
Waktu terus berlalu. Hari demi hari telah terlewati dan sudah hampir tiga tahun penuh, para murid akademi termasuk Menma telah melewati masa pembelajarannya di akademi. Beberapa momen yang telah terjadi belakangan ini. Salah satunya di mana Menma masih saja membuat onar di akademi yang membuat guru Merlin menjadi pusing kepala melihat tingkah Menma yang suka melanggar peraturan di kelas. Tetapi, hal itu tidak membuat Merlin untuk berhenti mengajarkan murid-muridnya dan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka ke depannya sampai pada hari ujian kelulusan tiba di mana para murid akademi akan dipromosikan menjadi seorang ninja tingkat genin setelah melakukan tes yang diadakan oleh panitia ujian.
Di sisi lain, setiap hari libur akademi, seperti biasa bukan Menma namanya jika dia tidak melakukan kebiasaan sehari-harinya berupa melakukan trik jail kepada para penduduk desa Moonlight Plains. Apalagi alasannya jika bukan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Meskipun mendapatkan banyak teguran maupun peringatan keras dari penduduk biasa maupun para ninja, dia tidak akan pernah berhenti dan merasa puas untuk terus melakukan banyak macam kenakalan sambil mengatakan kepada semua orang kalau dia akan menjadi sesosok seperti sang pahlawan legendaris dari negeri Afata. Tentu saja, dia akan selalu melakukan itu selama Lindis tidak tinggal bersama Menma karena dia harus mengerjakan banyak pekerjaan di Elbourne Woods sebagai seorang pendeta. Tetapi, tentu saja dia akan tetap mengawasi dan mengkhawatirkan Menma meskipun dibatasi oleh jarak yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Kalau saja Lindis mengetahui kalau Menma sering melakukan banyak kenakalan di desa, sudah pasti dia akan memberi hukuman berat kepada Menma karena meskipun dia hanyalah ibu asuhnya, tetapi tetap saja dia akan terus memperhatikan Menma layaknya perhatian dari seorang ibu kandung kepada anaknya agar bisa menjadi pribadi yang baik.
Meski demikian, nampaknya Lindis sudah mengetahui segala macam aktivitas yang dijalani oleh Menma termasuk tindakan kenakalannya. Entah siapa yang memberitahu itu kepada Lindis atau Lindis sudah mengawasinya melalui cara yang dia miliki yang masih misterius. Tapi yang pasti, dia paham betul apa yang sebenarnya Menma alami saat dia tinggal sendirian di desa itu. Tentu Menma sering melakukan itu bukan tanpa alasan. Bisa jadi, itu adalah salah satu faktor di mana Lindis telah memaklumi terhadap semua yang dilakukan oleh Menma di sana. Bahkan saat di hari akademinya, Menma sering kali tertidur di dalam kelas saat senseinya sedang menjelaskan pelajaran kepada para muridnya. Menma juga kadang-kadang suka datang terlambat enam menit setelah jam masuk kelas dimulai. Tentu saja, itu akan menambah catatan nilai buruk milik Menma akibat dari semua perbuatannya itu. Mulai dari membuat kejahilan terhadap Merlin saat di kelas, mengajak berantem dengan Keita maupun murid yang lainnya, tertidur di dalam kelas, tidak mendengarkan penjelasan dari senseinya sehingga dia sendiri yang tidak mengerti sama sekali tentang pelajaran yang sedang dijelaskan oleh senseinya saat itu. Hal itu membuat nilai akademisnya menjadi sangat buruk. Dan masih banyak kelakuan buruk yang dilakukan oleh Menma di dalam maupun di luar kelas yang juga membuat Merlin menjadi pusing tujuh keliling melihatnya selama ini.
Hingga kemudian, Merlin dipanggil oleh kepala akademi ninja. Dia memanggil Merlin karena ingin membahas tentang kinerja mengajarnya di akademi selama tiga tahun terakhir termasuk tentang rangkaian kelakuan buruk dari para muridnya terutama Menma. Merlin sudah menduga kalau hal seperti ini akan terjadi apalagi dengan hal-hal yang berhubungan dengan Menma. Dia sudah siap menerima konsekuensinya jika kepala akademi ninja merasa kalau kinerja mengajar Merlin sangat kurang dan memintanya untuk mundur dari jabatannya sebagai guru akademi. Akhirnya, Merlin berhadapan dengan kepala akademi di ruangannya dan perbincangan di antara mereka berdua dimulai.
“ Selamat pagi, tuan. Bolehkah saya masuk? ” tanya Merlin.
“ Oh.. Ternyata kau datang juga. Baiklah, kau boleh masuk. ” jawab dari kepada akademi sambil mengizinkan Merlin untuk masuk ke ruangannya.
“ Ada keperluan apa sampai memanggil saya untuk menghadap anda, tuan? ”
“ *Menghela nafas* Begini Merlin. Selama tiga tahun terakhir ini, aku mendapatkan banyak laporan tentang kondisi kelasmu selama kau mengajar di akademi. Aku rasa sudah saatnya untuk mengevaluasinya karena ini juga berhubungan kalau tinggal dua hari lagi akan memasuki hari kelulusan di mana para murid di akademi akan dipromosikan menjadi seorang ninja dengan tingkat awalnya yaitu genin. Sebelum itu, aku ingin memastikan bahwa para murid di akademi termasuk kelas anda sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kelulusan nanti terutama dari nilai akademis maupun nilai karakter. ”
‘ Ternyata yang aku takutkan mulai muncul juga ’ batin Merlin.
“ Selain itu, apalagi yang ingin tuan sampaikan kepada saya. ”
“ Oh ya. Saya juga dengar kalau masalah kelakuan buruk yang dilakukan oleh salah satu murid di kelasmu, akhir-akhir ini sungguh memprihatinkan. Jika hal itu terus dibiarkan, maka itu akan berpengaruh dengan nilai rata-rata dari keseluruhan dari nilai pelajaran, nilai kerja sama dan nilai karakter miliknya termasuk saat hari kelulusan nanti. Jadi, saya ingin anda terus mengawasi perkembangan dari para muridmu untuk terus memperbaiki nilainya sebelum mengikuti tes nya, terutama untuk murid yang bernama Menma itu. ”
“ Hai, Saya mengerti tuan. Saya juga berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada para murid saya, khususnya yang bernama Menma itu. Saya yang akan terus memberikan pengarahan dan bimbingan kepadanya agar dia bisa menyadari semua kesalahan yang telah dia perbuat dan berusaha untuk memperbaikinya. Memang, tiga tahun terakhir ini dia selalu saja membuat banyak masalah di kelasnya. Bahkan, setiap kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh beberapa murid saya pasti dia selalu menjadi biang keroknya. Saya tidak tau harus bagaimana lagi untuk membuat dia mengerti dan mencoba untuk bersikap lebih baik kepada para guru maupun teman-temannya. Mungkin, saya rasa tidak cocok untuk menjadi wali kelas untuk kelasku sendiri. ”
“ Huff.. Merlin, kau tidak seharusnya putus asa dalam membimbing kelasmu. Meskipun, kelasmu selalu bermasalah karena anak itu, itu bukan berarti kau langsung menilai buruk tentangnya begitu saja. Justru, kau harus tetap konsisten untuk terus memberi bimbingan yang terbaik untuk kelasmu agar mereka bisa menjadi seorang pribadi yang baik dan menjadi seorang ninja yang bijak dalam menjalankan tugasnya kelak. Itu yang harusnya kau ketahui. ”
“ Tapi, bagaimana caranya, tuan? Sudah berkali-kali, saya sudah melakukan semampuku untuk mengarahkan kelasku untuk menaati peraturan akademi dengan benar. Tapi, si anak pembuat onar dari kelasku selalu saja membuat perkara lebih buruk dan dia tidak sama sekali tidak kapok saat dia ditegur maupun dihukum. Jadi, apa harus aku lakukan terhadap anak itu agar saya bisa membimbing kelas saya dengan tenang tanpa ada masalah yang terus-terusan muncul? ”
“ Segala sesuatu, pasti ada masalahnya. Itu tergantung bagaimana caramu untuk menghadapinya. Kalau berbicara tentang anak itu, kau tidak perlu meneladeni kelakuan-kelakuan darinya. Setiap anak pasti ada alasannya kenapa dia sampai berbuat kenakalan sampai sejauh itu. Yang penting, kita tetap berusaha memotivasi kepada para murid akademi agar mereka dapat berkembang dan memahami kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Setiap tindakan pasti ada batasnya. Mungkin, itu juga berlaku bagi anak itu. Karena itulah, kau harus percaya bahwa suatu saat nanti, dia akan mengerti dengan semua ajaran dan bimbingan yang kau berikan kepadanya meskipun itu membutuhkan waktu yang lama. Selain itu, dia pasti akan lelah untuk melakukan perbuatan itu lagi dengan sendirinya. Jadi, kau tidak perlu terlalu memikirkan kelakuan-kelakuan yang dilakukan oleh anak itu. ”
“ E-etto... Maksud tuan, saya lebih baik mendiamkan dia saja yang terus membuat masalah di kelas sedangkan yang lainnya menjadi terganggu akibat kelakuan dari anak itu karena saya tidak menegurnya. Itu sama saja, anak-anak dari kelasku akan menyalahiku karena saya telah membiarkan contoh yang buruk diterapkan di dalam maupun di luar kelas. ”
“ Tidak... tidak... Bukan seperti itu. Maksudku, kau tetap memberikan pedoman yang baik kepada para muridmu dan aku tidak menyuruhmu untuk mendiamkan anak itu. Kau harus cari tau sendiri bagaimana cara untuk mengendalikan kelakuan buruknya itu. Kalau kau menanggapinya dengan cara yang sama, itu tidak akan merubahnya dan akan membuatmu terus kesal terhadap anak itu. Percayalah, suatu saat nanti dia akan mengerti juga. ”
“ Souka. Yosh, saya mengerti tentang apa yang tuan sampaikan. ”
“ Baguslah. Hanya itu saja yang ingin aku sampaikan. Mudah-mudahan kau bisa membawa dia ke arah jalan yang benar dan menyadari semua kesalahannya. Sekarang kau boleh meninggalkan ruangan ini.”
“ Hai, tuan. Kalau begitu, saya permisi. ”
“ Silahkan. ”
Akhirnya Merlin Meninggalkan ruangan kepala akademi ninja.
Sementara itu, di tengah keramaian desa Moonlight Plains di mana para penduduk mulai sibuk menjalankan aktivitasnya, dikejutkan dengan penampakan coretan-coretan cat dengan warna hitam yang tertempel di berbagai tempat. Mulai dari rumah, toko-toko, gudang, tembok-tembok bangunan, pepohonan dan lain sebagainya bahkan gedung kepala desa saja juga tidak luput dari coretan cat berwarna hitam itu. Ya, tentu saja siapa lagi pelakunya kalau bukan si anak half-elf berambut hitam yang suka mencari gara-gara hanya untuk kesenangan dirinya dan beralasan untuk mendapatkan perhatian dari semua orang di desa. Tidak lain dan tidak bukan, dia adalah Menma yang saat ini mulai beraksi melakukan kenakalannya di desa dan kebetulan juga kalau saat itu sedang ada hari libur akademi. Mulai dari membuat coret-coretan di mana-mana, mengerjain seseorang yang sedang sibuk bekerja, membuang barang-barang ke sembarang tempat, mengganggu aktivitas patroli para ninja dan lain sebagainya yang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang dilakukan oleh Menma di desa setiap ada kesempatan yang muncul. Tak jarang jika hal itu membuat para ninja mulai mengambil tindakan yang tegas untuk menghentikan kenakalan Menma setelah menerima beberapa keluhan dari para warga desa.
Di sisi lain, Merlin yang baru saja meninggalkan akademi ninja setelah bertemu dengan kepala akademi sedang berjalan-jalan di jalanan desa Moonlight Plains. Ketika dia sedang asyik berjalan, tanpa sengaja dia melihat Menma yang saat itu memakai topeng naga di atas kepalanya sedang melakukan kenakalannya berupa mengecat tembok rumah penduduk dengan menggunakan cat hitamnya.
“ Itu kan Menma. Sedang apa dia di sana? ”
Melihat kelakuan muridnya itu, Merlin langsung meneriaki Menma atas apa yang telah dia perbuat.
“ HEIII MENMA!!! APA YANG KAU LAKUKAN DI SITU??? ”
Karena kepergok oleh Merlin, akhirnya Menma langsung melarikan diri dengan berlari menjauhi Merlin.
“ Oh tidak! Itu guru Merlin! Kabur ah. ”
“ HEI, MENMA!. MATTE! ” teriak Merlin yang mencoba untuk menghentikan Menma.
Tetapi, aksi Merlin sempat terhalang oleh kedatangan dua ninja yang kebetulan juga sedang mengejar Menma.
“ Eh.. Merlin-san!? Sedang apa kau di sini? ”
“ Oh.. Kalian berdua!? Aku hanya menyuruh Menma untuk berhenti membuat kenakalan yang merusak rumah warga di sana. ”
“ Nani?! Kau melihat Menma? Di mana dia sekarang? Kebetulan, kami sedang mengejarnya karena kami mendapat banyak keluhan dari para warga yang memergoki Menma sedang melakukan tindakan nakalnya lagi dan ini sudah kesekian kalinya dia membuat banyak masalah di berbagai tempat. ”
Mendengar penjelasan dari salah satu ninja itu, Merlin langsung terkejut karena dia tidak menyangka kalau murid dari kelasnya itu telah membuat banyak masalah di desa tanpa dia ketahui. Mungkin, selama ini dia pikir kalau Menma selalu membuat onar hanya di akademi saja mengingat sudah berapa kali dia melanggar peraturan selama tiga tahun terakhir . Tapi, ternyata dia juga melakukan hal yang serupa di berbagai tempat di desa sebanyak berkali-kali ditambah dari penjelasan dari dua ninja itu yang mengatakan bahwa Menma tidak pernah kapok walaupun sudah kepergok dan diberi hukuman tetapi dia masih saja bandel dengan melakukan kenakalannya lagi serta dia selalu gesit saat melarikan diri dari kejaran para ninja.
“ NANI!? Jadi dia sudah melakukannya sampai beberapa kali dan dia belum mendapat teguran keras dari Shinrinkage-sama tentang ini walaupun dia juga sempat dihukum oleh beberapa orang. Begitu ya. ”
“ Iya, begitulah. Karena itu, kami mendapat perintah dari Shinrinkage-sama untuk membawa Menma kehadapannya untuk mempertanggung jawabkan semua yang telah dia perbuat. ” jawab dari salah satu ninja itu.
“ Kalau begitu, apa aku boleh ikut dengan kalian untuk mengejar Menma? ” tanya Merlin.
“ Boleh. Itu akan lebih mudah untuk menangkapnya. ”
“ Baguslah. Sekarang, kita kejar dia! ”
“ Ya. Ayo! ”
Akhirnya, Merlin bersama dua teman ninjanya berlari untuk mengejar Menma agar dia bisa dihentikan dari perbuatan nakalnya.
‘ Huff... Menma, aku tak mengira kalau kau sudah berbuat kenakalan sampai melampaui batas selama ini. Tak heran kalau banyak warga yang kesal dan mengeluh dengan apa yang telah kau lakukan kepada mereka. Sepertinya, ini harus segera diakhiri. Menma, kau harus mempertanggung jawabkan semua yang telah kau perbuat. Sebagai wali kelasmu, aku akan memberi pelajaran yang tegas demi kebaikanmu. ’ batin Merlin sambil mencari keberadaan Menma.
Di sisi lain, Menma sedang berlari karena dia dipergok oleh gurunya yaitu Merlin. Akhirnya, dia terus berlari dengan melewati jalan tikus, memanjat bangunan dan melompati atap demi atap agar dia bisa menghindari dari kejaran para ninja. Kemudian, saat dia mengetahui kalau tidak ada satu pun ninja yang mengejarnya, akhirnya Menma melakukan trik nakalnya lagi yaitu mengecat coretan-coretan di sebuah bangunan dekat dengan gedung Shinrinkage. Dia mengecatnya dengan kuas yang dimiliknya dan melempar semua cat di dalam embernya untuk mengenai bagian dari dinding bangunan. Ketika Menma sedang asyik melakukan trik jahilnya, tiba-tiba ada seorang anak elf berambut abu-abu keputihan yang kebetulan lewat memergoki Menma. Ternyata, anak itu adalah Keita yang merupakan saingan dari Menma yang selalu diajak ribut olehnya di akademi. Kemudian, dia mencoba memperhatikan Menma dari kejauhan sambil penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Menma.
“ Apa yang sedang dilakukan oleh anak itu? Jangan-jangan dia mulai membuat onar lagi ya. Hmmp... Dasar pecundang. Tidak ada kapoknya. ” gumam Keita saat memperhatikan Menma yang sedang mencoret-coret tembok bangunan dengan catnya.
Tiba-tiba muncullah tiga ninja yang berhasil menemukan Menma yang sedang melakukan aksinya.
“ Itu dia! HEIII MENMA!!! APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA? SINI KAU! ” teriak dari salah satu ninja yang mencoba untuk menangkap Menma bersama kedua temannya.
Menyadari dirinya ketahuan oleh para ninja, Menma langsung berlari meninggalkan tempat dan kembali menaiki atap bangunan dan melompat-lompat dari satu bangunan ke bangunan lainnya. Tiga ninja yang mengejarnya tidak kalah ketinggalan dengan melewati atap bangunan seperti yang dilakukan oleh Menma. Menma terus berlari menjauhi para ninja yang mengejarnya itu.
“ HEI MENMA! BERHENTI! SUDAH CUKUP DENGAN KENAKALANMU ITU! KAU HARUS SEGERA DIHUKUM OLEH SHINRINKAGE-SAMA! ”
“ Hehehehe... Kalian tidak akan bisa menangkapku. Karena aku akan menjadi seorang pahlawan legendaris dari negeri Afata. Lihat saja nanti. ”
“ Cihh... Anak itu keras kepala juga. Cepat tangkap dia! ” seru dari salah satu ninja yang mengajak kedua temannya untuk terus mengejar dan menangkap Menma.
“ Sepertinya, aku harus bersembunyi dari mereka agar mereka tidak akan terus mengejarku. Hihihi. ” gumam Menma dengan nada pelan dan tawa kecilnya sambil mencari ide untuk membebaskan diri dari kejaran para ninja itu.
Akhirnya, Menma memasang topeng naga di wajahnya yang dia bawa setelah dia mendapatkan itu dari toko mainan yang ia kunjungi dulu saat dia diusir oleh si pemilik toko itu. Lalu, Menma langsung turun dari atas bangunan dan berlari melewati jalanan di desa sambil mencari tempat bersembunyi dari kejaran para ninja. Beberapa saat kemudian, dia menemukan sebuah tempat yang cukup gelap yang bisa dijadikan sebagai tempat bersembunyi. Tempat itu ditutupi oleh bayangan bangunan yang menutupi sinar matahari dan Menma langsung masuk ke sana untuk bersembunyi.
“ Cih... Ke mana dia sekarang? Tiba-tiba dia menghilang begitu saja. ”
“ aku tidak tau. Yang penting, kita harus menangkap anak itu bagaimana pun caranya. ”
“ Iya, kau benar. Mudah-mudahan saja dia tidak terlalu jauh dari jangkauan kita. ”
“ Yosh, minna. Ayo kita bergerak! ”
Tiga ninja itu kembali bergerak setelah kehilangan jejak Menma yang di mana Menma sendiri sedang bersembunyi di tempat yang gelap. Setelah keadaannya aman, Menma keluar dari tempat persebunyiannya dan mengecek keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada para ninja yang mengejarnya.
“ Sepertinya aman. Kalau begitu, aku akan kembali beraksi lagi. Hehehe. ”
Akhirnya Menma bergerak meninggalkan tempat bersembunyinya dan kembali membuat trik usil kepada para warga desa.
“ Sekarang, apa yang akan aku lakukan ya. Bagaimana kalau aku akan menakuti beberapa orang di sekitar sana lalu, aku akan melemparkan cat ke beberapa tembok bangunan. Hihihi. Wahh... idenya bagus juga ya. ” gumam Menma pada dirinya sendiri sambil bersiap untuk memulai rencananya.
Sesampainya di lokasi yang dituju, Menma langsung mengambil posisi di atas gedung dengan mengenakan topeng naga yang masih dia kenakan ditambah dengan jubah gelap yang dikenakan di bagian belakang lehernya. Kemudian, dia terjun dari sana sambil mengeluarkan auman khas naga kepada orang-orang di sekitarnya.
“ WAAAAAAHHHHHH!!!!!! Akulah Sang naga sakti yang akan menakuti kalian semua! ”
“ Hah!? Apa itu? ” kejut dari salah satu orang yang melihat Menma terjun dengan mengeluarkan auman naganya yang bertujuan untuk menakuti para warga sekitar.
Setelah mendarat di jalanan, Menma melanjutkan aksinya dengan melemparkan ember berisi cat berwarna hitam ke segala arah. Seketika itu juga, para warga yang melihatnya langsung terkejut dan lari menghindari siraman cat hitam yang dilempar oleh Menma. Selain itu, Menma juga menodongkan kuasnya yang sudah dicelupi ke dalam cat hitam ke arah beberapa orang di dekatnya sebagai bentuk dalam trik usil yang menjadi bagian kehidupan sehari-harinya Menma. Dia mengoleskannya ke tembok-tembok bangunan, pepohonan, orang-orang, bahkan binatang pun tak luput dari kejahilian dari Menma.
“ HEI APAPAAN KAU INI? HENTIKAN! KAU BISA MENGOTORI LINGKUNGAN SEKITAR DENGAN CAT HITAMMU. ” teriak dari salah satu orang yang berusaha menghindari dari colekan kuas milik Menma.
“ Hehehehe... Aku tidak peduli. Kau rasakan ini. Hihi. ” balas Menma sambil menodongkan dan mencoret-coret benda-benda sekitarnya.
“ Ya ampun! Yang benar saja dia. Banyak yang dia kotori dengan catnya ke sekitarnya. Dasar anak tidak tau sopan santun. ”
“ Iya. Selalu saja membuat masalah di desa. Aku jadi pusing kalau melihat dia berbuat ulah seperti itu. ”
“ Anak itu memang sudah kelewatan. Lihatlah! Dia sudah mencemari lingkungan kita dengan kejahiliannya. ”
“ Memang dasar anak terkutuk, pembawa petaka saja buat kita semua di sini. Shinrinkage-sama harus mengambil tindakan untuk hal ini. ”
“ Iya. Kita laporkan saja kepada Shirinkage-sama agar dia bisa kapok terkena hukuman darinya. ”
Waktu terus berjalan di mana Menma masih melakukan trik jahilnya kepada semua orang di sekitarnya hingga kemudian,
“ Hei, apakah kau dengar itu? Sepertinya ada keributan di sebelah sana. ”
“ Iya. Aku juga mendengarnya. Sepertinya terdengar suara dari orang-orang yang meributkan sesuatu dengan keras. ”
“ Aku yakin yang mereka ributkan itu adalah Menma yang sedang melakukan aksi jahilnya itu. ”
“ Kau benar. Ayo kita ke sana untuk menangkapnya! ”
“ Hai! ”
Tiga ninja yang mendengar keributan di suatu tempat di desa langsung bergegas ke lokasi kejadian. Sesampainya di sana, Mereka bertiga melihat Menma sedang melakukan aksi jahilnya dengan mencorat-coret semuanya ke segala arah.
“ Itu dia! Dia ada di sana yang memakai topeng naga itu. ”
“ Kusso! Anak itu masih saja membuat onar ke semua orang di sini. Ayo kita tangkap dia! ”
Tanpa perlu berpikir panjang lagi, mereka langsung terjun dari atap bangunan dan mulai mengejar Menma.
“ HEI MENMA! MAU KE MANA KAU? BERHENTI! ” teriak dari salah satu ninja yang membuat Menma terkejut.
“ Hah?! Nani! Oh tidak! Aku harus kabur!!! ”
Menma langsung menghentikan kejahiliannya dan kembali berlari dari kejaran tiga ninja itu.
“ Cih! Anak itu kabur lagi. Cepat! Kita kepung dia dari depan. Merlin, Kau ke depan. Sedangkan kau tetap bersamaku. ”
“ Wakatta! ”
Merlin langsung memotong jalan dengan melewati atap bangunan. Lalu, dia mendarat kembali di jalanan dengan posisinya di depan Menma.
“ MENMA, BERHENTI! HENTIKAN KEJAHILIANMU INI! ” teriak Merlin yang mencoba menghentikan Menma.
“ Apa?! Merlin-sensei!? Apa yang dia lakukan di sini? ” gumam Menma sambil terkejut karena ada Merlin di depannya.
Merlin mencoba menghalangi arah larinya Menma. Tetapi, Menma dengan sigap merosotkan tubuhnya ke celah di antara kedua kakinya Merlin. Akhirnya, Menma lolos dari halangan Merlin dan kembali berdiri untuk berlari dari kejaran dua ninja lainnya.
“ Nani?! Yang benar saja. ”
“ Ikuzo, Merlin! Kita tangkap dia! ”
“ Hai! ”
Tiga ninja itu kini tengah berusaha mengejar Menma yang berjarak sekitar satu setengah meter dari mereka. Sebagai seorang ninja, mereka bertiga memiliki kemampuan berlari yang sangat cepat yang tentu saja memudahkan mereka untuk menagkap Menma di depannya. Menyadari kalau tiga ninja itu mulai semakin mendekat, Menma tidak tinggal diam dan mencoba untuk memperlambat kejaran mereka.
“ Nani?! Mereka semakin mendekat? Kalau begitu, aku akan melemparkan ember ini ke mereka. Hehehe. ”
Kemudian, Menma melemparkan beberapa cat hitam yang tersisa di dalam embernya ke arah tiga ninja itu.
“ Rasakan ini! ”
“ *Terkejut* Ya ampun!? Menghindar! ” teriak Merlin.
Tiga ninja itu kembali mengejar. Tetapi, Menma kembali melemparkan sesuatu dan kali ini, dia melempar ember kosong ke arah mereka bertiga.
“ Awas!!! ”
Hasilnya, ember itu luput dari sasaran karena mereka bertiga berhasil menghindarinya lagi. Tetapi, itu belum selesai karena setelah ember itu dilemparkan, ternyata Menma melempar kuasnya di saat terakhir. Akhirnya kuas yang dilempar Menma itu berhasil mengenai dahinya Merlin.
“ ITTAIII!!! ”
“ Merlin-san, daijobu? ”
“ Ya. Aku tidak apa-apa. Tapi, anak itu... ”
Di sisi lain,
“ Hehehehe. Akhirnya kena juga. Kabur ah. ”
Menma kembali berlari menjauhi tiga ninja itu.
“ HEI MENMA! BERHENTI! ” teriak dari salah satu ninja yang berlari bersama temannya untuk mengejar Menma.
“ Cih... Aku harus bisa menangkap anak itu. ” gumam Merlin sambil ikut berlari mengikuti kedua temannya.
Menma masih belum bisa ditangkap Karena dia sangat gesit dan lincah melewati beberapa halangan di depannya dan melewati jalan tikus yang cukup sempit untuk dilalui. Ketika telah mencapai sebuah tikungan, Menma mendapat ide untuk bersembunyi dari kejaran para ninja itu.
“ Sepertinya aku akan bersembunyi di tikungan itu. Tidak ada tempat persembunyian lagi di sini. ”
Akhirnya, Menma memutuskan untuk menggunakan lembaran kain yang cukup lebar dengan tampilannya menyerupai tembok berkayu di belakangnya. Ya, bersembunyi layaknya seorang ninja. Menma menutupi dirinya dengan kain lebar itu agar dia dapat menyatu dengan warna tembok kayu yang ditempelinya.
Sementara itu, para ninja yang saat ini telah mencapai tikungan di mana Menma sedang bersembunyi di sana mulai kebingungan karena kehilangan jejak dari Menma.
“ Ke mana dia? Sepertinya dia sedang bersembunyi di suatu tempat. ”
“ Kalau begitu, kita cek ke beberapa tempat di sekitar sini. Siapa tau, dia bersembunyi di tempat yang tidak terlalu mencolok. ”
“ Wakatta. Ikuzo! ”
" Hmm! "
Akhirnya, para ninja itu kembali bergerak menelusuri tempat-tempat yang dicurigai sebagai tempat persembunyiannya Menma. Tetapi, setelah para ninja meninggalkan tikungan, Menma langsung melepas kain lebar yang menutupinya dan melihat ke arah sekitarnya.
“ Wah! Kelihatannya sudah aman. Ternyata mereka cukup bodoh juga ya. Padahal aku sedang bersembunyi di sini. Hehehehe. ”
Saat mau berjalan meninggalkan lokasi, tiba-tiba ada sesosok yang muncul tepat di belakang Menma. Menyadari ada sesuatu tepat di belakangnya, Menma langsung terkejut dan membalikkan tubuhnya secara perlahan untuk melihat sesosok itu yang ternyata adalah Merlin.
“ Mau ke mana lagi kau, Menma! Kau tidak akan bisa lari dariku ”
Menma pun kaget sambil melompat ke belakang yang membuatnya terjatuh dan terduduk melihat Merlin tepat di depannya.
“ Merlin-sensei! Kenapa guru bisa ada di sini? ”
“ Karena kau sudah banyak melakukan kekacauan yang cukup parah di desa ini. Sekarang kau ikut aku ke hadapan Shinrinkage-sama untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu. ”
“ Nani?! Kenapa sensei mau melakukan itu. Tidak! Aku tidak mau! Aku akan pergi saja. ”
“ Hei mau ke mana lagi kau. Sini! Aku akan membawamu ke sana sekarang juga. ” tegas Merlin sambil memegang tangan Menma.
“ TIDAK!!! AKU TIDAK MAU!!! LEPASKAN AKU!!! ”
Menma mencoba melepaskan diri dari Merlin. Sayangnya, Merlin langsung menahan Menma agar dia tidak kabur lagi. Lalu Menma diangkat dan ditaruh di bahunya Merlin layaknya membawa karung beras. Kemudian, Merlin langsung berjalan menuju ke gedung Shinrinkage dan bertemu dengan tuan Shinrinkage secara langsung.
“ HEI MERLIN-SENSEI, LEPASKAN AKU!!! AKU TIDAK MAU KE SANA!!! ” teriak Menma sambil meronta-ronta untuk melepaskan diri dari Merlin.
“ DIAM! Kau harus ikut denganku agar kau tidak membuat onar lagi di desa. Aku tidak mengira kalau kau berbuat sampai kelewatan seperti ini. ”
“ Hah... Apa urusannya dengan guru? Aku hanya ingin menjalankan kegiatanku saja. ”
“ Tapi tidak begini juga kegiatan yang kau lakukan. Seharusnya, masih banyak kegiatan yang lebih bermanfaat daripada membuat kenakalan dengan orang-orang di desa. ”
“ Pffft... Aku tidak peduli. Yang penting, aku bisa mendapatkan kesenangan dari semua yang aku lakukan sampai sejauh ini. Lagipula, masih ada trik-trik jahil lainnya yang ingin aku lakukan. ”
“ Cih... Aku masih saja keras kepala. Sekarang kau diam dan kita akan menghadap langsung ke tuan Shinrinkage-sama untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu. ”
“ Tapi, aku tidak mau ke sana Karena tempat itu tidak menyenangkan bagiku. Jadi, lepaskan aku, Merlin-sensei! ”
“ Diam kau, Menma. Hffft... Aku tidak mengira akan melakukan ini kepadamu. ”
Menma masih terus meronta-ronta tetapi dia tetap tidak bisa melepaskan diri dari bopongan Merlin. Akhirnya, Merlin mencapai gedung Shinrinkage dan kemudian, dia langsung berjalan ke ruang Shinrinkage dan menemuinya secara langsung. Sesampainya di sana, dia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan.
“ (TOK...TOK...TOK...) ” suara dari ketukan pintu.
“ Masuk! ” seru dari sang Shinrinkage sambil mempersilahkan yang di luar untuk masuk ke ruangan.
Merlin masuk ke dalam ruangan sambil membawa Menma di bahunya dan meletakkannya di atas lantai ruangan.
“ Permisi, Shinrinkage-sama. ” sapa Merlin sambil meletakkan Menma ke bawah dengan kedua kakinya mendarat di lantai.
“ Ohh... Rupanya kau, Merlin. Ada perlu apa kau datang ke sini dan siapa yang kau bawa itu? ”
“ Iya, Shinrinkage-sama. Saya ke sini membawa anak pembuat onar ini yang sering dibicarakan oleh banyak orang di desa dan kebetulan saya berhasil menangkapnya dan membawa dia ke hadapan anda, tuan. ”
“ Oh... Begitu ya. Baguslah. Ternyata, kau si pembuat onar itu yang sampai saya harus menyuruh banyak shinobi untuk menangkapmu dan menghentikan perbuatan nakalmu yang selama ini kau lakukan. Hffft... Ternyata kau sama sekali tidak kapok dengan perbuatanmu itu walaupun sering kali ditegur keras sekalipun. ”
Menyadari ada sesosok Shinrinkage di depannya, bukannya ada rasa sopan santun malah sifat keras kepala yang masih menempel pada diri bocah hal-elf berambut hitam itu.
“ Hei, oji-san. Aku ini sedang bersenang-senang melakukan aktivitasku. Lagipula, banyak orang yang mulai tertarik dengan kejahilian yang aku buat ini. Tapi mereka malah membalasnya dengan teriakan dan omongan yang tidak berguna. Apalagi ditambah dengan banyak para ninja yang suka mengejarku. Aku kan menjadi terganggu dan akhirnya melarikan diri dari mereka agar tidak tertangkap. ”
Mendengar ucapan buruk yang dikeluarkan oleh bocah itu, akhirnya sang Shinrinkage mulai mendekatinya dan...
PLETAAK!!!
Suara jitakan keras dari Sang Shinrinkage ke bagian ubun-ubunnya Menma.
“ ITTAIII!! Apapaan ini, oji-san? ” jerit Menma sambil menahan rasa sakit di ubun-ubunnya.
“ Dasar sembarangan bicara. Yang kau lakukan itu bukan lah suatu hiburan melainkan kekacauan yang merugikan masyakarat sekitar oleh perbuatanmu. Selain itu, kau selalu saja melanggar tata tertib desa yang membuat banyak sekali kekesalan dan keluhan dari para warga. Akhirnya, mau tidak mau kau memang harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu. Karena itulah kenapa banyak ninja yang saya perintahkan untuk membawamu ke hadapanku. ” tegas dari sang Shinrinkage.
“ Memangnya salah aku apa? Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku cuma ingin bersenang-senang saja di desa ini. ” ujar balik Menma.
“ Tapi, tidak begitu juga caramu bersenang-senang. Yang ada hanya akan mengganggu ketertiban dan bisa saja mencelakai orang-orang sekitar olehmu. ” ucap sang Shinrinkage.
“ Tapi kan, aku tidak niat untuk mencelakai seseorang. Justru mereka lah, kenapa semua orang menjauhiku padahal aku tidak melakukan apapun. Apa yang salah denganku? ” tanya balik Menma.
“ Huffft... Kau ini masih saja tidak mengerti. Kau sudah melakukan banyak sekali kesalahan selama kau berada di desa ini. Aku sudah mendapatkan banyak sekali keluhan dari para warga tentang kelakuanmu yang sudah dianggap keterlaluan. Karena itu, mulai sekarang kamu akan aku beri hukuman. ” tegas sang Shinrinkage.
“ Hahhh!?! Hukuman apa, oji-san? Jangan bercanda lah. Aku tidak mau dengan hal-hal itu. ” rengek Menma.
“ Heehhh... "
PLETAAAK!!!
" ITTAI!!! "
" Kau ini tidak punya sopan santun sama sekali, Menma. Memangnya, apakah ibumu tidak mengajarimu cara untuk bersopan santun kepada yang lebih tua, heh? ” geram Shinrinkage sambil memukul Menma lagi di bagian kepalanya.
“ Ya tentu saja. Ibuku mengajariku tentang itu. Tapi, buat apa untuk bersikap sopan kepada yang lebih tua sedangkan dia sendiri tidak menghargaiku sama sekali. ” protes Menma.
Melihat tingkah Menma yang semakin sembarangan dihadapan sang Shinrinkage, akhirnya Merlin mulai membuka suara untuk menegur keras Menma.
“ HEIII, MENMA!!! Kau harus jaga ucapanmu di hadapan Shinrinkage-sama. Lagipula kau memang tidak sepantasnya melakukan semua perbuatan yang selama ini kau lakukan. ”
“ Hahhh... Apapaan sih Merlin-sensei? Ikut-ikutan aja deh. Tidak melihat kalau aku ini sedang menderita? ”
“ *Kesal* Menderita apanya. Jangan mengada-ngada kau ini... ”
“ Sudah cukup, Merlin. Tidak perlu kau meneladeni ucapan anak ini. Mulai sekarang, aku akan memberimu hukuman sosial yaitu, kau harus membersihkan semua cat-cat hitam yang telak kau kotori di semua tempat dan membereskan semua barang-barang umum yang berantakan untuk dirapikan kembali ke sedia kala. Kau harus menjalankan hukumanmu itu saat ini juga. ” tegas sang Shinrinkage.
“ NA-NANI!!! Yang benar saja, oji-san! Aku tidak mau menjalankan hukuman itu. Aku tidak mau! ” tolak Menma.
“ Mau tidak mau, kau harus menjalani hukuman ini sebagai bentuk penunjukkan kalau kau adalah penduduk desa Moonlight Plains ini, Menma. ”
“ Tapi oji-san... ”
“ Sudahlah, Menma. Lakukan saja apa yang diperintahkan oleh Shinrinkage-sama. Lagipula, sudah seharusnya kau harus mulai bertanggung jawab dan memperbaiki perilakumu itu. ” ujar Merlin.
“ Merlin benar. Ini juga pembelajaran untukmu agar kau tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah kau lakukan sebelumnya. Jadi, kau harus melaksanakan hukumanmu ini. ” sambung sang Shinrinkage
“ Lalu, berapa lama aku akan menjalankan hukuman ini, oji-san? ”
“ Kalau itu... Hmm... Berhubungan dengan kau adalah murid akademi ninja yang dua hari lagi akan dilaksanakannya ujian kelulusan, maka hukumanmu akan berlangsung selama dua hari sampai hari ujian kelulusan. Jadi, kau harus menyelesaikan hukumanmu tepat waktu. ”
“ NAAANIII!?! Selama dua hari??? ” keget Menma.
“ Iya itu benar. Dan untukmu Merlin, kau akan kutugaskan untuk mengawasi Menma selama dia mengerjakan hukumannya. Pastikan dia tidak boleh lari dari tanggung jawabnya. Jadi, aku percayakan anak ini kepadamu. Kau, mengerti? ”
“ Baiklah, Shinrinkage-sama. Saya akan mengawasi anak ini untuk membersihkan lingkungan desa sampai selesai bagaimana pun caranya. ” ucap Merlin.
“ Baguslah kalau begitu. Sekarang kalian boleh bubar dan laksanakan tugasnya. ”
“ Baik, Shinrinkage-sama. Saya dan Menma mohon permisi. ” ucap Merlin untuk memohon pamit.
“ Silahkan! ”
“ Ikuzo, Menma! ” ajak Merlin kepada Menma.
“ Hmmph... ” balas Menma dengan nada kesal.
Akhirnya, Merlin langsung membawa Menma meninggalkan ruangan Shinrinkage untuk melaksanakan hukuman sosial untuk Menma yaitu membersihkan dan merapikan kembali lingkungan desa yang telah dibuat berantakan oleh Menma sendiri.
Kemudian, Merlin mulai menyuruh Menma untuk melakukan hukumannya saat itu juga. Mereka memulai dari membersihkan gedung Shinrinkage terlebih dahulu dengan menggunakan peralatan kebersihan yang disediakan untuk Menma.
“ Yosh, Menma. Sekarang, kau harus menjalankan hukumanmu juga. Pertama, kau bersihkan gedung Shinrinkage ini terlebih dahulu lalu berlanjut ke bangunan-bangunan lainnya di desa. Apakah kau mengerti? ”
“ Iya...Iya... Aku mengerti. Akan aku bersihkan semua yang sudah aku kotori ini. ”
“ Bagus. Sekarang kau gunakan peralatan kebersihan itu dan mulai kerjakan. Untuk kali ini, kau akan aku ikat dengan tali ini di badanmu agar kau tidak mencoba untuk melarikan diri dari pengawasanku. ”
“ Hehhh... Kenapa aku harus diikat dengan tali itu? Aku pasti akan mengerjakan hukuman ini sampai selesai juga. Jadi, Merlin-sensei tidak usah mengikatku. ”
“ Sudah diam. Kau tetap kerjakan saja pekerjaanmu sedangkan aku akan mengawasimu sampai tuntas. Sekarang, ayo mulai! ”
“ Hah... Wakatta. ”
Menma mulai menjalankan hukuman sosialnya yang diawali dengan membersihkan gedung Shinrinkage dan terus berlanjut ke berbagai tempat di desa untuk dibersihkan. Selama menjalankan hukuman, dia diawasi oleh Merlin yang mengikat tubuh Menma dengan tali agar memastikan Menma tidak akan bisa kabur dari tugasnya. Hal itu terus dilakukan selama dua hari sesuai yang diperintahkan oleh sang Shinrinkage selaku pemimpin dari desa Moonlight Plains.
Saat matahari sedang terbenam dan langit mulai gelap, Merlin memutuskan untuk mengizinkan Menma untuk pulang terlebih dahulu.
“ Yosh, Menma. Karena waktu sudah mulai malam, kali ini kuizinkan kau untuk pulang terlebih dahulu karena besok kau harus kembali akademi ninja untuk persiapan ujian kelulusan. ” ucap Merlin sambil melepaskan tali pengikatnya pada Menma.
“ Hai, Merlin-sensei. Kalau begitu, aku pulang dulu ya. Jaa ne. ” balas Menma sambil pamit pulang kepada Merlin.
“ Hm.. Jaa ne mou. Jangan lupa kalau setelah pulang dari akademi, kau kembali menjalankan hukumanmu. Mengerti?! ”
“ Hai, sensei. Wakarimasta. ”
Menma mulai bergerak untuk kembali ke rumahnya agar dia bisa bersiap untuk mengikuti pembelajaran untuk ujian kelulusannya di akademi ninja.