
Siang terasa amat panas, matahari sepertinya masih ingin menunjukkan kekuatannya. Jarum jam sudah menunjuk ke angka 2 dan rasa panas masih menguasai bumi.
Adelle menyeka peluh di keningnya. Tisu di tangannya hampir habis. Pekerjaan di luar rumah yang cukup menguras tenaga plus panas matahari membuat keringat dengan cepat muncul. Yah, siang ini dia dimintai tolong oleh bu Ratna, salah seorang tetangga yang mempunyai usaha kecil-kecilan di bidang makanan berupa nasi kotak alias rice box. Adelle dimintai bantuan untuk mengepak kemudian ikut mengantar ke salah seorang pelanggan yang sedang mengadakan hajatan.
Sebenarnya bu Ratna punya beberapa orang yang memang dipekerjakan untuk membantu usahanya setiap hari. Namun hari ini keduanya sedang berhalangan. Mbak Setyo sedang menjaga ibunya yang tadi malam masuk rumah sakit akibat demam berdarah dan bang Agun yang biasa mengantar kue sedang ada hajatan di rumah mertuanya.
Adelle tak menolak sama sekali permintaan bu Ratna untuk membantunya mulai dari mengepak makanan hingga ikut mengantarkan ke rumah si pemesan yang hari ini sedang merayakan ulang tahun cucunya yang ke 7. Pengalamannya yang sudah terbiasa membantu ibu dengan urusan kue membuatnya tak mengalami masalah sama sekali. Dan hal itu pula yang membuat bu Ratna memutuskan untuk meminta pertolongan Adelle.
Satu demi satu kardus berisi rice box itu dibawa masuk kemudian disusun di salah satu meja di sudut ruangan yang sangat luas. Adelle melihat sekeliling ruangan yang telah dihiasi dengan balon beraneka warna. Warna pink dan biru mendominasi ornamen hiasan dan karakter frozen terlihat di beberapa sudut ruangan. Jika tak salah tebakannya, sepertinya yang berulang tahun adalah seorang gadis kecil. Dan Adelle yakin, pasti anak itu dicurahi dengan penuh kasih dan sayang dari seluruh keluarga. Hal itu bisa di lihat dari kesibukan dan keceriaan yang terlihat dari semenjak mereka memasuki halaman rumah.
"Del, kalau sudah selesai kita kita temui tuan rumah dulu ya. Tadi tante sudah diberitahu untuk menemui mereka di ruang keluarga." bu Ratna menyapa Adelle.
"Iya, tante. Sudah selesai semuanya."
"Yuk, kita temui mereka dulu."
Adelle mengangguk dan sejurus kemudian mengikuti langkah bu Ratna menuju ke sebuah ruangan yang juga tak kalah besarnya dengan ruangan di mana acara ulang tahun akan digelar.
"Bu Ratna, mari silakan duduk."
Adelle melihat seorang wanita tua yang wajahnya masih menampakkan sisa-sisa kecantikannya di masa muda menyambut mereka dengan senyum yang penuh kehangatan. Dia mengikuti langkah Bu Ratna dan mengambil tempat duduk disampingnya.
"Terima kasih ya bu sudah bersedia memenuhi permintaan kami walaupun agak mendadak. Mamanya Cantika baru memutuskan dua hari yang lalu, jadinya semua serba mendadak."
"Iya, nggak papa bu. Saya juga bersyukur banget ada Adelle yang mau membantu saya." Bu Ratna menatap Adelle sembari menyentuh tangannya.
"Oh, ini karyawan baru ya bu? Biasanya bukan yang ini yang mengantarkan pesanan." Suara sang nenek, matanya menatap Adelle.
"Ini Adelle bu, tetangga saya. Kebetulan dia bersedia membantu saya mengerjakan pesanan ibu."
"Masih muda ya, cantik lagi." Pandangan wanita tua itu tertuju pada Adelle. Adelle tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sekolah atau kuliah nak?" tanyanya pada Adelle.
"SMA kelas 12 nek" Adelle menjawab perlahan.
"Kelas 12 itu kelas berapa? Koq banyak sekali. Oma tahunya sekolah SMA itu hanya sampai kelas 3. Kenapa kamu sampai kelas 12?"
Adelle kembali tersenyum mendengar kalimat yang keluar dari mulut wanita yang menyebut dirinya Oma.
"Kelas 12 itu sama aja dengan kelas 3 SMA oma."
"Oh, kelas 3 toh."
"Nak Adelle ini pinter lho bu, sering juara di sekolah." terdengar pujian dari mulut bu Ratna. Adelle hanya diam, tak berharap mendapat pujian apapun. Sementara Oma Tita menatap Adelle sambil tersenyum. Tiba-tiba...
"Oma......" suara anak kecil memenuhi ruangan diikuti langkah kaki kecil yang berlari menuju sang oma. Adelle melihat sang gadis kecil. Wajahnya cantik, rambut hitam panjangnya terurai indah dan sebuah tiara kecil bertengger diatasnya, dan gaun biru muda membuat dirinya tampil bak Elsa di film Frozen.
Oma Tita menyambut dengan pelukan hangat sang cucu, mata indah itu menatap sang oma dengan penuh sayang.
"Cucu oma cantik sekali." diciumnya pipi montok yang menggemaskan itu.
"Oma, ini siapa?" matanya menatap ke arah Bu Ratna dan Adelle bergantian.
"Ini tante Ratna, yang masak untuk ulang tahun Putri." Oma Tita memperkenalkan bu Ratna kepada sang cucu.
"Dan ini....." belum selesai om berbicara tiba-tiba Putri berkata,
"Ini kakak cantik yang belikan aku cemilan di al***art waktu itu kan?" suara khas anak kecil masuk ke gendang telinga Adelle.
Adelle menatap dengan seksama gadis cantik bergaun bak princess yang berdiri tak jauh darinya. Perlahan senyum dibibirnya mengembang saat memori tentang seorang gadis kecil yang tak berhenti bernyanyi dan bertanya pada lelaki yang duduk didepannya.
"Kakak masih ingat sama aku nggak?" ada binar di mata indah itu.
"Aku pernah minta tolong kakak ambilin makanan di rak yang tinggi, kemudian kakak bayarin aku." Senyum kembali tersunbging di bibir milik Adelle.
"Tentu aja kakak ingat sama kamu, gadis cantik. Siapa nama kamu?" tanya Adelle.
"Nama aku Putri, hari ini aku ulang tahun. Aku suka Elsa, makanya hari ini aku menggunakan gaun seperti Elsa." jelasnya tanpa di tanya.
Adelle memandang dengan gemas sosok dihadapannya. Andai sudah lama kenal, pasti ia akan mencubit pipi montoknya.
"Kamu koq pinter sekali sih? Kakak gemes jadinya."
"Kakak datang ke sini mau ikut merayakan hari ulang tahunku ya? Oma ya yang mengundang?" lagi-lagi pertanyaan meluncur dari bibir mungil itu.
"Nggak, kakak bukan datang untuk ikut merayakan ulang tahun Putri."
"Kenapa nggak? Apa kakak nggak suka sama aku? Apa aku ada salah sama kakak? Kakak harus ikut merayakan ulang tahunku, iya kan oma" mata itu kini beralih menatap sang nenek.
"Tapi aku mau kakak ikut ulang tahunku oma. Aku suka sama kakak, dia baik sama aku. Mami, boleh kan kalau kakak ini hadir di ulang tahunku?" tanya Putri sambil melangkah mendekati seorang wanita muda yang baru saja memasuki ruangan tempat mereka berkumpul. Wanita yang di panggil mami nampak bingung dengan pertanyaan sang anak. Pandangannya mengarah pada Adelle dan sesaat kemudian melihat pada oma Tita.
"Ini Adelle, tetangganya Bu Ratna yang membantu mengantarkan makanan. Ternyata Putri sudah pernah bertemu dengan Adelle sebelumnya." Oma Tita berusaha menjelaskan.
"Mami, kak Adelle jangan dibolehin pulang ya. Kak Adelle harus ikut merayakan ulang tahun aku sampai selesai. Aku mau ditemani sama kakak yang baik ini."
Kata-kata yang keluar dari mulut mungil Putri sukses membuat Adelle menjadi serba salah. Bagaimana tidak. Dia datang ke rumah ini karena membantu Bu Ratna mengantar makanan, dan ia baru saja mengenal keluarga kaya ini, bagaimana mungkin tiba-tiba saja sang cucu memintanya untuk menghadiri acara ulang tahunnya? Bukan tak mau, tapi dia tak mengenal keluarga ini dan juga yang berulang tahun adalah anak kecil yang usianya jelas berbeda jauh dengan dirinya.
"Kakak mau kan?" tanya Putri meminta kepastian.
Adelle memandang ke arah Bu Ratna. Bagaimanapun juga tadi mereka pergi bersama. Jika dirinya tinggal, bagaimana dengan tante Ratna? Seolah mengerti makna pandangan mata Adelle, Bu Ratna menganggukkan kepalanya tanda memperbolehkan. Pandangan Adelle beralih pada Oma Tita dan Mami, mencoba mencari sesuatu yang mungkin akan membuatnya mantap untuk mengambil keputusan. Dan pada wajah wanita yang berbeda generasi itu ditemukannya senyum hangat.
"Kakak nggak tau mau ngapain sayang, tapi kalau kamu mau kakak stay selama kamu ultah, kakak akan turuti mau kamu." jawab Adelle yang langsung mendapat pelukan hangat dari gadis kecil yang akan berulang tahun. Sebuah respon yang sangat di luar ekpektasi, ia tak pernah menyangka sama sekali akan diperlakukan dengan sangat ramah dari keluarga kaya ini.
_______
Acara ulang tahun Putri berlangsung dengan meriah, badut yang berpakaian ala princess Elsa dan Olaf membuat suasana pesta menjadi semakin ramai. Ruangan dan taman dipenuhi dengan anak-anak dan juga orang tua yang ikut hanyut dalam suasana gembira.
Adelle ikut bergabung dengan para undangan. Tadinya dia berniat1 untuk membantu mengurus makanan, minuman dan pernak-pernik pesta. Namun tentu saja Putri tak menijinkannya. Ia meminta agar Adelle untuk tetap berada disampingnya, hal yang membuat heran pihak keluarga karena belum pernah Putri begitu dekat dengan orang yang baru dikenalnya. Bahkan ketika ada yang bertanya tentang siapa Adelle, maka dengan cepat Putri mengatakan bahwa Adelle adalah Kakaknya.
Satu hal yang bisa disimpulkan dari pesta ulang tahun Putri adalah bahwa betapa seluruh anggota keluarga sangat menyayangi gadis kecil yang memiliki hidung bangir dan mata bak boneka itu.
Tepat pukul lima pesta ulang tahun berakhir. Satu persatu para undangan berangsur pulang, yang tertinggal hanyalah beberapa anggota keluarga dekat. Adelle baru saja berniat untuk pamit pulang saat tangan kecil Putri menariknya menuju taman yang terdapat di belakang rumah. Taman yang nampak asri dengan pohon buah-buahan rimbun yang sedang berputik pada bagian kanan. Jangan berpikir bahwa pohon buah-buahan itu tinggi menjulang, karena pada kenyataannya pohon itu hanya setinggi bunga-bunga yang ada pada bagian kiri.
Adelle menatap takjub bagian belakang rumah ini. Pasti dibutuhkan tangan-tangan trampil untuk menata hingga halaman belakang ini nampak begitu indah dan yang pasti Adelle merasa sangat betah berlama-lama di sini. Dan di dalam greenhouse sana, Adelle bisa melihat beberapa macam bunga yang sangat indah. Entah bunga apa saja Adelle tak mengetahui namanya. Ia hanya kenal beberapa jenis anggrek, bonsai dan tanaman aglonema.
"Aku mau ngenalin kakak sama om aku." kalimat itu kelur saat keduanya mencapai sebuah gazebo yang berdiri di antara rerimbunan bunga.
"Om Andrew, kenalin ini kak Adelle. Dia yang pernah beliin aku makanan waktu kita kehujanan dulu itu. Waktu om Andrew sibuk nyariin pesanan pacarnya om Andrew." Adelle taget saat mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Putri. Ditatapnya seorang pria yang sedang duduk sambil melihat ikan-ikan yang sedang berenang di sekitar gazebo. Namun segera dipalingkan waajahnya saat pria tersebut menoleh ke arahnya.
"Putri sayang, udah selesai acara ulang tahunnya?" suara itu terdengar berat namun sarat dengan kasih sayang.
"Sudah om, makanya om Andrew ngapain duduk di sini bukannya ikut bergabung di sana?" lagi terdengar suara sang ponakan.
"Om Andrew kan bukan anak-anak lagi, jadi nggak perlu ikut bergabung sama teman-temannya Putri."
"Om Andrew nggak sayang sama aku. Semua orang ada di samping aku, bahkan kak Adelle juga dampingi aku. Om aja yang diem mengasingkan diri di sini." Lelaki yang dipanggil om Andrew hanya tersenyum mendengar komplen dari sang ponakan. Di rengkuh dan dibawanya tubuh kecil itu ke dalam pelukannya kemudian di gendongnya.
"Tentu aja om sayang sama Putri, keponakan om yang paling cantik dan paling pinter. Om ada koq di dekat Putri saat acara tadi, hanya setelah pemotongan kue dan tiup lilin om melipir ke sini. Om pengen lihat ikan yang baru kita beli minggu lalu." Andrew berkata kemudian mencium pipi kenyal yang nampak kemerahan alami.
"Bagaimana tadi, seru nggak ulang tahunnya?" tanya Andrew.
"Seru donk, teman-temanku semua datang. Aku juga suka karena ada badutnya, dia lucu om, dan yang paling penting aku ditemani sama kak Adelle yang baik ini." Putri berceloteh dan kemudian menunjuk Adelle yang berdiri tak jauh darinya.
Andrew menatap ke arah yang ditunjuk oleh Putri. Tatapannya tertuju pada seorang gadis manis berjilbab yang pada saat yang sama sedang menatap kearahnya namun sesaat kemudian segera menundukkan pandangannya.
"Ini siapa?" tanya Andrew.
"Ini namanya kak Adelle, yang dulu pernah beliin aku makanan waktu kita kehujanan dan berhenti di Al***art." Andrew mencoba mengingat apa yang diceritakan oleh Putri namun memorinya tak dapat mengingat Adelle yang dimaksud oleh Putri.
"Om nggak ingat pernah kenal sama dia."
"Ya tentu aja om nggak kenal, waktu itu om sedang mencari barang yang diminta oleh pacar om, dan waktu aku panggil om untuk ketemu sama kak Adelle, kak Adelle udah keburu pulang." Putri berbicara seperti orang dewasa.
"Kak, kenalin ini om aku. Namanya Om Andrew." katanya memperkenalkan Andrew pada Adelle. Ditariknya tangan Adelle dan kemudian diserahkan pada Andrew.
"Ayo om, kenalan dulu."
Andrew bermaksud menjabat tangan Adelle yang diulurkan oleh Putri, namun kemudian menarik kembali tangannya saat melihat Adelle menangkupkan kedua telapak tangannya di dada.
"Aku Andrew, adik dari papanya Putri." Andrew memperkenalkan diri.
"Namaku Adelle." jawab Adelle lembut namun bisa ditangkap oleh telinga Andrew.
Andrew meneliti Adelle mulai dari kepala hingga ke kaki. Tatapannya tak sehangat anggota keluarga yang lain, Adelle bisa merasakan hal itu. Ada aura dingin yang dirasakan oleh Adelle lewat tatapan mata elang itu.
Sesaat keduanya diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sementara Putri nampak begitu bahagia, tangannya masih menggenggam telapak tangan Adelle sambil menggoyang-goyangkannya.
"Putri, kakak harus segera pulang. Sebentar lagi magrib, kakak harus sudah ada di rumah sebelum magrib." Adelle mencoba menghilangkan kekakuan diantara mereka.
"Ayo kak, kita masuk lagi. Om Andrew nanti mau kan nganterin kak Adelle pulang? Aku nggak mau kak Adelle pulang sendiri." Adelle kaget mendengar pertanyaan Putri. Bagaimana mungkin anak sekecil itu bisa mengatakan hal seperti itu?
"Kalau om nggak mau nganterin kak Adelle pulang, aku akan laporin oma. Biar om Andrew dimarahin sama oma karena membiarkan seorang wanita pulang sendiri." Kembali Adelle dibuat takjub oleh sang gadis kecil yang baru saja berusia 7 tahun.
Andrew menatap wajah imut dihadapannya. Ia tahu bagaimana sifat Putri. Jika ia mengatakan bahwa dia akan mengadukan pada oma, maka hal itu benar-benar akan dilakukannya. Dan...jika Putri sudah meminta sesuatu, maka sang oma sudah pasti akan meminta siapapun orangnya untuk memenuhi permintaan sang cucu tercinta. Itu artinya, dia memang harus mengantarkan Adelle pulang.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Andrew mengikuti langkah kaki Putri menuju ke dalam ruangan yang kini hanya tinggal beberapa orang saja. Dan di sana dia melihat Putri sedang berbicara dengan mamanya sambil sesekali tangannya menarik lengan Adelle. Heran, entah apa yang telah membuat keponakan yang begitu sulit untuk dekat dengan Lisa sang pacar bahkan cenderung tak menyukainya, namun hari ini dia melihat Putri seolah tak mau lepas dari Adelle.