AFATA Tales Of Shinobi Elves

AFATA Tales Of Shinobi Elves
CHAPTER 15 " BIG SECRET REVEALED " (1)



Waktu terus berjalan hingga akhirnya, ujian kelulusan akademi telah berakhir. Di halaman depan akademi, terlihat banyak sekali orang tua dari para murid akademi yang sedang menunggu kehadiran anak-anak mereka yang akan lulus di ujian kelulusan ini. Tentu saja, siapa yang tidak bangga melihat anak mereka yang telah berjuang menuntut ilmu di akademi ninja agar bisa menjadi seorang shinobi sesuai yang mereka impikan sejak lama dan pada akhirnya berbuah manis. Hal itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi orang tua terhadap anak-anak mereka karena bagi yang sudah terpilih menjadi seorang shinobi, akan bersiap untuk menjalankan hak dan kewajibannya sebagai bentuk pengabdian kepada desa maupun masyarakat. Bagi yang tak lulus ujian, tentu itu adalah hal yang sangat menyakitkan untuk mereka. Itu juga membuat orang tuanya menjadi sedih dan kecewa karena harapannya tidak terwujud sesuai dengan yang diinginkan. Meskipun demikian, mereka tetap berusaha untuk mendukung dan memberi semangat kepada anak-anaknya agar tidak mudah putus asa dan menyerah dalam mengejar cita-citanya. Hal itu sangat dibutuhkan untuk membantu memperbaiki mentalnya yang rusak setelah gagal dalam berjuang untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan oleh mereka dan memberi kekuatan positif agar bisa untuk mencoba lagi di lain waktu.


Saat ini, mereka sedang menunggu anak-anak mereka yang akan keluar dari pintu depan akademi ninja. Tak lama kemudian, pintu depan akademi mulai terbuka dan terlihatlah anak-anak yang memakai berbagai macam busana dan warna rambutnya yang beraneka ragam yang keluar dengan membawa semacam benda berupa seutas kain berwarna putih yang digunakan untuk mengikat kepala ditambah dengan adanya lempengan besi yang tertempel di sana dengan terdapat simbol berbentuk segitiga terbalik dengan lingkaran bulat seperti bulan di tengahnya yang menjadi ciri khas sekaligus atribut utama shinobi dari desa Moonlight Plains. Dengan adanya benda itu di tangannya, menandakan kalau mereka telah lulus di ujian kelulusan akademi dan akhirnya menjadi seorang shinobi dengan tingkat awalnya yaitu genin. Ya, para genin Moonlight Plains baru telah lahir dan mereka akan bersiap untuk memulai kehidupannya ke dalam dunia yang penuh dengan rintangan dan tantangan yang akan mereka hadapi dalam menjalankan misinya sebagai seorang shinobi. Terlihat dari para genin baru yang memakaikan benda itu di berbagai tempat. Ada yang memakainya di kepalanya bagian kening, leher, maupun lengan sesuai dengan kenyamanan mereka masing-masing. Mereka juga terlihat sangat ceria dan senang karena mereka telah menyelesaikan ujian kelulusannya dengan hasil yang terbaik lalu berakhir lulus menjadi seorang genin.


Kemudian, mereka disambut hangat oleh orang tua dan keluarga mereka yang menunggu di luar akademi agar bisa melihat anak-anaknya yang telah menyelesaikan ujian kelulusan akademi ini. Beberapa di antara para genin baru itu, ada yang langsung berlari ke arah orang tuanya. Ada juga yang tetap berjalan menghampiri keluarganya dengan ekspresi yang ceria dan ada pula yang tetap menunjukkan ekspresi biasanya. Keadaan di sana mulai ramai karena para orang tua mereka sangat bangga dengan anak mereka karena telah berhasil lulus menjadi genin setelah melalui ujian kelulusan yang cukup melelahkan. Semua perjuangan yang telah mereka lalui dengan susah payah selama tiga tahun berada di akademi ninja akhirnya terbalaskan dengan keberhasilan setelah menyelesaikan ujian kelulusan akademi sebagai bukti kalau mereka telah layak dan siap untuk menjadi seorang shinobi.


" Wahh, akhirnya aku bisa lulus juga. "


" Iya. Aku tidak mengira kalau pada akhirnya, kita telah menjadi ninja sungguhan. Aku jadi tidak sabar untuk menjalankan misi dari desa. "


" Iya. Sudah tidak terasa selama berada di akademi, kita telah mendapatkan banyak ilmu tentang dunia ninja beserta segala isinya sehingga kita bisa lulus di ujian ini. "


Berbagai macam komentar dan tanggapan dari para genin baru setelah mereka lulus setelah sekian lama di akademi ninja untuk menuntut ilmu agar bisa menjadi seorang shinobi yang handal untuk kepentingan desa maupun masyarakat. Ditambah lagi dengan pujian-pujian dari para orang tua karena mereka sangat bangga dan senang melihat anak mereka yang telah berjuang sekuat tenaga agar bisa menjadi seorang ninja sesuai yang mereka impikan.


Tetapi, di balik banyaknya anak yang baru lulus menjadi genin, tentu saja ada yang tidak lulus di ujian kelulusan itu. Ya tentu saja, mereka terlihat sedih karena tidak dapat meraih impiannya menjadi seorang shinobi. Hal itu membuat orang tua melihatnya menjadi merasa kecewa. Meskipun begitu, sudah seharusnya mereka tetap diberi motivasi dan semangat agar mereka tidak putus asa dalam berjuang untuk meraih impiannya di lain waktu. Nasehat demi nasehat yang dilontarkan oleh orang tua mereka semata-mata demi kebaikan anak mereka agar bisa mengintrospeksi diri dan mencoba untuk tidak mengulangi kesalahannya yang sama di kesempatan berikutnya.


Di antara mereka yang tidak lulus, satu-satunya yang tidak terlihat berada di kerumunan orang-orang halaman depan akademi adalah Menma. Ya, dia adalah salah satu dari sedikit peserta yang tidak lulus di ujian kelulusan ini dan tidak dapat menjadi seorang shinobi setelah apa yang telah terjadi ketika pada waktu ujian itu.


FLASHBACK


" KAU GAGAL!!!!! "


" EEEEHHHHH!!!!! "


END OF FLASHBACK


Kini, anak half-elf berambut hitam itu terlihat sedang bersembunyi di balik pohon sambil menyaksikan para orang tua yang membanggakan anak mereka yang telah lulus menjadi seorang genin. Tentu, hal itu membuat Menma menjadi sangat sedih dan iri karena dia gagal dalam mengikuti ujian kelulusannya itu. Menma merutuki kebodohannya yang membuat dia menjadi tidak lulus karena mendapatkan nilai terendah daripada teman-teman lainnya yang memiliki nilai yang jauh lebih tinggi. Karena tidak mendapatkan hasil yang bagus dari ujian kelulusan itu, membuat Menma gagal menjadi genin. Harapan dan impian yang selama ini dia dambakan untuk menjadi seorang shinobi yang hebat seperti sang pahlawan legendaris, telah sirna di depan matanya. Rasanya, sudah tidak punya tujuan hidup lagi yang harus dia dijalani. Terlihat dari kedua sudut matanya yang secara perlahan mulai meneteskan air mata karena tidak dapat membendung kesedihan yang dialaminya. Rasa sakit mulai menyeruak di dadanya. Nafasnya terasa berat dan sesak. kedua kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuh kecilnya yang memiliki beban hidup yang sangat berat. Menma pun terduduk sambil menutupi wajahnya yang sedang menangis dengan kedua lututnya.


Ingin rasanya melampiaskan semua yang dia alami kepada seseorang. Tetapi kepada siapa? Saat itu, Lindis yang dianggap sebagai seorang ibu dari Menma tidak terlihat di halaman depan akademi menandakan kalau dia sedang tidak berada di desa. Lantas, jika tidak ada sang ibu yang merupakan tempat baginya yang di mana dia bisa melampiaskan semua emosi yang dialaminya, kepada siapa lagi yang harus dia temui. Tentu tidak mungkin dia akan melampiaskan itu kepada teman-teman dekatnya karena mereka saja lulus menjadi genin sedangkan Menma sendiri telah dinyatakan gagal dalam ujian kelulusan akademi itu. Hal itu sangatlah memalukan baginya dan dia tidak akan melakukan tindakan yang dinilai konyol itu. Dia tau kalau dia yang sekarang tidak pantas berada dengan mereka yang telah memiliki ikat kepala yang ditandai kalau mereka telah menjadi seorang ninja yang memiliki bakat yang dibutuhkan untuk kepentingan desa. Bagi mereka yang tidak memiliki bakat seperti Menma, tentu mereka hanyalah orang-orang yang tidak berguna dan akan menyusahkan bagi sesama rekan ninja lainnya saat sedang menjalankan misi kelak. Itulah sebabnya kenapa dia sampai tidak lulus dalam ujian itu karena dia tidak memiliki bakat layaknya yang diperlukan oleh seorang ninja dan kecerdasannya yang sangat rendah meskipun Menma memiliki semangat dan tekad yang kuat untuk menjadi seorang shinobi. Tetapi, semangat dan tekad saja tidaklah cukup untuk membuktikan dirinya layak untuk menjadi shinobi. Shinobi juga harus memiliki keahlian khusus yang diperlukan agar dapat menjalankan misi dengan mudah dan meminimalisir terjadinya korban jiwa baik dari para shinobi maupun kliennya.


Setelah menangis cukup lama dengan penuh kesedihan yang amat dalam, akhirnya Menma memutuskan untuk pergi dari sana dan berjalan pulang ke rumahnya. Saat ini, dia sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun dan juga tidak mau menunjukkan ekspresi sedihnya dihadapan orang lain karena Menma tau kalau ada yang sampai memergokinya, maka akan berbagai macam pertanyaan yang tidak ingin dijawabnya. Jadi, dia memutuskan untuk meninggalkan akademi beserta teman-temannya yang masih merayakan kelulusannya menjadi genin sedangkan mereka tidak menyadari kalau ada salah satu dari temannya yang tidak ada di sana. Tetapi, hanya ada dua anak yang menyadari kalau ada yang tidak tertampak batang hidungnya di sekitar halaman depan akademi. Siapa lagi kalau bukan kedua sahabat dekatnya Menma yaitu Nia dan Tora. Mereka juga mengetahui kalau Menma adalah salah satu murid akademi yang tidak lulus di ujian itu dan gagal menjadi genin.


" Hei, Tora. Apakah kau melihat Menma? Dari tadi aku tidak melihatnya sama sekali sejak kita keluar dari pintu depan. "


" Tidak. Aku juga tidak melihatnya. Mungkin, dia sedang berada di suatu tempat. "


" Souka. Tapi, sayang sekali kalau ternyata, Menma gagal di ujian kelulusan ini. Sehingga, dia tidak bisa menjadi ninja seperti kita. "


" Hm.. Aku juga tidak menyangka kalau dia telah gagal. Sebenarnya, aku sudah mengira kalau Menma akan kesulitan untuk bisa lulus di ujian itu mengingat apa telah dia lakukan selama berada di akademi. Pasti, dia tidak memperhatikan apa yang sudah dijelaskan oleh sensei dan masih saja suka membuat masalah di kelas padahal sudah diperingati berkali-kali. Tapi, ya begitulah. Kau sudah lihat bagaimana dengan hasilnya yang dia dapatkan selama berada di akademi ini. Itu yang terjadi pada Menma sendiri. "


" Tapi, dia juga sudah berusaha dengan keras agar bisa lulus dari akademi ini. Aku tau kalau dia sering kali membuat masalah. Tapi, dia juga punya impian yang ingin dia wujudkan dengan semua usaha dan tekadnya sendiri. Jadi, aku rasa Menma masih berhak untuk mendapatkan kesempatan lagi untuk bisa lulus menjadi genin. "


" Cih... Mana bisa begitu, Nia. Itu saja tidak cukup untuk membuatnya bisa lulus di ujian itu. Kau sudah tau bukan kalau Menma itu seperti apa orangnya. Dia bahkan tidak dapat melakukan ninjutsu dasar tingkat E sekalipun. Selain itu, dia masih saja merasa kesusahan dalam hal teori. Bukannya aku bermaksud menjelekkan Menma, tapi itu berdasarkan penilaianku sendiri secara kenyataan kepadanya selama ini. Jadi, mau tidak mau dia harus menerima hasil itu dari apa yang sudah diperbuatnya. "


" Tapi, kasihan juga Menma. Padahal dia ingin sekali mewujudkan impiannya menjadi shinobi yang hebat seperti sang pahlawan legendaris. "


" Ya, tidak semua impian itu bisa diwujudkan. Terkadang, kegagalan juga merupakan bagian dari usaha. Jadi, kalau dia masih ingin terus berjuang untuk meraih impiannya, maka dia harus lebih berusaha lagi dengan sungguh-sungguh agar dia bisa berhasil meraih impiannya. "


" ... "


Sementara itu, muncullah tiga anak yang berjalan menuju ke arah Nia dan Tora.


" Oi, kalian. Mana temanmu yang berambut hitam itu? Aku tidak melihatnya dari tadi semenjak kita keluar dari pintu depan akademi. "


Ternyata yang memulai bertanya itu adalah Yura yang ditemani oleh Juto dan Keita.


" Iya. Jangan-jangan dia langsung pulang karena tidak dapat menahan gejolak yang dia alami sekarang. Kau tau kan apa yang aku maksud, Yura? "


" Tentu saja aku tau, Juto. Mungkin dia sedang berselebrasi atas kegagalannya di ujian kelulusan. Akibatnya, dia tidak mendapatkan ikat kepala ini atau dengan kata lain, dia tidak lulus menjadi ninja. Hahahaha... "


" Iya, kau benar. Aku bahkan sudah menduga kalau dia tidak akan bisa lulus di ujian kelulusan ini mengingat apa yang sudah dia lakukan selama ini. Dia selalu saja membuat banyak masalah dengan orang lain. Bahkan dalam pelajaran teori maupun praktek, dia sangat payah. Tidak heran kalau dia selalu mendapatkan nilai terendah di kelas kita dan tidak dapat mengerjakan tesnya dengan baik. Sehingga, dia gagal dalam ujian kelulusan dan berakhir dengan tidak menjadi ninja. Hahahaha. "


" Hn. Si baka itu tidak akan punya kesempatan lagi untuk bisa lulus dari akademi ini. Lebih baik, dia teruskan saja kebiasaannya membuat onar di seluruh tempat di desa. Aku rasa, dia tidak pantas untuk menjadi shinobi. " ucap Keita yang juga ikut menambah pembicaraan.


Setelah mendengar ejekan dan penghinaan terhadap Menma, sontak membuat Nia dan Tora menjadi darah tinggi alias marah kepada Keita dan teman-temannya atas apa yang telah mereka ucapkan.


" KUSSO... HEI! JAGA UCAPANMU ITU!!! BIARPUN SEPERTI APA MENMA ITU, DIA TETAPLAH TEMAN KAMI. KALIAN TIDAK PANTAS UNTUK MENJELEKKANNYA HANYA KARENA DIA GAGAL DI UJIAN ITU. " bentak Tora.


" IYA. SELAIN ITU, KALIAN JANGAN SOK-SOKAN HANYA KARENA KALIAN BERHASIL LULUS MENJADI NINJA, BUKAN BERARTI KALIAN BISA SEENAKNYA MERENDAHKAN KEPADA ANAK-ANAK YANG GAGAL. MEREKA JUGA SUDAH BERUSAHA DENGAN SEKUAT TENAGA AGAR BISA MENJADI NINJA UNTUK MENCAPAI IMPIANNYA. JADI, LEBIH BAIK KALIAN BERHENTILAH MERENDAHKAN MENMA. " bentak Nia juga walaupun suaranya tidak sekeras Tora.


" Hn. Kalau memang begitu, itu terserah kalian saja apakah mau menerimanya atau tidak. Tapi yang jelas, dia gagal menjadi genin karena tidak dapat mengerjakan ujian itu dengan baik. Jadi, suka-suka kami untuk menilainya seperti apa. Sedangkan kalian tidak usah sok pahlawan dengan membela si payah itu. " ketus Yura.


" Hai, itu benar. Sebaiknya, kalian urus diri kalian sendiri karena besok, kita akan memulai karir kita sebagai shinobi. Jadi, bersiap-siaplah untuk itu. " sambung Juto.


" Cih... Kalian.... " geram Nia.


" Sudahlah, minna. Lebih baik, kita pulang saja karena besok akan ada pembagian tim genin. Jadi, kita harus bersiap-siap. " ucap Keita sambil menghentikan adu mulut antara Juto dan Yura dengan Nia dan Tora.


" Hehe... Hai, kau benar juga, Keita. Yosh, ayo kita pulang dan tinggalkan saja mereka yang masih setia membela temannya yang gagal itu. Ikuzo, Yura!" ucap Juto.


" *Geram* WOI!!! KALIAN... "


" Sudahlah, Nia. Lebih baik, kita pulang saja karena percuma saja berdebat dengan mereka. Itu tidak akan merubah apapun yang sudah terjadi. Jadi, kita harus mempersiapkan diri karena besok akan ada pembagian tim genin dan setelah itu, aku tidak tau akan ada apa lagi selanjutnya. "


Setelah mendengar perkataan dari Tora, Nia hanya bisa menghela nafas berat dan mulai pasrah terhadap kenyataan yang dihadapinya.


" Hufft. Yare-yare. Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang. Aku merasa hatiku sedang tidak senang sekarang gara-gara apa yang telah terjadi sebelumnya. " ucap Nia dengan nada lesu.


" Hehehe. Tenang saja, Nia. Aku yakin suatu saat nanti, kau akan merasa lebih baik dari ini karena besok kita akan memulai petualangan sebagai shinobi yang akan bergerak dalam satu tim bersama dengan yang lainnya. " ucap Tora sambil menghibur Nia.


" Hai, kau benar. Yosh, ayo kita pulang, Tora. Mungkin, kita sekalian saja jenguk Menma di rumahnya. Kita akan mencoba menghiburnya agar dia bisa bersemangat lagi untuk meraih impiannya. " ucap Nia.


" Hmm... Boleh juga. Tapi, memangnya kau tau di mana rumahnya Menma? " tanya Tora.


" Eehhh... Tidak. Gomenasai, Tora. Aku tidak tau di mana rumahnya Menma. Hehehe. " jawab Nia sambil menyembunyikan rasa malunya.


" Hufft. Kalau begitu, percuma saja kita menjenguknya kalau kita tidak tau di mana rumahnya. Lebih baik, kita biarkan dia sendiri dulu karena pasti saat ini, dia masih bersedih gara-gara dia gagal dalam ujian kelulusan itu. " ucap Tora.


" Hai, kau benar juga. Semoga dia baik-baik saja dan tidak bersedih terlalu lama karena jika tidak, aku jadi khawatir dengannya. " ucap Nia sambil mengkhawatirkan kondisi Menma yang sekarang.


" Hm. Ya, semoga saja kesedihannya cepat berlalu. Ikuzo, Nia. Kita pulang. " ucap Tora sambil mengajak Nia untuk pulang.


Akhirnya, Nia dan Tora memutuskan untuk pulang ke rumah agar mereka bisa mempersiapkan diri untuk pembagian tim di esok hari. Di sisi lain, terdapat seorang gadis kecil yang posisinya tidak terlalu jauh dari Nia dan Tora berada yang ingin segera pulang, bergumam diri dengan nada pelannya di sana.


" Menma-kun. Maaf. Aku turut berduka karena kau tidak lulus di ujian kelulusan itu. Padahal, aku berharap, aku ingin bisa melihatmu menjadi ninja yang akan memperjuangkan impianmu. Tapi, ya sudahlah jika ini adalah hasil yang kau dapatkan dari ujian kelulusan akademi ini. Meskipun begitu, aku akan tetap terus mendukungmu dan selalu mendoakanmu agar kau bisa kembali bersemangat untuk mendapatkan kesempatan lagi menjadi seorang ninja. Aku hanya ingin kau tetap tersenyum seperti biasanya aku memperhatikanmu. Ganbatte, Menma-kun. "


Ternyata gadis kecil itu adalah Hikari yang juga selalu mendukung dan membela Menma meskipun dalam bersembunyi-sembunyi. Dia juga adalah teman dekatnya Menma selain Nia dan Tora yang tetap memberikan dorongan kepada Menma agar tetap terus berjuang untuk mendapatkan kesempatan lagi untuk bisa lulus menjadi shinobi.


Di tempat yang berbeda, seorang pria yang sedang berdiri menghadap kerumunan orang tua dan anak-anaknya yang telah lulus menjadi genin dengan ekspresi yang sulit diartikan. Pria itu adalah Merlin yang saat ini sedang merenungkan tentang apa yang telah dia lakukan selama ujian kelulusan akademi berlangsung. Dia berpikir kalau tidak meluluskan Menma di ujian kelulusan akademi adalah perbuatan yang wajar. Ya kalau dilihat dari statistik nilai keseluruhan akhir dari Menma, memang anak itu berada di peringkat paling bawah di antara para murid di kelasnya. Hal itu juga dibuktikan di ujian kelulusan di mana Menma tidak dapat mengerjakan ujian baik di bagian teori maupun praktek dengan baik sehingga mengakibatkannya mendapatkan hasil yang sangat buruk. Itulah sebabnya Merlin memutuskan untuk tidak meluluskan Menma menjadi seorang genin. Tetapi, dia juga berpikir kalau tindakannya itu benar-benar telah menyakiti hati Menma. Merlin pernah mendengar tentang impian dari Menma bahwa dia bercita-cita ingin menjadi seorang shinobi yang hebat seperti sang pahlawan legendaris sesuai dengan cerita yang pernah dia dengar. Itulah alasannya mengapa dia memutuskan untuk masuk ke akademi dan menjadi seorang ninja. Tetapi juga, nasib berkata lain. Impiannya ternyata tidak dapat terwujud. Semuanya berakhir akibat dari kegagalannya di ujian kelulusan akademi. Memikirkan itu membuat Merlin menjadi merasa tidak enak hati terhadap Menma. Mungkin, dia sudah berbuat kelewatan kepada anak itu. Ingin rasanya untuk meminta maaf kepada Menma. Tetapi, harga diri menahannya untuk melakukan itu. Ya kalau dipikir, mana mungkin ada seorang sensei yang meminta maaf kepada muridnya atas kesalahan yang sama sekali tidak pernah dia perbuat. Tentu saja, itu sangatlah aneh padahal Merlin sendiri telah melakukan hal yang memang seharusnya seorang sensei lakukan. Menilai seorang murid berdasarkan dari usaha yang telah dilakukannya di dalam suatu ujian baik itu bagus maupun buruk itu adalah hal yang wajar bagi para sensei untuk menentukan hasilnya. Jika seorang murid mengerjakan ujiannya dengan baik, maka hasil yang didapatkannya akan baik juga dan sangat memungkinkan untuk bisa lulus dari ujian. Begitu juga dengan sebaliknya, jika mengerjakan ujian dengan buruk, maka hasil yang didapatkan juga akan buruk. Itulah hal-hal yang lumrah terjadi di dalam dunia pendidikan termasuk yang berkaitan juga dengan dunia ninja di mana mereka harus memiliki pengetahuan yang cukup agar mereka bisa menjalankan misi sebaik mungkin dan meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi jika sampai mendapatkan misi ke luar desa, belum bertemu dengan beberapa orang jahat yang akan mengancam keselamatan para shinobi pemula maupun para kliennya. Jika mereka tidak mempersiapkan diri untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan berusaha untuk mempertahankan hidupnya, maka mereka akan mati konyol dan misinya akan gagal total. Itulah kenapa pendidikan menjadi salah satu hal sangat wajib dibutuhkan oleh seorang shinobi agar bisa membantu mereka untuk mengatasi masalah yang dihadapinya.


Kembali di mana Merlin masih sibuk memikirkan kejadian yang terjadi di ujian kelulusan sebelumnya terutama tentang Menma, tiba-tiba ada sesosok yang terlihat lebih tua daripada Merlin berjalan menuju ke arahnya. Orang itu mulai menyapa Merlin yang membuat Merlin sendiri kembali ke alam sadarnya.


" Yo, Merlin-san. Sedang apa kau merenung di situ? "


" E-eh!? Akademi-cho(kepala akademi)?! G-gomenasai. Sebenarnya, saya sedang kepikiran tentang sesuatu yang mengganjal di pikiran saya tadi. " jawab Merlin sambil tergagap di hadapan sang kepala akademi yang sedang menghampirinya.


" Hehehe. Lalu, ada hal apa yang mengganjal di pikiranmu saat ini, Merlin-san? Kau tau kalau hari ini, para murid telah melewati masa pembelajarannya di akademi dan mereka juga telah siap untuk menjadi seorang shinobi. Itu dibuktikan dengan mereka yang berhasil menyelesaikan ujian kelulusannya dengan hasil yang baik dan akhirnya lulus menjadi genin yang akan menjalankan misi untuk pertama kalinya di bawah pimpinan Shinrinkage-sama. Tentu saja, itu adalah hal sangat membanggakan untuk mereka yang ingin menggapai impiannya dengan menjadi seorang shinobi dan para sensei di akademi termasuk saya akan sangat senang terhadap para muridnya yang telah menyelesaikan pendidikannya di akademi ini dengan sangat baik. "


" Hai, kau benar akademi-cho. Saya tau tentang itu. Cuma, yang kupikirkan saat ini adalah ada beberapa murid di akademi yang tidak lulus dalam ujian kelulusan ini. Tentunya, mereka yang gagal akan merasa sedih karena mereka tidak dapat menjadi genin dan tidak dapat mengejar cita-citanya. Saya sebagai sensei yang mengetahui kalau ada muridku yang tidak lulus di ujian itu, merasa sangat kecewa karena mereka tidak tekun dan disiplin dalam menuntut ilmu yang diberikan dan tidak dapat menunjukkan hasil yang maksimal ketika akan diujikan di dalam ujian. "


" Hm... Kau benar. Memang, mereka yang melakukannya dengan buruk, maka mereka akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Begitu juga dengan sebaliknya. Kalau aku boleh tau, adakah di antara murid-muridmu yang gagal dalam ujian kelulusan ini, Merlin-san? "


" ... "


Karena merasa bingung dalam menghadapi pertanyaan dari sang kepala akademi, akhirnya Merlin dengan terpaksa menjawabnya dengan seadanya.


" Ada, akademi-cho. Hanya ada satu murid dari kelasku yang gagal dalam ujian kelulusan dan tidak dapat menjadi genin. "


" Oh.. Benarkah?! Kalau begitu, siapa namanya? "


" Namanya Menma. Dia gagal di semua bagian dalam ujian, baik di bagian teori maupun praktek. Dia tidak dapat mengerjakannya dengan baik hingga hasilnya, saya dengan berat hati memutuskan untuk tidak meluluskannya. Dengan begitu, dia tidak bisa menjadi shinobi dan harapan yang ingin dia capai tetal sirna sudah. "


" Haahhh... Ya, apa yang kau katakan barusan memang itu tidak salah. Sudah semestinya dia mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya selama ujian. Tentu, itu adalah hal yang wajar kalau kau tidak meluluskannya. Lalu, kenapa kau sendiri merasa ada yang membuatmu ganjal di pikiranmu, Merlin-san? Kau seharusnya tidak perlu merasa ragu lagi dengan keputusanmu itu. "


" Kalau soal itu, saya sudah mengetahuinya, akademi-cho. Tapi, yang menjadi kepikiran di kepalaku sekarang adalah kalau aku telah membuat Menma merasa depresi karena gagal dalam ujiannya. Selain itu, aku juga yang telah membuat impiannya menjadi mimpi belaka. Padahal, dia sendiri yang pernah berkata kepadaku kalau dia memiliki impian dan bertekad untuk menjadi seorang ninja yang hebat seperti sang pahlawan legendaris. Itulah sebabnya kenapa dia selalu berusaha keras agar dia bisa menggapai impiannya itu. Tetapi, pada kenyataannya, dia tidak dapat menyelesaikan ujiannya dengan hasil yang baik. Buktinya, dia tidak dapat mempraktekkan tiga jenis jutsu tingkat E dan untuk bagian teorinya saja, dia mendapatkan nilai terendah dari semua nilai milik para murid lainnya di kelas saya. Sehingga, dengan hasil yang seperti itu, saya memutuskan tanpa ragu untuk tidak meluluskannya menjadi genin. Tetapi, gara-gara itu juga yang membuat saya merasa tidak enak hati terhadap anak itu. "


" Hufft... Jadi itu yang membuatmu kepikiran adalah tentang kau yang merasa tidak enak hati melihat Menma yang gagal dalam ujiannya dan tidak dapat menjadi genin karena kau tidak meluluskannya. Iya, iya.. Saya mengerti sekarang. Lalu, jika memang itu yang kau pikirkan, bukannya kita dari pihak akademi telah menyediakan kesempatan bagi para murid yang gagal dalam ujian kelulusan itu dengan mengikuti pengulangan kelas selama satu tahun agar mereka bisa memperbaiki kesalahannya dan mencoba untuk mendapatkan nilai yang terbaik agar mereka bisa lulus menjadi genin. Jadi, untuk apa kau sampai kepikiran sampai segitu hanya karena kau tidak bisa meluluskan Menma padahal dia bisa mengikuti pengulangan itu agar harapan dan impiannya masih bisa diwujudkan dengan penuh tekad dan usahanya yang keras. "


" Kalau soal itu, saya juga sudah tau tentang itu, akademi-cho. Tapi, bagaimana saya harus mengatakan kepadanya kalau sebenarnya dia masih punya kesempatan untuk bisa lulus menjadi genin dengan mengikuti pengulangan seperti yang anda katakan sebelumnya sedangkan dia sendiri sudah terlanjur kesal dan tersinggung karena tidak dapat lulus di ujian kelulusan itu apalagi saya sendiri yang menyatakan gagal dihadapannya. Karena itulah, saya jadi merasa malu-malu untuk mengungkapkannya. "


" Hehehe, kau ini ada-ada aja, Merlin-san. Tapi yang terpenting, masih ada jalan untuk mereka yang ingin meraih cita-citanya dengan menjadi shinobi. Karena itulah kita menyediakan kesempatan itu untuk mereka agar mereka tidak putus asa dan terus berjuang sampai sukses. Kalau soal yang kau bicarakan itu, kau bisa mencari tau sendiri untuk caranya karena saya yakin anak itu akan memahami anda yang ingin mencoba untuk memberikan kesempatan lagi kepadanya. Itu pun kalau kau melakukannya dengan sifat baik dan ramah darimu. Jika kau merasa kesulitan dan memerlukan bantuan, saya akan dengan senang hati membantumu. Saya akan berada di tempat yang biasanya anda sering mengunjungiku. "


" Souka. Kalau begitu, arigatou gozaimasu, akademi-cho. Mungkin, jika bukan dari pencerahan dari anda, saya bisa saja tenggelam dalam lautan penyesalan karena gara-gara saya sendiri yang sudah membuat impiannya Menma menjadi hancur. "


" Sudahlah, Merlin-san. Kau tidak usah menyalahkan dirimu terus. Karena jika tidak, itu juga akan berpengaruh dengan kondisi mentalmu yang akan melemah secara perlahan sehingga itu bisa membuatmu menjadi sangat terganggu saat sedang mengajar di kelas. "


" Ehh... G-gomenasai. Saya tidak bermaksud berkata seperti itu karena biarpun juga, dia tetaplah muridku yang berharga, akademi-cho. Karena itulah, saya harus lebih serius untuk mengajar dan mendidiknya agar dia bisa mendapatkan hasil yang maksimal dan mempermudah dirinya untuk bisa lulus menjadi seorang shinobi. "


" Hm.. Yokatta. Kalau begitu, saya permisi dulu. Ada banyak hal-hal yang harus saya urus di kantorku. Kita akan berbincang-bincang lagi di lain waktu, ya. Jaa ne, Merlin-san. "


" Hai. Jaa ne, akademi-cho. "


Akhirnya, sang kepala akademi mengakhiri pembicaraannya dengan Merlin dan berjalan menuju ke ruang kantornya. Sedangkan Merlin sendiri berusaha untuk memahami semua yang dikatakan oleh sang kepala akademi itu sebelumnya.


" Hmm... Benar juga ya apa yang dikatakan oleh akademi-cho. Sebaiknya, aku harus menemui Menma ke rumahnya untuk membicarakan tentang ini sekalian juga untuk meminta maaf kepadanya atas sikapku pada saat ujian itu. Tapi, untuk sekarang, sepertinya dia tidak ingin bertemu dengan siapapun karena pasti dia sedang bersedih di sana. Mungkin lain kali saja jika waktunya sudah tepat untuk mengunjunginya. Yoshaa, kalau begitu aku segera pulang dulu untuk beristirahat setelah ujian kelulusan yang melelahkan ini. Hehe. Tunggulah, Menma. Aku pasti akan datang untuk menjengukmu. " gumam Merlin yang sudah membulatkan niatnya untuk menemui Menma tentang kesempatan yang sempat dibicarakan oleh sang kepala akademi dengannya pada saat yang tepat untuk dilakukan.