Adelle

Adelle
Kejutan



Hari masih pagi saat ponsel pintar milik Adelle terus berdering. Bergegas diraihnya kotak persegi yang telah menemaninya beberapa tahun itu. Nama Shella tertera di sana. Ada apa pagi-pagi gini dia sudah menghubungi. Digesernya tombol hijau dan terdengarlah suara sang sahabat yang begitu meriah.


"Halo besti, lama amat ngejawab panggilan telpon aku. Kemana sih?"


"Biasalah Shel, pagi-pagi gini perempuan itu adanya di dapur. Nyiapin sarapan, buat nasi goreng, teh manis dan sebagainya."


"Gayamu dah kayak emak-emak aja Del." seloroh Shella di seberang sana.


"Emang kita kan calon emak, jadi mulai dari sekarang harus belajar bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik." Adelle menjawab sambil tertawa. Dia yakin Shella akan misah misuh mendengar penuturannya.


"Artinya kamu udah siap kawin dong. Tar aku kasi tahu Yudi kalau kamu siap dinikahi." canda Shella.


"Idih, kenapa jadi larinya ke Yudi?"


"Lah kamu kan udah belajar jadi emak-emak yang artinya Yudi udah boleh dong ngelamar kamu."


"Jangan ngawur deh kamu, Shel. Trus kamu nelponin aku pagi-pagi gini ngapain? Hanya mau ngerecokin aku aja?" Adelle pura-pura sebel.


"Nggak, aku mau ngajakin kamu buat nemenin aku ketemuan sama seseorang. Aku nggak enak pergi sendiri. Mau ya Del" Rayu Shella.


"Kapan?"


"Besok."


"Kamu udah pulang dari Bali?"


"Sebenernya rencananya baru lusa aku pulang. Tapi karena ada sesuatu yang harus aku lakuin, makanya tar malem aku pulang."


"Kamu pulang karena mau ketemuan sama seseorang itu? gitu?"


"Ya, gitu deh. Dianya ngajak ketemuan mendadak gitu. Kebetulan dia bisanya besok." Jawab Shella tanpa rasa berdosa.


"Siapa sih Shel yang mau kamu temuin itu?"Adelle bener-bener kepo.


"Ya sabar aja, tunggu besok kamu baru akan tahu. Jangan kepo deh."


"Oke deh. Betewe, kamu bawain oleh-oleh apa buat aku dari Bali? Jangan bilang gara-gara mendadak pulang hari ini jadi kamu nggak bawain aku oleh-oleh. Nggak bakalan aku temenin kamu besok."


"Tenang bestie, besok aku bawain oleh-oleh yang pasti akan kamu suka. Percaya deh."


Adelle hanya tersenyum. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk meminta oleh-oleh dari Shella karena dia tahu hal itu tidak baik. Dia hanya berharap Shella akan mengatakan siapa gerangan seseorang yang akan di temui besok.


"Ya udah, aku mau bantuin ibu lagi. Hati-hati ya Shel. Kabari aku kalau kamu udah mau terbang."


"Siap bos. Salam untuk ibu sama ayah ya." Shella mengakhiri panggilannya.


________


Adelle baru saja pulang mengantarkan kue pesanan saat dilihatnya bu RT keluar dari rumah mereka. Wanita berbadan sedikit gemuk itu membawa beberapa kotak yang membuatnya sedikit kerepotan.


"Nah, kebetulan Adelle sudah pulang." Ibu berkata saat dilihatnya Adelle muncul di depan rumah.


"Ada apa bu?" tanya Adelle.


"Tolong anterin bu RT ke masjid sekalian bawa bingkisan untuk acara nanti siang Del."


"Baik bu." Adelle tak membantah sama sekali apa yang diminta Ibu walaupun badannya sedikit lelah akibat perjalanan yang lumayan jauh tadi.


Diletakkannya beberapa kotak di bagian depan sementara sisanya di bawa bu RT.


"Ada acara apa bu nanti sore, kenapa ada bingkisan segala?" tanya Adelle ingin tahu.


"Pengajian rutin ibu-ibu kampung kita Del, hanya saja kebetulan hari ini adalah jadwalnya bersama anak-anak yatim piatu. Nah, jadi ada beberapa donatur yang memberikan bingkisan selain uang yang rutin diberikan." jelas bu RT.


"Hanya ini aja bu bingkisannya?" Adelle merasa heran sebab yang dia tahu anak yatim piatu yang biasanya hadir banyak.


"Ini sisanya Del. Tadi sudah ada yang mengantarkan ke masjid."


"Oh gitu."


"Kamu hadir ga nanti Del? Ada ustadz yang biasa ngasi ceramah di masjid agung."


"In syaa Allah bu, kalau tidak ada halangan."


Walau itu adalah pengajian ibu-ibu, namun ada kalanya Adelle ikut menghadirinya. Memang tak banyak anak muda yang ikut, mereka biasanya lebih memilih untuk jalan-jalan atau berselancar di media sosial.


Adelle membelokkan motornya dan memarkirkan tepat di jalan masuk. Kemudian membawa masuk kotak-kotak yang telah di bungkus dengan kertas rapi. Dan benar saja, sudah banyak kotak bingkisan yang telah tersusun rapi di bagian depan shaf. Bu RT mengajaknya untuk menata bingkisan-bingkisan itu agar terlihat lebih rapi dan tidak memakan tempat.


"Udah Del, ayo kita pulang."


"Mari bu" keduanya kemudian keluar dan menaiki kuda besi buatan jepang itu. Kemudian meluncur meninggalkan masjid menuju rumah bu RT yang tak begitu jauh dari masjid.


"Ga usah bu, saya langsung pulang aja mau bantuin ibu lagi." Adelle menolak dengan halus.


"Sebentar aja Del, sambil menunggu ada yang mau ibu kasi untuk ibumu." Mau tak mau akhirnya Adelle menerima tawaran wanita baik hati itu. Dia melangkah masuk namun kemudian memilih untuk duduk di teras karena dia ingin menikmati keindahan bunga-bunga yang sebagian sedang mekar.


Adelle tersenyum saat melihat rerimbunan bunga mawar yang beraneka warna. Di sampingnya bunga aster juga nampak indah. Dan di sudut yang sedikit lebih rimbun dengan naungan pohon-pohon, jejeran bunga anggrek yang bermekaran sedang memamerkan keindahannya. Sungguh telaten tangan yang telah mengurus bunga-bunga itu sehingga semua nampak sehat dan teratur.


"Di minum dulu Del airnya." segelas es yang segar telah diletakkan di meja kecil di samping kursi Adel.


"Koq ga masuk, malah duduk di sini."


"Saya seneng melihat bunga-bunga ini bu. Cantik-cantik semuanya."


"Kamu seneng nanam bunga Del? Kalau kamu mau, kamu bisa membawa beberapa yang kamu suka." sebuah tawaran yang menyenangkan. Namun Adelle tahu dirinya bukan orang yang tepat untuk memelihara bunga-bunga itu. Dia tak ingin tanaman itu akan mati merana karena tak terurus.


"Nggak usah bu, saya hanya seneng menikmati keindahannya. Nggak bakat menanam bunga." Adelle menjawab sambil menunduk malu menyebutkan kelemahannya.


"Kamu sekarang kelas berapa Del?" bu RT mengubah topik pembicaraan. Ditatapnya gadis cantik dihadapannya. Warna merah muda jilbab yang digunakannya nampak cocok dengan wajahnya yang nampak begitu alami. Sudah lama dia menyukai gadis ini, tingkah lakunya sungguh membuat siapa saja yang berada didekatnya akan merasa senang.


"Tahun ini naik kelas tiga bu." jawab Adelle.


"Ga lama lagi tamat SMA ya Del."


"Iya bu, in syaa Allah."


"Sudah ada rencana mau lanjut kuliah atau langsung kerja setamat SMA ini"


"In syaa Allah kalau ada rejeki mau lanjut kuliah bu" Lirih suaranya. Teringat akan keinginannya untuk melanjutkan kuliah. Namun dia tahu betul kemampuan kedua orang tuanya.


"Semoga ada rejeki untukmu ya nak." doa tulus kelur dari mulutnya. Kalau kamu tidak ingin melanjutkan kuliah, semoga kamu mau menjadi menantuku Del, lanjutnya yang tentu saja hal itu hanya diucapkan didalam hatinya. Sudah sejak lama dia ingin agar Adelle bisa berjodoh dengan putranya yang sekarang sedang menyusun skripsi. Namun sebagai orang tua dirinya memberikan kebebasan bagi sang anak untuk menentukan siapa pendamping hidupnya.


"Mak, aku pamit ke rumah Hadi. Mau mendiskusikan tentang program kerja remaja masjid untuk bulan ramadhan tahun ini." Lelaki yang baru saja melintas di pikiran sang ibu muncul.


"Oh ada Adel rupanya. Sudah lama, Del?" tanya Ihsan sang pemuda tampan yang baru saja keluar.


"Sudah dari tadi mas. Sebentar lagi mau pamit." Adelle selalu mengagumi lelaki yang dagunya ditumbuhi janggut tipis itu. Tutur katanya santun, cerdas dan selalu menjadi panutan bagi pemuda di lingkungan tempat tinggal mereka. Sejak beberapa tahun terakhir dia dan beberapa orang temannya berusaha menghidupkan kembali giat remaja masjid. Banyak sudah kegiatan positif yang telah mereka lakukan.


"Aku tinggal dulu ya Del. Bu pamit ya. Assalammualaikum...." diciumnya tangan sang ibu.


"Waalaikum salam." serentak kedua wanita itu menjawab salam.


Saat Ihsan berbelok di ujung pagar, Adelle pun mohon diri.


_______


Adelle menatap gadis cantik bergaun biru tua yang duduk dihadapannya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah. Matanya berbinar penuh kebahagiaan, bibir yang tersapu lipstik tipis berwarna merah muda selalu memasang senyuman yang membuat siapa saja merasa ingin ikut menikmatinya.


Seperti yang sudah dijanjikan, sejam yang lalu dia muncul di depan pintu dengan tawa renyah yang selalu dirindukan oleh Adelle. Tangannya menjinjing dua tas berisi oleh-oleh. Bukan hanya untuk Adelle, tapi untuk seluruh anggota keluarganya. Ayah, Ibu, Lola juga kebagian. Setelah bercengkrama dengan Ibu, keduanya pamit.


Dan di sinilah mereka sekarang. Duduk di sebuah kafe yang berada di pusat kota. Baru kali ini Adelle menginjakkan kakinya ke kafe yang situsinya sangat cozy. Desain interiornya sangat nyaman untuk di lihat. Mengusung tema modern namun juga memiliki nuansa homy. Alunan musik lembut terdengar dari pengeras suara.


Shella masih mengutak atik ponsel di tangannya. Setelah memesan minuman tadi, jari jemarinya sibuk dengan ponsel. Adelle memandangi sahabatnya itu sekali lagi.


"Mana yang janjian sama kamu Shel, belum datang juga ya?" Adelle berusaha mencari tahu


"Sebentar lagi dateng. Masih di jalan, tadi terlambat di jemput."


"Kenapa tadi nggak sekalian aja pergi bareng kamu sih? Jadi kan nggak nunggu gini?"


"Kenapa kamu jadi nggak sabaran sih Del? Sabar donk. Nggak baik lho marah-marah gitu." Shella menatap ke arah orang yang duduk dihadapannya sambil mengedipkan matanya.


"Nggak efesien aja sih menurutku, kalian janjian ketemu tapi datengnya nggak barengan. Trus udah lama kita nunggu dianya belum datang juga." Adelle berusaha mengutarakan maksudnya.


"Namanya juga janjian Del, ya nggak bareng lah. Kalau barengan itu bukan janjian, tapi apa ya?" Shella pura-pura berpikir. Dia tidak berusaha melanjutkan ucapannya saat ponselnya terdengar bunyi panggilan.


"Kalian udah di parkiran? Ya udah, masuk aja. Kita di pojok kiri, meja no 12" Adelle mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Shella.


"Jadi yang akan datang ini bukan satu orang aja Shel? Kamu janjian sama siapa sih?"


"Adelle sayang, just wait and see. Kamu pasti kaget kalau lihat siapa yang bakalan nemuin kita."


"Emang aku kenal mereka?" tanyanya lagi


"Ya kenal lah, makanya aku ngajakin kamu."


"Siapa sih Shel? Koq kamu main rahasia-rahasiaan sama aku sih?"


Belum selesai rasa penasaran Adelle, Shella sudah tersenyum lebar sambil melambaikan tanganya ke arah pintu masuk. Adelle memalingkan wajahnya ke arah di mana dua orang lelaki muda yang nampak gagah dan tampan tentu saja sedang berjalan ke arah mereka. Matanya melotot hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya


"Koq bisa...."