Adelle

Adelle
Double Date



Adelle masih tak percaya melihat dua orang lelaki tampan yang datang mendekati meja mereka. Lelaki berbaju kemeja biru tua dengan celana jeans warna biru yang baru saja membuka kacamata hitamnya itu adalah mas Ferdi, sepupunya yang pernah dikenalkan pada Shella ketika resepsi pernikahan kak Aida. Dan yang satu lagi, lelaki yang sekarang sedang tersenyum menatap ke arahnya adalah Yudi. Sahabat sekaligus orang yang pernah mengutarakan isi hatinya beberapa minggu yang lalu.


Tatapannya masih mengarah pada Shella, menuntut jawaban atas rasa ingin tahunya. Namun yang punya badan pura-pura tidak memahami apa yang maunya Adelle.


"Hai Del, apa kabar?" sapa Ferdi.


"Hai mas Ferdi, alhamdulillah sehat mas." dijawabnya dengan hati yang masih penuh tanya.


Ferdi mengambil tempat duduk di samping Shella sementara Yudi tentu saja memilih duduk di sebelah wanita yang nampak selalu cantik dimatanya.


"Kita pesan makanan dulu deh ya. Tar ngobrolnya dilanjutin lagi setelah makan." Shella melambaikan tangannya memanggil pelayan.


"Iya, kebetulan aku laper banget." Ferdi menyahut.


Tak lama pelayan datang membawa daftar menu makanan dan minuman. Wajah ramahnya mempersilakan mereka untuk memesan makanan dan minuman.


"Kamu mau makan apa Shel?" tanya Ferdi dengan lembut pada Shella.


Sesaat keduanya melihat-lihat daftar menu yang ada di tangan Ferdi. Setelah membolak-balik buku menu, akhirnya pilihan mereka jatuh pada beef steak. Gadis cantik berseragam pelayan mencatat pesanan Shella dan Ferdi. Pandangannya beralih pada Adelle dan Yudi.


"Mas dan mbaknya pesan apa?" nampak sepasang lesung di kedua pipi chubby mya.


"Kamu pesan apa Del?" Yudi menyodorkan daftar menu kehadapan Adelle. Tubuhnya sedikit maju saat menyodorkan menu pada gadis yang duduk disampingnya. Yudi melihat ke arah menu kemudian kembali melihat Adelle. "Ya Allah, dia cantik sekali" batinnya.


"Kamu mau coba ini nggak Del, enak lho." Yudi menunjuk salah satu menu yang ada. Adelle membaca sesaat, kemudian menatap Yudi yang saat itu masih tetap menatapnya. Hal itu tentu saja membuat Adelle merasa sangat malu. Segera dialihkannya pandangannya.


"Terserah kamu aja deh." akhirnya Adelle membuka mulutnya. Shella tersenyum melihat adegan kedua sahabat di depannya. Dia sangat tahu bagaimana perasaan Adelle dan Yudi.


Yudi menyebutkan pesanan mereka. Tak lama kemudian pelayan meninggalkan setelah mencatat semua pesanan pasanan remaja tersebut.


"Jadi siapa yang mau jelasin bagaimana mas Ferdi dan Yudi bisa datang barengan?" Adelle menatap ketiga orang yang ada di depan dan sampingnya.


"Aku yang punya ide." Shella menjawab.


"Bukannya kamu bilang sama aku kalau kamu mau ketemu sama seseorang. Dan kamu ngajakin aku karena kamu malu."


"Iya, bener."


"Trus kenapa kita malah kumpul di sini? Kenapa kita malah ketemu sama mas Ferdi dan Yudi?"


"Ya, karena aku memang janjiaan ketemu sama mas Ferdi." jawab Shella. "Bener nggak Fer?" tanya Shella pada Ferdi. Yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya.


"Koq bisa kalian janjian?"Ditatapnya Shella dan Ferdi bergantian.


"Ya bisa lah Del, kamu kayak nggak ngerti aja kalau zaman yang super canggih sekarang ini kamu bisa berhubungan dengan siapa aja dan di mana aja."


"Maksud aku, kamu sampe bela-belain pulang cepet dari Bali hanya untuk ketemu sama mas Ferdi." Matanya tiba-tiba melotot saat dia ingat akan sesuatu.


"Jangan bilang kalau kalian sekarang udah jadian Shel, mas..." Adelle menatap keduanya bergantian. Tak ada yang menjawab, keduanya hanya tersenyum.


Baru saja Adelle akan membuka mulutnya saat pelayan datang membawa pesanan mereka.


"Udah Del, interviewnya di tunda dulu ya. Kita makan dulu, charge energi supaya nanti bisa lanjutin tanya jawabnya" Yudi menghentikan sesaat keingintahuan Adelle.


Kemudian tak ada lagi yang berbicara di antara mereka. Masing-masing sibuk menikmati hidangan yang ada dihadapan mereka. Adelle menatap sahabatnya yang nampak lebih bahagia dari biasanya. Aura bahagia nampak sangat jelas di wajahnya. Dikunyah perlahan makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.


"Alhamdulillah...." Adelle meletakkan sapu tangan di atas meja saat dirinya telah menghabiskan suapan terakhir dari dessert yang disajikan. Perutnya terasa penuh, semua hidangan terasa sangat enak.


_______


"Jadi sekarang kalian sudah resmi pacaran. Dan maksud kamu mengajakku adalah untuk mendeklarasikan hubungan kalian secara resmi, gitu?" Adelle menatap Shella dan Ferdi bergantian sesaat setelah Shella menyelesaikan ceritanya.


"Aku hanya ingin kamu tahu langsung dari kami berdua, bukan dari mulut orang lain, bestiku."


"Kamu udah move on dari Joy?"


"Bener juga sih." Adelle mengiyakan, namun sesaat kemudian dia bertanya lagi.


"Tapi kenapa kamu harus ngajakin Yudi? Apa dia juga harus tahu kalau kamu pacaran sama mas Ferdi?"


"Apa kamu keberatan aku ikut bergabung , Del?" suara Yudi terdengar.


"Enggak, nggak sama sekali. Aku hanya ingin tahu bagaimana bisa kamu diajak bahkan datang ke sini bareng mas Ferdi."


"Bisa aja kan Del. Gampang banget itu jawabannya." Shella menjawab kali ini.


"Jadi setelah Ferdi memastikan akan datang, aku kepikiran untuk memberitahu kamu tentang hubungan kami. Kamu udah tahu kan karena aku ngubungin kamu kemarin. Nah, setelah percakapan kita berakhir tiba-tiba aja aku inget sama mr.cool yang duduk disamping kamu itu. Ku pikir pasti akan asyik kalau seandainya kita adakan double date. Aku dan Ferdi, kamu sama Yudi. Pas kan?"


"Double date? Maksud kamu?" Adelle masih bertanya.


"Iya, kita nge date bareng, markonah. Katanya pinter, tapi koq nggak ngerti-ngerti." Yudi dan Ferdi tertawa kecil mendengar pembicaraan dua orang sahabat itu.


"Maksudku, double date dari mana? Kamu dan mas Ferdi memang pacaran, tapi aku sama Yudi kan nggak pacaran." Adelle mengakhiri kalimatnya dengan semakin pelan. Sekilas dia melirik Yudi, entah apa yang ada dalam pikiran laki-laki itu saat ini.


"Kamu belum nembak Adelle? Bukannya kamu udah bilang kalau kamu akan terus terang tentang perasaan kamu ke Adelle?" Shella bertanya bertubi-tubi. Matanya mengarah pada Yudi yang terlihat kalem.


"Aku udah terus terang sama Adelle. Aku udah nembak dia Shel." ujar Yudi.


"Dan....." kali ini pandangan Shella beralih pada Adelle.


"Jangan bilang kalau kamu nolak Yudi, Del."


Adelle diam, hatinya merasa serba salah. Dia tak ingin menyakiti hati Yudi, apalagi sampai diketahui oleh orang lain.


"Adelle nggak nolak aku Shella. Hanya saja Adelle punya komitmen untuk nggak pacaran selama masih sekolah. Dia ingin konsentrasi menyelesaikan pendidikannya. Dan aku menghargai pilihannya." Suara Yudi terdengar tenang. Tak ada sama sekali rasa marah atau kecewa dalam nada bicaranya.


Adelle merasa lega karena dia tak harus menjelaskan apa yang menjadi permasalahan. Rasa kagumnya bertambah pada pria yang kini sedang menatapnya.


"Doakan aja semoga kami bisa menjaga hati dan komitmen kami hingga nanti jodoh itu datang menjemput. Dan ketika saat itu datang, aku ingin kalian berdua menjadi saksi. Seperti sekarang kami yang menjadi saksi hubungan kalian." kalimat demi kalimat diucapkan dengan penuh keyakinan oleh seorang Yudi.


"Wah hebat, ternyata kalian sudah berkomitmen untuk sampai ke arah masa depan." Ferdi membuka suara. Sementara Shella bangkit dan menghampiri sang sahabat.


"Aku salut sama komitmenmu, Del. Kudoakan semoga kalian jodoh." erat dipeluknya Adelle.


"Tolong jaga dia untukku ya Shel. Aku nggak mau kehilangan dia."


"Jadi hubungan kalian sekarang apa?" tanya Shella lagi.


"Saling menjaga aja, menjaga agar nggak berpaling, menjaga agar nggak tergoda sama yang lain, menjaga agar tetap pada jalur yang bener. Iya kan Del?" Adelle tersipu mendengar apa yang dikatakan Yudi. Tapi tak urung hatinya berbunga-bunga karena itu berarti Yudi menerima apa yang disampaikannya waktu itu.


"Oh jadi itu sebabnya kamu langsung mengiyakan ajakanku untuk bergabung dengan kami? Bahkan nggak keberatan sama sekali waktu kuminta untuk menjemput Ferdi?"


"Salah satunya itu, kenalan sama Ferdi kan bukan hanya kenalan sama pacar kamu Shel yang natabene adalah sepupunya Adelle. Yang paling penting adalah aku bisa jagain Adelle, daripada kamu ajakin orang lain bisa cemburu aku." penjelasan Yudi disambut dengan selorohan mereka bertiga. Siapa sangka sang ketua kelas yang selalu nampak percaya diri itu ternyata begitu mudah cemburu.


Pembicaaraan mereka berlanjut hingga akhirnya mereka meninggalkan restoran dan kemudian melanjutkan double date itu dengan nonton di studio 21. Sebenarnya Adelle memilih menonton film komedi yang ternyata disetujui oleh Yudi, namun pasangan yang sedang di mabuk cinta itu memilih film romantis.


Shella dan Ferdi mempersilakan mereka untuk menonton secara terpisah sesuai dengan pilihan film masing-masing yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Adelle. Bagaimanapun juga dia harus meminimalisir berduaan dengan Yudi demi kestabilitasan hati. Dan disinilah mereka, duduk menyaksikan film drama yang memang sangat sering sekali membuat dada berdebar karena ada adegan romantis. Dan penderitaan Adelle nampaknya belum berakhir sampai di situ saja. Dia juga harus menyaksikan sahabat dan abang sepupunya ikut hanyut dalam cerita yang di tonton mereka. Beberapa kali dilihatnya Shella menyandarkan kepalanya di pundak Ferdi yang bidang dan yang lebih mendebarkan adalah, dia harus duduk berdampingan dengan lelaki yang juga membuat jantungnya berdebar.


"Ya Allah, tolong jaga hati hamba. Jangan biarkan hamba hanyut" batin Adelle.


Sementara di sampingnya, Yudi merasakan hal yang sama seperti Adelle. Walau bagaimanapun dia adalah lelaki normal yang pasti akan berdesir jika melihat adegan seperti itu. Apalagi yang berada di sisinya saat ini adalah wanita yang dicintainya. Dia juga ingin merasakan seperti Ferdi minimal menggenggam jari jemari wanita yang dicintainya. Namun ia ingat akan janjinya pada Adelle, dan ia tak ingin merusak kepercayaan Adelle.


Ketika film yang berakhir bahagia itu usai, Adelle merasa sangat lega. Segera diajaknya Shella untuk keluar. Digandengnya lengan sahabatnya tanpa memperdulikan protes dari mas Ferdi. Masa bodo, biasanya juga mereka selalu berjalan bersama bahkan saat hangout bersama teman-temannya.


"Yudi, kamu bisa anterin Adelle pulang nggak? Aku sama Ferdi masih ingin jalan-jalan." tiba-tiba Shella berkata saat dirinya mengajak pulang karena memang sudah sore.


"Oke, no problem." jawab Yudi.


Oh no, Shella. Kenapa juga kalian masih lanjut jalan? Dan kenapa juga aku harus pulang sama Yudi? Adelle hanya bisa pasrah.