Adelle

Adelle
Lelaki tua penambal ban



Panas matahari terasa begitu menyengat hingga ke dalam tulang. Walaupun waktu telah menunjuk ke angka empat. Adelle mengusap keringat yang membasahi keningnya. Sekujur tubuhnya pun telah basah. Diteguknya sisa air minum yang selalu dibawanya di dalam tas.


"Hufff....." ditariknya nafas dalam-dalam.


Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba menemukan keberadaan bengkel atau tukang tambal ban. Kembali dituntunnya sepeda motor yang setia menemaninya kemanapun selama beberapa tahun belakangan ini.


Wajah kuyunya menjadi sedikit bersemangat saat matanya melihat tulisan tambal ban beberapa meter di depan. Langkahnya semakin dipercepat agar bisa segera tiba di sana. Kaki dan tangannya sudah terasa lelah karena menuntun motor matic putih lebih dari lima belas menit.


"Alhamdulillah, akhirnya aku ketemu tempat tambal ban." Adelle duduk di kursi plastik yang tersedia setelah menyerahkan motornya kepada bapak tua seusia ayahnya.


"Baru pulang sekolah nak?" tanya si bapak.


"Iya pak." jawab Adelle singkat.


"Sore ya pulangnya" suara sang bapak lagi.


"Iya pak, sekarang full day school, jadi pulangnya sore."


"Dari mana tadi ban motornya ketahuan bocor?"


"Dari belokan setelah lampu merah pak." jujur saja sebenarnya Adelle sedikit malas untuk menjawab pertanyaan bapak penambal ban karena ia merasa sangat lelah, namun dia juga tak tega untuk membiarkan beliau berbicara sendiri. Dia ingat pesan ayahnya agar selalu menghormati orang lain terlebih orang yang lebih tua.


"Wah jauh juga, anak pasti capek menuntun motor dalam keadaan ban bocor." sesaat sang bapak masuk ke dalam ruangan kecil di belakang pembatas antara tempat untuk menambal ban. Ketika keluar, tangannya membawa beberapa minuman mineral dingin yang tentu saja mengggoda untuk di teguk di cuaca yang sangat panas.


"Silakan nak, di minum sambil nunggu ban nya bapak tangani."


Adelle mengucap syukur karena telah berhenti di tempat yang benar.


"Terima kasih pak."


Perlahan diteguknya sedikit demi sedikit air di gelas plastik. Rasa dingin dan segar mengalir di tenggorokannya.


"Alhamdulillah...."


Pandangan mata Adelle beralih ke arah kendaraannya. Bapak penambal ban itu sepertinya sudah sangat berpengalaman. Sebentar saja ban yang tadi terlihat kempis sudah nampak kokoh lagi.


"Ada paku yang menancap di ban motornya nak. Tapi in syaa Allah sekarang sudah bapak beresin. Sudah bisa dinaiki sekarang" katanya dengan senyum dan wajah yang cerah sambil menepuk-nepuk membersihkan tangannya yang kotor.


Adelle tersenyum, beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri pak Sardiman, lelaki yang telah berjasa padanya hari ini.


"Berapa pak?" tanya Adelle.


"Sepuluh ribu saja nak."


"Sepuluh ribu?" tanya Adelle tak percaya. Bagaimana mungkin hanya lima ribu?


"Iya, sepuluh ribu saja. Bapak tidak mungkin memberikan harga yang mahal untuk anak sekolah. Dari mana penghasilan anak yang untuk makan saja masih menumpang pada orang tuanya?" tawa kecil terdengar dari bibirnya.


"Apa bapak tidak rugi pak? Bagaimana bapak bisa memberi makan anak dan istri kalau bayarnya seperti itu?"


Kembali senyum tulus hadir di wajah yang sedikit hitam itu.


"Rejeki itu Allah yang mengatur nak, Allah yang memberi kepada orang yang memang layak mendapatkannya. Dan bapak merasa tidak rugi sama sekali menolong orang-orang yang memang memerlukan pertolongan. Dan insya Allah anak dan istri bapak masih tetap bisa makan walau bukan makanan yang mewah."


Tersentuh hati Adelle mendengar penuturan bapak tua yang mungkin jika dilihat dari luar hanyalah seorang penambal ban biasa namun memiliki keluasan hati yang tiada tara.


Diserahkannya selembar uang sepuluh ribu itu ke tangan yang berkulit hitam dan nampak kering. Di ciumnya tangan yang terasa kasar itu.


"Sekali lagi terima kasih, pak. Semoga Allah membalas kebaikan hati bapak dengan memberi rejeki yang melimpah dan juga kesehatan bagi semua anggota keluarga bapak."


Sementara pak Sardiman yang tak menduga bahwa Adelle akan mencium tangannya, reflek menariknya dengan cepat.


"Tidak perlu mencium tangan bapak, nak."


"Ga papa pak, bapak sudah memberi pelajaran yang sangat penting bagi saya hari ini."


Adelle kemudian menyalakan mesin motornya dan segera meninggalkan tempat tambal ban yang telah menjadi sekolah keduanya hari ini.


_______


Hari telah menjelang sore saat Adelle tiba di rumah. Setelah memarkirkan si putih dengan aman, ia pun masuk. Rumah terasa sepi, tak nampak Lola yang biasanya duduk manis dengan toples sanbil menonton tivi. Biasanya saat pulang ia akan melihat si bungsu itu tertawa menyaksikan aksi Spongesbob dan kawan-kawan atau si kembar Upin dan Ipin.


"Assalamualaikum....Bu, Adelle pulang" tak terdengar ada jawaban salam dari dalam rumah sederhana itu.


"Kemana si Lola? Tumben tivi ga nyala." batin Adelle


"Pada ke mana sih sore-sore gini? Ga biasanya Ibu sama Lola pergi bersaamaan. Mana rumah ga di kunci,"


Akhirnya Adelle memutuskan untuk mandi dan bersih-bersih. Badannya terasa lengket. Cuaca yang ekstrim ditambah lagi tadi dia harus mendorong motor untuk mencaari tukang tambal ban membuat seluruh tubuhnya basah karena keringat.


Diambilnya handuk dan kemudian melepaskan seragam sekolah yang melekat di badannya. Tak lama kemudian terdengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian Adelle keluar dari kamar. Dia sudah terlihat lebih segar. Rambut hitam sebahunya masih basah, aroma sampo menguar dari rambut yang selalu tertutup hijab itu.


Baru saja akan duduk di sofa buluk yang bisa diduduki oleh Lola, terdengar seseorang mengucapkan salam.


"Assalamualaikum...." suara ibu terdengar.


"Waalaikum salam...." Adelle menjawab salam dan kemudian bergegas bangkit menemui sumber suara.


"Ibu dari mana?" tanya Adelle. Dilihatnya sang bunda membawa beberapa kantong hitam besar. Bergegas dihampirinya dan mengambil alih kantong-kantong tersebut dan membawanya ke dapur.


"Ibu habis belanja bahan-bahan kue, Del. Banyak yang sudah habis, jadi Ibu pergi."


"Kenapa ibu ga nunggu aku pulang sekolah, biar aku anterin ibu belanja."


"Enggak papa, Ibu bisa sendiri. Lagian ga terlalu banyak yang ibu beli"


Memang biasaanya ibu selalu meminta bantuan Adelle ketika akan berbelanja kebutuhan rumah maupun bahan untuk pembuatan kue.


"Adik kemana, bu? Dari tadi ga kelihatan? Biasanya setiap pulang sekolah dia ada di depan tivi." Adelle bertanya pada ibunya.


"Tadi ibu pergi adikmu masih ada di rumah. Dan dia ga bilang kalau akan pergi."


"Ibu bersih-bersih dulu, Del. Mau mandi lagi, panas sekali hari ini. Badan ibu rasanya lengket karena keringatan." ibu melangkah menuju kamar dan tak lama kemudian keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya.


Adelle menuju ke dapur, membongkar satu persatu isi kantong belanja yang tadi di bawa ibu dan menyimpannya ke dalam lemari. Lumayan banyak yang ibu beli, pasti tadi ibu kerepotan membawa begitu banyak barang-barang ini. Kalau saja tadi ban motornya tidak bocor, pasti ia bisa menemani ibu.


Baru saja akan mengambil air untuk menyiram bunga di halaman depan rumahnya ketika telinganya menangkap suara pintu yang di ketuk dengan sedikit kasar. Segera ia menuju kamar, mengambil bergo dan memakainya.


Diseretnya kaki menuju pintu dan kemudian membukanya. Nampak seorang pemuda yang tak dikenal berdiri dengan gagah.


"Assalamualaikum, apa benar ini rumah pak Hendra?" tanya lelaki itu dengan sopan.


"Iya betul"


"Maaf mbak, apa benar mbak punya adik yang bernama Lola?"


"Ya bener, ada apa ya mas?" Adelle mulai bertanya-tanya.


"Gini mbak. Adik anda saat ini sedang berada di rumah sakit."


"Rumah sakit? Adik saya kenapa?" belum selesai lelaki berkacamata itu berbicara, Adelle sudah menyambar dengan pertanyaan. Hatinya tiba-tiba merasa ada sesuatu yang terjadi pada adiknya.


"Gini mbak. Tadi adiknya naik kendaraan tanpa menggunakan helm. Dan dia mengalami kecelakaan. Kebetulan saya tadi ada di lokasi kecelakaan." jelasnya.


Adelle tak lagi mendengar apa yang dijelaskan lelaki tersebut. Otaknya penuh pertanyaan tentang Lola. Ke mana ia pergi? Dengan siapa dia pergi? Motor siapa yang digunakannya? Dan bagaimana keadaannya saat ini?


"Sekarang bagaimana keadaan adik saya?" suara Adelle terdengar khawatir.


"Siapa yang di rumah sakit?" Ibu muncul dari dalam.


"Lola bu, kata mas ini Lola kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit."


"Ya Allah... Bagaimana keadaan Lola sekarang?" rona khawatir terlihat jelas di wajahnya.


"Sabar bu, bagaimana keadaan anak ibu saya tidak tahu. Sebaiknya ibu datang saja ke rumah sakit terdekat." lelaki itu menjelaskan dengan lancar.


"Ayo Del, kita ke rumah sakit sekarang." Ibu sudah tak sabar ingin melihat keadaan anak bungsunya.


Adelle mengangguk. Setelah mengucapkan terima kasih kepada lelaki yang tadi memberi kabar kepada mereka, ibu dan anak itupun masuk dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.


"Dek, semoga kamu ga kenapa-kenapa," monolog Adelle lirih.


_____


Alhamdulillah, bisa upload lagi.