
I love monday!
Itu slogan yang sering diucapkan sebagian orang untuk menyemangati diri agar dapat menjalani hari senin dengan penuh semangat. Ya, senin yang dianggap sebagai awal dari hari kerja sering dianggap sebagai momok karena akan memulai aktifitas dengan segala kesibukan.
Begitu juga bagi Adelle, baginya senin adalah hari yang harus di sambut dengan penuh semangat. Bagi Adelle hari senin berarti awal kebahagiaan dalam bentuk lain setelah kebahagiaan berada di tengah keluarga. Berada di lingkungan teman-teman seperjuangan yang sama-sama menimba ilmu pengetahuan. Bertemu lagi dengan sahabat karibnya Shella, sang ketua kelas Yudi dan tentu saja para penggembira di dalam kelasnya.
Hari senin berarti dia akan melihat tingkah konyol Dave CS, yang selalu membuat ulah di kelas. Ada-ada saja tingkah laku mereka yang membuat orang-orang tertawa atau tak jarang pula marah karena keusilannya.
Apalagi menjelang semester terakhir mereka di SMA, keakraban semakin terasa. Entahlah, mungkin mereka sadar bahwa setelah kelulusan nanti maka mereka tak akan lagi bisa menikmati masa-masa indah seperti itu.
Beragam ide muncul untuk mengenang kebersamaan mereka selama tiga tahun di bangku SMA. Mulai dari rencana foto keluarga besar IPS 5, pembuatan buku alumni, tur ke luar kota hingga pertanyaan tentang akan ke mana setelah tamat ini.
Diantara sekian banyak hal menjelang akan berakhirnya masa putih abu-abunya, ada satu hal yang masih belum bisa diputuskan oleh Adelle. Akan melanjutkan ke mana setelah ini? Jangankan untuk memilih universitas mana yang akan dipilih, sampai saat ini ia belum tahu apakah ia akan melanjutkan ke perguruan tinggi atau hanya akan sampai SMA saja.
Adelle sadar akan keadaan perekonomian orangtuanya. Ayah yang hanya seorang karyawan kecil di sebuah usaha rumahan, yang gajinya hanya cukup untuk makan mereka sehari-hari. Dulu ayah memang bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan, namun ketika covid menyerang dan mengganggu roda perekonomian di semua bidang, ayah menjadi salah satu korban pengurangan tenaga kerja. Untung saja ayah tak putus asa dan tak malu bekerja apa saja hingga akhirnya ada tawaran kerja baru.
Walau tak besar gaji yang di terima, namun ayah menjalani pekerjaan itu dengan ikhlas. Tak jarang ayah harus lembur agar mendapat uang tambahan. Itu pula yang kemudian mendorong ibu untuk berjualan kue-kue. Untuk membantu ayah mencukupi kebutuhan yang semakin hari semakin besar.
Ada yang bertarung dalam pikiran Adelle, antara keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan membantu perekonomian orang tua. Keinginan itu sama besarnya. Dia punya cita-cita yang ingin diwujudkannya, namun ia juga ingin membantu meringankan beban ibu dan ayah.
"Ngelamunin apa sih, Del? Koq serius gitu, sampe nggak denger juga dari tadi di panggil sama Grace." Adelle menyikut lengan Adelle.
Adelle terkejut, ternyata cukup lama dia hanyut dalam pikirannya.
"Del, mikiran apa? Dari tadi koq bengong aja." tanya Shella lagi saat Adelle tak juga menjawab pertanyaannya.
"Nggak lagi mikirin apa-apa, Shel. Aku hanya sedang mikirin kalau aku bakalan kangen banget sama kamu dan kawan-kawan semua. Aku pasti kanggggeeen banget sama situasi kelas ini. Sama tingkah absurb makhluk-makhluk di belakang itu." Adelle menunjuk Irvan and the genk yang sedang menirukan gaya berjalan dan berbicara beberapa orang guru sehingga membuat sebagian besar penghuni kelas tertawa ngakak.
Shella mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Adelle.
"Aku juga bakalan kangen melihat kebucinan orang-orang yang sedang kasmaran seperti mereka," Adelle menunjuk Pras dan Tia yang duduk berdua di pojok kelas.
"Kamu juga bakalan kangen sama ketua kelas yang paling baik seperti Yudi kan...?" Shella menggoda sahabatnya yang sedang dalam mode melow.
"Apaan sih Shel? Mulai ngaco deh." Adelle memerah wajahnya.
"Udah ngaku aja, kamu pasti bakalan kangen sama ketua kelas yang selalu perhatiin kamu, yang selalu belain kamu, yang selalu sayang sama kamu walau kamunya pura-pura nggak butuhkan" Shella masih saja menggoda Adelle.
"Yud, ada yang titip salam. Kangen katanya." Shella berteriak ke arah Yudi yang saat itu sedang berbincang dengan Tri dan Bowo. Sontak saja ketiganya menoleh ke arah datangnya suara. Suara cie cie terdengar setelahnya. Sementara Yudi hanya memandang ke arah bangku di mana salah satunya dari dua orang gadis cantik yang ada di sana adalah gadis yang selalu ia rindukan.
"Shella!!! Kamu koq gitu sih." Adelle memelototkan matanya, tak percaya jika Shella akan mengatakan hal seperti itu pada Yudi. Dia merasa malu, bagaimana jika Yudi menganggap serius ucapan Shella tadi? Akan di taruh di mana mukanya?
"Siapa, Shel? Apa aku kenal?" itu suara Yudi.
Suasana kelas semakin riuh saat mendengar pertanyaan ketua kelas mereka. Nampaknya mereka semua mendengar teriakan Shella tadi.
Adelle terdiam saat mendengar pertanyaan Yudi. Sementara Shella tersenyum penuh kemenangan. Inilah saat baginya untuk ngerjain sahabat karibnya yang selama ini terlalu jaim dan menutup hatinya rapat-rapat untuk satu hal yang bernama cinta.
'Ya kenal lah...."
Yudi melihat Adelle menunduk sementara Shella masih memamerkan senyum nakalnya. Dia tahu pasti Shella sedang mengggoda seseorang yang duduk disampingnya.
"Titip salam balik, ya. Sampaikan sama yang titip salam itu, akan ku jaga rasa kangen ini sampai saat yang tepat itu datang dan aku bisa menumpahkannya." jawab Yudi sambil membayangkan wajah Adelle.
Sontak jawaban pimpinan kelas yang puitis itu mendapat sorakan gemuruh dari seisi kelas. Berbagai reaksi datang dari penghuni kelas yang sedang menikmati jam kosong karena guru yang mengajar berhalangan hadir. Ada yang bertepuk tangan sambil tertawa, ada yang bersuit, ada yang memukul-mukul meja hingga suasana kelas benar-benar riuh.
Adelle masih menundukkan kepalanya. Ia tak berani mengangkat kepala menatap kawan-kawannya. Entah apa warna mukanya saat ini. Malu, senang dan juga sedikit marah campur aduk jadi satu.
Shella menatap sahabatnya yang masih tertunduk, tangannya saling memilin satu dengan yang lainnya. Timbul rasa menyesal di hatinya,
"Del, kamu marah sama aku?"
Adelle masih diam tak bersuara.
"Del, maafin aku ya. Isengku kelewaatan ya. Aku jahat ya, sekelas jadi tahu deh kalau Yudi naksir kamu. Iya kan Del?" pertanyaan bodoh ala Shella mulai muncul.
Adelle menarik nafas panjang. Nasib punya sahabat seperti Shella. Dia sangat baik, polos, kadang naif tapi juga sering spontan. Tapi dia tak menyangka jika hari ini dia akan mengalami hal yang akan menjadi kenangan buruk seumur hidupnya.
Kepala yang tadi tertunduk perlahan terangkat. Yang pertama dilihatnya adalah senyum manis sang sahabat. Senyum itu begitu tulus, dan mata itu menuntut jawaban atas pertanyaannya tadi.
"Del, kamu marah?" tanyanya lagi saat Adelle tak kunjung menjawab. Kali ini lebih pelan dan lembut. Tangannya menggenggam erat tangan sahabat terbaik yang pernah dimilikinya. Sesaat kemudian kepala yang ditutupi jilbab nampak menggeleng.
Rasa lega menyusup di hati Shella. Ia tahu Adelle tak mudah marah, namun ia juga tahu bagaimana jika hati wanita yang nampak bersahaja itu marah.
"Terima kasih, Del. Dan sekali lagi maafin aku ya." Adelle menganggukkan kepalanya. Keduanya berpelukan. Sesaat kemudian terdengar celetukan dari arah belakang.
"Adelle, Shella, aku mau juga donk di peluk." itu suara nakal si Bowo yang kemudian disambut oleh suara yang lain.
"Aku juga mau"
"Aku juga."
" Aku juga."
Kelas kembali riuh. Bowo dan teman-temannya yang tadi berteriak sudah saling berpelukan ala teletubbies. Hanya saja mereka lebih heboh dengan suara dan hentakan kakinya.
"Kawan-kawan jangan terlalu rame. Kalau kita terlalu ribut akan mengganggu kelas lain yang sedang belajar." Yudi memperingatkan kawan-kawannya yang mulai berlebihan. Kemudian matanya melihat ke arah dua orang sahabat yang tadi berpelukan. Hatinya senang karena melihat raut wajah yang tadi menunduk telah kembali ceria.
"Hhhmmm ada yang pengen juga nih dapat pelukan dari Adelle." suara cempreng Tri terdengar dengan jelas di telinga Yudi.
"Diem, jangan ngawur. Atau pulang jalan kaki ya." Yudi memukul bahu Tri, menghilangkan rasa malu karena kepergok sobat kentalnya.
_____
"Masuk, Del." Suara lembut bu Sri menyentuh gendang telinga Adelle.
"Terima kasih, bu." Adelle mengambil tempat duduk dihadapan wanita paruh baya yang suaranya bak puteri keraton.
Senyum di bibir wanita ayu itu merekah memandang siswa dihadapannya.
"Ada apa, Del? Kangen ya sama ibu?"
Adelle tersenyum, tersipu malu. Teringat pertengkaran dengan Siti yang menyebabkannya harus masuk ke ruangan ini.
"Saya ingin konsultasi sama ibu. Saya bingung untuk menentukan apakah saya harus kuliah atau tidak bu."
Bu Sri tersenyum, dia kenal siapa Adelle.
"Kamu maunya kuliah atau nggak?"
"Mau bu, tapi..." Adelle berhenti sesaat.
"Tapi kenapa, Del?"
"Saya takut nanti ayah nggak mampu membiayai kuliah saya bu, dan akhirnya saya akan putus di jalan."
"Kalau ibu boleh tahu Adelle rencananya mau kuliah jurusan apa?"
"Saya maunya di Ekonomi bu, tapi orang tua saya maunya saya kuliah di keguruan."
"Apa mereka memberitahu alasan mengapa mereka mau kamu kuliah di sana?"
"Katanya supaya saya bisa cepat dapat kerja."
"Kamu ada minat nggak jadi guru? Artinya jadi guru apa aja, bukan hanya guru di sekolah-sekolah seperti ibu." bu Sri menatap intens pada Adelle.
"Saya seneng kalau ngajar anak-anak kecil, setingkatan anak SD atau TK, bu. Mereka lucu, polos dan selalu membuat saya terhibur." ada kilau di mata remaja yang sedang duduk manis di samping gurunya.
"Jadi seandainya di minta untuk kuliah di keguruan khusus mengajar anak SD atau TK, Adelle mau nggak?"
Sesaat Adelle terdiam. Otak dan hatinya sedang menimbang-nimbang apakah ia akan bisa menjadi seorang guru. Sejujurnya Adelle lebih cenderung untuk mempelajari ekonomi agar bisa mengembangkan usaha sesuai dengan cita-citanya yang ingin membangun sebuah usaha kuliner untuk sang ibu.
"Saya rasa saya mau bu. Tapi tetap masalahnya adalah biaya kuliahnya bu. Saya takut jika pada akhirnya saya hanya akan membebani ayah dan ibu."
Kembali bu Sri tersenyum, menggeser duduknya mendekati Adelle.
"Kamu di kelas peringkat berapa?"
"Semester yang lalu peringkat 3 bu"
"Sebelum-sebelumnya?"
"Pernah jadi juara 2, tapi seringnya juara 3."
"Masuk dalam daftar siswa eligible nggak kamu? Maksudnya siswa yang bisa mendaftar masuk perguruan tinggi tanpa tes?"
"Masuk bu, makanya saya datang ke sini."
"Baiklah. Jadi Del, dengan prestasi kamu itu, kamu bisa punya kesempatan untuk masuk ke perguruan tinggi tanpa tes. Yang artinya kamu sudah meringankan satu beban orang tuamu." bu Sri menatap Adelle yang mendengarkan penjelasannya dengan khusuk.
"Dan kamu juga punya kesempatan untuk mendapatkan beasiswa jika kuliah nanti. Karena latar belakang orang tua dan juga prestasimu. Dan kebetulan, kemarin ibu baru aja dapat brosur dari sebuah perguruan tinggi negeri di kota kita ini. Nah, mereka menawarkan masuk tanpa tes dan juga beasiswa bagi siswa-siswi berprestasi." bu Sri beranjak dari tempat duduknya kemudian mengambil sebuah brosur dan memberikannya kepada Adelle.
"Kamu bisa melihat-lihat dulu. Kalau tidak salah, baik ekonomi maupun pendidikan anak usia dini ada di sana. Jadi kalau kamu memang berminat untuk kuliah di sana, ibu akan membantu kamu mengusahakan supaya kamu bisa dapat beasiswa. Lumayan kan Del, kamu bisa kuliah tapi tidak membebani orang tua untuk biaya kuliah." panjang lebar penjelasan bu Sri.
"Atau kalau seandainya kamu ingin yang masa kuliahnya lebih singkat, kamu bisa memilih untuk kuliah di politeknik. Kan ada yang negeri di sini, Del. Pilihan jurusannya juga banyak. Jadi kamu bisa lebih cepat selesainya, mereka juga menyediakan beasiswa bagi siswa berprestasi yang ingin kuliah di sana. Bahkan, dengan prestasi akademik yang kamu miliki, kamu bisa masuk ke sana tanpa tes lho. Dan yang terpenting banyak koq lulusan politeknik yang begitu selesai langsung bekerja. Bagaimana, Del?"
Adelle hanya menganggukkan kepalanya. Ia merasa menemukan setitik cahaya terang tentang masa depannya.
"Tapi yang terpenting adalah kamu harus mendiskusikan dengan orang tua mengenai rencana kuliahmu. Dan tentang pilihan fakultas apa yang akan kamu pilih, ibu sarankan kamu untuk menyerahkannya kepada ALLAH. Mohonlah pertolongan Nya agar apa yang kamu pilih adalah yang terbaik untuk kamu dan bukan sekedar gengsi atau ikut-ikutan temanmu."
Kepala Adelle mengangguk-angguk membenarkan apa yang diucapkan guru bimbingan dan konseling yang banyak disegani anak-anak seusianya.
"Terima kasih atas bantuannya bu. Sekarang saya sudah punya gambaran tentang apa yang akan saya lakukan. Boleh saya bawa brosur ini bu?" tanya Adelle setelah merasa cukup mendapat informasi yang diperlukan.
"Silakan. Brosur itu memang untuk diberikan kepada kalian yang membutuhkan. Kalau nanti ada hal-hal yang belum jelas atau Adelle ingin tanya-tanya lagi, jangan sungkan untuk temui ibu ya." tawar bu Sri ramah.
"Baik, bu. Sekali lagi terima kasih." Adelle bangkit dari kursi yang didudukinya dan menyalami dengan takzim wanita yang telah membuka alam pikirannya dan berlalu dari ruangan itu.
Adelle melangkahkan kakinya dengan mantap menuju kelasnya. Penjelasan dari bu Sri tadi benar-benar membuatnya puas.
"Bismillah, aku akan kuliah. Semoga pendaftaran seleksi masuk perguruan tinggi nanti aku bisa lolos." bisiknya dalam hati. Senyum tersungging di bibirnya.