Adelle

Adelle
Ikhsan vs Yudi (1)



Saat yang paling bahagia adalah ketika kita bersama orang-orang yang mencintai dan dicintai. Itu yang dirasakan oleh Adelle saat ini. Walau secara materi hidupnya boleh dikatakan serba apa adanya, namun dirinya merasa bahagia karena dikelilingi oleh orang-orang yang dicintai dan juga mencintai dirinya. Menerima apa yang ada pada dirinya, tanpa syarat, unconditional love.


Adelle bahagia terlahir sebagai anak dari keluarga Hendra Setyawan. Mesti ayah hanyalah karyawan biasa namun hatinya seluas samudera. Kasih sayang yang dicurahkan untuk keluarga tak terbantahkan. Dengan segala daya upaya ayah akan berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Sering ayah harus mengambil lembur ketika ada kebutuhan ekstra hingga akibatnya harus pulang hingga malam.


Dan Ibu, walau bukan wanita kantoran namun dengan keahlian yang dimilikinya bisa membantu ayah untuk memenuhi keperluan keluarga. Membuat kue yang pada awalnya hanyalah hobi kemudian ternyata bisa mendatangkan uang. Namun sesibuk apapun ibu dengan pesanan kuenya, satu hal yang selalu menjadi catatan penting, tak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu dan juga istri.


Dari kedua manusia hebat itu Adelle mempelajari banyak hal, begitu banyak ilmu yang telah ditanamkan oleh ibu dan ayah kepada anak-anaknya. Ilmu yang tak pernah diajarkan di bangku sekolah, ilmu yang di dapat dari kejadian sehari-hari dalam hidup.


Adelle memandangi undangan kegiatan yang di kirim mas Ikhsan lewat aplikasi wha**** sore tadi. Undangan untuk menghadiri acara pembukaan Pekan Karya Insan Muda. Sebuah kegiatan berupa pameran hasil karya para pemuda tingkat kabupaten. Sebuah gawe besar yang sangat bermanfaat bagi generasi muda untuk memamerkan kemampuan sekaligus unjuk kerja mereka kepada umum. Tak jarang kesempatan ini dimanfaatkan sebagai ajang untuk menjaring pemuda-pemuda berprestasi yang pada akhirnya akan mendapatkan ikatan kerjasama dengan perusahaan atau instansi pemerintahan.


Dibacanya sekali lagi undangan tersebut. Bukan karena yang mengirimnya adalah mas Ikhsan, tapi mengapa mas Ikhsan harus meneruskan undangan itu kepadanya? Dan siapa-siapa saja yang diajak untuk menghadiri acara tersebut? Dan sampai saat ini dia belum memutuskan apakah akan ikut atau tidak.


Terus terang saja sejak kejadian di rumah pak RT, Adelle semakin berhati-hati dalam berhubungan dengan siapapun. Dia ingat pesan ayah untuk berbuat baik dengan siapa saja, tanpa memandang siapa dan ada apanya. Menjaga tali silaturahim dengan siapapun, namun tetap menjaga norma-norma agama dan kesopanan yang ada. Dan kecemburuan Siti terhadap dirinya mengajarkannya semakin menjaga jarak hubungan dengan lawan jenis. Tak ingin terjadi hal serupa untuk kedua kalinya. Baik dengan Siti atau dengan siapapun juga.


"Apa aku harus ikut ya? Atau ku tolak saja ajakan mas Ikhsan besok?" tanyanya pada diri sendiri. "Kalau ku tolak, apa alasannya? Apa aku bohong aja?" Jujur saja ada dua sisi dalam hatinya yang saling berlomba untuk muncul ke permukaan. Sisi yang tak ingin menimbulkan prasangka buruk dan sisi yang menginginkan untuk bisa melihat potensi besar yang dimiliki para pemuda se kabupaten. Siapa tahu bisa menginspirasi dirinya untuk masa yang akan datang.


Belum juga memutuskan pergi atau tidak, pintu kamarnya di ketuk seseorang.


"Del, ada nak Ikhsan sama Yusuf di luar." suara ibu terdengar.


"Iya, bu. Adelle sebentar lagi ke luar." Segera dipakainya bergo yang ada di atas tempat tidur.


"Panjang umurnya, baru aja dipikirin eh udah muncul." katanya pada diri sendiri.


Diseretnya langkah menuju ruang tamu. Nampak Ikhsan dan Yusuf sedang bercakap-cakap dengan ayah.


"Jadi kapan kira-kira kegiatan itu bisa kita mulai?" tanya ayah.


"Tergantung kesiapan warga om. Kalau kita semua sudah siap, maka bisa kita mulai paling lambat awal bulan depan." suara mas Ikhsan terdengar sangat percaya diri. Entah apa yang sedang dibicarakan.


"Om rasa semakin cepat semakin baik, jadi kita bisa meminimalisir sampah yang ada dan tentu saja memanfaatkan sampah tersebut agar bisa bermanfaat bagi kita."


"Saya rasa juga begitu om."


"Ya, mungkin nanti bisa dimasukkan dalam agenda rapat bulanan RT."


"Setuju om." kali ini Yusuf yang berbicara. "Saya ga sabar bisa melihat kampung kita bersih dari sampah-sampah dan sekaligus bisa mendatangkan keuntungan bagi kita."


Adelle meletakkan cangkir berisi air teh panas untuk kedua tamu dan sang ayah, tak lupa toples berisi stik keju kesukaannya kemudian duduk di samping sang ayah.


"Silakan di minum mas Ikhsan, mas Yusuf. Stik nya juga silakan."


"Makasih, Del. Jadi ngerepotin nih."


"Om tinggal dulu ya, silakan ngobrol sama Adelle." Ayah permisi meninggalkan mereka.


"Silakan om, maaf mengganggu istirahatnya."


"Silakan mas" Adelle menawarkan hidangan yang tadi dibawanya.


"Wah, stik ini enak. Siapa yang buatnya nih? Ibu ya Del?" tanya mas Ikhsan.


"Aku mas, diajarin sama ibu."


"Ga nyangka kamu pinter juga buat kue, Del."


"Masih harus banyak belajar lagi mas, belum bisa seenak buatan ibu." Adelle bagaimanapun senang dipuji karena atik keju buatannya enak, namun dia sadar jika masih belum bisa menyamai seperti sang bunda.


"Emmm maaf, kalau boleh tau ada keperluan apa mas-mas ini tumbenan malam minggu datang ke rumah kami." tanya Adelle penuh rasa ingin tahu.


"Oh iya, sampai lupa. Kita datang ke sini mau rembukan tentang rencana besok. Kamu bisa pergi kan Del?" tanya mas Ikhsan.


"Ikut ya Del, biar rame. Kita nanti perginya bareng. Ga seru kalau kamu ga ikut." kali ini mas Yusuf yang bicara.


"Memangnya siapa aja yang pergi mas?"


"Aku, Yusuf, Aidil, Roni, Yayuk, dan kamu."


Adelle menimbang sesaat. Ternyata bukan hanya dirinya dan Ikhsan saja yang pergi,


"Adelle ijin ayah dulu ya mas. Kalau Ayah ngijinin, Adelle ikut." Ikhsan dan Yusuf mengangguk. Batin Ikhsan memuji sikap Adelle yang selalu meminta ijin orang tua sebelum melakukan sesuatu. Hal itu yang menjadi sebab mengapa hatinya cenderung kepada gadis yang terpaut empat tahun darinya. Matanya menatap kepergian gadis yang sering mengusik hari-harinya.


"Dah, ungkapin aja. Jangan hanya berani ngeliatin dari jarak jauh." kelakar Yusuf.


Ikhsan hanya tersenyum. Menyesali diri mengapa tak mampu menutupi perasaannya sehingga dengan mudah dibaca oleh sang sahabat.


"Ayah ngijinin mas asalkan perginya rame-rame."


"Alhamdulillah. Syukur deh. Jadinya besok kita kumpul di rumah Ikhsan aja, kan perginya pake mobilnya dia. Gemana San?"


Ikhsan hanya mengiyakan kata-kata Yusuf.


"Betewe, yang lainnya pada ke mana mas? Kenapa mereka ga ikut sekalian ke sini?" tanya Adelle heran.


"Biasalah Del, pada malam mingguan. Aidil sama Roni ngapelin ceweknya, si Yayuk diajakin shopping sama bundanya. Biasa anak mama." terang Yusuf seperti gaya seorang presenter yang bisa membawa acara gosip di tivi.


"Mas Yusuf sama mas Ikhsan ga ngapelin cewek?" tanya Adelle yang sukses membuat Ikhsan yang sedang menyeruput teh tersedak.


"Pelan-pelan aja San minumnya. Jangan gopoh gitu. Kesedak air panas itu ga enak lho." canda Yusuf sekali lagi sukses membuat wajah Ikhsan memerah. Sementara Adelle hanya menatap sambil tersenyum simpul. Senyum yang mampu membuat hati Ikhsan semakin tak menentu.


_______


Adelle baru saja duduk di samping sang ibu setelah meletakkan gelas dan toples bekas tamu. Ya, Ikhsan dan Yusuf baru saja pulang beberapa menit yang lalu.


Ayah, Ibu dan sang adik tercinta sedang menonton acara komedi situasi di sebuah stasiun tivi swasta. Itu adalah kegiatan rutin yang mereka lakukan di malam minggu. Sebuah kebiasaan sederhana namun bisa mengikat erat rasa kebersamaan di antara mereka.


"Kak, tadi waktu aku masuk kamar ponsel kakak bunyi. Sepertinya ada panggilan deh."


"Siapa yang nelpon dek?" tanya Adelle.


"Aku ga tahu kak. Ga ku lihat tadi kak, palingan juga kak Shella. Kan yang paling rajin nelponin kakak ya kak Shella itu. Kakak lihat sendiri aja lah."


Adelle diam tak merespon kalimat sang adik. Bisa jadi Shella sang sahabat yang menelpon, namun sejak menjalin hubungan dengan mas Ferdi, dia jarang menelpon malam minggu seperti ini. Yah, sejak kuliah mas Ferdi memang memutuskan tinggal di kota yang sama dengan mereka sehingga otomatis kebersamaam mereka semakin intens. Dan yang menjadi keheranan Adelle adalah Shella berubah menjadi bucin. Waktunya lebih banyak dihabiskan dengan Ferdi berbeda ketika pacaran dengan Joy dulu.


Lamunan Adelle terputus saat terdengar gelak tawa ibu, ayah dan Lola adik semata wayangnya. Entah apa yang membuat tawa mereka, terutama sang adik terdengar begitu meriah. Adelle kemudian memutuskan untuk ikut menikmati hiburan murah meriah di televisi. Kapan lagi bisa menikmati saat-saat berkumpul seperti ini? Pada hari-hari sekolah atau kerja, terkadang salah satu dari mereka ada yang tak bisa berkumpul. Satu-satunya penonton setia adalah Lola, sehingga ayah sering menyebutnya penguasa tv.


Jam dinding menunjukkan pukul sembilan saat Adelle memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Matanya sudah mulai terasa berat.


"Bu, Ayah, Adelle masuk dulu ya. Udah mulai ngantuk."


"Iya. Ibu juga udah ngantuk. Besok ibu harus ngantar pesanan kue bude Lilik pagi-pagi sekali." Ibu mengikuti Adelle meninggalkan ruangan tempat mereka sekeluarga berkumpul.


"Jam berapa kuenya harus di antar bu?" tanya Adelle.


"Jam tujuh, Del. Acara di rumah bude pukul sembilan. Minta di anterin lebih cepat supaya bisa ditata dan ga tergesa-gesa."


Adelle menimbang, dia tahu rumah bude Lilik lumayan jauh dari rumah mereka. Bisa-bisa dia akan terlambat pergi dengan kawan-kawannya jika harus mengantar ibu ke rumah bude Lilik.


"Jangan dipikirin, Del. Besok ayah yang akan nganterin ibumu ke rumah bude. Kamu pergi aja." Ayah seperti bisa membaca kegelisahan di hati Adelle.


"Makasih yah. Maaf Adelle jadi ngerepotin ayah."


Baru saja selesai mengganti bajunya dengan baju tidur, ponsel yang tergeletak di samping bantal terdengar berbunyi nyaring. Diraihnya benda pipih itu dan nama Yudi tertera di layar.


"Hallo, assalamualaikum" terdengar suara dari seberang sana.


"Waalaikumussalam" jawab Adelle.


"Del, ke mana aja? Dari tadi ku telpon ga di jawab. Pesanku juga belum di baca."


Adelle terdiam, jadi yang tadi menelpon itu Yudi bukan Shella seperti dugaan Lola.


"Halo Adelle, kamu masih di sana?" kembali suara Yudi terdengar saat pertanyaannya tak mendapat respon.


"Iya Yud, aku masih ada nih. Maaf kalau tadi panggilan dan pesan kamu ga ada respon. ponsel ku di dalam kamar, sementara aku sedang ada tamu."


Yudi terdiam sesaat. Adelle ada tamu? Pada malam minggu? Siapa tamunya? Berbagai pertanyaan hadir dipikirannya namun segera ditepisnya.


"Del, papaku memintaku untuk bertanya, apa kalian sekeluarga bisa datang untuk silaturahmi ke rumah? Mama maunya keluarga kita makan siang bersama. Bagaimana, Del? Bisa ga?"


Adelle terdiam sesaat. Makan siang? Hmm... Itu artinya dirinya tak akan bisa hadir karena tadi mereka sudah memutuskan akan hangout sepulangnya dari gelaran acara.


"Yud, aku kebetulan besok sudah ada rencana sama kawan-kawan untuk menghadiri acara yang diadakan di aula hotel Mahkota. Tapi ibu, ayah dan Lola mungkin bisa. Aku kirimin nomor telpon ayah aja ya supaya kamu bisa nanyain langsung." Ada rasa tak enak hati saat menjawab pertanyaan Yudi. Mengapa harus di hari yang sama sih? Batinnya.


"Ya udah, nanti biar papa aja yang menghubungi om Hendra." Yudi mencoba menutupi kekecewaan hatinya dengan tersenyum. Sebelumnya ia begitu bersemangat untuk menghubungi Adelle dan berharap akan mendapat jawaban iya. Namun ternyata ia harus menelan rasa kecewa.


Tak lama kemudian percakapan mereka pun berakhir setelah Adelle mengisyaratkan kata iya ketika Yudi memberikan pilihan untuk menundanya minggu depan. Alasannya, papa dan mama menginginkan kedua keluarga hadir dalam formasi lengkap. Maka tugas Adelle lah untuk menyampaikan undangan tersebut pada ibu dan ayah, walaupun om Gun tetap akan menghubungi sang ayah