
Hari masih pagi, matahari bersinar dengan cerah. Adelle baru saja pulang dari mengantar kue pesanan salah seorang langganan ibu yang jarak rumahnya lumayan jauh. Sejak tak lagi sekolah memang Adelle mengambil alih tugas ibu untuk mengantarkan pesan yang jaraknya jauh. Ia tak ingin ibu yang telah kelelahan setelah membuat kue harus mengantar lagi pesanan. Itulah sebabnya Adelle berniat menabung agar bisa menyewa sebuah kios untuk usaha kuliner sang ibu.
"Del, udah pulang kamu?" tanya ibu yang muncul dari dapur.
"Baru aja bu. Ini uangnya." Adelle menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah kepada sang ibu.
Ibu menerima uang yang diberikan oleh Adelle, menghitungnya dan kemudian menyerahkan selembar uang kepada Adelle.
"Ini untuk ngisi bensin dan jajan kamu."
"Aku kemarin baru aja ngisi bensin bu, jadi masih banyak. Jadi aku nggak perlu uang lagi." Adelle menolak uang yang diberikan Ibu.
"Ambillah nak, siapa tahu kamu nanti perlu sesuatu jadi nggak perlu lagi minta sama ibu. Lagian setelah kamu ujian, kamu nggak pernah minta uang jajan sama ibu. Seandainya kamu belum butuh sekarang, setidaknya kamu bisa menabung untuk kebutuhan kamu nanti."
Mau tak mau Adelle menerima uang yang diberikan ibu. Lumayan untuk menambah uang tabungannya.
"Kapan pengumuman masuk perguruan tinggi, Del?" Ibu bertanya sambil menatap putrinya yang sedang menuju ke dapur. Adelle menghentikan langkah kakinya dan berbalik menghadap ke arah Ibu.
"Besok bu, kalu tidak salah." jawab Adelle.
"Semoga kamu bisa diterima lewat jalur yang tanpa tes ya, Del."
"Aamiin.... Mudah-mudahan aja ya bu. Aku juga berharap gitu." Adelle mengaminkan doa sang Ibu.
"Shella mau kuliah di mana?" tanya ibu lagi.
"Dia masih galau bu, belum bisa memutuskan bakal kuliah di mana. Kadang bilangnya di sini, kadang juga mau ke luar. Bukan hanya luar kota bu, tapi luar negeri." jawab Adelle.
"Jauh amat ya mau kuliah di luar negeri."
"Mau belajar bisnis bu, untuk menggantikan posisi papanya. Namanya juga anak semata wayang jadi ya tanggung jawab larinya ya ke Shella bu." Adelle menjelaskan lagi.
"Kalau Yudhi bagaimana? Apa dia juga akan kuliah di luar?"
"Ibu kayak polisi aja, nanya temen-temenku satu per satu. Sedang introgasi bu?" tanya Adelle sambil tertawa. Ibu juga ikut tertawa mendengar perkataan Adelle.
"Ibu hanya ingin tahu nak, mereka kan kawan deket kamu. Sering sama-sama kamu."
"Iya, ngerti. Bercanda bu." Adelle mendekati ibu dan duduk diamapingnya.
"Yudi pilihannya kalau nggak salah di Bandung dan mana ya? Jakarta atau Jogja aku lupa deh bu. Nah kalau Tri, dia akan ikut pamannya yang punya usaha perkebunan. Jadi dia di minta untuk membantu mengelola perkebunan tersebut karena anak-anak pamannya masih pada kecil."
"Jadi nanti kalian pada mencar? Nggak ada yang kuliah 1 kota?" tanya ibu lagi.
"Ya belum tahu bu, tergantung keadaan. Tapi sepertinya kami memang nggak bakalan ada yang kuliah di kota yang sama deh." Adelle terdengar melow saat mengatakan hal itu. Terbayang olehnya berpisah dari sahabat-sahabat yang telah menemani hari-harinya selama 3 tahun.
"Jangan sedih donk, Del. Kalian kan masih bisa berhubungan lewat telepon atau bertemu saat liburan." Ibu mencoba menghibur anaknya.
"Iya sih bu, aku ngerti. Tapi aku akan sangat kehilangan mereka, terutama Shella. Dia sahabat terbaik aku selama ini."
Ibu merangkul bahu Adelle. Ia tahu bagaimana eratnya persahabatan keduanya. Hubungan mereka sudah seperti saudara, tak ada yang disembunyikan diantara mereka.
"Udah, jangan sedih terus. Yuk, kita masak supaya nanti kalau ayah dan adikmu pulang semua sudah siap." Ibu melepas rangkulannya dan beranjak mengajak Adelle ke dapur.
Adelle berdiri dan mengikuti langkah sang ibu. Di atas meja dapur dilihatnya ada sekantong plastik belanja yang berisi macam-macam barang. Dikeluarkan satu per satu isinya. Ada ikan, sayur bayam, cabe, tomat, tahu dan tempe. Tanpa menunggu perintah Adelle sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Diambilnya beberapa wadah untuk menyimpan belanjaan yang baru saja dikeluarkannya.
"Biar ibu saja yang membersihkan ikannya, Del. Kamu siangi sayur dan potong-potong tahu dan tempe aja ya." Ibu mengambil kantong hitam berisi ikan dan membawanya pergi.
Adelle melakukan apa yang diperintahkan ibu. Sayur bayam yang nampak segar itu dengan segera disiangi dan dimasukkan kedalam wadah yang telah disediakannya. Kemudian tahu tempe pun di potong-potong, setelah itu bumbu untuk menggoreng ikan dan tempe pun telah disiapkannya. Kedua ibu dan anak itu bekerja sama menyiapkan makanan untuk seluruh anggota keluarga. Sekitar 1 jam kemudian semuanya sudah siap tersaji di atas meja.
_______
Adelle baru saja selesai mandi saat ponsel di atas meja belajarnya berdering nyaring. Nama Shella, sang sahabat karibnya tertulis di sana. Sore ini Shella mengajaknya ke luar untuk hang out. 2 minggu pertama tanpa ada kegiatan tadinya memang menyenangkan. Bisa bangun siang, tak yang perlu memikirkan tugas atau pekerjaan rumah maupun ulangan. Namun lama kelamaan, rasa bosan mulai hadir di dalam hati. Seharian berada di rumah yang dulunya begitu diharapkan, kini berubah menjadi sesuatu yang membosankan. Dia bahkan kini merindukan suasana sekolah yang penuh hiruk pikuk ketika bel istirahat atau pulang berbunyi. Merindukan saat berlari sepanjang koridor kelas karena datang terlambat dan merindukan nasehat darinpara guru saat melakukan kesalahan. Dan yang paling dirindukannya adalah kebersamaan dengan teman-teman karibnya. Adelle, Yudhi dan Tri. Rindu jalan ke kantin, mencontek saat ulangan atau lupa mengerjakan PR.
Dering ponselnýa kembali terdengar dan dengan segera ditekannya tombol hijau
"Assalamualiakum... Ya, Shel. Maaf aku baru selesai mandi jadi baru bisa jawab panggilanmu." Adelle langsung menjelaskan sebelum suara dari seberang sana naik beberapa oktaf karena dirinya tak kunjung menjawab panggilannya.
"Buruan ya, Del. Aku udah diperjalanan, palingan 5 menit lagi nyampe rumah kamu."
"Wokeh, aku nggak lama koq, kan nggak dandan juga." Adelle menutup ponselnya setelah mengucapkan salam.
Segera diambilnya tunik berwarna kuning kentang dan dipadukan dengan rok jeans serta jilbab berwarna senada dengan tunik. Tak butuh waktu lama bagi Adelle untuk bersiap, dia hanya perlu memoleskan bedak bayi di wajahnya. Tak ada pelembab dan lipstik yang menghiasi wajah ayunya. Setelah siap, diambilnya tas kecil yang biasa digunakan saat jalan-jalan kemudian melangkah keluar kamar menanti kedatangan sang sahabat.
Lima menit yang dijanjikan Shella sudah lewat beberapa waktu yang lalu. Namun wajah cantik itu belum juga nampak dihadapannya. Adelle memalingkan wajahnya ke arah pintu, berharap agar gadis cantik berlesung pipi yang selalu menemani hari-harinya di sekolah akan segera hadir di sana. Namun sekali lagi wajah yang diharapkannya belum juga datang.
Sepuluh menit kemudian deru suara mesin mobil memasuki pekarangan rumahnya. Bergegas Adelle bangkit dan menuju ke teras rumahnya. Senyum diwajahnya berubah menjadi kaget saat dilihatnya yang datang bukan hanya Shella namun juga ada Yudi dan Tri.
"Surprise....." Shella membentangkan tangannya bak seorang pembawa acara yang berhasil membuat shock targetnya. Adelle benar-benar terkejut karena tadi Shella sama sekali tidak mengatakan bahwa akan datang bersama Yudi dan Tri.
"Koq bisa?" hanya itu yang keluar dari mulut Adelle.
Shella dan Tri nampak sangat puas karena berhasil memberikan kejutan pada Adelle. Keduanya tertawa lepas melihat Adelle yang terbengong-bengong melihat kehadiran mereka. Sementara Yudi hanya tersenyum melihat gadis yang selalu dirindukannya. Sejak setelah ujian, ini kali pertama dia bertemu dengan gadis yang selalu mengusik hatinya.
"Apa kabar guys? Duh rasanya udah tahunan deh nggak ketemu sama kalian semua. Kangen banget aku." Adelle merentangkan tangannya memeluk Shella. Tri yang berada tak jauh dari Adelle ikut merentangkan tangannya seolah ingin ikut memeluk Adelle. Tentu saja hal itu mendapat hadiah jitakan dari Yudi.
"Nggak kangen Yud? Nggak pengen dapat pelukan juga kayak Shella?" Tri sengaja menggoda Yudi yang terus menatap setiap gerak-gerik Adelle.
"Kamu ngajak brantem deh Tri." Yudi menatap sahabat yang hanya tersenyum mesam mesem padanya.
"Hai, Del. Apa kabar?" Yudi bertanya pada Adelle yang langsung mendapat cie cie dari kedua sahabatnya.
"Giliran ketemu Adelle aja nanyain kabar. Tadi ketemu kita nggak ada nanyain kabar ya Shell." Tri memanas-manasi suasana.
"Kalau kamu sih nggak perlu ditanya kabarnya. Tiap hari juga nongol di rumahnya Yudi. Nah aku...? Sama-sama baru ketemu hari ini, boro-boro di tanya kabar, di sapa aja nggak. Lagian bukannya tiap hari kita ngobrol di grup ya? Kan tahu tuh gemana kabar Adelle."
Serempak mereka semua tertawa, walau merasa tersindir oleh gurauan Shella namun Yudi sama sekali tidak berusaha untuk bertanya kabar padanya. Ia tahu, teman-temannya hanya menyindir kebucinannya pada Adelle.
"Udah ah, katanya mau hang out. Jadi nggak? Atau mau ngobrol di rumahku aja?" Adelle bertanya untuk mengalihkan rasa absurb di hati.
"Kita sih jadi donk, bener nggak Shel? Entah kalau Yudi. Kali aja begitu ketemu kamu niatnya nggak mau hang out, tapi mau ngobrol sama ayah aja hahahahahhaha." tawa Tri di sambut dengan tawa Shella membuat wajah Yudi dan Adelle memerah.
"Ayo kita berangkat, ngorolnya sambil jalan aja." Yudi mengambil keputusan sebelum kedua temannya kembali mengolok-olok dirinya.
"Cowok di depan, kita cewek di belakang." Shella memberi komando ketika Tri berniat untuk mengambil tempat duduk di belakang kemudi.
"Kamu koq tega sih Shel, kasi kesempatan donk mereka berdua untuk deket." kali ini Tri membuka suara.
"Kamu Tri, bilang aja kamu mau deket-deket sama Shella. Malah nyari alasan aku lagi."
"Nggak, pokoknya cowok di depan. Aku mau cerita-cerita sama Adelle. Udah lama aku nggak duduk bareng." Shella tak mau mengalah. Terpaksa Tri memutar dan mengambil posisi disebelah Yudhi.
Seorang pelayan membawakan pesanan mereka, minuman dan juga kudapan. Dan seperti ketika di dalam mobil tadi Shella duduk di samping Adelle. Yudi dan Tri duduk tepat di depan mereka. Percakapan, canda dan tawa mengalir di antara mereka. Sesekali terdengar gelak tawa ketiga sahabat melihat kekonyolan sikap Tri atau dia yang tak tahu malu menghabiskan minuman Yudi.
Tak terasa waktu terus berbulir, matahari yang tadi masih terasa sinarnya kini semakin redup. Yudi melirik jam tangannya, pukul 17.20.
"Udah hampir magrib nih, yuk kita cabut. Sholat dulu di masjid agung baru kita ke mall." Yudi berdiri dan memberi komando pada kawan-kawannya. Serempak ketiganya bangkit mengikuti langkah sang ketua geng.
Mereka memang sudah mengatur rencana, setelah dari kafe mereka akan sholat magrib kemudian pergi ke mall untuk menonton sebuah film yang sedang booming di studio 21. Namun sebelumnya mereka akan makan malam terlebih dahulu. Tak seperti remaja kebanyakan yang senang menonton film yang di putar tengah malam, keempat remaja ini memilih nonton pada awal malam. Semuanya dilakukan karena mereka tahu jika di rumah Adelle ada aturan yang menyatakan bahwa sebaiknya paling lambat pukul 9 sudah harus di sekolah. Namun tadi mereka sudah meminta ijin pada ayah kalau akan pulang sebelum pukul 10.
Jamaah masjid agung sudah ramai, keempat remaja menuju tempat berwudhu. Beberapa menit kemudian suasana khusuk terasa meliputi masjid agung, alunan suara imam yang begitu merdu dan khusuk memenuhi relung hati. Berpasrah kepada Sang Khalik, pemilik dunia dan seisinya.
_____
Jamaah masjid agung sudah mulai meninggalkan masjid berwarna putih yang nampak gagah. Adelle dan Shella melangkahkan kaki menuju halaman di mana mobil mereka di parkir. Yudi dan Tri nampak telah menunggu. Sisa-sisa air wudhu masih nampak di wajah kedua pemuda tanggung itu.
"Panjang amat yah doanya sampe telat keluar." candaan Tri menyambut keduanya.
Adelle hanya tersenyum sementara Shella menoyor kepala Tri.
"Kamu begitu imam salam langsung bubar, nah kalau Adelle masih sholat sunat lagi makanya lama."
"Udah jangan diperpanjang, ayo lanjut lagi perjalanan kita. Sekarang tujuan kita ke mana nih?" Adelle bertanya.
"Kita cari makan dulu sebelum nonton supaya nanti konsen dan nggak salah sasaran." Tri membuka suara.
"Setuju, makan dulu baru nonton. Nggak usah window shopping deh. Males, mending ngobrol aja lebih asyik." Shella memberi pendapat.
"Oke, kita makan setelah itu baru nonton." Yudi memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Mau makan di mana?" tanyanya lagi.
"Yudi ngapain main ponsel sih? Bukannya kita udah buat peraturan saat berkumpul gini nggak boleh ada yang menggunakan ponsel kecuali sangat penting." Tri mengajukan protes.
Yudi nampak tak nyaman dengan dengan apa yang baru saja dilakukannya. Memang peraturan tentang ponsel itu adalah kesepakatan mereka bersama.
"Maaf, tadi ada yang penting makanya kirim pesan. Tapi itu juga hanya sebentar dan nggak saat kita bersama. Yuk kita cari tempat makan dulu."
Kembali mobil hitam metalik itu meluncur membelah jalanan kota. Lalu lintas terlihat agak lengang karena masih suasana magrib. Sebentar lagi jalanan ini akan padat dengan lalu lintas kendaraan.
"Kita makan di mana? Del, kamu mau makan apa?" tanya Yudi sambil melihat lewat kaca spion yang ada di depannya yang langsung mendapat hadiah deheman dari Shella dan Tri
"Kita nggak ditanyain nih mau makan apa? Hanya Adelle aja nih yang ditanyain?" rajuk Shella yang diiyakan oleh Tri.
"Kalian apaan sih?"Adelle menahan malu, untung saja lampu mobil tidak dinyalakan sehingga yang lain tak bisa melihat pipinya yang memerah menahan malu.
"Shel, Tri mau makan dimana?" kali ini Yudi bertanya lagi.
"Tadi nanya sama Adelle lembut banget deh, kenapa giliran nanya kita kayak nggak ikhlas gitu ya Shel?" lagi-lagi Tri mengompori Shella.
"Iya, agak ketus gitu ya? Nasib-nasib jadi dayang...." Shella menambah panjang drama bullying.
"Kamu mau makan apa Shel? Yang merakyat aja ya biar enak kalau kumat gilanya. Kalau di restauran atau mall aku nggak suka kalau agak ribut aja seolah kita melakukan dosa apa gitu, pada ngeliatin."
"Kamu kumat gila maksudnya Tri?" tanya Shella yang disambut tawa Adelle dan Shella bersamaan.
"Iya, aku ikut aja. Lesehan mas joko aja yuk. Menunya beragam, tempatnya nyaman dan bersih. Lagian dah lama juga kita nggak pernah mampir ke sana."
Ketiga penumpang mobil itu menyetujui saran Yudi. Terbayang sudah aneka sajian yang bisa disantap di tenda lesehan milik mas Joko. Tanpa menunggu lama Yudi melajukan kendaraannya ke arah yang dituju. Tak sampai 15 menit mereka sudah duduk dengan manis menunggu hidangan yang telah di pesan.
Candaan diantara mereka kembali mengalir, ada-ada saja sumber gurauan yang membuat suasana menjadi pecah. Bahkan mas Joko pemilik lesehan juga ikut tertawa mendengarnya. Suasana berubah tenang sesaat setelah pesanan mereka datang. Yudi sang ketua kelas sering mengingatkan mereka agar tidak bercanda saat makan.
______
Agenda terakhir malam itu adalah nonton film bioskop. Film komedi menjadi pilihan, alasannya simple agar nggak baper. Dan sepanjang durasi film di putar, suara tawa selalu terdengar diantara mereka. Sepertinya mereka begitu menikmati jalan cerita yang memang mengocok isi perut, begitu pula para penonton yang lain. Bahkan saat di perjalanan pulang pun mereka masih membahas tentang kelucuan film tadi.
Yang pertama diantar pulang tentu saja Adelle. Jam telah menunjukkan pukul 21.30 saat mereka memasuki halaman rumah. Ayah masih duduk di teras rumah dengan alasan kegerahan. Tapi Adelle tahu bukan itu alasan yang sebenarnya. Ayah tak pernah duduk di teras jika tidak ada alasan tertentu. Dan Adelle yakin malam ini Ayah duduk di teras karena menunggu kedatangannya.
Setelah berpamitan pada Ayah, Yudi, Shella dan Tri melanjutkan perjalanan mereka. Adelle menyalami tangan ayah dan kemudian masuk ke dalam kamar. Ibu dan Lola sudah tak terlihat lagi. Setelah mengganti pakaiannya, Adelle menuju ke belakang untuk berwudhu. Dia belum sholat isya, tadi film mulai pukul 7 belum masuk waktu sholat isya.
Adelle keluar kamar sembari membawa botol minuman yang memang selalu ada di dalam kamarnya. Setelah mengisi penuh dengan air, ia kembali masuk ke kamarnya.
"Ayah belum tidur?" tanya Adelle.
"Belum nak, Ayah mau nonton sebentar. Mata ayah belum ngantuk."
"Apa karena ayah nungguin aku pulang makanya nggak bisa tidur?" tanya Adelle lagi.
"Nggak lah Del, ini kan juga masih belum terlalu malam. Paling sebentar lagi ayah juga ngantuk dan tidur. Sana kamu masuk, jangan mentang-mentang udah nggak sekolah kamu trus tidur malem-malem."
"Nggak, yah. Sebentar lagi aku juga mau tidur. Kan besok harus bangun subuh bantuin ibu. Aku masuk dulu ya, yah." Adelle mencium pipi sang ayah kemudian masuk ke kamarnya.
Adelle meletakkan botol minuman di samping tempat tidurnya kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Selama mereka pergi tadi, tak sekalipun ia membuka ponselnya. Selain karena aturan grup mereka, ia juga memang tak mendengar bunyi nada panggilan dari ponselnya.
"Guys, thank you untuk kebersamaannya hari ini yah. Aku seneng bangets." itu chat pembuka dari Shella baru saja. Belum ada komentar dari Yudi dan Tri.
"Aku juga happy bangets Shel. Thanks 4 2day." balas Adelle.
Adelle menutup chat grup mereka. Shella belum merespon lagi. Mungkin ia sedang memberi laporan kepada sang kekasih setelah setengah hari di tinggal tanpa kabar. Ada beberapa percakapan masuk ke ponselnya. Ada ibu yang bertanya jam berapa pulang. Ada juga percakapan dari beberapa grup yang ia ikuti dan... Mata Adelle sedikit membesar saat melihat siapa yang mengirim pesan. Yudi....
Dibukanya dan di bacanya satu per satu pesan dari lelaki yang ia tahu betul sering mencuri pandang ke arahnya saat mereka bersama sepanjang sore hingga malam tadi.
"Assalamualaikum, apa kabar sayang?" berdebar jantung Adelle saat membacanya. Pukul 15.00 saat pesan itu di kirim, itu artinya sebelum mereka pergi. Sejak kapan Yudi menggunakan kata sayang?
"Aku kangen, 2 minggu nggak ketemu kamu. Hari ini rinduku akan terbayar." itu pukul 15.05.
"Kamu makin cantik. Aku suka penampilanmu hari ini." itu pasti di kirim saat mereka tiba di rumah Adelle.
"Wajahmu semakin cantik saat dibasuh wudhu" oh, Ya Allah.... Kapan Yudi sempat menulis pesan ini? Jangan-jangan ketika di tegur oleh Tri di halaman parkir masjid. Dan baru saja Adelle keluar dari percakapan yang di kirim Yudi, sebuah pesan baru masuk.
"Selamat tidur bidadariku, semoga mimpi indah. Nggak usah dibales pesanku. Di baca aja." Adelle memerah pipinya membaca pesan terakhir Yudi. Yudi koq tiba-tiba jadi romantis gini bahasanya? Segera diketiknya balasan saat di lihat Yudi masih online.
"Kamu juga, semoga mimpi indah. Pelanggaran aturan grup harus di denda, harus dilaporkan sama Shella dan Tri."
Balasan segera datang setelah Adelle mengirim pesan itu.
"Laporin aja, supaya mereka tahu apa yang ku kirim padamu." balasan Yudi yang diikuti dengan emotikon mengedipkan mata. Adelle diam, tak tahu harus membalas apa. Ia juga tak bermaksud untuk benar-benar melaporkan apa yang dilakukan Yudi.
"Udah malem, Del. Tidur gih. Besok kamu harus bangun awal bantuin ibu kan. Nite sweety." pesan kembali di kirim Yudi.
"Nite Yud, and thanks." Adelle menutup pembicaraan kemudian meletakkan kembali ponselnya di nakas. Ia tak ingin memikirkan tentang Yudi lagi, ia tak ingin menduga-duga mengapa Yudi seromantis itu. Yang ingin dilakukannya sekarang hanya tidur agar besok tidak kesiangan membantu ibu.