
Dua minggu berlalu sejak ujian nasional yang diikuti oleh seluruh pelajar SMA berakhir. Adelle merasa lega, sebuah tanggung jawab besar telah dilaksanakan. Walau belum tahu bagaimana hasilnya, namun setidaknya dia sudah bisa bernafas lega. Apapun hasilnya, Adelle hanya bisa pasrah pada ketentuan dari Yang Maha Kuasa. Semua telah dilakukannya, belajar, berdoa dan mengerjakan ujian dengan sebaik mungkin. Sekarang tinggal menunggu pengumuman hasil seleksi masuk perguruan tinggi negeri dan kemudian kelulusan.
Tadinya Adelle ingin memanfaatkan waktu senggangnya dengan membantu mengembangkan usaha kue ibu. Dia ingin membantu ibu dengan cara mempromosikan melalui media sosial agar kue buatan ibu dapat lebih dikenal secara luas dan tentu saja pada akhirnya akan meningkatkan profit. Namun sebuah permintaan dari mama Putri yang tak dapat ditolaknya telah merubah apa yang telah direncanakannya.
Ya, sejak ulang tahun hari itu Putri intens menghubungi Adelle lewat perantaraan oma Tita atau sang mama. Terkadang bahkan Putri meminta Adelle untuk datang ke rumahnya, yang tentu saja tak dapat dipenuhi karena Adelle yang sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional. Namun malah hal itu menjadi senjata yang digunakan untuk meminta Adelle untuk menjadi guru les.
Pada mulanya Adelle berat untuk mengiyakan permintaan tante Mona, mamanya Putri. Selain belum pernah punya pengalaman menjadi guru sebelumnya, niat untuk mengembangkan usaha sang ibu juga menjadi bahan pertimbangannya. Tetapi tentu saja semua itu tidak membuat mereka bisa menerima begitu saja, bahkan jadwal belajar Putri pun akan menyesuaikan dengan kegiatan Adelle membantu ibunya. Dan pada akhirnya Adelle tak kuasa menolak, terlebih setelah Putri merengek agar Adelle bersedia mengajarinya.
"Del, mikirin apa sih? Pagi-pagi koq melamun." suara Ayah terdengar di telinga Adelle.
"Ayah...." Adelle menoleh ke arah datangnya suara.
"Mikirin apa sih anak Ayah?" tanya ayah lagi.
"Aku nggak melamun, nggak juga mikirin apa-apa, yah. Aku sedang melihat tetes air hujan yang jatuh di daun-daun pohon jambu, yah. Air hujan dan daun sama hebatnya." Adelle kembali memalingkan wajahnya ke luar jendela.
"Hebat bagaimana, nak?" tanya Ayah.
"Air hujan hebat karena tak pernah berhenti berusaha menundukkan daun, dan daun juga hebat karena tak perduli berapa kali air hujan akan mengalahkannya namun dia hanya menunduk sesaat tapi kemudian bangkit lagi dan kembali tegar. Bahkan air hujan yang begitu lama membuatnya segar, yah."
Ayah tersenyum mendengar penuturan Adelle.
"Anak ayah hebat, bisa menangkap makna dari sebuah kejadian alam. Begitulah hidup yang harus kita jalani, Del. Tak perduli betapa dahsyat masalah menghantam, kita harus tetap tegar, kuat dan kemudian bangkit lagi menjalani hidup. Seperti daun-daun di pohon yang Adelle lihat tadi. Dia mengikuti kemana air hujan dan angin membawanya, dia menunduk bukan karena kalah tapi menguatkan diri kemudian bangkit lagi. Bahkan air hujan yang tadi menghantamnya kemudian menjadikannya segar dan lebih sehat. Kamu tahu kan manfaat air hujan bagi tanaman?" Adelle mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan sang ayah.
"Begitu juga dengan hidup kita, nak. Masalah yang datang menghantam hidup jangan menjadikan kita lemah dan menyerah. Malah itulah yang akan menjadikan kita orang yang lebih baik, lebih hebat dan kuat."
Adelle mendengarkan dengan seksama penuturan lelaki hebat yang sangat disayanginya, meski bukan seorang maha guru namun kalimat yang keluar dari bibirnya selalu penuh nasehat.
"Bagaimana kegiatan ngajar kamu, Del? Lancar? Apa kamu menyukainya?"
"Aku seneng yah, Putri anak yang cerdas jadi aku nggak ada kesulitan sama sekali saat mengajar. Keluarganya juga sangat menghargai aku. Aku jadi enjoy saat di sana."
"Syukurlah, kalau kamu betah jadi guru les. Ayah hanya ingin mengingatkan 1 hal nak. Jangan kamu mengajar karena berharap mendapat bayaran dari mereka, tapi niatkanlah untuk ibadah, membagi ilmu kepada yang membutuhkan. Supaya ketika bayaran yang didapat tidak sesuai dengan harapan kamu nggak akan kecewa nak." Ayah kembali mengingatkan Adelle.
"Iya, ayah. Adelle juga tidak berharap yang muluk-muluk. Aku ngelakuin ini karena permintaan Putri yang memang sulit aku tolak. Nanti kalau seandainya aku sudah kuliah dan nggak bisa membagi waktuku untuk belajar ke sana, aku akan mengundurkan diri." Adelle menjelaskan sembari otaknya mengingat si gadis kecil yang telah menemani hari-harinya beberapa minggu belakangan ini.
"Putri itu pintar ayah, dikit aja dijelasin dia udah bisa. Kadang kupikir dia nggak butuh guru les lagi deh, karena rasanya aku lebih banyak menemani dia bermain ketika kami belajar dan mendengarkan dia bercerita."
Ayah tersenyum, "Apa dia punya saudara?"
"Nggak, yah. Putri cucu pertama dan belum punya adik. Di rumah besar itu hanya ada 1 anak kecil."
"Apa kedua orang tuanya kerja?" Ayah bertanya lagi.
"Iya, mama dan papanya kerja. Papanya menjalankan usaha milik keluarga sementara mamanya selain kerja juga sibuk dengan beberapa organisasi sosial."
"Pantas aja dia gitu sama kamu, dia nggak punya temen untuk mencurahkan isi kepalanya. Untung aja dia nggak jadi anak yang bandel karena cari perhatian."
"Menurut oma Tita, neneknya Putri, sebelum aku ada guru les lain yang pernah ngajar di sana. Tapi nggak bertahan sampai 2 bulan dia sudah mengundurkan diri. Katanya nggak betah karena Putri nggak bisa diem dan banyak maunya. Berhentinya juga nggak pamit yah."
Ayah menatap wajah sembari tangannya menggapai bahu putri tertuanya.
"Jadikan itu sebagai pembelajaran, jangan sampai kamu mengulangi hal yang sama. Kamu masuk ke rumah itu baik-baik, maka keluarnya juga harus baik-baik. Jangan jumawa karena Putri menyukaimu, tetaplah rendah hati dan hormati mereka."
Adelle kembali mengangguk.
"Kapan pengumuman ujian masuk perguruan tinggi?"
"Belum ada kabar, yah. Tapi ada yang bilang minggu depan. Doakan aku lulus ya, yah."
"Pasti ayah dan ibu mendoakan kamu, bahkan adikmu juga mendoakan kamu." Ayah memeluk Adelle, sesaat kemudian melangkahkan kaki menuju kamar.
"Ayah mau siap-siap kerja dulu. Kamu apa rencana hari ini?"
"Nggak ada, yah. Palingan hanya ngantar kue, trus jemput Lola trus sorenya ngajar les deh."
"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut kalau bawa kendaraan."
"Ayah juga, hati-hati di jalan. Dan semangat ya yah kerjanya"
_______
Adelle baru saja selesai mengajar les. Sekitar 1 jam setengah dia menemani Putri belajar. Bukan hanya belajar selama itu tentu saja, tapi diselingi juga dengan mendengarkan cerita dan menemani bermain. Ada-ada saja yang diceritakannya. Tentang teman di sekokah, tentang guru dan terkadang tentang hewan peliharaannya.
Butuh tenaga ekstra bagi Adelle untuk menjadi guru les Putri. Anak itu benar-benar sangat bersemangat saat bertemu Adelle. Tak henti-hentinya dia berbicara selama belajar. Padahal menurut oma Tita yang biasa menemuinya saat setelah selesai belajar, Adelle tidak seperti itu dengan guru les yang dulu. Dia sering malas-malasan saat sang guru datang, bahkan terkadang pura-pura tidur agar tak belajar. Namun setelah bersama Adelle, dia sudah siap bahkan sebelum Adelle tiba di rumah mereka.
"Del, duduk sini. Minum dulu." Oma Tita menyapa Adelle yang baru saja selesai buang air kecil.
"Baik, Oma." Adelle mengambil tempat duduk tak jauh dari Oma Tita.
"Putri di mana Oma? Koq nggak kelihatan." Adelle bertanya.
"Dia sedang ganti pakaian. Tadi ketumpahan air minum, mau bawain air minum kamu Del." Oma tersenyum mengingat bagaimana tadi Putri bersikeras untuk membawa minuman untuk Adelle namun belum berapa lama minuman itu kemudian tumpah dan membasahi baju yang dikenakannya.
Adelle tersenyum manis melihat Putri yang sudah berganti pakaian.
"Sini Put, duduk sama Oma." Oma menyambut kedatangan sang cucu dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana tadi belajarnya?Ada PR nggak tadi?"
"Ada, Oma. Tapi udah dikerjain tadi sama kak Adelle. Iya kan kak?" Putri menatap Adelle dengan mata yang berbinar.
Adelle hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan yang disampaikan Putri.
"Putri jangan nakal ya kalau belajar sama kak Adelle. Tar kak Adelle juga pergi ninggalin Putri lho." Oma mengingatkan Adelle.
"Aku ngak nakal koq Oma. Aku belajar dengan baik, coba aja Oma tanya sama kak Adelle.. Iya kan kak?" Putri menatap sambil memegang lengan Adelle.
Lagi, Adelle tersenyum melihat gadis kecil yang telah mencuri hatinya.
"Nggak koq Oma. Putri nggak nakal sama sekali. Putri manis banget selama belajar bareng aku." Adelle menjawab yang kemudian disambut dengan pelukan yang diberikan oleh si gadis kecil yang baru saja diceritakannya.
"Manja banget, Put sama kak Adelle." Oma menggoda sang cucu yang kini telah berada dipangkuan Adelle.
"Kak Adelle kan kakak aku, Oma. Iya kan kak?" lagi-lagi Putri bertanya pada Adelle yang dijawab dengan anggukan dan cubitan kecil di pipi bakpau milik Putri.
Candaan terus mengalir diantara mereka. Memang setiap kali setelah selesai belajar, Adelle tak pernah bisa langsung pulang. Ada-ada saja tingkah Putri yang membuatnya harus bertahan lebih lama di rumah itu. Oma Tita tentu saja senang melihat kedekatan Adelle dan sang cucu karena selama ini Putri tak punya seseorang yang membuatnya terikat begitu dekat. Bahkan dengan pengasuh yang telah membersamainya sejak bayi pun Putri tak sedekat seperti dengan Adelle.
Tawa di ruangan itu terhenti saat terdengar suara bariton yang menyapa Oma Tita.
"Assalamualaikum, mama."
"Waalaikum salam." Oma Tita memandang pria yang baru saja memasuki ruangan tempat mereka berbincang.
"Om Andrew... Koq sekarang jarang main sama aku sih?" Putri menyambut kedatangan lelaki muda dipanggil om dengan pertanyaan yang lebih berupa protes. Wajahnya yang tadi ceria berubah cemberut.
"Om sering koq datang ke sini, hanya saja kamu sedang belajar sama guru baru itu. Jadi om pulang deh." jawab Andrew.
"Kenapa om nggak nyamperin aku? Aku kan kangen sama om." lagi Putri menyatakan ketidaksukaannya.
Andrew hanya tersenyum tipis, lengan kokohnya menyambut sang keponakan yang datang dan membawanya ke dalam pelukan dan mencium pucuk kepalanya.
"Kangen ya sama om? Om juga kangen sama Putri. Makanya om datang hari ini."
Adelle melihat adegan di depannya dengan hati haru. Pemandangan yang sangat indah, dan ia tahu itu bukan di buat-buat. Semua orang di keluarga ini memang sangat menyayangi Putri.
"Oma, aku permisi pulang ya." Adelle bangkit dan menyampirkan tali tas dipundaknya. Mencium tangan wanita setengah baya yang masih duduk memperhatikan putra bungsu dan cucunya.
"Kenapa kakak pulangnya cepat? Kan aku belum puas main sama kakak. Apa kakak nggak suka ada om Andrew di sini?" tanya Putri bertubi-tubi. Sesaat Adelle terkejut dengan pertanyaan bocah yang baru berusia 7 tahun itu, namun dengan cepat ia bisa menguasai diri dan tersenyum.
"Tentu saja nggak tuan Putri. Aku harus pulang sekarang karena ada sesuatu yang harus kukerjakan. Lagian, sekarang ada oom yang akan nemanin kamu bermain. Lusa kita ketemu lagi ya." Adelle berdiri dan siap untuk melangkah pulang.
"Kak Adelle janji ya kalau nanti datang lagi bawain aku donat yang enak buatan kak Adelle." Putri beranjak dari pangkuan Andrew dan melangkah mendekati Adelle untuk menyalaminya.
"Insya Allah, semoga nggak lupa ya Put." Adelle lagi-lagi tersenyum. Tadi ketika belajar mereka memang bercerita tentang donat, dan ketika tahu jika Adelle bisa membuat donat, Putri tentu saja berharap bisa menikmati donat buatan Adelle.
Setelah sekali lagi berpamitan kepada Oma Tita, Om Andrew dan juga Putri, Adelle melangkahkan kaki meninggalkan ruangan yang penuh kehangatan itu. Hatinya ikut bahagia menyaksikan bagaimana seorang anak yang begitu beruntung berada di lingkungan orang-orang yang begitu menyayanginya. Mungkin kekurangan yang ada hanyalah kedua orang tua yang sangat sibuk sehingga jarang bisa membersamai Putri, terutama sang Papa.
Tanpa Adelle sadari ada sepasang mata yang dari tadi terus memperhatikan langkahnya yang semakin menjauh. Kedatangannya ke rumah mamanya bukan semata ingin melihat sang ponakan yang memang sangat dirindukannya, namun juga ingin berjumpa dengan gadis remaja yang menjadi guru les. Entah mengapa, sejak pertemuan mereka di acara ulang tahun Putri hatinya merasa terusik dengan kehadirannya. Kedekatannya dengan Putri bahkan dengan seluruh anggota keluarga yang ada di rumah ini membuatnya semakin ingin mencari tahu apa kelebihannya.
"Om Andrew kenapa sih masih aja liatin kak Adelle padahal kak Adelle nya udah nggak kelihatan lagi?" pertanyaan Putri yang tiba-tiba mengembalikan Andrew pada dunia nyata. Hatinya malu tertangkap basah menatap kepergian Adelle.
"Om nggak sedang liatin guru les kamu, tuan Putri. Om hanya sedang memikirkan sesuatu." Andrew menjawab asal.
Oma Tita hanya tersenyum mendengar penuturan putranya. Ia bukannya tidak tahu jika sedari tadi putranya menatap Adelle. Namun ia bukan Putri yang begitu polos sehingga bertanya langsung apa yang ada dalam pikirannya.
"Kamu dari mana Drew?" tanya Oma Tita pada sang anak.
"Dari kantor lah ma, masa iya aku keluyuran." jawab Andrew dengan tertawa kecil. Dia lega karena sang mama mengalihkan pembicaraan dari pertanyaan Putri.
"Tumbem kamu pulang sore, biasanya kalau belum gelap kamu belum mau beranjak dari ruangan kamu itu." tanya Oma Tita lagi.
"Sesekali pulang awal nggak papa kan ma. Lagian hari ini nggak terlalu banyak urusanku di kantor, jadi aku sempatin mampir melihat ponakanku yang cantik ini." jawab Andrew sambil memeluk dan mencium gemas Putri yang masih duduk di pangkuannya. Putri yang merasa geli karena dicium hanya tertawa riang sambil sesekali berteriak kegelian.
Oma Tita melihat pemandangan di depannya dengan hati yang merah. Andrew memang sangat dekat dengan Putri sedari lahir. Putranya itu tak pernah absen untuk menemui sang keponakan setiap minggu. Bahkan jika Putri sakit, Andrew juga akan ikut menemani. Namun sejak menjalin hubungan dengan Lisa, intensitas kedekatan mereka sedikit berkurang. Andrew lebih banyak menghabiskan waktunya dengan sang kekasih dan mulai jarang menemui Putri. Hal itu tentu saja membuat Putri merasa sangat kehilangan.
Kehadiran Adelle sepertinya menjadi penghibur bagi Putri. Kasih sayang yang dulu pernah didapatkan dari Andrew sekarang dirasakannya pada Adelle. Oma Tita juga tidak mengerti mengapa Putri dengan cepat menyukai Adelle. Bahkan Lisa yang pernah beberapa kali di bawa untuk bertemu dengan anggota keluarga Andrew tak pernah mendapat sambutan hangat dari Putri. Dia bahkan cenderung tak menerima kehadiran Lisa di tengah-tengah mereka. Tadinya Oma Tita pikir itu adalah bentuk kecemburuan Putri pada Lisa, namun ternyata bukan. Naluri anak itu mengatakan Lisa bukan orang yang pantas untuk menjadi anggota keluarga mereka.
"Tante Lisa nggak cocok untuk om Andrew. Dia nggak tulus sayangnya sama om Andrew." itu jawaban Putri ketika ditanya mengapa dia tak menyukai Lisa.
Oma Tita menghela nafas panjang. Sekali lagi dipandanginya anak dan cucu yang sedang bergurau tak jauh darinya. Ia bahagia karena bisa menikmati masa tuanya dengan melihat pemandangan yang menyejukkan mata. Kedekatan cucunya dengan sang putra bungsu.
"Semoga kelak kau akan mempunyai keluarga dan keturunan yang membuatmu bahagia nak" doa Oma Tita.