Adelle

Adelle
Pengakuan Joy



Class meeting adalah kegiatan yang paling di tunggu setelah bergelut dengan soal-soal ulangan yang menguras otak dan juga pikiran. Lihatlah wajah-wajah yang nampak begitu bahagia mengikuti perlombaan dan juga pertandingan yang diadakan. Di tiap venue pelaksanaan lomba, antusias peserta dan supporter sangat nyata. Riuh rendah suara yang memberikan dukungan terdengar sahut menyahut.


Adelle berdiri di pinggir lapangan basket, di sampingnya Shella nampak bersorak. Sementara kawan-kawan yang lain juga nampak heboh dengan yel-yel mereka. Pertandingan antara kelas mereka dengan IPA 1 sedang berlangsung. Yudi dan kawan-kawan memimpin dengan skor 25 - 10. Pertandingan tak lama lagi akan berakhir. Sudah bisa dipastikan kelas mereka akan memenangkan pertandingan yang pertama ini. Dan ketika wasit meniup peluit panjang, mereka semua bertepuk tangan.


Rombongan mereka membubarkan diri dan menuju tempat pertandingan lain. Ada yang melihat pertandingan tarik tambang, ada juga yang menuju ke ruangan lomba poster. Sebagian yang lain menuju kantin, panas dan juga kelelahan membuat kantin menjadi pilihan yang paling tepat.


"Del, temenin ke toilet ya. Kebelet nih." Shella menarik lengan Adelle saat keduanya meninggalkan lapangan.


Keduanya melangkahkan kaki menuju toilet yang berada di belakang. Namun baru saja akan berbelok terdengar suara pak Rendra memanggil.


"Adelle tolong ke ruangan bapak ya sekarang. Ada yang ingin bapak bicarakan."


Adelle menatap Shella, yang kemudian memintanya untuk menyusul ke toilet segera setelah urusan dengan pak Rendra selesai.


"Baik pak." Adelle kemudian mengikuti pak Rendra ke ruangan guru sementara Shella berbelok ke kiri menuju toilet. Hasrat buang air kecil sudah tidak bisa di tahan. Dia harus segera menuntaskannya.


______


Adelle baru saja keluar dari ruang guru. Ditangannya ada sebuah buku dan beberapa lembar kertas. Dilangkahkan kakinya menuju toilet, dia harus menyusul Shella. Untung saja tadi pak Rendra tidak berbicara lama sehingga dia bisa segera keluar.


Lorong kelas tidak terlalu ramai. Sebagian besar siswa memang sedang berada di halaman sekolah. Hanya beberapa orang saja yang berpapasan di jalan tadi.


Toilet kosong, tak ada seorangpun penggunanya. Adelle berpikir sesaat, tak mungkin Shella akan langsung jika ke lapangan lagi jika memang dia sudah selesai. Dia pasti akan menemui Adelle di ruang guru sebab dia tahu pak Rendra tadi memintanya untuk menemui beliau.


"Ke mana Shella ya? Masa iya sengaja ninggalin aku. Dia sendiri tadi yang bilang untuk menyusul ke toilet jika sudah selesai urusan dengan pak Rendra." Adelle masih terus berpikir. Diayunkan kakinya menuju halaman, berharap sang sahabat memang sudah di sana. Langkahnya terhenti ketika telinganya mendengar sayup suara orang yang sangat dikenalnya.


"Kamu mau apa lagi sih? Semuanya udah jelas kan.." Itu suara Shella.


"Shella, kamu harus dengerin penjelasan aku dulu. Semuanya nggak seperti yang kamu pikir." sekarang suara Joy yang terdengar.


"Kurang jelas apa lagi Joy? Aku udah lihat sendiri kamu sedang bermesraan. Bukan dari mulut orang lain."


"Tapi apa yang kamu lihat itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Aku engga selingkuh Shella. Aku hanya berteman sama dia. Nggak lebih." suara Joy terdengar berusaha untuk meyakinkan.


"Berteman katamu? Kamu memeluk dia dengan begitu mesra, itu yang kamu sebut berteman Joy? Kamu pikir aku akan percaya?"


"Del dengerin aku dulu. Dia itu siswa baru, belum punya banyak temen dan juga belum mengenal lingkungan di sini. Itu sebabnya aku deket sama dia dan selalu nemani dia."


Shella menatap tajam ke arah Joy. Wajahnya mulai menampakkan rasa tak suka. "Ada seribu lebih siswa di sekolah kita Joy, kenapa harus kamu yang berbaik hati sama dia. Dan kenapa kamu harus mengorbankan hubungan kita? Kamu lebih perhatian sama dia ketimbang sama aku, kamu lebih banyak menghabiskan waktumu bersama dia ketimbang sama aku, dan yang paling aku ga bisa terima Joy, haruskah kalian bermesraan jika kalian tidak ada hubungan istimewa? Di mana otakmu Joy? Kalian sama sekali ga malu melakukan itu di tempat umum. Aku ga tau apa yang bisa kalian lakukan ketika berada di rumah?"


"Shella, jaga ucapanmu!" Joy tersulut amarah mendengar perkataan Shella.


"Aku bicara fakta, bukan mengada-ada. Bagian mana dari kalimatku yang menurut kamu salah?" wajah cantik itu menatap wajah Joy mencari jawaban.


"Aku ga percaya kamu bisa seperti itu Joy. Selama kita menjalin hubungan, kamu selalu memperlakukanku dengan sangat sopan. Nggak pernah sekalipun kamu berani berbuat seperti itu, apalagi di tempat umum." Shella mengingat kembali masa-masa mereka bersama. Hal terjauh yang pernah mereka lakukan hanyalah saling menggengam tangan. Shella memang tidak pernah mengizinkan Joy untuk menciumnya, memeluknya dan hal-hal yang menyerempet ke arah yang jauh. Baginya pacaran bukan seperti itu.


Kamu berubah sejak deket sama dia Joy. Kamu bukan Joy yang aku kenal dulu."


"Fine, oke. Aku memang bukan Joy yang kamu kenal. Aku memang udah berubah. Aku memang main di belakang kamu Shel. Kami pacaran sejak dua bulan lalu. Puas?" Joy akhirnya buka suara.


Shella yang tadinya tertunduk, tiba-tiba menatap wajah lelaki yang pernah menemani hari-hari indahnya. Dia memang ingin mendengar kejujuran Joy, namun ketika mendengarkan langsung dari mulut Joy yang sepertinya tanpa rasa bersalah sama sekali hatinya merasa sakit.


Di tempat lain, Adelle yang mendengar semua pengakuan Joy dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya. Dia sama sekali tidak percaya jika Joy akan melakukan hal itu. Shella nyaris sempurna sebagai seorang wanita. Wajahnya cantik, dengan hidung mancung, bibir tipis dan merah alami. Rambutnya hitam sebahu terawat dengan teratur. Tinggi dan langsing, siapapun yang melihatnya pasti akan mengatakan dia sangat cantik. Meski anak orang kaya namun dia tidak sombong. Tidak pernah memilih dalam berteman walau lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Adelle. Apa yang membuat Joy berpaling? Akhhhh....


"Aku seperti menemukan sesuatu yang lain saat bersamanya Shel. Sesuatu yang tidak aku temukan pada dirimu. Aku suka saat ada seseorang yang bermanja, yang membutuhkan aku, selalu berharap agar aku memperhatikannya, sesuatu yang tidak aku dapati saat bersama kamu." Joy berhenti sesaat.


"Aku sayang kamu Shel. Tapi kamu terlalu mandiri, juga kaku. Kamu nggak pernah mau aku peluk. Kamu selalu mengatakan nggak boleh. Kamu memperlakukan aku seperti kawan-kawan yang lain. Jadi apa bedanya pacaran dengan nggak pacaran?"


Shella menatap nanar ke arah Joy.


"Aku nggak ngerti jalan pikiran kamu Joy. Dulu kita udah buat komitmen bahwa pacaran bukan belajar menjadi suami istri. Bahwa kita nggak boleh pelukan, apa lagi bermesraan seperti yang kalian lakukan kemarin." Ditariknya nafas pelan.


"Aku nggak ngelarang kamu untuk punya keinginan lebih sebagai lelaki, tapi mungkin bukan denganku Joy. Ku rasa kita sudah tidak satu frekuensi lagi, jadi seperti yang sudah kukatakan kemarin kita udahan aja. Nggak ada gunanya jika kita lanjutin hubungan ini." Shella mengakhiri kalimatnya dan beranjak meninggalkan Joy yang hanya bisa terdiam.


"Maafin aku Shel" Joy berkata sebelum Shella berlalu jauh darinya.


"Nggak perlu minta maaf Joy. Aku malah bersyukur kamu bisa menemukan seseorang seperti yang kamu inginkan. Dan aku juga bersyukur karena Allah telah menjawab doaku."


Shella terus melangkah hingga matanya kemudian melihat sang sahabat yang berdiri tak jauh dari tempat mereka tadi berbicara.


"Kamu denger semuanya, Del?" tanya Shella. Suaranya sedikit serak


"Aku nggak tau apakah aku denger semuanya. Yang pasti aku ngerti kenapa kalian memutuskan untuk berpisah." Adelle memeluk sahabatnya. Dia tahu, walau Shella tidak meneteskan air mata dihadapannya, namun hatinya pasti merasa sakit di khianati oleh seseorang yang dia sayangi.


Lama keduanya saling berpelukan, hingga akhirnya Shella mengendurkan pelukannya.


"Are you ok, Shel?" tanya Adelle lagi.


"Yup, I'm ok. I feel better now." Keduanya tersenyum.


"Ayo kita ke lapangan lagi. Aku pengen lihat anak-anak lomba fashion show. Sebentar lagi mulai." Shella mengajak Adelle meninggalkan tempat yang menjadi saksi putusnya hubungan antara dirinya dan Joy.


"Come on. Tapi sebelumnya kita beli minuman dulu ya. Aku haus."


"Iya, aku juga haus. Putus cinta ternyata membangkitkan rasa haus hahahahahaha" Shella sudah berubah pada mode normal. Yang selalu ceria dan menyenangkan. Dan Adelle suka itu.


_______


"Kalian berdua dari mana sih? Tadi katanya ke toilet tapi koq lama banget. Jadi curiga ngapain aja di toilet." Yudi bertanya saat melihat keduanya.


"Biasa deh Yud, girls' stuff." jawab Shella.


"Iya, Yud. Noh si Shella tiba-tiba mules." Adelle ikut menjawab.


"Emang kenapa nyariin kita?" tanya Shella lagi.


"Itu Dave dan kawan-kawan katanya butuh dana. Nggak tahu deh mau beli apa. Buruan temuin mereka." Yudi menjelaskan.


"Baiklah bapak ketua kelas." Shella menjawab yang kemudian disusul dengan tawa Adelle. Keduanya kemudian mencari Dave and the gank yang sedang menunggu mereka.


"Kalian wajib selalu bersama ya? Kamu nggak bisa nggak ikut Shella, Del?" Yudi bertanya lagi.


"Kamu ada perlu sama Adelle?" Shella berhenti sesaat setelah mendengar pertanyaan Yudi. "Atau kamu mau supaya Adelle nemenin kamu." Shella mengedipkn matanya ke arah Adelle.


"Apaan sih Shel. Jangan ngasal deh." Adelle merasa tak enak hati.


"Ya aku hanya nanya Yudi. Koq kamu yang sewot sih Del. Kalau emang Yudi membutuhkan kamu, ya aku bisa jalan sendiri. Tar juga banyak yang bakalan mau ku ajak keliling-keliling." Shella membalas sambil tersenyum penuh arti.


"Kamu ada perlu sama aku Yud?" kali ini Adelle yang bertanya.


"Hmmm nggak juga sih." jawabnya ragu. "Belum sekarang. Untuk saat ini aku masih bisa sendiri."


"Jangan nyesel lho Yud kalau nanti Adelle ku bawa kabur." Shella masih menggoda Yudi karena dirinya merasa jika Yudi memang sepertinya mengharapkan Adelle untuk bisa bertahan bersamanya.


"Ya udah, yuk Shel kita pergi sebelum gerombolan pengacau itu membuat masalah." Adelle mengajak Shella untuk segera beranjak. Hatinya takut jika harus berdua saja dengan Yudi. Dia takut hatinya tak mampu menolak pesona sang ketua kelas. Dia tak ingin terjerat oleh perasaannya sendiri.


Yudi menatap kepergian Shella dan Adelle. Hatinya merasa kecewa karena tak berani untuk mengutarakan sesuatu yang sudah lama ditahannya.


"Kenapa sulit sekali aku untuk mengutarakan isi hatiku. Dan mengapa juga kamu sepertinya nggak mau bersamaku Del? Apa kamu nggak tahu kalau aku punya perasaan kepadamu?" Yudi hanya mampu membatin.