Adelle

Adelle
Curhat Shella



Rapat singkat membahas persiapan class meeting selesai. Semua menerima hasil rapat dengan senang hati. Sebagian besar warga kelas ikut terlibat dalam lomba dan pertandingan yang akan dilaksanakan mulai senin yang akan datang.


Shella dan Adelle berjalan beriringan menuju parkiran. Di belakang mereka ada Yudi dan juga Tri. Mereka adalah yang terakhir keluar dari kelas.


"Yud, Tri kita cabut dulu yah." Shella berpamitan.


"Kalian pulang bareng?" tanya Yudi.


"Iya, Shella ngajaknin jalan nih."


"Kita ga diajakin Shel?" Yudi bersuara lagi.


"Sorry, kali ini nggak bisa ngajakin kalian. Today is girl's day." Shella tersenyum lebar sambil membuka pintu mobilnya.


Keduanya masuk dan melambaikan tangan ke arah Yudi dan Tri yang berjalan menuju parkiran sepeda motor yang berada di sebelah kiri. Adelle masih bisa melihat keduanya saat Shella berkata


"Udah jangan di lihatin sampe kek gitu. Tadi aja giliran deket pura-pura nggak perduli, nah udah jauh baru deh."


"Apaan sih Shel?" Adelle memalingkan kembali wajahnya ke arah depan. Wajahnya bersemu merah.


"Kalau suka bilang aja Del, ga usah malu gitu." Shella bukannya tidak tau jika sebenarnya Adelle menyimpan rasa suka terhadap Yudi. Begitu juga Yudi. Namun keduanya tak ada yang berani untuk membuka perasaan masing-masing.


"Kamu ngomong apa sih Shel? Aku nggak ngerti." Adel masih mencoba untuk menutupi malunya. "Aku nggak ada niat pacaran selama masih sekolah."


Shella melengos, dia tahu bener jika Adelle selalu mengatakan bahwa dirinya tak mau pacaran jika masih di bangku sekolah. Dia tidak ingin konsentrasi belajarnya terganggu hanya karena masalah cinta monyet.


"Sebenernya kita mau ke mana sih, Shel?" Adelle mencoba mengalihkan pembicaraan saat mobil yang dikendarai Shella belum menunjukkan arah pasti.


"Kita ke pantai aja ya Del. Ada yang mau aku ceritakan sama kamu."


"Tumben ngajakin ke pantai. Biasanya juga kamu selalu ngajakin ke mall."


Shella terdiam sesaat "Aku pengen cari suasana yang tenang dan adem. Mall terlalu berisik untuk bercerita."


Adelle menatap Shella sesaat. Pasti ada yang sangat penting yang akan disampaikan sehingga Shella mengajaknya ke tempat yang tenang. Dan raut wajah saat Shella mengucapkan juga terlihat serius, tidak seperti biasanya yang selalu penuh canda. Serious mode on.


Kendaraan mulai memasuki wilayah pantai. Angin sepoi-sepoi mulai menyapa kulit. Shella mencari tempat parkir yang tidak terlalu jauh dari pantai. Keduanya memilih duduk di bawah pohon yang rindang, dengan bangku yang menghadap langsung ke arah pantai.


"Kamu mau pesan apa Del?" tanya Shella sesaat setelah seorang waiter datang menawarkan menu. Adelle melihat daftar menu makanan dan minuman sesaat, namun pada akhirnya dia memilih memesan air kelapa muda dan kentang goreng.


"Air kelapa mudanya dua, kentang goreng dan kacang deh." Shella menyebutkan pesanan mereka. Sang waiter berlalu setelah mencatat pesanan. Adelle dan Shella menatap pantai yang selalu merindukan laut. Airnya selalu membawa kabar dari jauh meninggalkan buih di bibir pantai.


Sudah lama mereka tidak pergi ke pantai. Terakhir mereka pergi bersama dua bulan yang lalu, ketika kelas mereka mengadakan a day out ke pantai. Adelle menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menikmati keindahan alam yang tak pernah bosan untuk di pandang. Dia selalu suka berada lama-lama menatap pantai, ombak dan garis yang tak bertepi, ditemani angin semilir. Hmmm...nikmat mana lagi yang engkau dustakan.


Adelle menatap gadis cantik yang berada disampingnya. Pandangannya juga sedang mengarah ke laut. Sesaat kemudian dia berdiri dan melangkah menuju ke pantai.


"Ayo main air Del. Ngapain juga kita ke pantai kalau hanya duduk-duduk males gitu. Yuk kita selfi di sana." tunjuknya ke arah segerombolan batu karang yang terkena hempasan air laut.


Adelle mengikuti langkah kaki Shella. Tak lama kemudian keduanya sudah memasang gaya masing-masing. Puas berswa foto, keduanya melangkah di sepanjang pantai bergandengan tangan. Sesekali Shella mencipratkan air ke arah Adelle yang tentu saja tidak dibiarkan begitu saja. Tangannya dengan segera mencoba membalas menyiram air laut yang ada. Keduanya tertawa dengan riang sambil berlari saling menghindar agar tidak terkena air laut.


Setelah lelah, keduanya kembali menuju kursi.


"Capek, haus jadinya." Adelle lebih dahulu menghempaskan bokongnya ke kursi. Diambilnya air kelapa yang sudah terhidang di atas meja dihadapannya.


"Seger, alhamdulillah. Memang pantai dan air kelapa muda adalah pasangan serasi." lanjutnya lagi. Shella juga menikmati minumannya. Tak lama tangannya menggapai kentang goreng dan memakannya.


"Shel, katanya mau cerita sesuatu. Cerita apaan sih?" Adelle bertanya setelah sekian lama Shella belum juga membuka percakapan.


"Aku mau curhat Del. Sekalian minta pendapat kamu."


"Tentang apa sih? Buruan cerita. Kamu bikin aku kepo deh"


"Ada dua hal yang ingin aku ceritain ke kamu." Shella menatap wajah Adelle. "Yang pertama ada hubungannya sama kamu."


"Ada hubungan sama aku? Koq bisa"


"Makanya dengerin dulu." Shella menghirup nafas dalam-dalam kemudian mulai bicara lagi.


"Aku mau bilang sama kamu kalau aku sama mas Ferdi udah beberapa kali saling kontak. Udah telponan juga." Adelle mendengar tanpa membalas karena dia sudah mendengar hal itu dari mas Ferdi.


"Dan sepertinya aku merasa kami punya banyak kecocokan sambungnya lagi." Kali ini Adelle menatap wajah sahabatnya dengan sedikit melotot.


Shella balas menatap Adelle. "Kamu jangan salah paham, aku belum bilang kalau aku jatuh cinta sama mas mu itu. Kamu nggak marah kan Del?" Adelle tak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia sama sekali tak ingin gegabah menjudge perasaan Shella dan mas Ferdi. Adelle hanya menggeleng menjawab pertanyaan Shella.


"Aku merasa nyaman saat bercerita sama dia. Dia mau dengerin aku tanpa banyak memotong. Kayak kamu Del. Aku seperti ketemu kamu tapi dalam versi laki-laki." Shella menambahkan. "Aku nyaman sama dia."


Adelle masih diam. Walau Shella mengatakan bahwa mereka belum ada komitmen selain saling cerita, namun Adelle tahu jika keduanya mempunyai perasaan yang sama. Bukankah mas Ferdi juga mengatakan jika dia juga merasa nyaman ketika bersama Shella meski hanya lewat media sosial?


"Aku hanya nggak ingin kebersamaanmu dengan mas Ferdi mengganggu hubunganmu dengan Joy. Bagaimanapun dia pacarmu. Aku nggak mau nanti Joy merasa tersisihkan dengan hadirnya mas Ferdi." Adelle buka suara.


"Aku berniat memutuskan Joy, Del." kalimat yang baru saja dikeluarkan oleh Shella membuat Adelle kaget. Bagaimana mungkin? Hal inilah yang ditakutkannya. Kehadiran orang ketiga dalam hubungan Shella dan Joy, dan orang itu adalah mas Ferdi saudara sepupunya. Dan dia lah yang memperkenalkan mereka.


"Kamu apa Shel?" tanya Adelle.


"Aku akan memutuskan hubungan dengan Joy!" Shella mengulangi pernyataannya.


"Karena mas Ferdi?" tanya Adelle.


"Bukan, sama sekali bukan karena kehadiran mas Ferdi."


"Trus kalau bukan karena mas Ferdi, karena apa coba?" tanyanya lebih ingin tahu.


"Joy selingkuh Del." Shella menjawab sambil badannya bersandar ke belakang, tatapannya jauh ke depan.


"Sebenarnya aku udah mencurigai Joy sejak beberapa bulan lalu. Sejak dia jarang menghubungiku, lama membalas pesanku, nggak pernah ngajakin aku hang out lagi atau malah nggak pernah lagi datang malam minggu."


"Selama ini walau kami ga pernah show off tentang hubungan kami, tapi kami tetap saling berkirim pesan dan juga telponan. Dia juga pasti ada ngejemput atau ngajakin pulang bareng dalam seminggu. Nah, dua minggu yang lalu aku dapet pesan dari nomor yang nggak ku kenal. Dia bilang kalau Joy sedang dekat dengan Vera, anak pindahan dari Bandung. Kamu masih ingatkan, kita pernah ketemu mereka berdua makan bareng di kantin beberapa minggu yang lalu."


"Mereka kan belum pasti pacaran Shel. Baru deket aja. Kayak kamu dan mas Ferdi." Adelle berusaha menetralkan suasana.


"Aku juga tadinya mikir gitu. Aku pikir itu hanya kecurigaanku aja, namun dua minggu lalu aku menemukan jawabannya. Aku ga sengaja membaca percakapan mereka via whata*** percakapan yang terlalu mesra untuk dua orang yang hanya sekedar berteman. Bahkan aku dan Joy juga belum pernah berkirim pesan semesra itu." Shella menunduk sambil memainkan pasir dengan menggunakan ujung sepatunya.


"Aku emang punya perasaan suka sama mas Ferdi, namun aku sadar jika masih ada Joy disampingku. Itu sebabnya meskipun aku udah dapet nomor ponselnya, tapi aku belum menghubunginya. Aku masih menimbang rasa Del. Mas Ferdi lah yang pertama menghubungi aku."


Adelle masih diam dan mendengarkan. Dia paham apa yang dirasakan oleh Shella. Meski belum pernah punya pasangan, walau belum pernah jatuh cinta, namun dia tahu bagaiman perasaan Shella saat ini. Di khianati oleh orang yang kita cintai memang sangat menyakitkan. Direngkuhnya bahu sahabat yang sudah menemani hari-harinya selama ini. Dibawanya ke pelukan, dia ingin Shella tahu bahwa dia juga merasakan sakit yang dia rasa.


"Kamu kenapa baru cerita sama aku sekarang? Kenapa nggak dari awal kasi tahu aku supaya aku bisa bantuin kamu. Yah setidaknya nemenin kamu stalking mereka." Adelle mencoba mencairkan suasana.


"Aku hanya ingin memastikan sebelum bercerita sama kamu. Kamu kan orangnya nggak gampang percaya. Tar kamu bilang aku ngehalu, ngadi-ngadi supaya bisa deket sama mas Ferdi." Shella menjawab yang akhirnya malah mendapat pukulan di bahu saat Adelle mendengar kalimat terakhirnya.


"Kamu hebat Shel. Dihianatin tapi ceritanya santai banget. Kek bukan cerita tentang diduakan, lebih seperti baru beli permen eh trus permennya jatuh." kata Adelle.


"Ngapain sedih? Ngabisin energi deh" jawabnya santai. "Mending kita makan, nonton atau jalan-jalan. Badan sehat, pikiran tenang. Iya kan hahahahahaha" selalu seperti itu. Ga nampak ada kesedihan di wajah putih bersih itu.


"Pulang yuk Shel, panas. Aku harus bantuin ibu. Ada pesanan kue untuk acara pengajian di rumah bu Nela tar malem." Keduanya beranjak menuju foodstall untuk membayar makanan dan minuman yang mereka pesan sebelum menuju mobil dan pulang.


Baru saja berbelok dan mengendarai mobilnya, mata Adelle menangkap mobil putih yang sangat dikenalnya.


"Shel, lihat deh. Itu bukannya mobil Joy ya?" tanya Adelle.


"Mana?" Shella mencoba melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Adelle.


"Itu, yang parkir di pojok itu"


Shella melihat lebih lama dan kemudian dia memastikan itu memang mobil Joy. Hmmmm di mana pemiliknya? Tadi Joy sama sekali tidak memberitahu jika dirinya akan pergi ke pantai.


Pandangan matanya berhenti saat melihat sepasang anak muda yang sedang duduk berangkulan. Keduanya masih menggunakan seragam sekolah, sama sepertinya dan Adelle. Sang gadis nampak sangat manja, sementara sang pemuda nampak sangat bahagia.


Shella meraih ponsel yang ada di saku tasnya, tangannya menekan nomor yang sudah sangat dihapalnya. Berdering, namun tak di jawab. Di cobanya sekali lagi, masih belum di jawab. Baru pada panggilan yang ke tiga suara di seberang sana terdengar.


"Halo, Shella" suaranya terdengar ragu.


"Beb, kamu sedang di mana sekarang?" Shella bertanya. Adelle yang berada di sampingnya hanya diam tanpa mampu menerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Hatinya panas melihat kekasih dari sahabatnya sedang bermesraan dengan gadis lain. Bagaimana lagi dengan Shella?


"Aku sedang di rumah. Sedang nggak enak badan." dusta Joy.


"Oh gitu ya, oke deh. Kamu istirahat aja. Jangan sampai sakit ya. Daag" Shella menutup panggilan telponnya. Tak lama kamera hapenya menangkap beberapa kali gambar sepasang anak manusia yang masih asyik bermesraan tanpa menyadari ada dua pasang mata yang menatap mereka. Setelah puas, dipilihnya beberapa gambar yang dianggapnya paling bagus kemudian dikirimkan ke nomor yang baru saja dihubungi dengan keterangan "KITA PUTUS. TITIK."


Setelah itu dikembalikannya benda pipih itu ke dalam tas dan kemudian melajukan kendaraan roda empat itu meninggalkan pantai. Alhamdulillah, ucapnya dalam hati. Ternyata kecurigaannya tidak salah. Adelle hanya bisa menatap sahabatnya.


"Shel, kamu ga papa?"


"Aku ga papa Del. Walaupun aku sakit, tapi aku bersyukur karena apa yang menjadi kecurigaanku sudah terjawab. Dan kamu sendiri jadi saksi bagaimana doi bohong. Ngakunya sakit padahal sebenarnya sedang bersama dengan cewek lain."


"Udah jangan lama-lama sedihnya. Kamu harus bersyukur udah ditunjukkan oleh Allah bahwa dia bukan lelaki yang baik buat kamu. Pacaran aja dia selingkuh, tar kalau dah merit ada kemungkinan dia akan mengulangi hal yang sama."


Adelle mengembuskan napasnya. Sementara Shella memegang stir dengan erat. Tatapan matanya lurus ke depan, sesaat kemudian cerianya muncul kembali.


"Hore, sekarang aku jomblo. Boleh dong aku deket-deket sama mas Ferdi. Hahahahahaha"


"Sablengnya kumat dah" Adelle membatin namun bibirnya tersenyum.