Adelle

Adelle
Ikhsan vs Yudi (part 2)



Entah apa yang ada dalam pikiran Adelle saat ini, dia sendiri juga ga tahu. Namun hati kecilnya mengatakan ada sesuatu yang sedikit tak biasa tentang mas Ikhsan dan Yudi. Mengapa ia merasa seperti terjepit di antara mereka berdua? Mengapa selalu ada Yudi setelah Ikhsan? Atau sebaliknya.


Adelle menarik nafas panjang, sesaat kemudian memiringkan badannya ke kanan. Matanya kembali terbuka, di tatapnya dinding kamar yang nampak remang-remang. Lampu kamar tlah lama dimatikan, bahkan Lola yang belakangan masuk kamar telah tertidur pulas. Dengkuran halusnya terdengar teratur.


"Ahhh, aku harus segera tidur. Aku harus bangun lebih awal agar bisa membantu ibu." batinnya. Dicobanya untuk memejamkan mata sekali lagi namun setelah beberapa saat tak juga berhasil. Mata itu masih tak kunjung terpejam, bahkan bayangan Ikhsan dan Yudi datang silih berganti.


"Ya Allah.....ada apa dengan diriku? Mengapa bayangan wajah mereka bergantian hadir di depan mata? Apakah alam bawah sadarku tanpa sengaja memikirkan mereka?" pertanyaan demi pertanyaan itu silih berganti hadir di kepalanya.


Perlahan dia beranjak dari kasur dan berjalan menuju ke meja belajar. Diraihnya tasbih kecil yang digantung di ujung dinding meja belajarnya serta ponsel. Dinyalakannya benda pipih yang tadi telah di non aktifkan setelah menelpon kemudian kembali berbaring.


"Semoga bisa membantuku untuk bisa tidur."


Lantunan murotal surah al-mulk terdengar sayup di malam yang telah tua. Jari-jarinya menggulirkan satu demi satu butir tasbih sembari mengucap istighfar. Entah karena lantunan ayat suci yang begitu indah terdengar atau guliran tasbih yang membuatnya tertidur. Yang pasti Adelle tak tau kapan tepatnya dia tertidur. Yang jelas ia terbangun saat mendengar suara azan dari pengeras suara di masjid.


"Ya Allah, aku kesiangan. Sudah azan." gegas ia bangun kemudian langsung menuju dapur.


"Bu, maaf Adelle bangun kesiangan jadi ga bisa bantuin ibu."


"Ga papa Del, kamu langsung sholat aja ya. Nanti bantuin ibu bersihin sisa-sisa ini ya nak."


"Iya, bu." jawabnya. "Ayah mana bu?" tanya Adelle lagi.


"Ayahmu udah pergi ke masjid." Ibu berkata sambil membawa ke ruang keluarga kue-kue yang akan diantarkan.


"Adikmu jangan lupa dibangunin ya Del. Dia itu paling susah bangun pagi. Tingkahnya kayak anak cowok aja, mirip kebo"


Adelle tersenyum mendengar apa yang diucapkan ibunya. Lola memang seperti kebo, susah dibangunkan kalau sudah tidur.


"Ia bu, nanti pasti aku bangunin. Kalau ga mempan, tar ku guyur air aja." candanya sambil melangkah menuju kamar mandi. Sudah menjadi kebiasaannya memang selalu mandi sebelum subuh. Badan akan terasa segar dan bersemangat.


Adelle baru saja keluar dari kamar mandi saat dilihatnya sang adik sudah duduk di kursi makan. Wajah bangun tidurnya nampak jelas. Kepalanya terkulai di atas meja.


"Mandi dek, biar segar badanmu."


"Males ah kak, dingin. Lagian hari ini kan hari minggu, ga perlu repot-repot mandi pagi." jawabnya asal-asalan.


"Ya udah, wudhu gih. Kita sholat berjamaah." ajak Adelle.


Lola tak menjawab namun kakinya melangkah menuju kamar mandi, bukan untuk mandi tapi sekedar menggosok gigi. Setelah itu menuju kran air tempat berwudhu. Kemudian dengan diimami oleh Ibu mereka sholat berjamaah.


______


Hari masih pagi ketika Adelle selesai beres-beres rumah. Ibu dan ayah sudah setengah jam yang lalu pergi mengantarkan kue. Biasanya ketika hari minggu atau libur sekolah, Adelle lah yang selalu mengantarkan kue namun karena hari ini dia akan pergi bersama teman-teman pemuda di lingkungan rumahnya maka ia tak bisa melakukannya.


Masih ada cukup waktu untuk menyiram bunga di halaman rumah. Ba'da subuh tadi mas Ikhsan mengirim pesan yang mengatakan jika ia tak perlu berkumpul di rumahnya karena nanti dia sendirilah yang akan menjemput ke rumah. Adelle hanya perlu bersiap dan menunggu manis di rumah.


Ember yang berisi air dibawanya menuju halaman depan. Tak banyak bunga yang ditanam, jadi seember saja sudah cukup. Teringat akan tanaman yang ada di rumah bu RT yang tak lain adalah ibunya mas Ikhsan. Begitu banyak tanaman yang harus di siram setiap hari sehingga pilihan menggunakan selang air adalah pilihan yang tepat.


"Dek, dek..." Adelle memanggil adiknya namun tak juga terdengar jawaban.


"Dek, Lola......" kali ini nada suaranya sedikit lebih keras.


"Ada apa sih kak koq teriak-teriak gitu?" yang di panggil muncul dengan mulut yang masih berisi. Di tangannya sepiring mi goreng nampak masih mengepulkan asap panas.


"Maaf, kakak ga tahu kalau kamu sedang makan. Ya udah lanjutin aja makannya. Kakak ambil sendiri aja." Adelle kemudian masuk dan mengambil sebilah gunting dari dapur.


"Untuk apa guntingnya kak?" tanya Lola.


"Memotong daun-daun dan ranting yang mati. Kasihan, kayak ga terurus tanaman-tanaman itu. Rasanya berdosa kakak sama mereka semua."


"Yah kakak, sama tanaman aja ngerasa berdosa."


"Ya iya lah. Menanam tapi tidak di rawat itu namanya kita zolim. Kakak ingin rumah kita nampak indah dengan adanya bunga-bunga tapi terkadang lupa untuk menyiram dan merawatnya." ia terdiam sesaat. "Apa kakak kasihkan ke orang aja ya untuk di rawat?" sambungnya kemudian.


" Yeee jangan dong kak." sambar Lola cepat.


"Tar rumah kita jadi nampak gersang, ga ada bunga-bunga sama sekali."


"Kalau gitu, kamu bantuin kakak menyiram ya."


Sesaat Lola terdiam namun kemudian kepalanya mengangguk perlahan.


"Iya deh, mudah-mudahan aja ga lupa" katanya sambil tersenyum lucu.


Adelle hanya melihat adik kecilnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia tahu apa arti dari ucapan, senyum dan tatapan mata tadi. Artinya.......kemungkinan besar ia pasti lupa.


Setelah memangkas daun-daun yang kuning serta beberapa ranting yang juga telah mati, Adelle bergegas masuk. Jam di pergelangan tangannya sudah bergeser mendekati waktu mereka harus pergi. Tak banyak persiapan yang harus dilakukannya. Dirinya bukan orang yang ribet dalam berpakaian. Dan hari ini dia hanya akan menggunakan tunik berbahan kaos warna biru muda dan celana kulot berbahan denim serta jilbab warna setingkat lebih tua warnanya dari tunik. Dan wajah ayunya hanya di sapu dengan bedak bayi. Tak ada lipstik atau liptink yang dioleskan di bibir merah mudanya.


Sembari menunggu jemputan, Adelle mengambil ponsel diatas meja belajarnya. Baru saja akan membuka laman salah satu universitas negeri dikotanya, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Nama Yudi tertera di layar.


"Assalamualaikum, Del."


"Waalaikum salam."


"Del, udah bangun tidur?" tanya Yudi.


"Ya udah lah, masa iya jam segini belum bangun."


"Ya kali aja tadi malam ngeronda, jadinya jam segini tidur lagi." canda Yudi.


"Emang aku pak hansip yang ngeronda kampung."


Tawa keras terdengar dari seberang.


"Emang zaman sekarang masih ada hansip, Del?" tanya Yudi lagi.


"Prasaan udah ga pernah lihat deh. Adanya juga satpol PP. Bener ga?"


"Iya juga ya Yud." Adelle membenarkan apa yang diucapkan Yudi.


Percakapan dan candaan diantara mereka mengalir lancar. Sesekali terdengar tawa yang lumayan keras di gendang telinga Adelle. Wajahnya dihiasi rona bahagia. Selalu nyaman rasanya jika bercengkrama seperti ini, namun baru saja akan melanjutkan tiba-tiba


"Kak, udah di jemput tuh. Buruan keluar, kasihan mas Ikhsan nungguin." itu suara Lola.


"Iya, kakak keluar sekarang." jawabnya.


"Yud, sorry ya lain kali kita sambung lagi. Aku harus pergi. Teman-temanku udah datang." Adelle memutuskan pembicaraan mereka.


"Oke, hati-hati ya Del. Assalamualaikum"


Begitu hanyutnya Yudi dengan pikirannya tentang siapa lelaki yang menjemput Adelle hingga dia sama sekali tidak sadar kalau panggilan telpon sudah berakhir. Bahkan salam yang diucapkan Adelle pun tak dibalasnya.


______


Adelle dan teman-temannya merasa sangat bahagia karena di undang menghadiri pameran hasil inovasi karya para pemuda. Kagum dan bangga karena ternyata masih banyak pemuda yang berhasil membuat inovasi baru dan tentu saja bermanfaat bagi orang banyak.


Ada banyak inovasi yang di pamerkan. Dari mulai bidang tehnologi di bidang komputer, pertanian, kuliner, hingga otomotif.


Adelle begitu menikmati penampilan sekelompok anak muda yang dengan usaha mandiri mereka bisa merintis usaha kuliner dari bahan makanan yang yang bisa didapatkan dengan mudah di sekitar kita. Mereka berhasil mengolah bahan ubi kayu dan ketela menjadi kuliner yang lezat. Bahan makanan yang terdengar kampungan itu mampu mereka olah dan disajikan dalam bentuk dan rasa kekinian.


Hasil kerja keras pemuda yang rata-rata adalah mahasiswa dan juga pengangguran itu berbuah manis. Usaha yang mulanya hanya home industry sekarang sudah berkembang pesat. Produk yang tadinya hanya dipasarkan via media sosial dan dari mulut ke mulut kini telah mempunyai beberapa outlet.


"Semoga kelak aku bisa punya usaha seperti mereka." batin Adelle. Dia membayangkan jika kelak usaha kue buatan ibunya bisa berkembang dan mempunyai outlet sendiri sehingga ibunya tak perlu lagi bersusah payah untuk mengantar.


Sementara di sudut yang lain, Ikhsan mengamati dan mendengarkan dengan seksama penjelasan tentang pengolahan sampah rumah tangga. Hal itu memang sesuai dengan rencananya dan teman-teman pemuda kampung yang berniat untuk mengolah sampah yang ada di lingkungan mereka menjadi sesuatu yang bermanfaat.


Matanya melihat proses pengolahan sampah organik sehingga menjadi pupuk, baik pupuk kering maupun pupuk cair. Matanya bercahaya, dia seperti anak kecil yang menemukan mainan yang dicarinya.


"Mas, sepertinya tertarik ya sama tehnologi ini?" tanya salah satu mereka.


"Oh, iya. Saya memang sangat tertarik dengan pengolahan sampah rumah tangga." Ikhsan menjawab cepat.


"Kalau mas nya memang tertarik, nanti bisa kita bantu bagaimana caranya. Apa sudah tau prosedurnya mas?"


"Belum mas. Saya sudah pernah mendengar dan melihat hanya lewat media masa. Kalau melihat langsung baru kali ini."


"Baik mas. Nanti kita bantu mulai dari awal ya. Supaya nanti bisa lebih jelas lagi, silakan mas datang ke lokasi kita. Ini kartu nama saya." Lelaki muda itu menberikan sebuah kartu nama kepada Ikhsan.


"Terima kasih banyak mas. Senang bisa bertemu dengan anda."


Ikhsan melangkah meninggalkan pojok tehnologi pengolahan sampah rumah tangga. Matanya mencari keberadaan teman-temannya. Tak jauh dari pintu masuk, dia melihat gadis yang tadi pergi bersamanya sedang berbicara dengan seorang lelaki yang seumuran dengan gadis itu.


Keduanya nampak sangat akrab. Bahkan bahasa tubuh mereka sama sekali tidak menampakkan kecanggungan ketika berbicara. Ikhsan yakin mereka bukan baru kenal saat itu.


Entah kapan kakinya melangkah mendekati keduanya, ketika sadar dirinya sudah berada di hadapan Adelle.


"Del, yang lain mana?" tanya Ikhsan yang membuat kedua remaja berlainan jenis itu menoleh bersamaan.


"Eh mas Ikhsan. Tadi masih di pojok tehnologi mas." Adelle menjawab. Sementara lelaki dihadapannya ikut menatap.


"Oh ya mas, kenalkan ini Yudi teman sekolah saya." Adelle memperkenalkan mereka. "Yud, kenalkan ini mas Ikhsan. Ketua pemuda di kampung kami." sambungnya lagi.


Kedua lelaki yang sama-sama menaruh hati kepada perempuan yang sama yang ada dihadapan mereka saling berjabatan tangan. Entah apa yang ada dalam hati mereka, hanya mereka dan Allah lah yang tahu.


Adelle merasa berada di posisi yang ackward, berada di antara dua orang lelaki yang telah membuat tidurnya tadi malam terganggu. Entah apa maksud Allah mengirimkan Yudi yang ikut menemani sang papa pada kegiatan ini. Dan mengapa pula mereka harus bertemu secara bersamaan seperti ini.


"Mas Ikhsan tadi lihat apa di sana?" tanya Adelle memecah kecanggungan di antara mereka.


"Itu tadi aku lihat tehnologi pengolahan sampah rumah tangga, Del. Kebetulan memang kita berencana ingin membuat proyek pengolahan sampah itu. Kamu dengarkan apa yang aku bicarakan tadi malam sama ayahmu?"


"Iya, mas. Jadi kapan kira-kira akan di mulai?"


"Aku masih harus mempelajari lagi. Kebetulan tadi mereka berjanji mau membantu. Dan rencananya nanti aku akan mengajak beberapa orang yang terlibat dalam proyek itu untuk berkunjung ke tempat mereka."


"Syukur deh mas. Jadinya mas Ikhsan sudah punya gambaran tentang bagaimana pengolahan sampahnya."


Pembicaraan mereka terputus saat teman-teman yang lain datang bergabung bersama.


"Kalian ke mana aja sih? Di cari juga dari tadi."


"Kita ya lihat-lihat donk. Masa iya datang ke sini hanya ngobrol doang."


"Mas-mas semua, kenalkan ini temanku Yudi. Yud, ini yang tadi bareng sama aku datang ke sini." jelas Adelle pada Yudi.


Mereka saling memperkenalkan diri. Tak lama ponsel Yudi berdering.


"Maaf, sebentar saya terima telpon dulu." Yudi pamit pada mereka semua.


"Aku di dekat pintu masuk Pa. Kebetulan ketemu sama Adelle tadi." jelas Yudi pada orang yang menelpon. Tak lama panggilan itu pun berakhir.


"Mas, aku rasa udah cukup kita di sini. Pulang yuk, udah siang nih. Laper"


"Yang lain bagaimana? Udah cukup belum lihat-lihatnya?" tanya Ikhsan.


"Udah mas, pulang aja yuk." sambung yang lain.


Baru saja mereka akan berpamitan pada Yudi ketika sesosok lelaki yang Adelle kenal sebagai om Gun, papanya Yudi datang menghampiri mereka.


"Halo, Adelle. Apa kabar? Di undang juga?" sapa ramah lelaki yang masih nampak tampan di usia matangnya.


"Iya, om. Kebetulan bareng teman-teman." Adelle menyalami lelaki yang baru saja menyapanya.


"Oh ini teman-teman kamu?" Om Gun tersenyum dan kemudian menjabat tangan kelima teman Adelle.


"Sudah lama di sini?"


"Sudah om, kita malah udah mau pulang. Nih anak-anak pada kelaparan." jelas Ikhsan.


"Oh jadi udah mau pulang. Kebetulan kalau begitu, om juga sudah mau pulang." Om Gun menatap Adelle kemudian berkata,


"Del, kamu pulangnya bareng Om sama Yudi aja ya. Nanti om antar kamu pulang."


Adelle terkejut tak menyangka akan mendengar tawaran itu.


"Ya Allah....apa lagi ini? Aku harus bagaimana?" batinnya.


Om Gun yang melihat keraguan di mata Adelle kemudian mengalihkan pandangan matanya pada lima orang yang juga sama-sama tak berharap akan mendengar hal itu. Terutama Ikhsan


"Ga papa kan ya om pinjem Adelle. Kalian pulang aja dulu, nanti Adelle biar Yudi yang antar pulang." Yudi diam tak bereaksi mendengar kalimat sang papa. Namun hatinya senang karena itu artinya dia punya peluang untuk bersama Adelle.


"Ya Allah, dengan siapa aku harus pulang?" batinya


_____


Akhirnya update lagi.


terima kasih yang sudah sudi mampir. Mohon komentarnya ya