AFATA Tales Of Shinobi Elves

AFATA Tales Of Shinobi Elves
CHAPTER 3 " THE HALF-ELF BOY "



Berpuluh-puluh tahun kemudian setelah terjadinya insiden king ghidorah yang sangat mengerikan itu, keadaan dan suasana di negeri Afata kembali kondusif meskipun masih terdapat pergolakan dari fraksi-fraksi shinobi yang terjadi di sana. Namun, hal itu tidak menjadi sebuah masalah besar yang bisa mengancam keutuhan dan kedaulatan negeri Afata. Jika itu sampai terlanjur melewati batas, maka pihak dari pemerintah pusat tidak akan tinggal diam begitu saja dan berusaha untuk meredamnya agar tidak berujung terjadinya perang besar di negeri Afata. Tetapi, sang ratu elf yang terkena kekuatan dari serangan king ghidorah sejak puluhan tahun yang lalu, harus meninggalkan kekuasaannya dari negeri Afata dan menjalani pemulihan jiwa serta raganya  dengan cara, dia harus tidur selama 1000 tahun lamanya. Di sisi lain, untuk kepala pemerintah pusat negeri Afata, untuk sementara akan diambil alih oleh para tetua dari kaum elf yang selagi mencari pengganti dari sang ratu elf untuk beberapa waktu ke depan.


Sementara itu, seorang pendeta wanita yang bernama Lindis, saat ini sedang mengasuh seorang anak yang telah menjadi wadah dari king ghidorah. Dia mulai merawat anak itu setelah dia menerima permintaan yang pernah disampaikan oleh seorang ibu dari anak itu yang mengatakan bahwa dia ingin Lindis mau membantunya untuk mengasuh anaknya yang baru lahir beberapa waktu yang lalu sebelum terjadinya insiden king ghidorah itu. Akhirnya, Lindis bersedia untuk merawat anak itu seperti anaknya sendiri bahkan setelah kedua orang tuanya itu meninggal akibat insiden itu. Anak itu telah memiliki nama yang diberikan oleh ibunya semenjak dia lahir yaitu Menma. Kini, Lindis dan Menma tinggal bersama di sebuah gubuk kecil di daerah pegunungan bersalju. Mereka juga ditemani oleh seorang gadis elf yang bernama Malkia yang merupakan seorang shinobi tingkat jounin di negeri Afata juga ikut membantu untuk merawat Menma. Malkia juga memperlakukan Menma seperti adiknya sendiri dan dia sering mengajak Menma bermain jika Malkia sedang tidak ada misi yang harus dia jalani.


Namun, baru sekitar dua setengah tahun berlalu, Malkia mendapat panggilan dari pemerintah pusat untuk menjalankan misi ke luar negeri Afata selama beberapa waktu yang sangat lama. Akhirnya, Malkia menerima misi tersebut dan sebelum berangkat untuk menjalankan misinya, Malkia ingin memberi saran kepada Lindis bahwa sebaiknya dia membawa Menma pergi dari pegunungan. Dia mengatakan itu karena dia khawatir dengan reaksi penduduk dari perkampungan elf di sana dengan adanya seorang anak yang menjadi wadah dari king ghidorah yang pernah memporak-porandakan negeri Afata. Sebenarnya Lindis sudah menyadari akan keselamatan Menma yang harus dijaga dari berbagai macam ancaman yang akan muncul dari awal dan menerima saran dari Malkia untuk segera meninggalkan pegunungan. Malkia juga sempat bertanya kepada Lindis tentang kemana kah akan dia pergi bersama Menma. Lalu Lindis menjawab bahwa dia akan kembali ke Verno Woods ke sebuah kampung halamannya yang bernama Moonlight Plains. Moonlight Plains merupakan sebuah desa yang dihuni oleh kaum elf maupun half-elf yang berlokasi dekat dengan perbatasan di kawasan Verno Woods. Di sana, dia akan dimasukkan ke akademi ninja setelah usianya telah mencukupi. Tanpa berpikir lama-lama, akhirnya Malkia menyetujuinya dan mereka mempersiapkan diri untuk segera berangkat dari tempat persinggahannya. Pada akhirnya, Malkia berpamitan kepada Lindis dan Menma untuk berangkat menjalankan misinya. Sementara itu, Lindis juga telah mempersiapkan diri beserta segalanya untuk meninggalkan pegunungan dan kemudian, dia berangkat menuju ke Moonlight Plains bersama Menma.


Setelah menyusuri perjalanan panjang dengan medan yang cukup terjal selama beberapa hari, akhirnya Lindis dan Menma mencapai sebuah kawasan pemukiman atau desa yang bernama Moonlight Plains. Di sana, mereka akan tinggal di sebuah rumah berbentuk seperti pohon yang lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat desa namun agak terpencil di sana. Meski demikian, Lindis akan terus mendampingi dan merawat Menma layaknya kasih sayang dari seorang ibu kepada anaknya. 


Saat ini, Menma sedang hidup sendiri di Moonlight Plains tanpa didampingi lagi oleh Lindis yang saat itu juga, dia sedang kembali melakukan pekerjaan rutinnya di tempat yang lain. Meski begitu, Menma bukanlah anak yang manja seperti saat masih bersama dengan Lindis dan dia sangat terbuka dengan kehidupan sosial di lingkungan sekitarnya. Dia mencoba untuk bertahan hidup dan berinteraksi dengan orang lain di sekelilingnya seperti yang pernah diajarkan oleh Lindis. Tetapi, karena kondisi lingkungannya yang di mana orang-orang masih menganggap Menma sebagai orang asing dan juga pengganggu di dalam pikiran mereka serta sering kali mengusir Menma dari hadapannya, tak membuat Menma berhenti untuk terus mendapat perhatian dari orang lain dengan segala cara apapun yang dia lakukan untuk mendapatkannya. Ya, mengingat juga kalau Menma adalah anak pindahan dari desa di pegunungan bersalju atas inisiatif dari Lindis untuk membawanya ke desa Moonlight Plains agar mendapatkan perlindungan dari hal-hal yang tidak diinginkan terhadap Menma meskipun dia sendiri hidup dengan merasa dikucilkan oleh masyarakat desa Moonlight Plains.


Bahkan tak jarang sekali Menma melakukan trik usil untuk mengerjain banyak orang di desa yang membuatnya sangat senang untuk melakukannya tapi juga membuat orang-orang yang dikerjainnya menjadi jengkel dan geram akibat ulah Menma. Meski mendapatkan banyak teguran keras dari banyak orang, Menma tidak memperdulikannya sama sekali. Dia terus membuat kenakalan setiap hari di desa tanpa ada rasa puasnya sama sekali dan bahkan tidak kapok juga kalau sudah dihukum oleh beberapa orang yang memergokinya. Menma melakukan hal-hal itu agar dia bisa mendapatkan banyak perhatian dari orang-orang di desa. Tetapi, tetap saja ada kejanggalan di dalam hati Menma di mana setiap kali dia berulah melakukan kenakalannya, dia sering mendengarkan suara bisikan dari orang-orang di sekitarnya yang sangat tidak mengenakkan bagi hati Menma berupa cacian dan pergunjingan yang dikeluarkan dari mulut mereka. kata-kata seperti " bocah setan! " , " anak aneh! " , " dasar iblis! " , " pembawa sial! " , " anak terkutuk " dan lain sebagainya yang membuat Menma menjadi merasa sedih dan sakit hati mendengarnya. Kadang-kadang, dia meneteskan air matanya dan ingin menangis karena merasa hidupnya terasingkan oleh masyarakat desa akibat perlakuan yang tidak layak untuk ukuran seorang anak kepadanya. Dia ingin sekali berharap Lindis yang sudah dia anggap sebagai ibunya segera pulang dan menemani di sisinya. Selama berada di dalam rumah, Menma menjalani kehidupannya dengan memakan bubur kacang hijau dan beberapa sedikit macam makanan yang dia miliki sebagai asupan sehari-harinya. Dia juga sering bermain permainan sederhana serta berlatih memanah sendirian di tempat yang sepi. Setiap malam, Menma selalu memandang langit dari dalam rumahnya yang banyak sekali bintang yang bertaburan serta terdapat bulan yang terpancar sangat terang di langit yang menghiasi malam yang indah di desa Moonlight Plains. Menma juga berharap bisa melontarkan semua kesedihan yang dia alami selama tinggal di desa sendirian kepada ibunya agar ada petunjuk baginya untuk mengatasi kesedihannya itu. Meski begitu, Menma sudah terbiasa dengan kehidupan mandirinya semenjak dia ditinggal oleh Lindis karena Lindis sudah mengajarkan tentang cara-cara agar dia bisa bertahan hidup walaupun tinggal sendirian dan menghadapi segala macam cobaan yang dia hadapi. Dengan begitu, Menma tidak perlu merasa kesusahan dalam menjalani kehidupan sehari-harinya di desa seperti yang biasanya dia lakukan selama ini.  Dia juga terus berusaha untuk mencari teman yang bisa diajak bermain dan bersosialisasi dengannya. Tetapi, sering kali Menma diusir oleh anak-anak lainnya yang mengejek penampilan Menma yang amat buruk bagi mereka terutama warna rambutnya yang hitam. Kadang juga, orang tua dari anak-anak melarang mereka untuk bertatapan langsung dan berbicara dengan Menma. Meski demikian, Menma tidak pernah mengeluh ataupun menyerah sekalipun dalam hidupnya walaupun ada rasa tersinggung yang dialaminya dan terus berusaha untuk mendapatkan banyak teman dan perhatian dari orang-orang di desa.