
Sesampainya di tempat terjatuhnya Menma, Nia langsung memeriksa keadaan temannya itu.
" Kau tidak apa-apa kan, Menma? " tanya Nia.
" Ya, aku tidak apa-apa. Mungkin, aku hanya tergesa-gesa menangkap kelinci itu. Hehe. " balas Menma.
" Huffft *lega*, syukurlah. Sekarang kita akan pergi menyusul Tora. Ayo, Menma! "
" Baiklah, ayo kita susul dia. "
Kemudian, Menma dan Nia kembali bergerak untuk mencari keberadaan Tora yang sedang pergi ke pedalaman hutan dan di sisi lain, Tora masih berusaha untuk menangkap kelinci hutan itu. Pada akhirnya, Tora berhasil mengepung kelinci hutan itu melalui sebuah bebatuan yang cukup besar mengelilingnya di sana dan dia menembakkan panahnya ke arah kaki buruannya tepat sasaran.
" Akhirnya, panahku berhasil mengenai kakinya. Ya!!! "
Sementara itu, Menma dan Nia berlari sambil memanggil Tora yang entah di mana dia sekarang.
" Tora! Kau di mana?? "
" Di mana kau, Tora? Ayolah, Kau pikir kau bisa menangkap kelinci itu sendiri? Jangan egois begitu dong. Kita juga ingin menangkapnya. "
" Menma, menurutmu, Tora ada di mana sekarang? Aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya. "
" Tenanglah, Nia. Aku rasa, dia akan baik-baik saja. Lagipula dia masih berusaha untuk menangkap kelinci itu, bukan? "
" Iya, sepertinya kau benar. Tetapi, kita tetap harus mencarinya. "
" Iya, aku tau. kita tidak boleh menyerah begitu saja dan terus berusaha menemukan teman kita. "
Sementara itu,
" Aku sudah mendapatkan kelincinya. Sekarang, aku harus kembali menemui teman-temanku. " ucap Tora sambil mencabut panahnya dari kaki kelinci itu.
Kemudian, dia meninggalkan bebatuan dan pergi untuk menemui Menma dan Nia. Di tengah perjalanan, tiba-tiba Tora mendengar suara yang memanggilnya dari suatu tempat.
" Sepertinya, itu suara dari Menma dan Nia yang sedang memanggilku. Aku harus segera ke sana untuk menemui mereka. "
Setelah itu,
" Menma!! Nia!! Kalian berdua di mana? "
Di sisi lain, sambil berusaha mencari keberadaan Tora, tiba-tiba Menma dan Nia mendengar sesuatu.
" Hei, Nia. Apakah kau mendengar sesuatu? "
" Iya. Aku dengar ada suara yang memanggil kita. "
" Sepertinya itu Tora. Cepat! kita harus segera kesana untuk menemuinya. " seru Menma.
" Iya, kau benar. Ayo, kita pergi ke sana. " balas Nia.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Menma dan Nia berhasil menemukan Tora yang sedang membawa hewan buruannya.
" Tora, kau tidak apa-apa kan? " tanya Nia dengan penuh kekhawatiran.
" Aku tidak apa-apa, Nia. Maaf ya, aku telah mengkhawatirkan kalian berdua. " balas Tora.
" Tidak apa-apa, Tora. Yang penting kau tidak terluka atau semacamnya. Hehe. " ucap Menma.
" Iya, aku tau. Terima kasih banyak, teman-teman. " ucap Tora.
"Omong-omong, apakah kau berhasil mendapatkan kelinci itu? " tanya Menma kepada Tora.
" Ya, aku berhasil menangkapnya. Ini dia teman-teman. " balas Tora sambil menunjukkan hasil tangkapannya.
" Wow! Tora, kau berhasil. " seru Nia.
" Iya, ternyata kau hebat juga menangkapnya. " sambung Menma.
" Ya, begitulah. Saat itu, kelinci ini telah terkepung di sebuah bebatuan besar di sana. Lalu, aku berhasil menghadangnya dan menembakkan panahku tepat ke kakinya. Kemudian, aku datang untuk mencabut panahku dari kakinya dan membawa kelinci ini ke kalian. " jelas Tora.
" Itu pasti sangat melelahkan bagimu untuk melakukannya. Tapi, pada ujungnya kau berhasil, Tora. " ucap Nia.
" Iya. Sebenarnya, aku bisa saja menangkap kelinci hutan ini sendiri. Tapi, kalau dengan bantuan dari kalian, penangkapannya akan lebih mudah. " balas Tora.
" Hehehe. Maaf ya kalau tentang soal itu. Tapi yang penting, kita dapat menangkap kelinci hutannya, bukan. Oh ya, sekarang kita mau apakan dengan hewan itu? " tanya Menma.
" Sini! Berikan kelinci itu kepadaku! Aku akan mengobati lukanya. " jawab Nia.
" Hah?! Kau akan mengobati kelinci itu? Aku pikir kita akan melakukan sesuatu terhadap kelinci itu setelah kita memburunya. " kejut Menma dengan rasa kebingungan.
" Ehh... Aku masih tidak mengerti. Sebenarnya, apa maksud dari semua yang kita lakukan selama ini, Tora? " tanya Menma.
" Kita hanya sekedar melatih kemampuan memanah kita dan juga, kita tidak akan pernah melakukan sesuatu yang buruk yang dapat merugikan para hewan maupun tumbuhan lain di sekitarnya. " jawab Nia.
" Ohh... Begitu. Sepertinya, aku mulai mengerti. Hehe. " balas Menma dengan cengirannya.
Akhirnya, kelinci hutan itu berhasil diobati lukanya oleh Nia dan dilepaskan kembali ke tempat asalnya.
" Sampai jumpa lagi, kelinci! " seru Menma, Nia dan Tora yang mengucapkan salam perpisahan kepada kelinci hutan itu.
" Wahh... Hari ini cukup melelahkan juga ya, teman-teman. Bagaimana menurut kalian? " tanya Menma kepada yang lainnya.
" Iya. Tapi, itu seru juga dan pasti sangat menyenangkan. Benarkan, Tora? " tanya Nia kepada Tora.
" Ya, kau benar, Nia dan sepertinya, keterampilan memanahku semakin baik dari sebelumnya. " balas Tora.
" Benar, itu karena kau selalu latihan terus untuk mengasah kemampuan memanahmu menjadi lebih baik lagi. Hehe. " balas Nia.
" Heh. Bisa saja kau, Nia. " sahut Tora.
Mereka bertiga berbicara sambil tertawa bersama hingga kemudian saat matahari mulai terbenam, mereka menyadari bahwa sudah waktunya untuk kembali pulang ke desa.
" Teman-teman, sepertinya matahari sudah mulai terbenam. Ayo, kita harus segera kembali ke desa! " ajak Nia kepada yang lainnya.
" Iya, Kau benar. Karena hari sudah mulai gelap, jadi kita harus cepat-cepat pulang. " balas Tora.
" Baiklah. Ayo kita pulang, teman-teman! " seru Menma sambil mengajak teman-temannya pulang ke desa Moonlight Plains.
Kemudian, mereka berjalan menyusuri sebuah jalan yang mengarah ke desa Moonlight Plains. Saat hampir tiba ke sana, Tora ingin menanyakan sesuatu kepada teman-temannya.
" Oh ya, teman-teman. Apakah kalian tau kalau pendaftaran masuk ke akademi ninja akan dimulai dua hari ke depan? "
" Ya, aku tau itu. Menurutmu, apakah kau akan masuk ke akademi itu? " tanya Nia kepada Tora.
" Tentu saja, aku akan masuk ke akademi karena kebetulan ayahku adalah seorang ninja. Jadi, aku juga akan ikut ke akademi itu untuk menjadi seorang ninja seperti dia. " jawab Tora.
" Wow, itu bagus. Lalu bagaimana denganmu, Menma. Apakah kau juga akan ikut ke akademi ninja? " tanya Nia kepada Menma.
" Iya. Sepertinya, aku juga akan ikut ke akademi itu karena ibuku menyuruhku untuk masuk ke sana. " jawab Menma.
" Begitu ya. kalau aku, mungkin lebih baik bertanya kepada orang tuaku dulu tentang ini bahwa apakah aku diijinkan untuk ikut kesana atau tidak. " balas Nia dengan rasa keraguan dalam dirinya.
" Kenapa? Apakah kamu masih ragu-ragu untuk memutuskan pilihanmu untuk ikut ke akademi ninja? " tanya Tora.
" Itu karena tidak satu pun dari keluargaku yang menjadi seorang ninja. Itu sebabnya aku lebih baik untuk bertanya kepada orang tuaku dulu. " balas Nia.
" Jadi begitu. Sebenarnya, aku masih bingung kenapa ibuku memintaku untuk masuk ke akademi ninja. Apakah setiap orang harus menjadi seorang ninja sepanjang hidupnya kah? " tanya Menma.
" Entahlah. Pasti ada alasannya sendiri kenapa kita harus menjadi seorang ninja. Sebelumnya, aku juga pernah menanyakan hal yang sama tentang itu kepada ayahku. Dia bilang bahwa aku akan mengetahuinya saat kita akan belajar di akademi ninja nanti. " jelas Tora.
" kedengarannya sangat misteri untukku. Tapi, kita lihat saja nanti kalau misalnya orang tuaku ingin memasukkanku ke akademi ninja, maka aku akan menurutinya. " jawab Nia.
" Itu bagus. Bagaimana menurutmu, Menma? Apakah kau juga masih ada keraguan untuk masuk ke sana besok? " tanya Tora ke Menma.
" Emm... Sepertinya tidak. Aku juga akan masuk ke akademi dengan penuh keyakinanku sendiri. " jawab Menma.
" Baiklah kalau begitu, aku juga akan masuk ke akademi ninja dengan penuh semangat dan tekad api yang membaraku. " seru Tora.
" Hahaha. Tora, kau sudah seperti seorang ninja sungguhan saja kalau kau berkata seperti itu. " jawab Nia dengan nada tertawa.
" Ya, begitulah. Karena aku tidak mau mengecewakan ayahku saat aku akan menjadi seorang ninja pada suatu saat nantinya. " balas Tora.
Pada akhirnya, mereka bertiga telah sampai ke gerbang masuk di desa Moonlight Plains. Di situlah mereka akan berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing.
" Baiklah, teman-teman. Aku rasa, kita sampai disini, ya. Kapan-kapan, kita akan bertemu lagi di lain kesempatan. Siapa tau, kita bakal berkumpul di hari pendaftaran masuk ke akademi ninja. " jawab Tora.
" Iya. Kalau misalnya ada di antara kita yang akan ikut ke akademi, bisa langsung saja ke tempat ke pendaftaran lusa. Baiklah kalau begitu, aku mau pulang. Jadi, sampai ketemu lagi ya, teman-teman. " ucap Nia.
" Iya. Aku juga harus pulang. Sampai ketemu lagi, Menma, Nia. " balas Tora.
" Iya. Sampai ketemu lagi juga, teman-teman. " balas Menma.
Kemudian, mereka bertiga berpisah dan menyusuri jalan ke rumahnya masing-masing. Di tengah perjalanan ke rumah, Menma sempat memikirkan sesuatu mengenai pendaftaran ke akademi ninja yang akan dimulai lusa seperti yang dibicarakan sebelumnya.
' Sebenarnya, aku masih bingung kenapa aku harus masuk ke akademi ninja dan apa alasanku untuk menjadi seorang ninja. Mungkin, aku akan menanyakan semua itu kepada ibuku nanti. ' gumam Menma dalam hatinya sambil berjalan menuju ke rumah pohonnya di pinggir desa.
Sesampainya di rumah, dia langsung masuk ke dalam dan menutup kunci pintu rumahnya. Lalu, dia pergi membersihkan diri di kamar mandi, menyantap makan malamnya di ruang makan dan tidur di ranjangnya untuk menghabiskan malamnya di rumah sendirian.