berangkat keluar dari akademi, Menma langsung bergerak ke lokasi yang akan di mana dia akan menjalankan tugasnya yaitu membersihkan lingkungan di kawasan desa Moonlight Plains yang masih belum diselesaikan. Sesampainya di sana, Menma langsung menggunakan peralatan kebersihannya untuk membersihkan jalanan dan bangunan-bangunan yang masih kotor akibat ulahnya beberapa hari yang lalu.
Waktu terus berjalan hingga menjelang sore hari dan tinggal beberapa titik lokasi yang masih belum dibersihkan oleh Menma. Ya, sebentar lagi Menma akan menyelesaikan masa hukumannya yang berarti, dia tidak akan disuruh bersih-bersih lagi seperti di hari-hari sebelumnya yang di mana dia selalu diawasi secara langsung oleh Merlin selaku wali kelasnya.
Tetapi, ketika sedang menjalankan tugasnya, Menma mulai merasa lelah karena sudah terlalu lama dia mengerjakan tugasnya. Sebenarnya, dia sudah tidak diikat lagi oleh Merlin yang awalnya untuk mencegah Menma kabur dari tugasnya. Karena Menma sudah mulai menaati perintah dari Merlin, akhirnya Menma menjadi anak yang penurut sedikit demi sedikit meskipun masih ada keluh kesah dan protes dari bocah itu. Tetapi, yang dihadapinya saat ini adalah Menma harus membersihkan coretan-coretan di atap bangunan berlantai dua. Hal itu membuat Menma harus terikat lagi dengan tali agar dia tidak mudah jatuh saat sedang membersihkannya dikarenakan Menma sedang bergelantungan di bangunan itu.
“ Hei! Menma! Cepatlah sedikit! Kalau kau belum menyelesaikan tugasmu, kau tidak akan kuizinkan untuk pulang. Jadi, segera kau selesaikan. ” seru Merlin saat melihat Menma mulai merasa kelelahan saat sedang membersihkan bangunan itu.
“ Hah.. Hah.. sebentar, sensei. Aku sedang istirahat dulu. Lagipula, tidak ada satu pun yang ada di rumah. Jadi, terserah aku mau menyelesaikan ini dengan cepat atau tidak. ” ucap Menma yang tidak peduli dengan peringatan yang diberikan oleh Merlin.
“ Hei! Apakah kau sendiri tidak mengkhawatirkan ibumu, heh? Dia pasti sedang menunggumu lama di rumah. ” ucap Merlin.
“ Huffft. Sekarang, ka-chan ku tidak ada di rumah karena dia sedang berada di kuil lama sekali di Elbourne Woods. Jadi, aku tidak perlu khawatir karena setelah ini, aku akan bebas berkeliaran lagi. Hehehe. ” ucap Menma dengan riangnya.
“ Hehhh... Kau ini. Ada-ada saja. ” keluh Merlin ketika melihat Menma setelah mendengarkan ucapannya barusan.
“ Hihihihi. Itu memang benar, sensei. ”
Hingga kemudian,
“ Hmm... Oh ya. Menma! Bagaimana kalau setelah menyelesaikan ini, aku akan mentraktirmu makan sup tomyam. Bagaimana? ” bujuk Merlin dengan iming-iming bisa mentraktir Menma makan sup tomyam setelah menyelesaikan tugasnya.
“ Hahh... Benarkah?! Kalau begitu aku akan menyelesaikan tugas ini sesegera mungkin. ” kejut Menma ditambah dengan matanya langsung membinar setelah mendengar tawaran dari Merlin.
“ Hn. Baiklah, kalau begitu cepatlah! ” ucap Merlin.
Hingga beberapa saat kemudian, akhirnya Menma berhasil menyelesaikan tugasnya dengan cepat setelah membersihkan bangunan yang dia kerjakan itu.
“ Akhirnya, selesai juga tugasku ini. Hehehe. Sekarang, Merlin-sensei harus mentraktirku makan sup tomyam. ” ucap Menma dengan perasaan lega dan senang setelah menyelesaikan tugasnya.
“ Hehe. Tunggu dulu, Menma. Sebelum itu, kita harus membereskan peralatan ini dulu lalu kita akan melaporkan tugas hukuman ini kepada Shinrinkage. Setelah itu, aku akan mentraktirmu makan sup tomyam. ” ucap Merlin sambil menenangkan Menma untuk bersabar terlebih dahulu.
“ Apa?! Kenapa kita harus melapor kepada oji-chan? ” tanya Menma.
“ Itu karena Shinrinkage-sama harus memastikan semua pekerjaaan yang kita lakukan sudah diselesaikan dengan memberi laporan kepada Shinrinkage-sama. Dengan begitu, Shinrinkage-sama bisa mengetahui kalau tugas hukumanmu ini sudah selesai dan harus dilaporkan kepadanya untuk mempertanggung jawabkan semua yang telah kau lakukan selama ini. Tenang saja kok. Setelah itu, aku akan menepati janjiku padamu. ” jawab Merlin.
“ Hahh?! Souka. Yosh, ayo kita lakukan. ” balas Menma.
Lalu, Menma membereskan peralatan kebersihan dan mengantarnya ke gudang kebersihan di gedung Shinrinkage dengan dibantu oleh Merlin. Setelah itu, Merlin dan Menma melaporkan hasil masa hukumannya Menma ke hadapan sang Shinrinkage.
“ Lapor! Semua titik-titik lokasi yang telah ditentukan dari hari-hari sebelumnya sudah dibersihkan. Dengan kata lain, Menma telah menyelesaikan tugas hukumannya. Laporan selesai. ” ucap Merlin sambil melapor ke hadapan sang Shinrinkage.
“ Yosh. Laporan saya terima. Dengan begini, Menma telah dibebaskan dari hukumannya. Kalau begitu, kalian boleh meninggalkan ruangan ini. ” ucap sang Shinrinkage.
“ Baik, Shinrinkage-sama. Kalau begitu, kami berdua permisi. ” ucap Merlin sambil pamit meminta izin dari sang shinrinkage untuk meninggalkan ruangan.
“ Silahkan! ” ucap sang Shinrinkage.
Akhirnya, Merlin dan Menma meninggalkan tempat sambil menutup pintu ruang Shinrinkage.
“ Haah... Akhirnya selesai juga tugasku. Nah, sekarang bagaimana? Apakah sensei masih mau mentraktirku makan sup tomyam tidak? ” tanya Menma sambil menagih janji dari Merlin.
“ Ninja sejati tidak pernah menarik kembali ucapan yang telah dikeluarkan. Aku akan menepati janjiku kepadamu setelah kau menepati janjimu. Sekarang, aku akan membawamu ke kedai tomyam. ” jawab Merlin.
“ Wahh... Benarkah?! Asyiiik!!! ” ucap Menma dengan nada gembira.
Akhirnya, Merlin membawa Menma pergi ke kedai tomyam sesuai yang Merlin janjikan kalau dia akan mentraktir makan sup tomyam kepada Menma setelah Menma menyelesaikan tugas hukumannya. Sesampainya di sana, Merlin langsung di meja makan yang tersedia dan memesan dua mangkok sup tomyam bersama Menma.
“ Pelayan, saya pesan dua mangkok sup tomyam. ”
“ Oh ya. Tunggu sebentar. Pesanannya akan segera siap. ”
Sambil menunggu pesanannya datang, Merlin dan Menma melakukan perbincangan kecil kepada satu sama lainnya. Tidak lama kemudian,
" Pesanan sudah siap! "
Akhirnya, pelayanan itu telah menyajikan pesanannya berupa dua mangkok berisi sup tomyan yang berupa beberapa jenis sayuran dengan kuah pedas di dalamnya.
" Waaah!!! Akhirnya, makanannya sudah datang, Merlin-sensei. " ucap Menma.
" Ya, kau benar. Arigatou gozaimasu. " ucap Merlin.
" Dōitashimashite " ucap pelayan kedai itu.
Menma dan Merlin mulai menyantap hidangan mereka masing-masing. Tak lama kemudian, Merlin ingin membicarakan sesuatu kepada Menma.
" Umm... Menma. Sebelum kau mendapat hukuman dari Shinrinkage-sama, kenapa kau selalu membuat kenakalan di desa? Kau tau kalau tindakanmu itu dapat merugikan orang lain. "
" Kenapa sensei menanyakan itu? Tentu saja, aku melakukan itu agar mendapatkan perhatian dari banyak orang. Selain itu, aku ingin mengakui diriku kalau aku akan menjadi seorang ninja yang hebat yang bisa bersanding dengan sang pahlawan legendaris. "
Mendengar kata-kata terakhir yang Menma ucap sebelumnya membuat Merlin hampir tersedak dan menghentikan aktivitas makannya sejenak.
" Nani!? Apa kau bilang? Sang pahlawan legendaris?! "
" Hai, tentu saja. Memangnya kenapa, sensei? "
Lalu, dia mulai mengajukan pertanyaan lagi kepada Menma.
" Umm... Apakah kau sendiri tau tentang siapa sesosok sang pahlawan legendaris itu, Menma? "
" Seingatku, dia adalah seseorang yang mengajarkan teknik ninjutsu yang ke pertama kalinya di negeri Afata. Selain itu, dia juga yang sempat memimpin pasukannya bersama dengan ratu elf untuk melawan pasukan kegelapan di masa lampau. Pada saat itu, sang pahlawan legendaris itu berhasil mengalahkan raja kegelapan dan akhirnya membuahkan kemenangan untuk negeri Afata. Sehingga, dia mendapatkan anugerah dari ratu elf berupa sebuah julukan yaitu sang pahlawan legendaris dari Afata. "
Mendengar penjelasan dari Menma, Merlin mulai terkejut dan kagum karena bagaimana bisa seorang anak kecil yang suka membuat onar bisa mengetahui sejarah dari sang pahlawan legendaris dan juga mengetahui tentang asal-usul dari elf shinobi di negeri Afata.
" Dari mana kau tau tentang itu semua, Menma? Apakah kau mempelajarinya secara langsung dari sensei atau melalui buku-buku sejarah? Karena setahuku, kau sering kali terjadi tertidur dan tidak konsentrasi dalam beberapa pelajaran. "
" Hehehe. Soal itu, aku mengetahuinya dari seseorang yang pernah kutemui di suatu tempat, sensei. Waktu itu, aku sedang sendirian di sebuah taman lalu aku menemukan sebuah patung yang terpahat di taman itu. Kemudian, ketika aku sedang mencari tau siapa yang dijadikan patung itu, aku bertemu dengan seseorang yang memakai pakaian gelap dan dia bertanya kepadaku tentang apa yang sedang aku lakukan di sana. Lalu, aku mengatakan kalau aku sedang mencari tau tentang patung itu. Setelah itu, mulailah dia memberiku jawaban dan menceritakan tentang sejarah dan asal-usul dari elf shinobi di negeri Afata. Di situlah, setelah aku mendengarkan ceritanya, aku mulai kagum kepada sang pahlawan legendaris itu dan akhirnya, aku memutuskan untuk menjadi seorang ninja yang hebat yang bisa bersanding dengan sang pahlawan legendaris. "
Mendengar penuturan yang diucapkan oleh Menma sambil menyantap hidangannya, Merlin mulai menunjukkan rasa simpatinya kepada Menma. Entah kenapa, dia mulai menyukai anak half-elf berambut hitam ini yang memiliki impian yang sangat mengagumkan yang bahkan tak terpikirkan oleh siapapun, yaitu menjadi sosok ninja seperti sang pahlawan legendaris dari Afata. Ya meskipun itu terdengar sangat mustahil, tapi tidak ada yang tidak mungkin jika bisa mewujudkannya dengan kerja keras yang sungguh-sungguh untuk menjadi seorang shinobi yang hebat dan berguna untuk desa dan negeri tercinta. Bagi Merlin, itu hanyalah permulaan yang bagus sekaligus langkah awal untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
" Umm... Souka. Tapi, kenapa kau ingin menjadi sesosok seperti sang pahlawan legendaris, Menma? Kau tau, hampir seluruh orang di desa maupun di negeri Afata tidak pernah menceritakan bahkan mengetahui tentang sejarah dari sang pahlawan legendaris itu kecuali orang-orang terdekatnya. Bahkan di akademi saja, hal itu tidak pernah diceritakan sama sekali. "
" Karena, aku ingin mengakui diriku kalau aku bisa menjadi seseorang yang dibutuhkan untuk desa ini dan juga, aku ingin meneruskan perjuangan dari sang pahlawan legendaris yang sudah berusaha keras untuk menjaga negeri ini. Karena itulah aku ingin menjadi kuat untuk melindungi orang-orang yang kusayangi, terutama ibuku dan menunjukkan kalau aku bukanlah anak monster seperti yang dikatakan orang-orang di desa kepadaku. " ucap Menma sambil menghabiskan makanannya yang tinggal sedikit lagi.
Merlin tersenyum setelah mendengar ungkapan yang disampaikan dalam dari Menma. Ya, dia sudah mengetahui rumor tentang anak half-elf itu yang mengatakan kalau dia adalah jelmaan dari iblis atau monster yang dapat menyebabkan kesialan bagi warga desa. Bisa dilihat dari warna rambut hitamnya saja yang bahkan tidak dimiliki oleh elf manapun dianggap sebagai aib bagi desa. Tetapi, dia tepis semua itu dan beranggapan kalau tidak mungkin anak seusianya yang tidak mengetahui apa-apa malah dikatakan sebagai pembawa sial dan bencana. Justru, kalau dia sampai mengatakan hal itu kepadanya, Menma pasti akan sangat sedih dan itu akan membuatnya menjadi malas untuk meneruskan pendidikannya di akademi. Dia teringat dengan pembicaraannya dengan kepala akademi di hari-hari sebelumnya bahwa untuk membuat seorang anak nakal menjadi seorang pribadi yang baik, mereka harus diberi bimbingan dan pengarahan yang tepat agar mereka tidak akan melakukan tindakan kenakalan yang dapat merugikan orang lain. Selain itu, kenakalan yang dilakukan oleh anak-anak tidak perlu digubris terlalu jauh agar mereka dapat menyadari dan merasa bosan untuk melakukan itu lagi dengan sendirinya. Itulah yang masih diingat oleh Merlin ketika dia mencoba untuk membimbing Menma untuk menjadi anak yang baik dan berguna untuk dirinya sendiri maupun untuk desa ketika dia akan menjadi seorang shinobi nantinya.
" Oh ya, Menma. Kau tau kalau besok adalah hari kelulusan di akademi yang berarti bahwa seluruh murid akan menjadi seorang ninja dengan tingkat awalnya yaitu genin.
Menma langsung terkejut setelah mendengar itu dari Merlin. Tentu saja, dia sangat senang karena setelah penantiannya yang sangat lama dengan mempelajari semua pengetahuan di akademi yang cukup menyulitkan bagi dirinya untuk memahami itu semua, dia akan menjadi seorang ninja dalam karirnya dengan tingkat awalnya yaitu genin.
" Nani!? Apakah itu benar, Merlin-sensei? Kalau begitu, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ninja. Wahh... Aku jadi tidak sabar untuk itu. "
" Hai. Itu benar, Menma. Tapi, mereka harus mengikuti ujian yang akan diadakan besok untuk mengetes apakah mereka layak untuk menjadi seorang ninja atau tidak. Karena jika mereka dinilai tidak layak, mereka tidak akan bisa lulus dan harus mengulang pendidikan di akademi tahun depan. Sedangkan bagi yang layak, meeka akan lulus dan memulai karir pertama sebagai seorang genin. "
" Ohh... Souka. Jadi, kami semua harus mengikuti ujian itu ya agar bisa lulus menjadi ninja. "
" Hm. Tentu saja. Nah, sekarang apakah kau sudah mempersiapkan dirimu untuk menghadapi ujian besok, Menma? "
" Umm... Entahlah, sensei. Aku bahkan tidak tau apa yang harus persiapkan besok untuk ujiannya. Bahkan, aku tidak apa yang akan diujikan nanti agar bisa lulus dari akademi dan menjadi seorang genin. "
" Ohh... Kalau begitu, kau persiapkan itu dari sekarang, Menma. Karena, yang akan diujikan di dalam ujian besok ada dua macam, yaitu ujian teori dan praktek. Masing-masing dari itu akan mengujikan beberapa pelajaran dan teknik yang telah kau pelajari sebelumnya. Nantinya, itu semua yang akan menentukan kelulusanmu apakah kau akan lulus menjadi seorang ninja atau tidak. "
" Souka. Kalau itu sih, beberapa sudah aku pelajari dan kuasai, sensei. Hanya saja, ada yang masih yang membuatku kesulitan untuk menguasai teknik itu. Tapi, aku tidak akan menyerah dann terus berusaha sungguh-sungguh agar aku bisa lulus menjadi seorang genin. Lihat saja nanti sensei, karena aku akan membuktikannya besok. "
" Hm. Baguslah. Kalau begitu, semoga berhasil besok. Aku berharap semua murid di kelasku termasuk kau akan lulus menjadi seorang genin. Jadi berjuanglah, Menma. "
" Hai, sensei. "
Setelah melakukan pembicaraan yang panjang, akhirnya mereka berdua telah menghabiskan makanan mereka dan Merlin yang membayar itu semua karena dia sendirilah yang mentraktir Menma untuk makan tomyan bersamanya.
" Ini uangnya, pelayan. Aku meletakkannya di meja. " ucap Merlin.
" Oh ya. Arigatou gozaimasu. Datanglah kemari di lain waktu dan semoga harimu menyenangkan. "
" Hai. Dōitashimashite. Semoga harimu menyenangkan juga. "
Akhirnya, Menma dan Merlin telah meninggalkan kedai tomyan itu dan mulai berjalan untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.
" Yosh, Menma. Kita sampai di sini dulu ya. Besok, kau sudah mempersiapkan dirimu untuk ujian kelulusanmu. Jadi, jangan sampai kau sia-siakan itu, oke? "
" Hai, sensei. Aku berjanji bahwa aku akan lulus ujian besok dan akan menjadi seorang genin. Jadi, aku harus tetap berjuang. "
" Yokatta. kalau begitu, kau pulanglah dan jangan lupa pesan-pesan yang aku sampaikan kepadamu sebelumnya. Mudah-mudahan saja, kau dan para murid lainnya lulus dengan hasil yang terbaik. "
" Hai. Tentu saja, sensei. "
" Yosh, kalau begitu, aku pulang dulu ya. Jadi, sampai ketemu lagi di akademi besok, Menma. "
" Hai. Aku juga harus pulang untuk persiapan ujian besok. Jaa ne, Merlin-sensei. "
" Hm. Jaa ne, Menma. "
' Aku berharap, kau bisa lulus di hari esok, Menma. Karena aku yakin dengan semangat dan tekad yang kau miliki, suatu saat nanti kau bisa menjadi seorang ninja yang hebat yang bisa bersanding dengan sang pahlawan legendaris seperti yang kau impikan itu. Percayalah. ' batin Merlin sambil berjalan pulang ke rumahnya setelah berpisah dengan Menma.