Adelle

Adelle
Firasat



Adalah kesakitan yang sangat bagi seorang ibu apabila melihat buah hatinya terbaring lemah tak berdaya. Dan itulah yang sedang dirasakan oleh bu Hendra, ibunya Adelle. Hatinya sedih melihat anak bungsu yang sekarang terbaring di atas brangkar. Ada beberapa memar di wajah lugu itu. Lengan dan kakinya juga terdapat goresan dan berdarah.


Diusapnya lengan kecil yang sering dielusnya ketika tidur. Bagaimana bisa terjadi La? Bukankah kamu baik-baik saja ketika Ibu tinggalkan pergi tadi? Bukannya kamu sedang menikmati film kartun kesukaanmu saat Ibu berangkat tadi? Bu Hendra masih saja bermonolog walau ia tahu tak akan mendapat jawaban apa-apa karena Lola sedang tidak sadarkan diri.


Adelle menyentuh bahu ibunya perlahan. Ia baru saja kembali dari meja pendaftaran pasien. Ada beberapa hal yang harus diisi untuk keperluan administrasi.


"Lola belum sadar bu?"


"Belum Del. Adikmu masih belum sadar. Kita harus bagaimana sekarang?"


"Sabar bu, kita doakan saja agar Lola segera sadar. Menurut dokter tadi kemungkinan Lola terbentur kepalanya saat jatuh."


"Kamu sudah menghubungi ayah, Del?" tanya ibu lagi. Hatinya masih belum tenang.


"Sudah bu, ayah sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit."


Baru saja Adelle selesai berbicara, sosok ayah yang ditungu sudah muncul.


"Bu, Del, bagaimana keadaan Lola?" wajah ayah nampak cemas. Segera setelah mendapat kabar dari Adelle, ayah bergegas menuju ke rumah sakit. Untung saja memang sudah waktunya pulang, sehingga ayah tak perlu meminta izin atasannya.


Baru saja Ibu akan menjawab ketika Adelle melihat mata Lola yang mulai terbuka.


"Bu, Yah, lihat, Lola mulai sadar."


Sontak saja kedua orang yang di panggil Adelle menoleh ke brangkar. Dan benar saja, Lola mulai membuka matanya.


"Lola, kamu sudah sadar nak?" Ibu menyentuh tubuh sang anak yang masih terbaring lemah.


"Alhamdulillah. La, apa yang kamu rasakan?" Ayah menghampiri dari sisi kiri.


Lola masi belum memberikan respon apa-apa.


"Del, panggilkan dokter atau perawat. Beritahu kalau adikmu sudah sadar."


Adelle bergegas mendatangi perawat yang sedang bertugas. Tak lama kemudian seorang perawat datang yang di susul oleh seorang dokter jaga. Setelah memeriksa keadaan Lola sang dokter yang masih muda itu mengajak ayah untuk berbicara.


"Baik pak, sepertinya kita harus memeriksa anak bapak lebih lanjut. Dan mengingat keadaannya, maka anak bapak harus opname selama beberapa hari. Kami perlu melakukan beberapa tindakan medis untuk mengetahui apakah ada akibat yang ditimbulkan."


Ayah mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter. Setelah itu Lola dipindahkan ke ruangan. Ibu, Ayah dan Adelle mengikuti perawat yang mendorong Lola menuju ke ruangan tempat dia akan menginap.


Tak banyak kata yang keluar dari bibir mereka semua. Ibu menatap wajah Lola yang nampak sudah lebih baik setelah dibersihan oleh perawat tadi.


"Nak, di mana yang sakit?"


Lola yang terbaring menatap wajah wanita hebat yang telah melahirkannya.


"Ibu, ayah, maafkan Lola. Lola salah...." tiba-tiba Lola bersuara.


sontak semua mata terarah menuju sumber suara.


""Sudah La, jangan banyak bicara dulu. Kamu istirahat, supaya cepat pulih. Nanti kalau sudah sehat baru kamu cerita."


"Engga bu, Lola harus cerita bagaimana kejadian hingga aku jadi gini." Lola menatap wajah ibu.


"Setelah ibu pergi, aku diajak temanku untuk jalan-jalan. Tadinya aku ga mau karena ku pikir kalau aku ikut rumah kita ga ada yang jagain bu. Tapi dia merayuku terus dan akhirnya aku tergoda." Lola berhenti sesaat. Ada riak yang mulai nampak di matanya.


"Maafkan aku ya bu, yah. Seharusnya aku tetap di rumah, tapi aku tergoda karena dia mengajakku untuk jalan-jalan ke taman kota dan juga makan bakso yang sedang viral itu" kali ini ada air yang jatuh mengalir di pipi chubby miliknya.


"Sudahlah La, jangan dilanjutkan lagi. Kamu harus banyak istirahat supaya bisa lekas sehat lagi. Semua sudah terjadi dan ga akan berubah jika kamu menangis. Istirahatlah nak." ayah mencium kening bungsunya.


Ibu ikut mengiyakan apa yang dikatakan oleh ayah.


"Del, tolong hubungi yang kemarin memesan kue. Katakan kalau kita tidak bisa memenuhi pesanan karena ibu akan menjaga Lola di rumah sakit."


Adelle menatap wajah ibunya. Tak tega dirinya jika sang ibu harus tidur di rumah sakit. Selain karena pasti akan terpapar dingin angin malam, dia juga tak ingin jika pesanan para pelanggan setia itu dibatalkan.


"Ibu pulang aja, biar aku yang jagain Lola."


"Jangan nak, besok kamu sekolah. Bisa kesiangan kalau kamu harus bolak balik rumah sakit dan rumah. Biar ibu saja."


"Tapi bu, pelanggan-pelanggan ibu kasian kan kalau harus dibatalkan pesanannya."


"Engga papa, Del. Yang penting kamu sekolah lancar."


"Sudah, Ibu sama Adelle pulang. Biar ayah yang menjaga Lola malam ini." putus ayah.


"Ayah bisa ijin sama atasan, sekarang Ibu dan Adelle pulang supaya tidak kemalaman."


Ibu dan Adelle tak lagi membantah perkataan sang ayah. Keduanya kemudian bersiap-siap untuk pulang.


"Besok ibu datang lagi ya La. Malam ini kamu ditemanin ayah ya. Jangan tidur malem-malem. Ingat kamu harus banyak istirahat."


Lola hanya mengangguk, hatinya masih merasa bersalah. Gara-gara dirinya, ayah harus tidur di rumah sakit menemani dirinya. Tak lama kemudian Adelle dan Ibu pulang, separuh hati masih tertinggal di rumah sakit.


_______


Keadaan Lola sudah semakin membaik ketika Adelle berkunjung keesokan harinya. Wajahnya sudah nampak lebih segar dan senyumpun sudah hadir di wajah cantik itu. Luka-luka di sekujur tubuhnya hanya berupa luka ringan saja. Dan menurut Ibu, hasil CT scan kepalanya tidak apa-apa.


"Sudah enakan La?" tanya Adelle.


"Alhamdulillah, sudah tidak pusing lagi." jawab Lola.


"Ayah mana bu?"


"Ayah tadi di panggil dokter ke ruangannya, Del."


"Koq tumben bu? Bukannya Lola ga papa ya?" Adelle mengungkapkan keheranannya.


"Ibu juga ga tahu, tadi Ayah bilangnya gitu sebelum pergi."


"Dek, kamu kemarin pergi sama siapa sih? Kan di rumah kita ga ada kendaraan lain lagi. Semua dipakai Ibu, Ayah dan aku."


"Aku pergi sama Siti kak, dia ngajakin aku mencoba motor barunya." jelas Lola.


"Siti? Memangnya dia ga sekolah apa? Dia kan sekolah bareng aku." Adelle bertanya keheranan.


"Aku ga tahu. Tadinya dia nyari kakak, tapi karena ku bilang kakak belum pulang akhirnya dia ngajakin aku."


"Trus Siti bagaimana keadaannya? Kemarin aku ga lihat dia di rumah sakit."


"Aku juga ga tahu bagaimana keadaan Siti. Aku sadar-sadar udah di rumah sakit. Udah ada Ibu, Ayah dan kakak."


Adelle terdiam sesaat, dia baru saja akan membuka mulutnya saat dilihatnya ibu memberi tanda untuk tidak bertanya lagi. Adelle ingin bertanya alasan mengapa ibu melarangnya, namun semua itu ditahan. Ia yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan.


"Mau makan apa dek? Buah mau ya?" Adelle mengalihkan pembicaraan.


Lola tak menjawab, sebagai gantinya dia hanya mengangguk.


"Mau buah apa? Jeruk atau apel?"


"Jeruk aja kak. Aku ga suka apel."


Adelle mengambil sebuah jeruk, mengupas kemudian memberikan pada adik tercinta. Lola nampak menikmati buah berwarna oren, dalam sekejap sebuah jeruk manis itu sudah berpindah ke perutnya.


Lagi-lagi Lola menganggukkan kepalanya.


Adelle mengupas sebuah jeruk lagi dan kembali memberikan pada Lola.


"Kamu udah nyoba jalan-jalan keluar ruangan belum dek?"


"Tadi pagi udah nyoba kak, tapi masih agak pusing kalau jalannya agak jauh."


"Dia maunya jalan keliling rumah sakit, Del. Wajar aja pusing, belum juga pulih gayanya mau ke mana-mana." Ibu menjelaskan.


Sementara Lola hanya cengar-cengir. Bosan kan bu dalam ruangan terus. Ibu sih enggak ngerasa penderitaan aku."


"Gayamu pake penderitaan. Baru satu malam nginep di ruangan ini. Dasarnya kamu memang doyannya jalan-jalan."


Lola hanya tertawa mendengar candaan sang ibu. Dia memang paling tidak betah berada lama-lama dalam ruangan.


"Mau kakak ajakin jalan-jalan ga sekarang? Mumpung cuacanya cerah. Kita bisa jalan ke taman yang ada di belakang ruangan ini. Tadi kakak lihat tamannya enak untuk santai dek."


"Mauuuu, ayo kak kita jalan-jalan ke taman."


"Bu, sebaiknya ibu pulang dulu. Adelle yang akan jaga Lola. Ibu kan udah jagain Lola dari pagi. Ibu pulang dan istirahat. Malam ini biar Adelle yang jagain Lola di sini. Besok Adelle kan ga sekolah bu."


"Iya, Ibu pulang aja. Kasihan ibu jagain aku terus." Lola ikut bicara.


"Tapi Ibu ga tenang ninggalin kamu sendiri di sini nak." Ibu mengelus tangan Lola.


"Kan ada kak Adelle bu, siapa bilang aku sendiri. Lagian aku kan baik-baik aja. Tadi dokter juga bilang kalau aku besok udah boleh pulang jika memang ga ada keluhan lagi."


"Iya bu, ada aku yang nemanin si Lola. Dan seandainya ada sesuatu, kan aku bisa telpon ibu atau ayah. Rumah kita juga ga terlalu jauh dari sini bu." Adelle meyakinkan Ibunya. Ntah apakah hanya perasaan saja atau memang benar, tapi Adelle merasa Ibu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ibu saat ini.


"Baiklah, kalau begitu Ibu pulang dulu ya nak. Baik-baik kalian di sini. In syaa Allah nanti malam ibu datang lagi." bu Hendra meraih tas hitam yang selalu menemaninya kemudian memeluk sang anak.


"Jaga diri ya nak, kamu masih belum sehat jadi jangan terlalu lincah." Ibu memeluk Lola.


"Del, jadi adikmu."


"Iya, bu. Ibu hati-hati ya di jalan. Jangan meleng lho bu." canda Adelle.


Ibu melangkah keluar dan meninggalkan rumah sakit.


"Kita pergi sekarang dik?" tanya Adelle.


"Come on." jawab Lola riang.


Keduanya melangkah meninggalkan ruangan, berjalan perlahan menuju taman. Sesekali terdengar tawa di sela perbincangan kedua bersaudara itu.


______


Adelle dan Lola baru saja menyelesaikan kewajiban sebagai seorang muslim ketika pintu ruangan di ketuk. Seraut wajah yang selalu menebarkan aura bahagia muncul di balik pintu.


"Assalamualaikum.... Halo calon sepupu." suara renyah itu terdengar jelas di telinga.


"Waalaikumussalam...." serentak kedua saudara itu menjawab. Wajah mereka nampak bahagia mana tahu siapa yang datang berkunjung.


"Masuk Shel. Sama siapa?"


Baru saja Adelle bertanya, seraut wajah 'good looking' hadir dengan wajah yang tak kalah cerahnya.


"Hallo adik-adikku sayang, apa kabar? Lho, pasiennya yang mana nih? Koq ga ada di tempat tidur?" canda Ferdi membuat mereka yang ada di ruangan tertawa.


Shella mendekati Lola dan Adelle, meletakkan sekeranjang buah-buahan kemudian saling cipika cipiki.


"Bagaimana keadaan kamu dik? Masih sakit?" tanya Ferdi pada Lola.


"Alhamdulillah udah ga lagi mas. Semoga aja besok udah boleh pulang."


"Lho lho lho, baru aja kita jenguk trùs langsung sembuh. Wah, kita ternyata lebih hebat dari dokter ya say...." kata Ferdi pada Shella.


"Iya beb, kalau gini ga perlu lagi obat-obatan. Cukup datangkan aja kita. Betul ga?"


Mereka semua tergelak mendengar gurauan antara Ferdi dan Shella. Ada satu hal yang ditangkap oleh telinga Adelle. Sejak kapan Shella memanggil Mas Ferdi 'beb'? Dan sejak kapan juga mas Ferdi memanggil Shella 'sayang'?


Ini adalah hal baru tentang Shella. Dulu selama berpacaran dengan Joy, tak pernah sekalipun Shella memanggil atau mau dipanggil dengan ungkapan-ungkapan sayang atau beb atau baby dan sebagainya. Terlalu lebay menurutnya. Tapi sekarang?


"Kamu ngapain bengong gitu sih Del?" teguran Ferdi membuyarkan lamunan Adelle.


"Aku nggak melamun koq mas. Hanya aneh aja denger si putri es ini tiba-tiba mau di panggil sayang. Bahkan dia manggil mas Ferdi 'beb'."


"Lho memangnya kenapa? Kan wajar toh aku memanggil dia sayang? Karena dia sayangnya aku. Memang aneh di mana toh Del?" Ferdi bertanya keheranan.


"Mas Ferdi tanya orangnya sendiri deh." tunjuk Adelle pada gadis yang duduk disampingnya.


Shella hanya tertawa sambil menundukkan kepalanya.


"Ada apa sih yang?" tanya Ferdi pada Shella.


Shella tak menjawab. Ia hanya memeluk sahabatnya sambil tersenyum dan kemudian berbisik yang membuat Ferdi dan Lola semakin penasaran.


"Memangnya kak Shella bilang apa sih kak? Koq main rahasia-rahasiaan gitu?" kali ini Lola yang bertanya.


"Jelasin gih Shel, biar ga penasaran lagi."


"Yang..... Kalian kenapa sih?"


"Adelle ih... Kenapa juga ini di bahas. Aku kan jadi malu." wajah Shella nampak memerah menahan malu


Adelle ikut tersenyum, kemudian menatap Ferdi sepupunya.


"Shella ini mas dulu terkenal lempeng sama lelaki. Boro-boro sama orang yang ga deket sama dia, sama Joy yang nyata-nyata pacarnya dia sikapnya biasa-biasa aja. Enggak bakalan ada yang yakin deh kalau mereka pacaran. Ya bagaimana enggak, jalan bareng aja jarang. Di sekolah lebih banyak ngabisin waktu sama aku. Makanya aku kaget dia mau pake 'beb' dan 'sayang', dulu dia menganggap itu tuh lebay mas....."


Penjelasan Adelle sukses membuat Ferdi dan Lola tertawa sementara Shella semakin memerah wajahnya.


"Iya, bener kamu dulu gitu yang?" tanya Ferdi tak percaya.


"Ih, kamu jangan nanya dong 'beb'. Tar aku panggil nama aja kalau kamu godain aku terus." Shella nampak merajuk.


"Ya Allah, kenapa sahabatku jadi bucin gini? Mas Ferdi apain sih dia mas? Koq berubah gini ya kalau sama mas Ferdi?"


Adelle lagi-lagi terheran-heran melihat sikap Shella saat dekat dengan Ferdi. Sangat berbeda dari biasanya.


Keempat orang yang ada di kamar itu masih terus berbincang dan bercanda. Percakapan random yang tak jelas apa topiknya.


"Assalamualaikum...." pintu ruangan terbuka.


"Waalikum salam....." serempak mereka menjawab.


Ibu dan ayah muncul dengan membawa bungkusan berisi nasi. Adelle memang belum makan malam, tadi ibu memintanya untuk tidak membeli makanan karena ibu akan membawa dari rumah.


Shella dan Ferdi menyalami kedua orang tua Adelle. Senyum nampak terukir di wajah keduanya. Namun Adelle bisa melihat jika mata sang bunda masih menyisakan tanda-tanda habis menangis.


Ada apa? Apa yang telah terjadi? Mengapa mata ibu nampak bengkak?