
Salah satu hal yang disukai saat ada hajatan besar seperti penikahan adalah kesempatan untuk dapat bertemu dengan sanak saudara yang jauh dan juga jarang berkunjung. Setidaknya itu yang dirasakan oleh Adelle pada saat pernikahan kak Aida.
Beberapa hari yang lalu saat membantu persiapan acara pernikahan, hanya sebagian saja saudaranya yang hadir. Terutama yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah paman Abdul. Hal itu bisa dimaklumi karena kak Aida menikah bukan pada saat liburan sekolah sehingga agak sulit untuk meminta ijin bagi saudara-saudaranya yang masih duduk dibangku sekolah.Namun sejak kemarin rumah paman Abdul sudah dipenuhi dengan keluarga yang ingin ikut menghadiri hari yang sangat istimewa dalam hidup.
Dan akhirnya hari yang di tunggu-tunggu datang juga. Seluruh keluarga sudah siap. Paman dan bibi terlihat beberapa kali berjalan memastikan segalanya perfect. Ruangan keluarga sudah di sulap menjadi venue dimana acara ijab kabul akan dilaksanakan. Sebagian besar ruangan dihiasi dengan dekor berwarna silver. Nampak megah namun tak menghilangkan nuansa sakral. Sementara ruangan tamu dan halaman juga telah diubah menjadi tempat duduk bagi para tamu undangan yang menjadi saksi bersatunya dua manusia berlainan jenis yang akan mengikat janji sehidup semati.
Sementara di bagian belakang, para juru masak tak kalah sibuk. Mereka telah bekerja dari sejak beberapa hari yang lalu. Mempersiapkan beberapa menu yang akan menjadi santapan para tamu. Terdengar candaan yang saling bersahutan diantara mereka. Paman Abdul memang menyewa juru masak khusus untuk mempersiapkan menu untuk pernikahan kak Aida. Tetangga dan beberapa orang saudara hanya membantu sekedarnya saja. Sekedar meramaikan dapur, sekalian mencuri ilmu katanya.
Adelle menatap kak Aida dengan rasa bahagia. Kak Aida nampak sangat cantik dan menawan hari ini. Nampak sangat berbeda dari hari-hari biasa. Baju pengantin yang membalut tubuhnya nampak sangat serasi dengan riasan wajahnya. Tidak nampak menor sama sekali namun hal itulah yang membuat penampilan kak Aida nampak sangat istimewa. Wajar saja jika paman Abdul membayar mahal untuk semuanya. Kak Aida hari ini berubah menjadi kak Aida yang lain.
"Subhanallah, kakak cantik sekali. Aku sampai nggak kenal lho kak." puji Adelle.
"Alhamdulillah. Terima kasih Del. Mbak Novi memang bertangan dingin Del. Sudah terkenal sebagai perias yang sangat kompeten. Makanya kakak jadi gini" puji Aida pada sang MUA yang berada tak jauh dari mereka.
"Aida memang sudah cantik pada dasarnya, kulitnya nggak bandel makanya mudah untuk dirias."
"Iya, kak Aida memang cantik. Paling cantik di antara kita semua, iya kan?" Adelle berkata yang kemudian di iyakan oleh sepupu yang lain.
"Calon pengantin siap-siap ya. Calon pengantin lelaki sudah datang. Tak lama lagi acara akan di mulai. Jangan tegang." Ibu datang memberitahu.
Kak Aida memang tidak akan duduk di luar pada saat ijab kabul. Dia akan tetap berada di dalam kamar sampai ijab kabul selesai.
Tak lama kemudian MC mulai membuka acara. Satu persatu rangkaian acara berjalan dengan lancar. Kak Aida terlihat tegang saat mendengar bahwa ijab kabul akan segera dilaksanakan. Tangan nya menggenggam tangan Adelle dengan erat. Keduanya memang paling akrab di antara para sepupu yang lain. Salah seorang rekan kerjanya sempat menggoda agar dirinya tidak tegang agar tidak merusak riasannya. Kak Aida hanya tersenyum kecil.
"Alhamdulillah" Semua yang ada di dalam kamar pengantin serentak mengucap rasa syukur saat terdengar kata sah yang diikuti oleh suara riuh para saksi. Tak lama pintu kamar di ketuk dan wajah Ibu muncul dari balik pintu.
"Silakan keluar. Pengantin lelaki udah nggak sabar ingin ketemu"
Kak Aida tersipu malu saat mendengar gurauan ibu. Perlahan rombongan kecil yang terdiri dari Aida, Adelle dan seorang sahabat dekatnya menuju ke ruangan di mana pengantin dan juga para undangan menunggu. Bang Arpan menatap takjub wajah wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Keduanya bersalaman dan Aida mencium tangan sang suami sebagai tanda bakti. Keduanya kemudian sungkem kepada kedua orang tua dan juga para tetua dari kedua belah pihak. Acara yang penuh haru itu diakhiri dengan menikmati hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah.
_____
Adelle masih berbaring malas di kamarnya. Badannya masih terasa capek. Perhelatan acara pernikahan berjalan lancar, hampir tidak ada kendala sama sekali. Tadi malam mereka pulang sekitar pukul sebelas malam. Sebenarnya undangan selesai pukul delapan malam, tapi karena masih ingin menikmati kebersamaan dengan sanak keluarga maka mereka masih berkumpul dan bercanda.
Kebersamaan yang sangat dinikmati. Nggak tiap tahun bisa bertemu dengan om Hilman, adik ayah yang sekarang pindah ke Palu. Begitu juga dengan anak-anaknya yang tidak jauh berbeda usianya dengan Adelle. Ada satu hal yang membuat Adelle sadar, bahwa sejak dari persiapan, sepanjang gelaran acara pernikahan hingga resepsi tidak sedikitpun nenek menampakkan raut wajah sakit. Padahal semua orang tahu jika nenek punya riwayat penyakit yang panjang.
"Itu adalah pengaruh dari rasa bahagia nenek karena bisa bertemu dengan orang-orang yang dicintai dan dirindukan Del." jawab Ibu saat Adelle bertanya.
"Mungkin nenek sangat senang karena om mu sekeluarga dari Palu bisa hadir. Begitu juga dengan Pak de Edi yang juga pada akhirnya memutuskan datang. Kamu tau sendirikan sudah berapa tahun kita nggak pernah ketemu. Belum lagi yang deket-deket sini."
Adelle melirik jam di dinding kamarnya. Hmmm sudah pukul enam. Biasanya setelah sholat subuh, dia akan menuju dapur untuk membantu ibu. Tapi tadi, setelah sholat subuh dia kembali berbaring. Badannya terasa sangat capek, matanya juga ngantuk.
Baru saja ia akan beranjak keluar saat tiba-tiba ponsel yang berada di atas nakas berbunyi. Diraihnya benda persegi itu dan dilihatnya nama bestie tertera di sana.
"Assalamualaikum. Ya Shel?" sapanya
"Waalaikum salam. Del, baru bangun kamu? Tumben. Biasanya kalo ku telpon jam segini kamu udah cantik, rapi dan sibuk di dapur"
"Aku kecapekan Shella. Tadi malem pulangnya udah malem banget jadinya aku masih ngantuk. Makanya setelah subuh aku tidur lagi." terang Adelle.
"Yah, artinya kamu nggak bisa nemenin aku dong."
"Mau ke mana sih?"
"Jalan-jalan aja. Kan udah lama kita nggak pernah hangout lagi Del. Seminggu ini kamu sibuk bantuin persiapan nikahan kak Aida. Kamu lupa ama aku" Shella mulai melancarkan aksi kolokannya.
"Kamu kan bisa ngajakin yang lain. Kamu kan juga punya pacar. Kenapa repot-repot nyari aku sih?"
"Adelle koq kamu gitu sih ke aku. Terang aja beda. Aku ngajakin kamu hangout itu untuk mencari girls' stuff. Nggak bakalan nyambung kalo aku mesti ngajakin lelaki. Lagian jalan ama pacar ya mana bisa cuci mata sih. Ngadi-ngadi deh"
Adelle hanya tersenyum. Sahabatnya yang satu ini memang aneh. Jika sebagian besar remaja memilih menikmati waktu senggang bersama sang pacar, maka dia lebih memilih bersama sahabat atau keluarga. Untungnya sang pacar tidak protes sehingga hubungan mereka tetap berjalan lancar.
"Ke mall. Shopping trus nonton. Bete di rumah terus."
"Mau beli apa lagi? Jangan bilang kamu belum tahu mau beli apa ya" Adelle yang memang tahu bagaimana sahabatnya mencoba mengingatkan. Di seberang sana, Shella hanya tertawa. Sebenarnya dia memang belum punya gambaran ingin membeli apa. Tujuannya hanya ingin jalan-jalan. Tapi dia tahu jika Adelle akan protes jika mereka hanya muter-muter tanpa ada tujuan. Buang energi katanya.
"Aku jemput jam sepuluh ya Del. Kamu siap-siap dulu deh."
"Iya, jangan ngaret. Telat aku batal pergi."
"Kayak sekolah aja del. Telat ga boleh masuk" keduanya kemudian tertawa bersama.
______
Adelle dan Shella duduk di sebuah tempat makan. Keduanya sedang menikmati minumannya masing-masing. Makanan masih belum datang. Tadi setelah shopping dan mereka menuju studio 21. Dan seperti biasa saat akan nonton, keduanya akan berdebat sebelum memutuskan film apa yang akan ditonton. Adelle memilih film science fiction sementara Shella lebih suka drama. Namun akhirnya mereka memutuskan untuk memilih film komedi setelah masing-masing tak mau mengikuti keinginan yang lain.
"Del, mana foto kita di nikahan sodara mu kemarin" tanya Shella.
"Foto yang mana?:
"Foto kita yang sama pengantin itu."
Adelle membuka galeri foto yang di ponselnya. Kemudian mulai mencari satu persatu foto yang ada Shella. Ya kemarin Shella dan kedua orang tuanya memang datang menghadiri pernikahan sepupunya. Sebelum pulang mereka memang sempat mengambil foto kenang-kenangan.
"Ini, kamu lihat sendiri deh." Adelle menyerahkan ponselnya kepada Shella yang langsung melihat satu persatu foto yang ada. Wajahnya terlihat sumbringah. Beberapa kali jarinya nampak memperbesar foto di layar. Senyum hadir di bibirnya.
"Del, kirim ke nomor ku ya foto-foto ini" pinta Shella.
"Iya, kirim aja sendiri."
Setelah selesai mengirim coto-foto yang ada di galeri ke ponselnya, Shella menyerahkan kembali ponsel milik Adelle.
"Ini siapa namanya Del?" tanya Shella sembari menunjuk seorang pemuda berbaju batik.
"Yang mana" Adelle bertanya untuk memastikan siapa yang di maksud.
"Itu mas Ferdi. Anak om Bambang. Sodara ibuku" Adelle menjelaskan.
"Koq aku ga pernah melihat sebelumnya" tanya Shella lagi.
"Mereka memang nggak tinggal di sini, tapi di Sumatera. Tepatnya di Padang. Memangnya ada apa sih kamu koq nanya-nanya mas Ferdi?" Adelle menatap curiga. Sementara yang di tatap hanya tersenyum malu-malu.
"Kenalin aku sama dia dong Del. Please...."
"Kamu sebenarnya ada apa sama mas Ferdi? Jangan-jangan kamu naksir mas Ferdi"
Shella masih tersenyum penuh arti tanpa menjawab.
"Ingat Shella, kamu udah punya pacar. Aku nggak mau nanti dikatakan sebagai orang yang menjembatani putusnya hubungan kalian."
"Kan hanya kenalan aja, belum pacaran Del. Lagian aku juga belum merasa pasti hubungan kami bisa berlanjut terus."
Adelle diam, hatinya masih bimbang antara mengenalkan atau membiarkan keinginan sahabatnya berlalu begitu saja.
"Aku minta no ponselnya aja kalo kamu ga mau kenalin aku sama dia. Tar ku bilang dapetin nomornya dari orang lain."
Akhirnya Adelle memberikan no ponsel yang diinginkan Shella. Sebagai seorang cewek Adelle mengakui mas Ferdi sepupunya adalah sosok yang menyenangkan. Selain wajahnya yang ganteng, dengan mata elang dan tubuh yang atletis, dia juga punya kepribadian yang sangat menyenangkan. Siapapun yang pernah bertemu dan berbincang dengannya pasti akan terpikat.
"Makasih ya Del. Siapa tahu dari sahabat kita bisa jadi sodara hahahahaha" Shella berkata yang dibalas dengan mata Adelle yang terbelalak karena kaget.
"Shella......"