Adelle

Adelle
Tetangga Julid



"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri"


Adelle membaca beberapa kali terjemahan surah An-Nisa' ayat 36, hatinya bergetar. Apa yang menjadi kegelisahan hatinya terjawab sudah. Diusapnya wajah yang masih sedikit basah karena air wudhu. Bibirnya berkali-kali melantunkan istighfar, perlahan hati yang tadi gelisah berubah semakin tenang.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau telah menjawab apa yang menjadi pertanyaan hamba melalui ayat-ayat Mu. Dan terima kasih juga telah mempertemukan hamba dengan orang yang menunjukkan bagaimana mencari obat dari kegelisahan ini.


Masih teringat jelas dalam memorinya, bagaimana penjelasan ustadzah Qori tentang bagaimana mengobati kegelisahan hati. Yaitu dengan cara mendekati sang pemilik hati, Allah. Melalui sholat dan ayat-ayat cinta yang telah tertulis dalam kitab suci-Nya. Dan Adelle mempraktekkan apa yang didengarnya. Maka ketika hatinya gelisah dengan apa yang sedang menimpa keluarganya, segera dilangkahkan kakinya menuju tempat berwudhu. Dibasuhnya wajah, lengan, kepala, telinga serta kaki. Hatinya mantap untuk menemui sang Maha Pemilik hati. Mengadukan apa yang dirasakannya dan berharap akan mendapat pertolongan.


Dua rakaat dikerjakannya dengan khusu'. Kemudian diambilnya Al-Qur'an di atas meja belajarnya. Didekapnya erat qur'an yang selalu dibacanya setiap setelah sholat magrib dan subuh. Hatinya melantunkan doa permohonan kepada sang Maha Kuasa.


Perlahan dibukanya sembarang halaman dari kitab suci itu, matanya terpejam sebelum akhirnya melihat ke barisan ayat yang ditunjuk oleh jari. Dan...she got the message. Berbuat baiklah kepada tetangga, baik itu tetangga dekat maupun yang jauh.


Baru saja Adelle menutup qur'an saat pintu kamarnya di ketuk seseorang, segera dia beranjak dari sajadah yang menjadi alas dan membuka pintu kamar.


"Del, bisa anterin ibu ke rumah bu RT?" tanya ibu saat wajah Adelle muncul di depan pintu.


"Baik bu, Adelle siap-siap dulu ya."


"Iya, jangan lama-lama. Ibu tunggu di luar ya nak."


"Baik bu,"


Segera dibukanya mukena yang masih membungkus badannya kemudian segera mengganti baju yang digunakan untuk sholat dengan baju yang lain. Tak lama kemudian menuju ke luar dan segera menuju teras dimana ibu sudah menunggu.


"Adelle sudah siap bu, kita pergi sekarang?"


"Iya, ibu kunci pintu dulu."


Berdua mereka menuju rumah bu RT yang jaraknya tidak terlalu jauh, namun karena cuaca yang sangat panas maka mereka memutuskan untuk mengendarai motor.


Motor matic yang dikendarai Adelle berbelok di rumah bercat putih tulang. Beberapa kendaraan nampak terparkir di halaman. Adelle mengenali salah satunya sebagai milik Ikhsan, anak bu RT. Sementara yang lain tak dikenalnya.


Adelle mengikuti langkah sang Ibu memasuki rumah, sudah ada beberapa orang di sana. Bu RT, Pak RT, bu Darno, bu Alif dan beberapa tetangga lainnya. Sebenarnya Adelle ingin bertanya pada ibunya, namun suara pak RT membuatnya menahan keinginan tersebut.


"Silakan masuk bu Hendra, nak Adelle. Duduk sini bu."


"Terima kasih pak." ibu menjawab. Adelle hanya membuntuti langkah sang ibu. Hatinya masih bertanya-tanya apa gerangan yang akan dibicarakan oleh para orang tua yang berkumpul di sini.


"Baik, karena bu Hendra sudah datang jadi kita bisa memulai pembicaraan ini." Suara pak RT terdengar tenang namun penuh wibawa. Suara-suara yang tadi terdengar kasak kusuk kini semua diam.


"Jadi maksud dan tujuan kita berkumpul di sini adalah untuk menyelesaikan permasalahan antara bu Darno dan bu Alif. Supaya adil dan jelas duduk permasalahannya, nanti baik bu Darno maupun bu Alif akan saya beri kesempatan untuk berbicara. Namun saya minta saat yang lain bicara, mohon jangan ada yang memotong pembicaraan. Nanti setelah semuanya curhat, baru kita cari titik temunya. Jelas ibu-ibu?" pak RT menjelaskan sambil menatap satu per satu ibu-ibu yang hadir di sana.


"Jelas, pak." jawab beberapa orang diantara mereka. Sementara ibu dan Adelle hanya diam, belum mengerti duduk permasalahannya.


"Silakan bu Darno yang ngomong lebih dahulu. Ceritakan kenapa ibu marah-marah di warungnya bu Alif?"


"Gini pak RT, bagaimana saya ga marah. Bu Alif ini menuduh saya menyebarkan fitnah di kampung kita. Katanya saya yang menghasut ibu-ibu di sini termasuk bu Vincent untuk jangan pesan kuenya bu Hendra. Saya yang jahat sama ibu-ibu di sini pokoknya semua saya yang salah. Padahal dia sendiri yang menyebarkan cerita-cerita buruk tentang warga. Warungnya kan jadi sarang gosip setiap hari." suara bu Darno berapi-api. Bu Alif yang berniat untuk menyela terpaksa menahan diri saat tangan pak RT memberi kode.


Beberapa orang ibu-ibu terdengar kasak-kusuk saling berbisik sesama mereka.


"Baik, sekarang kita dengarkan penjelasan bu Alif." pak RT mempersilakan pemilik warung yang menjadi salah satu sarang berkumpulnya ibu-ibu di siang hari.


Bu Alif berdehem sebelum mulai bicara.


"Pak RT, Bu RT, bu Darno ini memang pandai memutar fakta. Dia mengatakan bahwa saya yang menyebarkan cerita-cerita buruk tentang bu Hendra dan beberapa orang lainnya termasuk bu RT. Padahal semua cerita-cerita yang tersebar itu sumbernya adalah mulutnya. Memang cerita itu disampaikan di warung saya, tapi bukan saya yang menyebarkannya. Dia lah biang keroknya." bu Alif berhenti sesaat.


"Dia yang menyebarkan gosip bahwa kue bu Hendra itu menggunakan pengawet, bahannya tidak berkualitas bahkan dia pernah menukar kue buatan bu Hendra dengan milik orang lain yang ga baik sehingga bu Vincent akhirnya ga mau lagi pesan kue sama bu Hendra. Bu Hendra ingatkan saat bu Darno yang mengambil kue pesanan bu Vincent? Dia yang menghasutnya dengan mengatakan hal-hal buruk tentang keluarga bu Hendra."


"Astaghfirullah....." ibu dan Adelle mengusap dada. Mereka tak pernah menyangka jika bu Darno bisa setega itu. Sementara yang lain ada yang mengangguk membenarkan cerita yang di dengar.


"Jangan bicara sembarangan bu, itu fitnah pak." bu Darno berteriak tak terima.


"Fitnah kamu bilang? Tuh banyak saksinya. Bu Rahman, bu Trisno dan ibu-ibu lain yang tiap hari ada di warung saya juga dengar cerita itu. Bener ga bu ibu?" tanya bu Alif sambil menatap para ibu yang hadir meminta pembelaan.


Wajah bu Darno memerah, hatinya marah karena ternyata orang-orang yang selama ini dikira adalah sekutunya dalam bergosip sekarang mulai menyerang balik dirinya.


Sementara Adelle menggelengkan kepalanya. Tak pernah ada dalam pikirannya akan menghadapi hal seperti ini. Tak pernah ada dalam mimpinya jika akan mendapat fitnah yang berhubungan dengan seorang laki-laki. Selama ini dia selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan siapa saja seperti ajaran kedua orang tuanya. Namun tak pernah ia duga jika ternyata Siti menyukai Ikhsan. Yang ia tahu, Ikhsan selalu baik dengan siapa saja. Tak pernah ia melihat Ikhsan tampak akrab yang istimewa dengan salah satu remaja putri baik di lingkungan rumah maupun masjid.


"Kalian ini kompak memfitnah aku" bu Darno berang. Di sini semua menyalahkan aku, tapi saat di warung kalian juga mengiyakan apa yang aku ceritakan. Bahkan kalian juga menambahkan bumbu-bumbu. Mengatakan kalau keluarga pak Hendra sok suci, orang miskin tapi sombong. Dan kamu bu Alif, bukannya kamu yang bilang kalau bu RT itu cari muka sama bu Vincent supaya proyek pak RT lancar? Dan, bu Setyo kan yang ngomporin bu Vincent sehingga bu Vincent ga jadi ngasi pekerjaan ke pak Hendra? Jangan sok suci deh kalian semua." kali ini bu Darno sudah tak mampu membendung amarahnya.


"Lho koq saya jadi di bawa-bawa?" bu Setyo nampak kaget ketika namanya ikut terseret


"Memang iyakan? Jangan sok ga berdosa deh."


"Bu Darno nih selain tukang fitnah, juga tukang bohong" kali ini bu Alif bersuara.


"Bohong? Emang iya ibu ngomongin bu RT koq" bu Darno makin nyolot.


Masing-masing mereka saling menyalahkan. Tak ada yang mau diam, beberapa ibu juga ikut ribut. Bu RT memijit pelipisnya. Kepalanya pening mendengar tukang gosip saling menyalahkan. Kalau saja pak RT tidak cepat melerai, pasti sudah terjadi cakar-cakaran di antara mereka.


"Sudah ibu-ibu, tolong hentikan. Saya mohon berhenti berantemnya." Pak RT yang biasanya selalu tenang berubah tinggi suaranya.


"Sekarang sudah jelas, cerita tentang kue buatan bu Hendra itu ga bener. Ternyata itu semua ulah bu Darno, begitu juga gosip lainnya. Bu Darno harus minta maaf pada keluarga pak Hendra karena telah menyebabkan terhambatnya rejeki orang"


"Dan saya harap ibu-ibu yang lain juga jangan sembarangan membuat gosip, hanya akan merugikan orang lain dan diri sendiri. Daripada bergosip, lebih baik di rumah saja. Ikut pengajian atau kegiatan bermanfaat lainnya."


"Dan tentang anak kami Ikhsan, saya tahu kalau bukan Adelle yang menghasutnya. Karena saya tahu Ikhsan ga bakalan tertarik sama Siti. Dia ga suka sama gadis yang berpakaian terbuka dan maaf bu Darno, SIti terlalu berani dan agresif sebagai seorang perempuan." memerah wajah bu Darno saat mendengar penjelasan wanita yang telah melahirkan Ikhsan.


Hening sesaat, masing-masing sibuk dengan pikirannya. Satu-satunya lelaki yang berada di rungan itu menarik napas panjang sebelum pada akhirnya berkata


"Baik, saya rasa semuanya sudah jelas. Ga ada lagi yang harus dipertengkarkan. Saya harap setelah ini ga ada lagi yang saling hasut, saling iri. Sebaliknya, semoga setelah kejadian ini kita bisa lebih saling memahami dan perduli sengan sesama." ditatapnya satu persatu wanita-wanita yang hadir di ruangan itu.


"Bu Hendra, apakah bersedia memaafkan ibu-ibu yang telah memfitnah ibu ini?" tanya pa RT yang langsung mendapat anggukan dari bu Hendra alias ibu Adelle.


"Silakan ibu-ibu, minta maaf sama bu Hendra."


Satu persatu mereka saling berjabat tangan, ucapan mohon maaf terdengar dari beberapa mulut mereka. Bu Hendra ikhlas memaafkan kesalahan para wanita yang sebagian besar adalah tetangga di sekitar rumahnya.


Adelle memandangi pemandangan di hadapan matanya dengan diam. Hatinya seolah menemukan jawaban dari ayat yang dibacanya. Andai ibu bukanlah orang yang berlapang dada, tentu hal tersebut bisa saja dilaporkan kepada polisi. Bu Darno dan bu Alif bisa saja dikatagorikan mencemarkan nama baik. Namun seperti pesan yang tadi dibacaanya, berbuat baiklah pada tetanggamu. Dan ibu sedang melakukan hal itu pada saat ini.


Beberapa waktu kemudian mereka mengundurkan diri.


"Bu Darno jangan pulang dulu. Setelah ini kita pergi ke rumah bu Vincent. Ibu harus mengklarifikasi cerita yang telah ibu buat tentang keluarga pak Hendra." bu RT mengatakan dengan lantang sehingga semua orang yang ada di ruangan itu dapat mendengarkannya. Ia tak mau kesalahpahaman yang diakibatkan cerita bohong karya bu Darno akan merusak hubungan baik antara sesama warga di lingkungan tempat tinggal mereka.


Bu Darno mau tak mau hanya mengiyakan perkataan istri dari pimpinan warga itu. Walau malu karena aksinya ketahuan, namun dia juga senang karena berhasil menghambat usaha keluarga pak Hendra. Entah mengapa, sejak dahulu dirinya memang iri dengan keluarga yang hidupnya sederhana namun selalu nampak bahagia.


_______


Keluarga pak Hendra sedang bekumpul di raung keluarga. Menikmati acara kuis di televisi dengan ditemani sepiring ubi goreng dan teh hangat. Kehangatan nampak diantara mereka.


"Jadi gitu ceritanya ya bu, jadi semuanya ini gara-gara bu Darno yang menyebabkan kue-kue ibu di tolak sama bu Vincent. Dan ayah juga ga jadi di kasi job sama pak Vincent?" Lola membuka suara.


Ia memang baru tau cerita tersebut saat pak Vincent beserta istri datang ke rumah mereka selepas isya tadi. Rupanya seperti yang dikatakan bu RT, setelah pertemuan siang itu mereka kemudian ke rumah pak Vincent. Bu RT meminta bu Darno menceritakan seluruh masalah yang telah diciptakannya.


Pak Vincent dan istri memohon maaf atas kesalahan mereka yang telah percaya begitu saja dengan bu Darno. Sebagai warga baru, mereka yakin jika bu Darno orang baik karena memang pada mulanya beliau menampakkan diri sebagai orang baik-baik. Namun ternyata kemudian hal itu malah dimanfaatkan bu Darno untuk kepentingan pribadi.


"Untung semuanya bisa cepat ketahuan ya yah. Kalau ga, bisa-bisa usaha kue ibu hancur berantakan. Dan kita bisa kehilangan kepercayaan dari orang-orang." Adelle berkata sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah.


"Allah ga tidur, Allah Maha Mengetahui. Dia pasti akan menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Kita ga perlu sesumbar mengatakan kita orang baik. Cukup melakukan seperti yang diperintahkan oleh agama maka orang akan bisa menilai sendiri. Bahkan jika di mata manusia kita dianggap salahpun, kita ga perlu gundah karena yang terpenting adalah bagaimana kita di mata Allah nak." Ayah merangkul bahu anak badisnya dengan penuh kasih sayang.


Adelle memeluk ayah erat. Hatinya bahagia, sangat bahagia karena dikaruniai ayah dan ibu yang begitu baik. Walau mungkin dari segi materi mereka sangat sederhana namun mereka kaya akan kasih sayang dan perhatian. Hal yang mungkin tak semua keluarga memilikinya.


Terima kasih ya Allah, batinnya berbisik.


______