
"Teeeeetttt teeeettt"
Suara bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi. Riuh rendah suara dari dalam kelas memecah kesunyian. Bergantian, satu persatu para remaja yang berseragam putih abu-abu keluar dari dalam ruang kelas mereka.
Adelle membereskan peralatan belajarnya. Memasukkan buku-buku ke dalam tas dan memeriksa laci meja. Setelah yakin tidak ada yang ketinggalan, dia kembali duduk sembari menunggu lorong kelas menjadi sedikit sepi.
"Del, buruan keluar. Udah laper nih." ucap Shella.
"Aku tar aja keluarnya, tunggu sepi dulu. Kamu duluan aja Shel, nggak papa koq."
"Kamu ngapain sih, bel udah bunyi koq malah nggak buru-buru pulang"
Ya memang sejak pertengkaran mereka beberapa waktu lalu, Adelle berusaha untuk tidak berpapasan apalagi berada di dekat Siti. Kejadian yang sangat memalukan menurutnya. Pertengkaran yang tak pernah ada dalam benak sekalipun, yang kemudian membawanya masuk ke ruang yang paling ditakuti oleh anak-anak yang bermasalah.
"Kamu takut sama Siti? Takut di recokin lagi sama dia?"
"Aku nggak takut Shel. Aku hanya nggak mau buat masalah lagi. Seperti kata bu Siti, lebih baik aku menghindari dia kalau nggak mau susah."
Shella mendengus
"Tuh anak memang trouble maker. Nama aja sama ma bu Siti, tapi tingkah laku jauh amat ya."
Adelle tersenyum mendengar kalimat Shella. Ya, nama mereka memang sama-sama Siti. Bu Siti Aminah, guru bimbingan konseling dan Siti Khoiriyah binti Sudarno si trouble maker
"Ya iya lah Shel. Kan mereka bukan ibu dan anak. Wajar beda"
Keduanya tertawa bersamaan.
"Yuk ah kita pulang, udah sepi juga."
Berjalan menyusuri lorong sekolah bersama, Adelle dan Shella menikmati moment kebersamaan yang hanya tinggal beberapa bulan lagi akan mereka rasakan. Setelah ujian, mereka akan melanjutkan pendidikan yang berbeda. Dan mungkin hal ini tak akan bisa mereka nikmati lagi.
"Shella, apa kamu sudah memutuskan akan kuliah di mana setelah tamat?" Adelle bertanya pada sahabatnya.
"Aku masih belum pasti, Del. Papa dan mama sih menyarankan agar aku ambil ekonomi, ya kamu pasti tahu kan maunya mereka. Aku diharapkan bisa melanjutkan bisnis papa."
"Kamu sendiri maunya ke mana?"
"Aku maunya selalu bersama mas Ferdi, hahahahahaha" Shella tertawa terbahak-bahak. Yang membuat Adelle keki karena pertanyaannya di jawab dengan candaan oleh Shella.
"Dasar bucin akut..." rengutnya kesal sambil mencubit kecil lengan sahabat karibnya.
"Aku serius Shella."
"Aku juga serius Adelle. Aku memang ingin selalu bertemu dengan sepupumu itu. Apa aku di pelet ya sama Ferdi" Shella bertanya dengan wajah tolol.
"Kamu itu bukan di pelet, tapi memang baru masuk kubangan cinta. Dan parahnya kamu jatuh terperangkap, maka jadinya kek gitu."
"Aku memang merasa nyaman berada di dekat Ferdi. Dia dewasa dan memperlakukan aku dengan baik. Aku berasa punya abang deh saat bersama dia. Beda dengan Joy. Padahal usia mereka hanya satu tahun lho."
"Mas Ferdi memang ngemong orangnya. Di antara kita-kita para sepupu juga mengakui kalau mas Ferdi memang dewasa. Makanya kalau kumpul pasti pada suka sama dia." Adelle menjelaskan tentang sepupu tampannya.
"Papa sama mamaku juga suka sama Ferdi. Seminggu aja Ferdi nggak main ke rumah pasti dicariin deh. Jangan-jangan mama papaku juga ikutan jatuh cinta hahahahaha." kekonyolan Shella kambuh.
"Kamu tuh Shel, ada-ada aja. Segala mama papa di bilang jatuh cinta."
"Memang iya koq, hanya mereka menyayangi Ferdi karena menurut mereka Ferdi memperlakukan aku dengan baik, menyayangi aku dan bisa jagain aku. Kalau jalan aja malam minggu, jam 9 pasti udah nongol lagi di teras. Cocok dengan maunya papa, nggak kelayapan malem-malem." Shella berceloteh lagi.
"Oh, kalau itu memang ajaran dalam keluarga kami sama. Sebisa mungkin semua urusan di luar rumah diselesaikan sebelum malam, jadinya nggak perlu keluyuran malem. Trus kalaupun harus keluar karena ada kepentingan atau apapun itu, sebelum jam 9 sebaiknya sudah di rumah lagi."
Shella mengangguk-angguk.
"Tapi nggak ada aturan jam 9 wajib masuk kamar dan tidur kan?" tanya Shella lagi.
"Ya nggak lah. Kata ayah, malam itu sebaiknya kita ngumpul, bercerita tentang apa yang dialami sejak pagi. Meluangkan waktu untuk keluarga karena dari pagi sampai sore sudah dihabiskan untuk kegiatan masing-masing."
"Bener juga ya Del kata ayah. Nggak kebayang deh dari pagi sampai sore di luar rumah, eh malamnya juga masih aja di luar. Kapan ada waktu untuk keluarga sih. Belum lagi karena capek trus pulang-pulang langsung masuk kamar, kunci pintu trus tidur. Jadi nggak ada interaksi sama keluarga."
"Tumben pinter." Adelle sengaja menggoda sahabatnya.
"Aku dari dulu memang cerdas untuk hal-hal tertentu di luar pelajaran, Adelle...." Shella tertawa sambil merangkul gadis berjilbab disampingnya.
Tanpa terasa keduanya sudah di halaman parkir yang seperti harapan Adelle sudah lengang. Hanya tinggal beberapa kendaraan roda dua yang masih terparkir.
"Temani aku dulu ya Del." Shella berkata sambil melihat ponselnya.
"Ferdi masih otw." Shella memasukkan kembali ponselnya.
"Kamu di jemput mas Ferdi?"
"He eh. Kita janjian mau makan dulu sebelum pulang. Ikutan ya, Del." Shella menjelaskan sekalian mengajak sahabatnya.
"Sorry Shel, kali ini aku nggak bisa ikut. Aku udah janji sama ibu hari ini nggak ke mana-mana sepulang sekolah. Ada yang harus aku kerjakan. Kamu sama mas Ferdi aja, nggak papa ya...."
Baru saja Adelle selesai berucap, suara klapson mobil berbunyi. Sesesok tubuh tinggi atletis dengan wajah yang rupawan keluar dari mobil hitam. Senyum manis tersungging di bibirnya yang juga nampak indah.
"Hai, sayang..... Udah lama nunggunya?" tanya Ferdi. Tangannya terulur ke arah Shella.
"Belum lama kok Beb, untung ada Adelle jadinya aku nggak bete ngungguin kamu." disambutnya tangan Ferdi dan digenggamnya erat.
Ferdi menoleh ke arah Adelle, tersenyum dan mengucapkan terima kasihnya.
Adelle tersenyum melihat kelakuan kedua orang yang sama-sama disayanginya itu.
"Mas Ferdi makin ganteng aja sejak sama Shella. Pantesan Shella makin bucin."
"Bisa aja kamu, Del. Apa kabar ibu dan ayah?"
"Alhamdulillah sehat mas. Udah ya, Shella, mas Ferdi, aku pulang duluan. Have a nice time ya." Adelle pamit kemudian menaiki motor matic kesayangan dan berlalu dari hadapan sepasang remaja yang sedang jatuh cinta.
"Yuk yang, kita berangkat sekarang."
Shella dan Ferdi pun berlalu dari depan gerbang sekolah, melaju membelah jalanan kota.
________
Adelle baru saja selesai merapikan sisa-sisa kue pesanan seorang langganan ibu yang akan mengadakan acara nanti malam. Kali ini ibu tidak perlu mengantarnya karena mereka sendirilah yang mengambil kue pesanan tersebut ke rumah.
"Kalau udah selesai nanti tolong anterin kue yang di atas meja itu ke rumah bu RT ya Del. Ibu mau mandi dulu." pinta ibu seraya melangkah ke kamar mandi.
"Iya bu, nanti ku antar. Sekalian aku juga mau menyerahkan proposal kegiatan remaja sama mas Ikhsan."
Adelle memasukkan kue yang ibu siapkan ke dalam sebuah wadah plastik kemudian mengambil kresek hitam untuk membawanya. Melangkah menuju kamar dan mengambil proposal yang sudah selesai dikerjakan tadi malam.
"Bu, berangkat dulu ya." pamitnya. Tak ada jawaban, Adelle tahu ibunya masih di dalam kamar mandi jadi tak mungkin menjawab.
Berjalan kaki Adelle menyusuri jalan gang yang tidak terlalu ramai. Ia memang sengaja memilih untuk tidak menggunakan kendaraan bermotor. Selain jarak rumah yang tidak terlalu jauh, Adelle berpikir bahwa jalan kaki juga merupakan bentuk olahraga yang paling murah.
"Nak Adel tumben jalan kaki. Mau ke mana?" tanya seorang ibu yang Adelle kenal wajahnya namun tak tahu namanya. Ia hanya tahu ibu itu biasa di panggil dengan nama mamak Uwais.
"Mau ke rumah bu RT bu." jawab Adelle dengan sopan.
"Nggak pake motor? Mau ibu antar?" tanyanya lagi.
"Nggak usah bu, terima kasih. Udah deket juga, itu bu RT nya udah kelihatan." Adelle menolak halus tawaran ibu yang memang dikenalnya sebagai orang yang baik hati. Namun sejak kejadian dengan bu Darno dan Siti, Adelle selalu menanamkan sikap hati-hati pada siapa saja.
Adelle melanjutkan langkah kakinya menuju rumah bu RT yang memang sudah nampak di depan mata.
"Assalamua'laikum.....bu." salam Adelle.
"Waa'laikumsalam.... Oh nak Adelle." bu RT menghentikan kegiatan menyiram bunga di halaman ketika melihat Adelle datang.
"Ayo masuk, Del. Atau mau di teras aja menikmati bunga-bunga dan angin semilir?" tawar bu RT yang tentu saja di anggukkan Adelle.
"Di teras aja bu." dipandanginya tanaman yang baru saja mendapat siraman air. Terlihat begitu segar.
"Wah cantik-cantik semua bunganya. Seger ya bu kalau habis di siram gini." senyum merekah di bibir gadis cantik yang memakai baju kaos dan kulot itu.
"Oh iya, bu sampai lupa. Ini ada titipan kue dari ibu." Adelle menyerahkan kresek hitam yang dibawanya. Wajah bu RT nampak sumbringah saat melihat isi dari wadah plastik yang dibukanya.
"Wah, kue favorit ibu ini." mata itu memancarkan rona bahagia. "Sampaikan terima kasih ibu untuk ibumu ya, Del. Repot-repot nganterin ke rumah. Kamu tahu nggak, Del. Kue ini kalau ibu sajikan di atas meja nggak bakalan lama pasti udah ludes. Apalagi kalau tahu itu buatan ibu kamu. Udah teruji keenakkannya."
"Oh iya, bu. Saya titip proposal ini, tolong sampaikan ke mas Ikhsan ya, bu." Adelle menyerahkan proposal yang dipegangnya.
"Serahkan aja sendiri, Del. Tuh orangnya ada di dalam. Ibu panggilkan dulu, ya." Bu RT beranjak dari kursi yang didudukinya, namun ternyata orang yang dicari sudah berdiri di ambang pintu.
"Nah ini orangnya. Tahu aja kamu San kalau ada yang nyari."
"Aku bukan tahu ada yang nyari bu, tapi firasatku mengatakan ada sesuatu yang mau ku makan." Ikhsan memandang kue dalam wadah di atas meja.
"Hhhmmm feeling ku memang bener. Ini memang kue kesukaanku. Makasih ya bu." Ikhsan mencomot satu kemudian langsung memakannya.
"Kamu nih ya, udah gede juga masih kayak anak kecil. Nggak malu ya dilihatin sama Adelle? Main comot aja." Ikhsan hanya tersenyum mendengar kata-kata ibunya. Pandangannya kemudian beralih pada Adelle yang tersenyum melihat tingkah lakunya.
"Del, itu proposal kegiatan kita? Udah selesai?" tanya Ikhsan.
"Iya mas, mas Ikhsan pelajari dulu deh. Nanti kalau masih ada yang harus dibenahi kasi tau aja ya."
"Iya, aku pelajari dulu malam ini. Kalau perlu ditambah nanti kita diskusikan lagi. Tapi kalau memang sudah oke, artinya kita sudah bisa jalan bulan depan."
Ikhsan nampak serius saat membahas tentang proposal kegiatan mereka. Hilang sifat kekanak-kanakan yang Adelle lihat tadi.
"Kalau gitu, aku pamit dulu mas. Bu, saya permisi pulang." Adelle pamit pada ibu dan anak yang duduk bersamanya di teras.
"Iya, jangan lupa sampaikan terima kasih ibu untuk ibumu ya, Del." bu RT mengulangi permintaannya.
Adelle melangkah meninggalkan teras. Baru saja akan berbelok di depan pagar, tiba-tiba ia mendengar,
"Del, kamu nggak bawa motor? Bareng aku aja ya, kebetulan aku mau ke rumah Surya."
Ikhsan tak mau mendengar penolakan dari Adelle. Baginya ini adalah kesempatan yang harus dimanfaatkan. Kapan lagi bisa naik motor berboncengan dengan Adelle walau hanya beberapa menit.
Bergegas dinyalakannya mesin dan melaju meninggalkan halaman rumahnya yang asri. Adelle tahu hal ini pasti akan menimbulkan masalah jika bu Darno atau Siti melihatnya berduaan, namun ia juga sudah tak bisa menolak ajakan Ikhsan.
"Bismillah....." hanya itu yang bisa diucapkannya.
Ikhsan mengendarai motornya dengan pelan, ia ingin menikmati menit-menit yang berlalu dengan sebaik mungkin. Walau bukan berstatus pacaran namun bagi Ikhsan berdua diatas motor berdua sudah cukup.
Kendaraan roda dua itu memasuki pekarangan rumah yang tak terlalu luas. Entah karena melamun atau terlambat menarik rem sehingga hampir saja Ikhsan menabrak seekor kucing yang melintas di depan mereka. Reflek ditariknya rem dengan sekuat tenaga sehingga menyebabkan Adelle yang tak siap dengan kejadian itu merosot dan akibatnya tubuhnya menghimpit tubuh Ikhsan. Tak ada jarak antara mereka bersua.
Sejenak kedua insan berlainan jenis itu terdiam. Ada rasa tak nyaman di hati Adelle menyadari keadaannya dan Ikhsan tadi. Dengan segera ia turun dari sadel motor dan berdiri. Ikhsan pun menyandarkan matic buatan jepang itu kemudian melihat ke arah Adelle.
"Maaf ya, Del. Kamu nggak apa-apa kan?" tanyanya sambil melihat dari atas ke bawah.
"Aku nggak apa-apa mas. Hanya kaget aja." Adelle membetulkan letak jilbabnya yang sedikit miring karena accident tadi.
"Kenapa tadi mas, koq bisa ngerem mendadak gitu?" tanya Adelle.
"Ada kucing, Del. Tiba-tiba aja muncul, nggak permisi." jawab Ikhsan yang kontan membuat Adelle tertawa.
"Bisa aja mas Ikhsan. Memangnya itu kucing harus ijin sama siapa? Pak RT?" keduanya kemudian tertawa bersama.
"Aku pamit ya, Del. Mau ke rumah Surya."
"Hati-hati mas, jangan meleng. Jangan sampai bertemu kucing yang nggak punya ijin lagi ya." canda Adelle. Dipandanginya kepergian Ikhsan. Dan ketika suara motor matic itu tak terdengar lagi, ia pun memalingkan wajahnya dan melangkah menuju rumahnya.
Alangkah kagetnya Adelle saat melihat ada sepasang mata yang menatapnya dengan tajam.Tak nampak senyum yang biasa terukir dibibir itu. Adelle menjadi salah tingkah. Apakah Yudi melihat kejadian tadi? Ditariknya nafas dalam-dalam dan kemudian melanjutkan langkah yang tadi sempat terhenti.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
"Udah lama, Yud?" tanya Adelle.
"Baru koq. Kata ibu, kamu baru kira-kira lima menit perginya saat aku dateng."
"Ada perlu apa, koq tumben."
"Nggak boleh ya aku main ke rumah kamu? Apa aku mengganggu kamu dan mas Ikhsan 'mu' itu?" tanya Yudi. Nada bicaranya terdengar berbeda, bahkan ia menyebutkan mas Ikhsanmu dengan tekanan.
"Lho, koq ngomongnya gitu? Maksud aku, biasanya kamu kan kasi tau aku dulu sebelum datang. Dan biasanya juga kamu nggak pernah sendiri kalau ke sini, pasti ada temennya."
Yudi diam, wajahnya tak bisa menyembunyikan kalau saat ini dia sedang tak baik-baik saja.
"Aku mau nganterin ini. Tadi di sekolah aku lupa kasi ke kamu. Separo waktuku hari ini habis di ruang OSIS ikut rapat." Yudi menyerahkan tas kertas berisi sebuah kotak dengan sampul berwarna pink.
"Sekalian aku juga mau minjem buku Geografi kamu." sambung Yudi lagi.
Adelle menerima pemberian Yudi. Melihatnya sesaat kemudian berkata,
"Dalam rangka apa kamu ngasi aku ini?" Adelle merasa heran dengan pemberian Yudi.
"Nggak dalam rangka apa-apa Adelle. Kebetulan papa baru pulang dari Bandung dan ngasi kamu oleh-oleh ini." diam sesaat, kemudian,
"Sekalian ngasi tahu kalau papa dan mama mengundang kalian sekeluarga untuk silaturahmi ke rumah kami malam minggu ini." Yudi melihat ke arah Adelle.
"Bisa ya Del, please...." tatapannya penuh harap.
"Aku nggak bisa memastikan, Yud. Aku nggak tahu apakah ibu dan ayah juga setuju."
"Aku tadi udah menyampaikan pada ayah, dan ayah bersedia datang, Del."
Dipandanginya wajah Adelle dengan teliti seolah mencari sesuatu di sana.
"Atau kamu harus minta ijin dulu sama mas Ikhsanmu itu sebelum ke rumahku?" tanya Yudi yang sukses membuat Adelle tercengang. Dia tak mengerti apa maksud Yudi berkata seperti itu.
"Maksud kamu apa sih Yud? Aku nggak ngerti deh, asli!!!"
"Ya, kali aja sekarang kamu harus ijin dulu sama Ikhsan agar boleh pergi ke mana-mana selain ijin sama ayah dan ibu."
"Kamu aneh! Aku nggak tahu kenapa kamu jadi gini."
Sepi sesaat, keduanya diam dan mencoba meredam rasa masing-masing. Adelle benar-benar merasa aneh dengan tingkah laku Yudi yang seperti orang yang sedang cemburu
"Wait, wait....cemburu? Yudi cemburu pada mas Ikhsan? Apa iya?" dialog Adelle pada hatinya.
Sementara Yudi menyadari jika dirinya telah cemburu setelah melihat apa yang terjadi pada Ikhsan dan gadis yan dicintainya. Dia merasa cemburu karena Ikhsan bisa berboncengan dengan Adelle bahkan duduk hingga tanpa ada jarak. Sementara dirinya selama ini selalu mendapat penolakan jika ingin mengajak pergi berdua.
"Maafkan aku, Del. Aku salah." aku Yudi.
"Aku cemburu lihat kamu sama Ikhsan. Apalagi kamu duduknya mepet banget."
Adelle menatap Yudi sesaat, hanya sesaat. Kemudian menunduk kembali.
"Astaga Yudi, kamu salah. Aku bukan sengaja duduk mepet seperti yang ada dalam fikiranmu itu. Tadi mas Ikhsan ngerem mendadak dan aku sama sekali nggak berpegangan pada apapun makanya aku jadi merosot sampai nempel ke mas Ikhsan."
Yudi menatap wajah ayu yang duduk dihadapannya. Mencoba mencari kebenaran dari apa yang diucapkannya.
"Astagfirullah...aku terlalu cemburu pada sesuatu yang aku nggak tahu, ampuni hamba ya Allah..." Yudi bermonolog dalam hati
"Sekali lagi aku minta maaf, Del."
"Nggak papa Yud, aku maklum. Tapi kamu harus ingat satu hal. Kamu sudah tahu prinsipku untuk tidak menjalin hubungan serius selama masih sekolah. Jadi kurasa kamu nggak perlu cemburu seperti itu."
Adelle menarik nafas sesaat,
"Lagi pula kita sudah berkomitmen untuk saling menjaga hati kita masing-masing hingga akhirnya nanti takdir yang akan membawa ke mana hati kita akan berlabuh."
"Aku ingat itu, Del. Tapi swear, aku nggak bisa nggak cemburu lihat kamu seperti tadi."
"Ya, aku ngerti. Aku juga minta maaf karena dah bikin kamu nggak nyaman. Tapi beneran itu nggak sengaja." Adelle tersenyum, senyum yang mampu menyejukkan hati yang tadi panas.
"Oke, oke sekarang udah jelas. Jadi, kamu mau kan datang?"
"Aku nggak bisa janji, tapi insyaa Allah kalau nggak ada halangan aku akan pergi. Puas?" Adelle berlagak galak dengan memelototkan matanya. Hal itu tentu saja membuat Yudi tertawa terbahak-bahak.
"Kamu nggak cocok jadi tokoh antagonis, Del. Kamu itu terlahir sebagai ibu peri."
Tak ada lagi salah paham diantara mereka. Pembicaraan berlanjut hingga akhirnya Yudi pamit pulang.